| |
C © updated
14032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Siswono Yudo Husodo
Lahir:
Long Iram, Kalimantan Timur 4 Juli 1943
Agama:
Islam
Isteri:
Ratih Gondokusumo
Anak:
Mutiara, Savitri, Emeralda (meninggal dunia saat berusia 11 tahun),
Rubyeta, dan Pirousi
Ayah:
Dr. Soewondo
Pendidikan:
S1 Teknik Sipil ITB 1968
|
|
| |
|
|
|
|
==
1 2
3 4 5 6 7 ==
Wawancara Siswono Yudo Husodo (4)
Sejahtera Petani Sejahtera Indonesia
Sekitar 51 persen populasi masyarakat Indonesia adalah petani, maka
sejahteranya petani adalah sejahteranya Indonesia. Ketua Umum HKTI (Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia), yang juga salah seorang calon presiden Pemilu
2004, Dr. (Hc) Ir. Siswono Yudohusodo menegaskan hal itu dalam wawancara
dengan Wartawan TokohIndonesia DotCom. Menurutnya, bangsa dengan etos
ekonomi mandiri tidak membelanjakan devisa yang diperoleh dengan susah
payah itu untuk membeli bahan pangan selama produk itu dapat diproduksi
sendiri.
Siswono, seorang anak bangsa yang tergolong bersih KKN itu mengatakan
negara yang bersemangat membangun masa depan, kebanyakan menggunakan
devisanya untuk menambah physical asset dan kegiatan pendidikan, dan tidak
menggunakannya untuk konsumsi. Bangsa yang bersemangat mandiri akan
meningkatkan produksi sebagai solusi kekurangan kebutuhannya, dan bukan
dengan cara gampang mengimpornya.
Kemandirian, katanya, adalah salah satu unsur penting berbangsa yang
memberikan kebanggaan pada warga negaranya, dan itulah hal yang sementara
ini hilang dari diri kita. Dengan kemandirian itulah eksistensi bangsa dan
standar kesejahteraan yang tinggi dari setiap warga negara dapat dijamin
pencapaiannya.
“Membangun Kemandirian Bangsa juga memiliki arti meningkatkan integritas
dan kapabilitas bangsa untuk dapat secara cerdas menentukan pilihan dan
mewujudkan cita-cita membangun negara modern, yang bertumpu pada
kemampuannya sendiri, seraya mewujudkan dirinya sebagai bagian dari dunia
internasional yang dihormati oleh bangsa dan negara-negara lain.
Kemandirian dengan semangat globalisasi dan modernisasi,” ujarnya
Berbagai hal dibicarakan dalam wawancara ini, di antaranya tentang
kesediaannya dicalonkan pada Pemilu Presiden 2004. Ia mengaku bukan
seorang pemimpi. “I’m not a dreamer,” ujarnya. Namun dia menegaskan tidak
akan bersedia dicalonkan menjadi Presiden bila tidak memiliki peluang.
Juga dibicarakan tentang pentingnya penggalian potensi ekonomi
Indonesia di darat dan di laut. Maka, menurutnya, pemerintahan yang akan
datang perlu memiliki visi entrepreneurial, bukan hanya presidennya tapi
juga anggota kabinetnya, di samping memiliki kemampuan administrasi negara
(public administration).
Sebagai bangsa yang paternalistik, menurut Siswono, masalah bangsa kita
bisa menjadi sederhana jika hadir pemimpin yang dapat memberi ketauladanan,
dan mampu memobilisir potensi yang ada, serta merumuskan langkah yang
tepat. Berikut kami sajikan petikan percakapan dengan Calon Presiden
Independen ini:
M-TI: Anda seorang independen,
nonpartisan, profesional tani, pengusaha, cukup populer sebagai salah satu
tokoh berpengaruh, dan mantan pejabat bersih KKN, apa yang melatar
belakangi keinginan Anda menjadi Calon Presiden RI 2004?
SIS (Siswono): Perlu saya klarifikasi
bahwa sejak awal saya tidak pernah berambisi untuk menjadi seorang
presiden dengan cara mencalonkan diri sendiri. Sikap politik saya bersama
banyak kawan-kawan yang lain di MPR dari berbagai golongan beberapa bulan
setelah penggantian Presiden Gus Dur kepada Ibu Megawati Soekarnoputeri,
adalah meneliti para tokoh nasional untuk mencari seorang calon presiden
yang paling mampu dan paling tepat untuk memimpin negara yang amat saya
cintai ini melalui Pemilu 2004. Saya akan mendukung penuh tokoh tersebut,
dengan segala akses yang saya punyai, walaupun misalnya tokoh tersebut
adalah orang yang secara pribadi paling tidak saya sukai.
Dalam upaya mencari tokoh nasional tersebut, tanpa saya perkirakan
sebelumnya, saya menerima banyak sekali pernyataan yang disampaikan oleh
perseorangan, para tokoh nasional, kelompok-kelompok masyarakat,
organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan beberapa partai politik
baik secara lisan (langsung) dan telpon maupun pernyataan tertulis, SMS,
fax dan lain-lain yang menginginkan saya menjadi Presiden RI melalui
Pemilu 2004.
Pernyataan-pernyataan tersebut datang dari berbagai daerah, dari Propinsi
NAD, petani-petani di tanah Karo, petani-petani kelapa sawit di Riau,
Jambi, tokoh-tokoh masyarakat di Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, seluruh propinsi di Jawa, Bali,
NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Timur, juga tokoh-tokoh masyarakat di Papua.
Sungguh, saya merasa memperoleh kehormatan yang amat tinggi atas berbagai
pernyataan itu. Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang telah secara terbuka
mancalonkan diri saya adalah HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan
beberapa organisasi sosial kemasyarakatan lokal. SOKSI dan KOSGORO 1957
juga mencalonkan saya untuk ikut menjadi capres melalui konvensi partai
Golkar.
Sampai 13 Januari 2004, Partai Sarikat Indonesia (PSI), Partai Politik
Peserta Pemilu 2004 secara resmi telah mencalonkan saya sebagai calon
presiden. Juga beberapa partai peserta Pemilu 2004 lain yang menominasikan
saya sebagai calon presiden di antara calon-calon presiden lainnya seperti
Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), PKP Indonesia, PNI Marhaenis
dan lain-lain. Selain itu, beberapa partai politik yang tidak lulus
verifikasi KPU, juga tetap mendukung saya sebagai capres, yaitu Partai
PDKB, PNI-BK 1927, dan Partai Kongres Pekerja Indonesia (PKPI).
Sebagai seorang warga negara biasa, yang kurang dikenal rakyat, saya
sungguh menyadari tugas berat yang terbentang di depan saya untuk menjadi
seorang calon Presiden. Sejak harus memperkenalkan diri pada para pemilih
yang jumlahnya lebih dari 130 juta orang yang tersebar di wilayah yang
sangat luas. Terutama tugas berat seorang presiden untuk dapat memenuhi
harapan rakyat, mengatasi berbagai persoalan berat yang sedang dihadapi
negara kita.
Antara lain berupa ancaman disintegrasi bangsa, tingkat pengangguran yang
tinggi, pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, hutang negara yang sangat
besar & APBN yang sangat terbatas, maraknya penyelundupan, korupsi dan
money politic, maraknya konspirasi pelanggar hukum dengan penguasa,
kriminalitas dan terorisme yang menyebar, berkembangnya etnosentrisme,
terkurasnya SDA, berkurangnya investasi, meningkatnya impor pangan dan
lain-lain.
M-TI: Banyak pihak menilai Anda salah
seorang putera bangsa terbaik yang lebih cocok untuk memimpin bangsa lima
tahun ke depan? Menurut Anda kemampuan apa yang harus dimiliki pemimpin
nasional saat ini?
SIS: Setelah mengikuti dan mendalami
dengan seksama perkembangan negara kita sejak lima tahun terakhir, serta
terlibat langsung dalam berbagai proses perubahan yang terjadi, saya
memandang bahwa ke depan, negara Republik Indonesia membutuhkan hadirnya
kepemimpinan nasional yang dari track record-nya telah teruji memiliki
kemampuan manajerial yang tinggi baik dalam bidang public administration
maupun entrepreneurship di samping syarat-syarat umum tentang ideologi dan
moral yang baik. Ke depan, diperlukan tahapan baru yang lebih berwarna
managerial, penegakan hukum yang tegas, peningkatan kesejahteraan yang
tinggi, dan kehidupan masyarakat yang tertib berdasarkan hukum.
M-TI: Apa yang mendorong sikap Anda
akhirnya menerima pencalonan presiden itu?
SIS: Dengan melihat bahwa Pemilu 2004 adalah peluang emas bagi negara kita
untuk dapat melahirkan lembaga-lembaga politik yang mampu mengatasi krisis
multidimensi yang masih melanda negara kita, maka sikap politik saya dalam
menerima pencalonan ini adalah untuk memberikan peluang yang
seluas-luasnya pada seluruh rakyat Indonesia agar dapat memberikan
pilihannya pada putra terbaik bangsa untuk menjadi Presiden RI melalui
Pemilu 2004.
Kita mengharapkan agar pada
Pemilu Presiden 2004 mendatang, rakyat memiliki kesempatan untuk memilih
calon yang merupakan Primus Inter Pares atau calon yang terbaik diantara
yang baik-baik.
M-TI: Selain identitas di atas yang
sudah lama melekat pada diri Anda, modal kekuatan apa lagi yang mendorong
hati nurani Anda tulus menerima pencalonan memimpin bangsa yang masih
terlilit krisis multidimensional ini?
SIS: Setamat dari ITB pada tahun 1968,
bekerja siang malam sebagai pengusaha, membangun rumah sederhana, dan
berbagai usaha untuk membuka ribuan lapangan kerja untuk rakyat. Sewaktu
menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat, membangun ratusan ribu rumah
sangat sederhana, meremajakan pemukiman kumuh, perumahan nelayan dan
desa-desa, juga untuk rakyat. Sewaktu menjadi Menteri Transmigrasi dan PPH,
menyediakan ratusan ribu hektar lahan-lahan pertanian untuk para buruh
tani, petani yang tidak memiliki lahan, juga untuk rakyat.
Seusai 10 tahun di pemerintahan, bersama kawan-kawan memperjuangkan
hak-hak petani yang adil melalui HKTI, juga untuk kepentingan rakyat.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa hal itu, puluhan tahun kemudian
membuahkan harapan sebagian rakyat Indonesia untuk mencalonkan saya
sebagai calon presiden melalui Pemilu 2004 yang akan datang. Bila melalui
Pemilu 2004 saya terpilih menjadi Presiden, sekali lagi saya akan bekerja
untuk rakyat. Bila saya tidak terpilih, saya akan tetap bekerja untuk
rakyat.
M-TI: Indonesia adalah negara agraris.
Dahulu petani bisa hidup berkecukupan bahkan ada yang kaya-raya. Namun,
anehnya sekarang termarjinalkan bahkan semakin termarjinalkan. Maka,
selain alasan teknis, sesungguhnya alasan apa lagi yang bisa membuat
petani (demikian juga nelayandan buruh) termarjinalkan?
SIS: Petani termarjinalkan karena
untuk waktu yang lama, pemerintah menganut paham untuk menekan harga
pangan, khususnya beras semurah mungkin, agar upah buruh bisa tetap murah.
Dan upah buruh yang murah dapat menjadi daya tarik bagi investasi asing.
Artinya petani menyubsidi investor asing.
Kalau harga barang-barang lain meningkat, pemerintah tak dapat melakukan
langkah-langkah pengendalian. Tetapi bila harga beras meningkat,
pemerintah langsung melakukan operasi pasar untuk menekan kembali harga
beras. Petani juga termarjinalkan oleh proses budaya pewarisan lahan yang
membuat luas lahan per KK petani semakin menyempit, dan negara seolah-olah
membiarkannya.
M-TI: Adakah kekuatan lain yang
sengaja membuat grand design untuk mermarjinalkan petani (nelayan-buruh),
dan bagaimana sesungguhnya bentuknya?
SIS: Indonesia adalah negara dengan
jumlah penduduk lebih 200 juta jiwa, terbanyak keempat di dunia, merupakan
pasar pangan yang amat besar. Negara-negara produsen pangan menginginkan
Indonesia menjadi pasar yang empuk bagi prduksinya. Pada waktu ini,
Indonesia adalah importir beras terbesar di dunia. Negara tujuan ekspor
sapi terbesar bagi Australia, dan importir gula terbesar, kedua di dunia.
Aturan-aturan yang ditetapkan dalam LOI-IMF tidak kondusif bagi upaya
membangun kemandirian pangan.
M-TI: Jika Anda berkehendak
memakmurkan kembali petani (termasuk nelayan dan buruh) Indonesia,
kemakmuran seperti apa yang Anda kehendaki, dan bagaimana grand design-nya?
SIS: Pada waktu ini, sebagai negara
agraris, dalam arti mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai
petani, angka impor pangan negara kita sangat besar dan cenderung terus
meningkat. Sebagai contoh, impor beras lebih kurang 2 juta ton/tahun (terbesar
di dunia); impor gula lebih kurang 1,6 juta ton/tahun (no.2 terbesar di
dunia); impor kedelai lebih kurang 1,3 juta ton/tahun; impor gandum lebih
kurang 4,5 juta ton/tahun; impor jagung lebih kurang 1 juta ton/tahun; dan
impor ternak sapi lebih kurang 450.000 ekor/tahun.
Dari data-data tersebut dapat kita lihat betapa besar pasar pangan yang
kita miliki telah diambil oleh produsen pangan luar negeri yang sebenarnya
dapat kita penuhi sendiri sekaligus menyediakan lapangan kerja yang amat
besar.
Rasio ketergantungan makanan pokok kita, beras dari impor mencapai 9,1%
pada periode 1998-2001, bertambah secara signifikan dari rasio pada tahun
1995-1997 yang baru mencapai 4,3%. Dalam ukuran dunia, rasio impor beras
kita atas seluruh beras yang diperdagangkan dalam pasar beras
internasional mencapai 12,8% pada periode 1998-2001.
Guna membangun dunia pertanian kita yang telah sangat tertinggal
dibandingkan dengan negara-negara tetangga, diperlukan insentif berupa
harga produk pertanian yang baik. Cara ini ditempuh oleh semua negara yang
sukses dalam pertanian seperti Jepang, Thailand, Eropa, Amerika Serikat,
dan sebagainya.
Dengan harga produk pertanian yang lebih baik, petani dapat hidup lebih
sejahtera dan produksi meningkat. Oleh karena jumlah petani kita mencakup
sekitar 51% populasi masyarakat Indonesia, maka sejahteranya petani adalah
sejahteranya Indonesia.
Dengan harga produk pertanian yang baik, tingkat kesejahteraan penduduk
desa akan meningkat dan desa-desa kita akan terbangun. Dengan demikian
akan terjadi peningkatan permintaan produk barang dan jasa yang signifikan
dan industri di perkotaan akan berkembang dengan lebih pesat. Dengan
stimulus harga, maka petani akan terpacu untuk lebih produktif sehingga
volume produksi akan meningkat. Di sisi lain akan terjadi proses
diversifikasi pangan yang akan mengurangi ketergantungan kita pada beras.
Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, utang negara yang besar, potensi
pertanian yang juga besar, dan seiring dengan pertambahan populasi dunia
yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan permintaan produk pangan,
maka kebijakan pangan negara kita perlu diarahkan pada dua tahap; yaitu
pertama mengejar swasembada dan setelah itu kita memasuki tahap menjadi
negara eksportir pangan.
M-TI: Apa yang Anda maksud dengan
kemandirian bangsa itu?
SIS: Kemandirian adalah salah satu
unsur penting berbangsa yang memberikan kebanggaan pada warga negaranya,
dan itulah hal yang sementara ini hilang dari diri kita. Dengan
kemandirian itulah eksistensi bangsa dan standar kesejahteraan yang tinggi
dari setiap warga negara dapat dijamin pencapaiannya.
Membangun
Kemandirian Bangsa juga memiliki arti meningkatkan integritas dan
kapabilitas bangsa untuk dapat secara cerdas menentukan pilihan dan
mewujudkan cita-cita membangun negara modern, yang bertumpu pada
kemampuannya sendiri, seraya mewujudkan dirinya sebagai bagian dari dunia
internasional yang dihormati oleh bangsa dan negara-negara lain.
Kemandirian dengan semangat globalisasi dan modernisasi
Meningkatnya utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan negara di satu
sisi dan impor bahan pangan yang semakin meningkat di sisi lainnya,
menggambarkan situasi yang membingungkan. Di satu sisi kita kekurangan
devisa untuk membangun negara tapi di sisi lain kita menghamburkan devisa
untuk bahan konsumsi yang sebenarnya dapat kita buat sendiri.
Kedua hal itu juga menunjukkan betapa kita saat ini belum memiliki
orientasi sebagai bangsa dengan etos ekonomi yang hemat devisa dan etos
membangun ekonomi yang kuat dan mandiri agar memiliki martabat di kalangan
bangsa-bangsa di dunia.
Bangsa dengan etos ekonomi mandiri tidak membelanjakan devisa yang
diperoleh dengan susah payah itu untuk membeli bahan pangan selama produk
itu dapat diproduksi sendiri. Negara yang bersemangat membangun masa depan,
kebanyakan menggunakan devisanya untuk menambah physical asset dan
kegiatan pendidikan, dan tidak menggunakannya untuk konsumsi. Bangsa yang
bersemangat mandiri akan meningkatkan produksi sebagai solusi kekurangan
kebutuhannya, dan bukan dengan cara gampang mengimpornya.
Salah satu hal yang merisaukan kita adalah munculnya gejala yang kuat
bahwa kita telah masuk dalam jebakan utang (debt trap) luar negeri;
menjadi negara yang tergantung pada hutang luar negeri, dan karenanya
kebijakan nasionalnya harus mengikuti saran-saran pemberi pinjaman.
Setidaknya ada dua dimensi persoalan yang terkait di situ. Pertama adalah
dari sisi politik, makna kedaulatan kita sebagai bangsa berkurang. Kedua,
secara ekonomi, upaya kita untuk menjadi bangsa yang sejahtera dan mandiri
di masa depan berada dalam ketidakpastian.
Hidup dalam aturan-aturan dunia yang semakin liberal yang kurang
memperhatikan pemberdayaan negara-negara yang lemah memang akan semakin
membuat kuat negara-negara maju dan semakin membuat negara-negara lemah
menjadi semakin bergantung kepada bantuan negara-negara kuat.
M-TI: Anda telah menjalani up and down
pergulatan hidup, baik secara pribadi tanpa embel-embel, sebagai anggota
Keluarga Besar Dokter Suwondo, sebagai kepala keluarga bersama Istri dan
anak-anak, saat menjalani masa anak-anak, remaja, kuliah yang penuh
perjuangan, sebagai pengusaha dan tokoh peletak dasar konsep perumahan
sederhana yang layak huni, anggota kabinet penentu cetak-biru kehidupan
berbangsa, dan anggota dewan pembina kekuatan politik yang mayoritas
tunggal di parlemen. Bisakah Anda menjelaskan hal-hal terpenting dan
menarik sepanjang menjalani semuanya berikut up and down-nya?
SIS: Saya juga melihat bahwa bangsa
kita yang paternalistik akan lebih cepat menjadi baik manakala ada
keteladanan dari yang di atas. Saya melihat bahwa untuk membangun
kesejahteraan yang tinggi bagi suatu bangsa tidaklah memerlukan waktu yang
lama. Malaysia yang memiliki ciri-ciri sosial budaya mirip dengan kita,
yang merdeka tahun 1957, sekarang telah menjadi negara dengan pendapatan/kapita/tahun
rata-rata US$ 4000,00, hampir 7 kali kita.
Peningkatan kesejahteraan yang tinggi dan kemampuannya mengatasi krisis
ekonomi ditunjukkan oleh kepemimpinan PM Mahathir Mohammad. Korea Selatan
yang sistem ekonomi, politik, hukum, dan sosialnya hancur selama perang
saudara tahun 1950–1953, hanya dalam waktu 30 tahun telah mampu menjadi
bangsa yangs sejahtera, modern dan efisien, dan memperoleh kehormatan
dunia dengan menyelenggarakan olimpiade.
Kemajuan Korsel yang pesat terutama selama kepemimpinan PM Park Chung Hee,
bersama contoh kepemimpinan PM Lee Kuan Yew yang berhasil menjadikan
Singapura negara yang sangat sejahtera, dengan pemerintahannya yang bersih
serta efisien, juga RRC sejak kepemimpinan Deng Xiao Ping dan Ziang Jemin,
meyakinkan saya bahwa kehadiran kepemimpinan nasional yang visioner, yang
memberi keteladanan, yang mampu memobilisir potensi-potensi yang tersedia
bagi kemakmuran rahyat, sangatlah dibutuhkan Indonesia pada waktu ini,
untuk membangun kemajuan yang signifikan. Untuk itu, Pemilu 2004 mempunyai
arti yang sangat strategis.
M-TI: Pelajaran apa yang bisa Anda
wariskan ke generasi selanjutnya?
SIS: Saya tidak ingin menggurui.
Setiap generasi memiliki tantangan dan peluang perjuangannya masing-masing.
Di tengah arus kuat globalisasi, tantangan di masa depan akan semakin
berat. Untuk itu, kapan pun, di mana pun, jadi apa pun, dalam kondisi apa
pun, kita harus tulus dan selalu berbuat sebaik-baiknya bukan hanya untuk
kepentingan diri, keluarga dan kelompok, tetapi untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan dan kedamaian masyarakat, serta untuk generasi yang akan
datang.
Setiap generasi perlu meniru filsafat penanam pohon jati, yang sadar bahwa
umurnya tak akan cukup untuk menuai hasilnya, dan sadar bahwa anak cucunya
yang akan menuai hasil dari yang dikerjakannya.
M-TI: Benang merah apa yang bisa Anda
tarik dari berbagai pengalaman (up and down) itu agar menjadi sebuah modal
kekuatan untuk bertarung dalam Pemilu 2004?
SIS: I’m not a dreamer (saya
bukan pemimpi). 30 tahun lebih saya menjadi pengusaha, 10 tahun saya
menjadi menteri, dan 20 tahun saya di MPR, telah membentuk saya menjadi
seseorang yang selalu penuh perhitungan. Saya tidak akan bersedia
dicalonkan menjadi Presiden bila saya tidak memiliki peluang.
Dalam perhitungan saya, kandidat paling populer tetap Ibu Megawati
Soekarnoputeri karena beliau presiden sehingga paling dikenal rakyat.
Beliau akan menang di putaran pertama, tetapi dengan suara sekitar 30-35
persen saja. Beliau bersama pemenang kedua akan dipilih kembali pada
urutan kedua. Oleh karena itu, pada putaran pertama, sasaran saya cukup
nomor dua saja. Hal itu dapat dicapai bila saya meraih 18-22 persen suara.
Basis dukungan saya adalah petani. Petani di Indonesia jumlahnya 52 persen
dari seluruh rakyat Indonesia. Pada putaran kedua, baru saya bertarung
untuk bisa meraih suara lebih dari 50 persen.
M-TI: Bagaimana sesungguhnya konsep
kebijakan Trilogi Percepatan Kemajuan Peradaban Bangsa yang akan menjadi
program utama Anda pada Pemilu 2004?
SIS: Dalam rangka mencapai cita-cita
luhur bangsa, perlu dilakukan upaya-upaya nyata untuk memajukan seluruh
aspek perikehidupan bangsa melalui kegiatan pembangunan. Untuk mewujudkan
visi Indonesia masa depan, ditetapkan tiga misi pokok pembangunan guna
mencapai kemandirian bangsa melalui “Trilogi Percepatan Kemajuan Peradaban
Bangsa”, yaitu:
Pertama, menciptakan ketertiban sosial, politik, ekonomi, dan keamanan
melalui penegakkan hukum yang tegas, agar tercipta kondisi yang kondusif
untuk membangun bangsa.
Kedua, pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang tidak bertumpu pada APBN
tetapi pada kegiatan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan stimulus pasar
dalam negeri dan kegiatan-kegiatan ekonomi modern non-pemerintah di
bidang-bidang yang kita memiliki keunggulan komparatif, yaitu pertambangan,
pertanian baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
dengan penekanan pada agroindustri, perikanan modern, kehutanan,
pariwisata, dan lain-lain yang akan menciptakan lapangan kerja yang besar.
Ketiga, percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat yang berpenghasilan
rendah melalui pemberian berbagai fasilitas yang merangsang peningkatan
kesejahteraannya guna mempercepat pemerataan kesejahteraan seluruh rakyat.
Dengan peningkatan kesejahteraan rakyat, rakyat akan mampu memajukan
kebudayaan dan peradabannya sebagai kebutuhan rohani/spiritualnya.
M-TI: Dari ketiga Trilogi Modernisasi
itu, apa yang menjadi titik berat?
SIS: Titik berat program pembangunan
bangsa melalui Percepatan Kemajuan Peradaban Bangsa 2004 ini, diletakkan
pada bidang ekonomi sebagai penggerak utama pembangunan dalam rangka
memenuhi kebutuhan jasmani/materiil rakyat, sekaligus meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rohani/spiritualnya.
Tema sentralnya adalah Membangun Kemandirian Bangsa dengan Semangat
Modernisasi dan Globalisasi. Pilihan atas tema ini dilatarbelakangi oleh
berbagai pertimbangan, terutama empat hal, yaitu cita-cita kemerdekaan
bangsa kita, kondisi faktual yang kita hadapi, arah dan kecepatan dinamika
perkembangan dunia, serta cita-cita ke depan yang ingin kita capai.
Menimbang keempat hal tersebut, membangun kemandirian adalah keharusan
bagi bangsa ini. Hakikat bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mandiri.
Di masa lalu, Bung Karno pernah merumuskan cita-cita membangun bangsa yang
mandiri dalam “Konsepsi Trisakti”, yaitu “berdaulat dalam bidang politik,
berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya.
Dengan kemandirian itulah eksistensi bangsa dan kesejahteraan warga negara
yang tinggi dapat dijamin pencapaiannya. Membangun Kemandirian Bangsa
dengan Semangat Modernisasi dan Globalisasi juga memiliki arti
meningkatkan integritas dan kapabilitas bangsa untuk dapat secara tepat
menentukan pilihan dan mewujudkan cita-cita pembangunan negara bangsa
modern yang bertumpu pada kemampuan sendiri, dengan membuka diri pada
peranserta dunia internasional.
M-TI: Susunan kabinet seperti apa yang
akan menopang program Percepatan Kemajuan Peradaban Bangsa itu?
SIS: Kepemimpinan seorang presiden
hanya dapat berjalan efektif apabila mempunyai tim kabinet yang
competence. Tim kabinet ini juga harus peka terhadap kondisi nasional yang
ada, memiliki wawasaan kebangsaan yang teruji, dan memiliki integritas
yang tinggi. Tim kabinet ini terdiri dari tokoh-tokoh profesional yang
capable dengan dukungan dari partai-partai politik pendukung pemerintahan.
Melihat pentingnya memobilisir berbagai potensi bangsa dan negara yang
tersedia bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, maka tim kabinet perlu
memiliki intrepreneurial dan managerial yang baik, disamping kemampuan
administrasi negara.
Struktur kabinet pemerintahan yang akan saya bentuk apabila terpilih
menjadi Presiden terdiri dari tiga Menteri Koordinator, 11 Menteri Negara,
22 Menteri yang memimpin departemen dan tiga jabatan setingkat Menteri.
(Lihat
Boks)
M-TI: Tanpa bermaksud bersikap
pesimistis, masihkah ada masa depan yang gemilang bagi bangsa Indonesia,
apa optimisme Anda mencapainya?
SIS: Bangsa dan negara kita memiliki
banyak potensi untuk menjadi bangsa yang besar dan sejahtera. Bukti-bukti
empirik dari banyak negara meyakinkan kita bahwa tidaklah lama waktu yang
diperlukan untuk menjadi negara bangsa yang sejahtera. Hanya dalam waktu
30 tahun, Korea Selatan bangsa tradisional yang sistem ekonomi, politik,
dan hukumnya runtuh akibat perang saudara di tahun 1950-1953, telah mampu
menjadi negara modern yang sejahtera terutama sejak pemerintahan Presiden
Park Chung Hee, dan telah memperoleh penghormatan dunia dengan
menyelenggarakan Olimpiade.
Malaysia yang secara sosial dan budaya mirip kita, yang baru merdeka di
tahun 1957, sekarang telah mampu menjadi bangsa dengan GNP/kapita/tahun
4000 dolar AS. Dan untuk lebih mengangkat prestise bangsanya di mata dunia
internasional, Malaysia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi
penyelenggara Olimpiade di masa yang akan datang.
Negara-negara yang mampu dalam waktu singkat membangun kemajuan dan
kemakmuran bagi warganya itu, beberapa di antaranya harus melalui
keputusan politik yang mendasar, semisal RRC sejak kepemimpinan Deng Xiao
Ping, Jiang Jemin.
Contoh-contoh keberhasilan berbagai negara itu, meyakinkan kita kalau
Indonesia ingin memperoleh kemajuan dan kesejahteraan yang tinggi dalam
waktu yang relatif pendek, diperlukan hadirnya kepemimpinan yang unggul
yang mampu mengelola perubahan sekaligus diterima rakyat. Pemimpin yang
mampu memobilisir berbagai potensi yang tersedia dan menyusun program yang
visioner yang tepat untuk masanya.
Pemimpin yang mampu melakukan langkah-langkah yang tepat dan konsisten di
bawah kepemimpinan yang bukan hanya berwibawa, tetapi juga terpercaya,
amanah. Serta didukung tumbuh berkembangnya kematangan dan kesiapan rakyat
untuk maju dengan DPR yang mewakili aspirasi rakyat dan terpercaya
mengawasi pemerintahan, karena pemerintahan dan kekuasaan tanpa pengawasan
yang efektif cenderung akan menyimpang.
Kita dapat menggali sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan
berbagai potensi sumber daya alam yang kita miliki, serta kapasitas pasar
domestik kita yang besar dan kegiatan ekonomi yang bersifat
interdependensi antara usaha skala kecil dan menengah dengan usaha besar.
Melihat pentingnya penggalian potensi ekonomi Indonesia di darat dan di
laut, maka pemerintahan yang akan datang perlu memiliki visi
entrepreneurial, bukan hanya presidennya tapi juga anggota kabinetnya, di
samping memiliki kemampuan administrasi negara (public administration).
Selain itu, Indonesia akan mengalami masa terbaik secara demographic pada
tahun 2015 sampai dengan 2025, ketika rasio antara orang usia
nonpro-duktif dan produktif cukup rendah. Sejak dini perlu dipersiapkan
untuk menghasilkan kualitas SDM yang unggul, melalui pendidikan, kesehatan,
dan peningkatan kualitas gizi.
Dengan melihat pada beberapa aspek penting bangsa kita, berupa besarnya
jumlah penduduk, besarnya potensi sumber daya alam, luasnya daratan,
luasnya lautan, dengan catatan kualitas sumber daya manusia, kondisi
sosial politik, dan kondisi keamanan yang perlu diperbaiki, maka kita
patut optimis bahwa masa depan negara kebangsaan Indonesia cerah.
M-TI: Atau, apakah sesungguhnya adalah
Anda yang akan menjadi hero pada zamannya untuk meraih masa depan bangsa
yang gemilang tersebut?
SIS: Saya tidak ingin menjadi seorang
hero atau pahlawan. Saya hanya ingin berbuat baik untuk kepentingan rakyat
banyak karena prinsip saya bahwa orang yang baik adalah orang yang
memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang dan lingkungannya.
Saya mengajak semua elemen bangsa untuk bersama-sama segera mempercepat
masa transisi dengan melakukan rekonsiliasi yang adil terhadap semua pihak
sehingga kita bisa efektif melaksanakan pembangunan. Sebagai bangsa yang
paternalistik, masalah bangsa kita bisa menjadi sederhana jika hadir
pemimpin yang dapat memberi ketauladanan, dan mampu memobilisir potensi
yang ada, serta merumuskan langkah yang tepat.
M-TI: Anda telah cukup lama berkiprah
di Republik ini, hasilnya telah banyak dirasakan oleh masyarakat banyak
terutama kalangan petani-nelayan-buruh, masihkah itu kurang untuk
memuaskan hati Anda? Belum saatnyakah untuk menikmati kehidupan bersama
keluarga, isteri dan anak-cucu?
SIS: Sahabat saya Robby Djohan, mantan
Dirut Garuda Indonesia dan Bank Mandiri pernah mengajukan pertanyaan yang
sama. Juga isteri saya. Namun di usia saya yang telah menginjak 60 tahun
ini dengan berbagai sumber daya yang saya miliki, saya merasa tidak
bertanggung jawab bila saya enak-enak saja menikmati hidup meninggalkan
negara bangsa ini dalam kondisinya sekarang yang masih dililit krisis
multidimensi. Semoga Tuhan memberkati ijtihad saya ini.
M-TI: UU Pemilihan Umum Presiden
membuat rambu-rambu kepada para calon, bagaimana Anda menyiasatinya?
SIS: UU Pemilu Presiden tersebut
dibuat dalam kondisi tarik-menarik berbagai kekuatan politik yang sangat
kuat di legislatif. UU tersebut merupakan hasil maksimal dari pergulatan
politik yang ada dengan waktu yang relatif singkat. Namun demikian, saya
merasa UU tersebut sudah ada kemajuan untuk memilih capres terbaik pada
Pemilu 2004 yang akan datang. Sesuai dengan platform saya untuk membangun
negara bangsa bersama seluruh rakyat secara konstitusional, berdasarkan
hukum, dan demokratis; saya akan menaati UU tersebut sebaik-baiknya. ►tsl/ht
►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|