| |
C © updated
14032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Dr. (Hc) Ir. Siswono Yudo Husodo
Lahir:
Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Agama:
Islam
Isteri:
Ratih Gondokusumo (Notaris)
Anak:
Mutiara, Savitri, Emeralda (meninggal dunia saat berusia 11 tahun),
Rubyeta, dan Pirousi
Ayah:
Dr. Soewondo
Pendidikan:
Tamat Jurusan Sipil ITB - Tahun 1968
Pekerjaan:
Direktur Utama PT. Bangun Tjipta Sarana 1969 - 1988
Menteri Negara Perumahan Rakyat RI 1988 - 1993
Menteri Transmigrasi dan PPH RI 1993 - 1998
Komisaris Utama PT. Bangun Tjipta Sarana 1998 - sekarang
Organisasi:
- Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) 1973 - 1977
-
Ketua Umum Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (REI) 1983 - 1986
-
Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP Golkar 1983 - 1988
-
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia 1985 - 1988
-
Dewan Pembina Golkar 1988 - 1998
- Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) 1999 - 2005
- Anggota Dewan Pembina DPP Partai Golkar 2005-2010
Pengalaman Legeslatif:
Anggota MPR - RI utusan daerah DKI Jakarta 1982 - 1987
Anggota MPR - RI Golkar Kalimantan Timur 1987 - 1992
Anggota MPR - RI Golkar Sulawesi Tenggara 1992 - 1997
Anggota MPR - RI Golkar N.T.B. 1997 - 1998
Anggota MPR - RI utusan golongan mewakili petani 1999 - sekarang
Aktivitas Sosial:
Bendahara Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila 1987 - 2002
Anggota Majelis Nasional Pembina Harian Pramuka 1988 - 1998
Ketua Dewan Penyantun Universitas Diponegoro 1994 - 1998
Anggota Dewan Penyantun Universitas Andalas 1996 - 2000
Anggota Dewan Penyantun Universitas Bengkulu 1997 - 2002
Ketua Jakarta Golf Club 2001 - 2003
Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila 2002 - sekarang
Anggota Majelis Wali Amanah Institut Pertanian Bogor 2002 - sekarang
Karya Tulis
Novel:
Warga Baru (Kasus Cina di Indonesia)
Ilmiah Populer :
- Rumah Untuk Seluruh Rakyat
- Transmigrasi, Kebutuhan Negara Kepulauan Berpenduduk Heterogen dengan
Persebaran yang Timpang
Politik:
- Semangat Baru Nasionalisme Indonesia.
- Nasionalisme Indonesia Dalam Era Globalisasi.
Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Adi Pradana dari Presiden Republik Indonesia
1992
- Lencana Melati Gerakan Pramuka 1998
Alamat :
Jl. H. Abd. Majid No. 48, Cipete, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01 02
03 04 05 06 ==
Siswono Yudo Husodo (1)
Teruji Bersih KKN
Selama menjabat Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri
Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan (1993-1998), ia telah teruji
bersih dari KKN. Cawapres Pilpres 2004 dan mantan Ketua Umum HKTI penerima Entrepreneur Agribusiness Award
2003, ini seorang yang telah menjalani pergulatan hidup dalam berbagai
kegiatan.
Mulai dari pengusaha, politisi, menteri, petani hingga didaulat
menjadi calon presiden independen Pemilu Presiden 2004 oleh sejumlah
partai. Kemudian atas berbagai pertimbangan, ia memilih menerima tawaran
menjadi Cawapres berpasangan dengan Amien Rais sebagai Capres dari PAN. Ia Cawapres teruji
bersih KKN!
Boleh juga ia disebut sebagai sosok unik dan kontrover-sial. Saat
pengganyangan terhadap Bung Karno, ia adalah mahasiswa ITB yang menjadi
Wakil Komando Laskar Soekarno. Tapi pada era Presiden Soeharto, ia malah
diangkat sebagai menteri dalam dua kali kabinet.
Selama menjabat menteri, pada era Orde Baru yang otoriter dan korup, itu
ia teruji mampu tidak terlibat dalam arus deras KKN (korupsi, kolusi dan
nepotisme) yang bermuara menyengsarakan rakyat. Ia tidak menggunakan
kesempatan itu untuk memperkaya diri sendiri dan kerabatnya.
Tidak banyak orang yang mampu seperti itu. Kebanyakan orang, hanya bisa
berteriak antikorupsi pada saat tidak punya kekuasaan dan kesempatan. Tapi
setelah memperoleh kekuasaan dan kesempatan menjadi pejabat, baik
eksekutif maupun legislatif dan yudikatif, mereka terjerumus bahkan lebih
serakah. Mereka menjadi koruptor baru. Mereka tak tahan uji.
Siswono telah teruji dalam hal ini. Ia seorang tokoh yang telah pernah
berada di deretan puncak kekuasaan sebagai menteri, dan mampu berperan
optimal sekaligus melepaskan diri dari kemerajalelaan korupsi di
sekelilingnya. Hanya saja, ketika itu, posisinya hanyalah sebagai pembantu
presiden. Sehingga tidak punya otoritas yang cukup untuk memutus mata
rantai KKN itu.
Namun untuk diri dan lingkungannya, ia mempu bertindak bersih dari KKN itu.
Contoh konkritnya, sebagai seorang pengusaha yang kemudian dipercaya
menjadi Menteri Negara Permumahan Rakyat dan Menteri Transmigrasi dan
Permukiman Perambah Hutan, ia melepas diri dari manajemen perusahaannya.
Bahkan perusahaannya, PT Bangun Tjipta Sarana Group, dilarang menjadi
rekanan di instansi pemerintah yang dipimpinnya.
Track record-nya yang praktis tanpa cacat dan bersih KKN itu telah
menjadikan namanya tetap hidup disanubari publik. Terbukti, kendati ia
tidak lagi menjabat menteri, masih saja ada orang yang memanggil suami
Ratih Gondokusumo (notaris) ini, Pak Menteri. Ayah Mutiara, Savitri,
Emeralda (meninggal dunia saat berusia 11 tahun), Rubyeta dan Pirousi ini
dikira dan diperlakukan masih seperti pejabat.
Menteri Jadi Petani
Padahal belakangan, mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(1973-1977) dan Ketua Persatuan Pengusaha Real Estat Indonesia
(1983-1986), ini sudah menjadi petani. Sejak 1999 ia hanya menjadi anggota
MPR mewakili petani. Kesibukannya sudah lebih banyak di pertanian. Tapi
banyak orang masih lebih mengenal dan menganggapnya sebagai pejabat.
Jebolan Teknik Sipil ITB tahun 1968 ini fasih menerangkan bagaimana
mengawinkan domba, bagaimana memilih bibit domba unggul, dan bagaimana
bercocok tanam tembakau dan sayur-mayur. Kesibukan dan keahlian ini sudah
menjadi bagian lain dari putaran roda hidup calon presiden independen ini.
Ia sungguh jadi petani! Dalam beberapa tahun terakhir, dia sering
bersepeda motor menyusuri jalan Jakarta-Sawangan, Kabupaten Bogor untuk
menengok salah satu peternakan domba seluas 20 hektar miliknya. Di sanalah
ia sering mengisi akhir pekannya.
Perhatian pria kelahiran Long Iram, Kalimantan Timur 4 Juli 1943 ini
terhadap masalah pertanian makin kuat setelah tidak lagi berada di
birokrasi dan ketika masyarakat tani memilihnya menjadi Ketua Umum HKTI (Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia) sejak 1999. Kendati kesibukannya di seputar
pertanian itu bukan hanya karena ia menjadi Ketua Umum HKTI itu, tapi
sudah sejak awal ia sudah mengelola usaha tani. Sebelum ia bersama
rekannya mendirikan CV Bangun Tjipta Sarana yang kemudian menjadi PT
Bangun Tjipta Sarana, sebuah kelompok usaha dengan bisnis inti konstruksi,
ia telah berdagang bawang putih dan kedelai saat diskors satu setengah
tahun di ITB karena menjadi Wakil Komandan Barisan Soekarno.
Ketika Bangun Tjipta didirikan dengan modal Rp 7,5 juta, ia hanya
mengonsentrasikan di bisnis konstruksi. Awalnya bisnis yang dimulai dari
garasi milik orang tuanya di kawasan Menteng itu hanya mengerjakan proyek
kecil seperti memperbaiki WC hingga membuat rumah.
Dengan berkembangnya usaha hingga membangun jalan tol dan kawasan
perumahan, ia mulai membuka usaha pertanian dengan membuka perkebunan
kelapa sawit di Kalimantan Selatan. Selanjutnya diikuti dengan usaha
kelapa sawit di Sumatera Selatan, peternakan sapi di Sumbawa lalu
pertanian terpadu di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang dan peternakan
domba di Sawangan itu.
Masa kecilnya memang tak terlepas dengan suasana pertanian. Sewaktu SD dan
SMP di Kendal, sebuah kota kecil di barat Semarang. Daerah itu dikitari
sawah yang sangat luas. Teman-temannya anak petani yang kalau pulang
sekolah, lalu menggembalakan kerbau sambil mamandang keindahan alam yang
di sebelah selatan tampak Gunung Perahu, Gunung Ungaran, Gunung Sindoro,
dan Gunung Sumbing. Ia menyaksikan keluarga petani dengan kesederhanaan,
keyakinan, ketekunan dan kepasrahannya kepada alam. Lingkungan alam yang
demikian itu membekas kuat di hatinya. Tiga bulan sekali kalau tidak
pulang ke kota itu, ia merasa ada kerinduan.
Menurutnya, potensi Indonesia untuk mensejahterakan petani sangat besar
dan luar biasa. “Tetapi kita membiarkan petani hidup di bawah kelayakan
skala ekonomi,” katanya. Sekitar tahun 1950-an, petani memiliki sawah
paling tidak lima hektar. Ketika itu petani kalau sunatan sering nanggap
wayang kulit sampai tiga hari tiga malam. Petani itu kaya-kaya. Akan
tetapi dengan perubahan generasi terjadi fragmentasi lahan, dibagi ke
anak-anaknya sehinga petani miskin. Sekarang yang nanggap wayang kulit
bukan lagi penduduk desa tetapi orang kota.
Ia berobsesi mengembalikan kondisi pertanian ini. Untuk itu, katanya,
pembangunan harus lebih seimbang antara pedesaan dan perkotaan. Sekarang
ini tidak ada pembangunan ke pedesaan yang menarik sehingga mereka pindah
ke kota. Soal skala ekonomi, sekarang petani sudah telanjur memiliki unit
yang sangat kecil.
Menurutnya, jika tidak ada langkah sistematis dan konsisten dipastikan
Indonesia akan semakin tergantung pada luar negeri dalam memenuhi
kebutuhan pangan. Produksi pertanian yang kini terus menurun tidak
sebanding dengan percepatan pertambahan penduduk. Hal itu membuat negeri
ini jadi incaran asing, agar semakin tergantung pangannya pada mereka.
Sesungguhnya, Indonesia berpotensi besar untuk memproduksi hasil pertanian.
Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa sehingga tidak ada alasan
menjadi importir pangan terbesar. Petani di negara lain seperti di
Australia dan Amerika Serikat merupakan orang kaya karena memiliki skala
usaha ekonomi yang besar. Masalahnya di Indonesia skala ekonomi usaha tani
sedekimian kecilnya, sehingga tidak memungkinkan mereka hidup sejahtera.
Petani harus bekerja dengan skala ekonomi yang mensejahterakan mereka.
Misalnya, jangan membiarkan peternak memelihara ayam 10 ekor karena paling
tidak beternak ayam itu harus 2.000 ekor. Jangan membiarkan beternak domba
lima ekor, paling tidak harus 50 ekor. Kalau petani hanya memiliki sapi
satu ekor sudah pasti tidak sejahtera, bikinlah menjadi 12 ekor. Di
sinilah peranan perbankan untuk membantu mereka sehingga petani bekerja
dengan skala ekonomi yang menjamin usahanya mensejahterakan mereka.
Pergulatan Hidup
Sebagai seorang yang telah menjalani pergulatan hidup dalam berbagai
kegiatan, mulai dari merintis usaha lalu jadi pengusaha, menteri, dan
mejadi petani, ia melihat dalam hidup ini tidak ada orang yang tahu
tentang masa depannya. Tetapi, dalam ketidaktahuan itu yang harus
dilakukan setiap orang adalah bekerja sebaik-baiknya dimana dan kemana pun
dia berada. Jadi petani jadilah petani yang baik. Jadi pengusaha jadilah
pengusaha yang baik.
Ketika mahasiswa, gara-gara situasi politik, antara lain karena dia aktif
dalam Laskar Soekarno di Bandung, kuliahnya di Jurusan Teknik Sipil ITB
nyaris terbengkalai karena ia terkena skorsing. Padahal, tinggal dua mata
kuliah saja yang tertinggal. Lalu, menyadari bahwa dirinya tak lagi
mungkin bekerja di pemerintahan, ia kemudian berdagang bawang putih dan
kedelai dari Malang ke Jakarta, selain bekerja di perusahaan kayu jati dan
mebel.
Tentu saja, langkah ini jauh dari harapan Soewondo, ayahnya, yang
menginginkan agar ia mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter. Dr.
Soewondo sendiri pernah menjadi wakil gubernur DKI di zaman Bung Karno.
Sementara, Siswono sendiri, waktu remaja, ingin menjadi pelaut.
Dengan bekal Rp 7,5 juta, pada 1969, ia mendirikan sebuah CV yang bergerak
di bidang pekerjaan bangunan, yang kemudian ditingkatkan menjadi PT Bangun
Cipta Sarana. Usahanya kemudian kian beragam ke usaha perdagangan atau
keagenan alat-alat berat, sehingga ia pun mendiversifikasikan
perusahaannya. Maka lahirlah PT. Asniaga Sarana. PT. Bangun Cipta Sarana
lebih bergerak ke properti, termasuk kompleks perumahan Kemang Pratama,
dan pemilik jalan tol Cawang-Cikampek, dan tol Bandara Cengkareng sampai
Kebon Jeruk.
Duapuluh dua tahun ia memimpin PT. Bangun Cipta Sarana. Kemudian selama
sepuluh tahun dilepas saat ia menjabat menter. Selama ia tinggalkan,
perusahaan itu jauh lebih baik. Itu berkat pengaderan yang baik sebelumnya.
“Pada waktu saya tinggalkan, mereka berdebat untuk mengambil keputusan,
karena merasa level-nya sama, dan putusannya ternyata bisa lebih bagus,”
katanya.
Saat menjabat menteri itu, tidak hanya manajemen yang dilepas, saham pun
tidak dipegang. Sepuluh tahun benar-benar ia serahkan pada manajemen
supaya dikelola dengan baik. Sebab ia tidak mau ada pertentangan dalam
batin. Menurutnya, paling enak kalau kita hidup sama dengan apa yang kita
rasakan dan sama dengan apa yang kita pikirkan.
Menurutnya, bahayanya ada pendiri dalam manajemen, menjadikan para staf
dan manajemen cenderung mengiyakan. Cenderung mengikuti, bukan berdebat.
Itulah yang terjadi pada founders almarhum Hasyim Ning, Dasaad, William
Soeryajaya, Soedarpo dan Ciputra.
Maka setelah lengser dari jabatan menteri, ia kembali memimpin dua grup
perusahaannya, yakni di Bangun Cipta Sarana, dan Artha Guna Cipta Sarana (bergerak
dalam investment company dan pemilik Jakarta Design Center, Apartemen
Semanggi, serta tambak ikan di Jawa Tengah dan kebun kelapa sawit di
Sumatera Selatan), tidak dalam posisi direktur utama tapi dalam posisi
Presiden Komisaris.
Ketika terjadi krisis ekonomi, ia bersyukur grup usahanya tidak mempunyai
pinjaman dalam dolar. Sehingga perusahaannya selamat dari badai krisis
ekonomi itu. Tentang kebijakan tidak meminjam dolar tersebut, ia merendah
bukan karena ia pintar, tapi lebih karena perlindungan Tuhan. Dalam bisnis
itu ada yang masuk dalam perhitungan dan ada juga yang disebut luck,
keberuntungan. Orang Cina bilang, hoki. Di samping itu, ada perlindungan
Tuhan.
Ia memberi contoh nyata ketika, saat mengerjakan proyek tol
Cawang-Cikampek, hampir saja mereka mengganti pinjaman rupiah dalam bentuk
dolar. Ketika itu, semua orang menganjurkan meminjam dalam bentuk dolar,
karena bunganya lebih rendah. Direksi sudah mau pinjam dollar, bank pun
sudah setuju. Tapi ia memberi berbagai pertimbangan kepada direksi, dan
akhirnya tidak jadi. “Karena itu kita jadi selamat,” katanya.
Ia mengakui dalam perjalanannya menjadi pengusaha tidak selamanya berjalan
mulus. Ia menjadi pengusaha selama 20 tahun, sejak 1968 sampai sebelum
menjadi menteri tahun 1988. Setelah itu selama 10 tahun menjadi menteri.
Lalu kembali lagi menjadi pengusaha. Tidak selamanya berjalan mulus.
Pernah juga hampir bangkrut. Satu hal yang bisa ia petik pelajaran dari
segala peristiwa itu adalah setiap pukulan selama tidak membuat Anda mati,
maka akan membuat Anda berkembang. Jadi betapa pun beratnya jangan takut
untuk menghadapi kesulitan. Kesulitan itu yang biasanya membuat seseorang
akan sukses.
Bedanya orang yang sukses dengan yang gagal adalah orang sukses setiap
kali mendapat pukulan dia maju menghadapinya. Orang yang gagal adalah
setiap kali menghadapi pukulan dia minggir. Jadi, para pengusaha sukses,
seperti Soedono Salim, William Soeryajaya, Arifin Panigoro, dan pengusaha
yang lebih besar lagi di luar negeri juga mereka mengalami naik dan turun,
seperti juga di bidang politik. Up and down adalah bagian dari kehidupan.
Jangan sampai orang karena terkena pukulan lalu minggir. Itu salah!
Demikian juga ketika ia berada dalam birokrasi. Ia duduk di birokrasi
selama 10 tahun sebagai menteri. Di situ ia merasakan betul menjadi
menteri di negara seperti Indonesia ini adalah peluang bagi seseorang
untuk memberikan pengabdian yang luar biasa besarnya. Karena peranan dan
kekuasaan menteri itu besar sekali dalam mewarnai perkembangan masyarakat.
Jadi, menurutnya, sangat sayang kalau ada menteri yang tidak memanfaatkan
peluang yang diberikan sejarah ini untuk melakukan sesuatu yang berarti
bagi perubahan, melakukan penyempurnaan-penyempurnaan. Sebab kewenangan
menteri itu luar biasa. Memimpin suatu departemen dengan disediakan
anggaran yang mencapai trilyunan rupiah.
Maka, katanya, bayangkan saja kalau anda memegang trilyunan rupiah, tapi
tidak berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Yang dilakukan bukan
membuat perbaikan kepentingan masyarakat, tapi habis dikorup kan kacau itu.
Menjadi menteri adalah kehormatan yang sangat tinggi sekaligus di dalamnya
melekat tanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi
masyarakat, bangsa dan negara. Peluang untuk melakukan perbaikan dan
perubahan itu begitu besar.
Sebelum menjabat menteri, ia tidak pernah membayangkan peranan menteri
seperti itu. Tapi setelah menjadi menteri, baru ia sadar bahwa ternyata
jabatan itu memberikan peluang yang luar biasa untuk berguna bagi
masyarakat dan negara. Maka waktu ia menjadi Menteri Negara Perumahan, ia
mengeluarkan kebijakan rumah sangat sederhana. Karena rakyat tidak mampu
memiliki, lalu kredit pemilikan rumah dengan bunga yang murah, membangun
Tabungan Perumahan Pegawai (Taperum) dan berbagai kebijakan termasuk
peremajaan pemukiman nelayan, peremajaan pedesaan tertinggal dan
sebagainya. Kemudian, ketika menjadi menteri transmigrasi ia mengembangkan
sapi di Marauke dan pulau-pulau lain.
Ketika diangkat menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat pada Maret 1988,
banyak orang terpereranjat. Pasalnya, dengan menjadi menteri berarti ia
akan meninggalkan bisnisnya yang sedang berada di puncak. Konsekuensi
logis dari kebersediaannya menjabat menteri adalah harus melepaskan semua
jabatan penting di beberapa perusahaan. Sebagai Direktur Utama di PT
Bangun Tjipta, serta jabatan komisaris Utama di 9 perusahaan ia tinggalkan.
Dan ternyata keputusannya untuk menerima jabatan Menteri Negara Perumahan
Rakyat mendapat dukungan dari para pelaku bisnis properti. Karena dengan
melihat latar belakangnya yang sangat sesuai dengan jenis pekerjaan pada
kementerian itu. Sejak tahun 1970 dengan bendera CV. Bangun Tjipta, ia
telah mulai mengembangkan proyek-proyek perumahan, building contractor dan
developer. Hingga tahun 1972, bentuk perusahaan Bangun Tjipta berubah dari
CV ke perseroan, dan sejak itu pula ia mulai mengembangkan proyek-proyek
besar lain di sektor properti. Beberapa proyek yang pernah ditanganinya,
antara lain Jakarta Disain Center (JDC) dan Perumahan Kemang Pratama.
Di samping karir bisnis, insinyur Teknik Sipil ITB Bandung ini juga
berkibar di jalur organisasi dan politik. Ia pernah menjadi Ketua Umum
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia juga sebagai Ketua Umum Persatuan
Pengusaha REI. Ia juga menjadi anggota MPR RI dari tahun 1982 hingga 1998.
Bahkan setelah jabatan Menteri Perumahan Rakyat, periode 1993-1998 ia
dipilih lagi menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan.
Dan sekarang ini ia dipercaya oleh para pengembang anggota REI menjadi
Anggota Dewan Pembina DPP REI dan Ketua Komite Restrukturisasi Utang
Pengembang.
Kontroversi dan Teruji
Ia boleh juga disebut sebagai sosok kontroversial. Saat pengganyangan
terhadap Bung Karno, dia adalah mahasiswa ITB yang menjadi Wakil Komando
Laskar Soekarno. Tapi pada era Presiden Suharto, ia diangkat sebagai
menteri dalam dua kali kabinet. Namun, dengan posisinya itu, tak
membuatnya ragu-ragu menolak rencana penggusuran rumah susun yang
dicanangkan keluarga Cendana, Titiek Prabowo dan Sudwikatmono, yang sudah
berbekal ‘instruksi sakti’ Presiden Suharto.
Selama menjadi menteri pun, Siswono yang mantan aktivis mahasiswa itu
justru makin memperlihatkan sikap dasarnya, yaitu berpihak pada kebenaran
dan keadilan. Sikap itu membuatnya makin erat dengan label kritis. Ia
dianggap anggota kabinet perkecualian bersama Sarwono Kusumaatmaja.
Walaupun oleh para pendukung rezim Soeharto, sikap Siswono dinilai tidak
pas, karena ia pejabat pemerintah.
Selama menjabat menteri, ia tergolong bersih dari KKN. Padahal peluang
untuk itu cukup besar. Bahkan saat menjabat Menteri Transmigrasi, ia
melarang perusahaanya menjadi rekanan. Padahal sebelumnya PT Bangun Cipta
adalah rekanan di Departemen Transmigrasi, dan sudah beberapa kali membuka
lahan untuk transmigrasi.
Pejabat yang bersikap seperti itu sangat langka, terutama pada era Orde
Baru. Bahkan banyak yang justeru mengandalkan fasilitas. Sementara ia pun
bisa menghindari pemberian fasilitas, termasuk pada keluarga Cendana.
Apa mungkin ia bisa menolak Cendana? Menurutnya, Pak Harto itu kalau kita
jelaskan dengan baik, dengan argumen yang kuat, bisa menerima. Tetapi,
yang terjadi, terlalu banyak pejabat yang menjilat. Pejabat yang mencari
muka, itu yang terjadi.
Ia memberi contoh, ketika tahun kedua ia menjadi Menteri Perumahan Rakyat.
Ada sebuah surat yang ditandatangani oleh Titik Prabowo sebagai direktur
utama, dan Sudwikatmono sebagai Preskom. Mereka meminta rumah susun Kebon
Kacang di-ruislag seluas tiga hektar. Mereka ingin menggabung dengan
bangunan bank yang sudah ada di Jalan M. Husni Thamrin. Lalu ia menghadap
presiden, dan beliau mengatakan, “Rumah susun yang di Kebon Kacang
planologinya diubah.”
Wah! Lalu, ia membuat laporan lengkap dengan berbagai alasan. Di antaranya,
bahwa rumah susun Kebon Kacang itu baru diresmikan tahun 1983, jadi baru
berusia tujuh tahun. Kalau dalam waktu tujuh tahun ada peruntukan yang
diubah, nanti akan timbul kesan bahwa pemerintah tidak well planner,
program pemerintah itu tidak berjalan dengan baik. Selain itu, di rumah
susun itu ada prasasti yang ditandatangani oleh presiden. Lagi pula
perubahan peruntukan itu tidaklah menguntungkan untuk masyarakat bawah,
kecuali kalau presiden mempunyai rencana lain. Maka ia menyarankan untuk
tidak dilakukan penggusuran.
Menerima laporan itu, Presiden Soeharto terlihat kaget, karena biasanya
tidak ada yang mau begitu. Biasanya, kalau presiden sudah omong, semua
selalu mendukung, apalagi keluarganya yang maju. Karena orang itu tidak
punya kepercayaan diri untuk memperoleh suatu kedudukan.
Beberapa saat Presiden Soeharto diam. “Saya juga tidak tahu apa yang
sedang dipikirkan. Mungkin dia menilai, saya aneh. Tapi akhirnya presiden
setuju untuk tidak dilaksanakan penggusuran. Jadi, saya plong!” kenang
Siswono.
Sementara pejabat lain waktu itu lebih suka menurut saja. Maka Siswono
pernah menyebut banyak pejabat era itu yang sakit. Tapi, menurutnya, dalam
empat tahun reformasi, lebih parah lagi sakitnya. Waktu itu, kondisi belum
separah ini. Orang masih pesta mabuk, mabuk sukses. Kelakuan
pejabat-pejabat kita juga tidak memikirkan kepentingan rakyat, lebih
mementingkan diri sendiri. Waktu Thailand merosot, kita masih bisa
mengatakan fundamental ekonomi kita kuat. Saya kesal waktu itu. Saya
katakan, kita ini sakit, pejabatnya sakit, rakyatnya juga sakit.
Bagaimana rakyat tidak sakit? Di setiap jalan polisi ambil uang, dan semua
orang melihat tapi diam. Itu kan suatu penghinaan terhadap aparat negara
dan dilakukan oleh aparat negara itu sendiri, ditonton oleh rakyat dan
rakyat mendiamkan.
Ia menyaksikan, ada seorang Dirjen pensiun. Dia tidak punya apa-apa. Malah
banyak orang mengatakan, dia bodoh. Lima tahun jadi Dirjen, tidak punya
apa-apa. Orang jujur jadi dianggap bodoh. Sementara, ada pejabat eselon
dua, punya rumah mentereng, punya mobil lima, dan anak-anaknya sekolah di
luar negeri. Dia dibilang hebat. Maka, ia menyebut, semuanya sakit.
Ia juga pernah mengkritik Presiden Habibie tidak hemat. Sebab waktu masih
menteri saja sudah beli jet pribadi seharga 35 juta dollar AS.
Karena itu dari awal, ia sudah mengatakan, salah satu kunci agar bangsa
ini maju harus membangun aparat yang bersih dari korupsi dan kolusi. Untuk
itu, ia menyarankan setiap pejabat harus me-reclear kekayaannya sebelum
menjabat. Baik itu menteri atau gubenur, bupati, dan dirjen. Setelah
menjabat juga harus melaporkan kekayaannya. Ketika itu, orang jadi ramai.
Padahal, di luar negeri, itu hal yang biasa. Di Malaysia, biasa. Apalagi
di Jepang. Maka ia sangat mendukung terbentuknya KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi).
Kontroversi terus mewarnai langkahnya dalam munas luar biasa Golkar Juli
1999 untuk pergantian pengurus. Ia bersama Sarwono, Try Sutrisno dan Edy
Sudrajat dituduh sebagai Soehartois yang anti reformasi. Sementara Akbar
Tanjung bersama Habibie, Feisal Tanjung dan Abdul Gafur adalah kaum anti
Soeharto yang pro reformasi.
Buat orang yang paham, tuduhan itu memang mirip dagelan. Riwayat Siswono
sendiri tak pernah menunjukkan sebagai Soehartois, apalagi anti-reformasi.
Sementara Try Sutrisno yang berada satu kubu dengannya, setidaknya adalah
wakil presiden hasil ‘fait a ccompli’ ABRI yang tidak menghendaki wapres
pilihan Soeharto, yaitu BJ Habibie.
Mungkin, begitulah politik, yang bagi sebagian orang kotor. Tapi Siswono
yang sejak muda tak pernah jauh dari politik, tampaknya tak sempat
kehilangan kepribadian. Ia masih bisa menulis puisi dan cerpen. Bahkan
saat jadi menteri, ia ikut menulis buku Rumah untuk Rakyat. Sebelumnya,
saat masih jadi pengusaha, dia tuangkan konsepnya perihal hubungan etnik
Tionghoa dengan penduduk setempat dalam buku laris Warga Baru: Kasus Cina
di Indonesia.
Setelah kerusuhan Mei 1998, buku yang terbit tahun 1985 itu, sempat jadi
best-seller. Mengenai peristiwa 13 dan 14 Mei itu, ia tidak percaya kalau
kerusuhan itu spontan. Ia percaya peristiwa itu sengaja disulut, dan
reaksinya di luar dugaan, yang akhirnya menjadi spontan. Sulit ia
membayangkan terjadi peristiwa yang sebegitu brutalnya, termasuk
pemerkosaan dan penjarahan bisa terjadi secara spontan.
Kalau melihat peristiwa-peristiwa yang lalu, yang terjadi hanya perusakan
dan pelemparan batu. Rasa-rasanya, itu batas spontan yang bisa diterima.
Tapi, setiap kali kita melihat masalah Cina, selalu dikaitkan dengan
huru-hara. Mulai dari Situbondo, Tasikmalaya, Solo, Pekalongan, Cirebon,
Medan, selalu dikaitkan dengan huru-hara. ►tsl, dari berbagai
sumber. ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|