| |
C © updated 10122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Dr. (Hc) Ir. Siswono Yudo Husodo
Lahir:
Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Pekerjaan:
Direktur Utama PT. Bangun Tjipta Sarana 1969 - 1988
Menteri Negara Perumahan Rakyat RI 1988 - 1993
Menteri Transmigrasi dan PPH RI 1993 - 1998
Komisaris Utama PT. Bangun Tjipta Sarana 1998 - sekarang
Alamat :
Jl. H. Abd. Majid No. 48, Cipete, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Siswono Yudo Husodo
Belum Ada Prestasi SBY-JK soal Kemiskinan
Jakarta, Kompas 10/12/2007: Dalam sepuluh tahun terakhir, angka kemiskinan
di Indonesia belum membaik. Hingga Juni 2007, angka kemiskinan masih
berada pada angka 37,17 juta jiwa atau 17,75 persen dari jumlah penduduk
Indonesia.
"Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) belum
memiliki prestasi menonjol dalam pengurangan kemiskinan," ungkap Ketua
Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)
Siswono Yudo Husodo saat menjadi pembicara pada Rapat Kerja Nasional I
Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) di Jakarta, Minggu (9/12.
Menurut Siswono, jumlah orang miskin periode 1998-2006 berkisar 34 juta
hingga 50 juta orang. "Perlu diingat bahwa bangsa yang miskin
sesungguhnya tidak merdeka," katanya.
Sementara itu, angka pengangguran terbuka hingga Juni 2007 berkisar pada
angka 10,6 juta orang (9,8 persen). Angka ini relatif belum banyak
berubah dari angka tahun 2005 yang sekitar 10,9 juta orang (10,3 persen).
Siswono menilai pemerintah lamban dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi
melalui penciptaan pasar domestik dengan memperkuat pertanian, yang
merupakan sandaran hidup mayoritas rakyat Indonesia.
"Proses pemiskinan petani berlangsung dengan cepat. Hasil Sensus
Pertanian 2003 memperlihatkan bahwa kita memiliki masalah lain di bidang
pertanahan," ungkap Siswono.
Proses menyempitnya penguasaan lahan pemilikan petani, yang berlangsung
terus-menerus, baik yang disebabkan oleh proses fragmentasi tanah
melalui pewarisan tanah maupun pengalihan fungsi lahan pertanian guna
berbagai keperluan hidup manusia, juga menyebabkan petani gurem, yaitu
petani yang menguasai lahan kurang dari 0,2 hektar per kepala keluarga,
meningkat.
Solusi atasi kemiskinan
Pemerintah, lanjut Siswono, perlu memberikan perhatian serius pada
persoalan ini karena jumlah petani gurem, menurut hasil Sensus Pertanian
1993 dan 2003, menunjukkan kenaikan yang amat signifikan.
Jika pada tahun 1993 secara nasional jumlah petani gurem tercatat
sekitar 10,9 juta kepala keluarga (KK), pada sensus pertanian terakhir
tahun 2003, angka itu naik menjadi 13,7 juta KK.
"Meningkatnya jumlah petani gurem dan buruh tani menjadi penyebab
meningkatnya kemiskinan di desa, yang merupakan mayoritas penduduk
Indonesia. Dapat dikatakan bahwa 60 persen rakyat miskin adalah petani,"
ujar Siswono.
Untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran, saran Siswono, diperlukan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk memberikan peluang penyediaan
lapangan kerja yang luas, meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik
melalui peningkatan investasi maupun konsumsi yang meningkat, serta
menghasilkan pajak yang lebih banyak lagi bagi pembiayaan pembangunan
negara.
Bersamaan dengan itu, diperlukan pemerataan kesempatan berusaha dan
menikmati hasil-hasil pembangunan guna menciptakan rasa keadilan.
Di mana pun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi beserta pemerataan
pendapatan menjadi kunci peningkatan kesejahteraan. Selain itu, tutur
Siswono, percepatan peningkatan kesejahteraan kelompok masyarakat yang
berpenghasilan rendah serta pemerataan kue ekonomi secara regional
mendesak dilakukan, yang akan memberi citra keadilan bagi semua warga
negara.
Selain itu, sistem ekonomi nasional harus didedikasikan untuk membangun
kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri. Dalam kaitan ini, sebanyak
mungkin peluang ekonomi harus diprioritaskan untuk warga Indonesia.
"Pemerintah perlu mengutamakan percepatan pertumbuhan usaha nasional,
terutama menengah dan kecil, di samping yang besar. Dan jangan memberi
peluang lebih besar kepada pengusaha asing. Tanpa memperkuat pengusaha
nasional, negara dan bangsa kita hanya akan menjadi pasar dari
produk-produk luar negeri di era globalisasi ini," ungkap Siswono.
Ia menyadari bahwa pada era globalisasi ini naif jika kita menutup diri.
Untuk mempercepat perkembangan ekonomi nasional, kerja sama dengan modal
asing amat diperlukan.
Namun, kekurangpercayaan diri sebagai bangsa membuat Indonesia makin
bergantung pada luar negeri.
Kepercayaan diri dan semangat kemandirian akan membuahkan kegiatan
ekonomi yang luar biasa besarnya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Posisi makro-ekonomi
Untuk itu, saran Siswono, Indonesia perlu mengembangkan dengan cepat dan
oleh pengusaha nasional bidang-bidang yang memiliki comparative
advantage, yaitu perkebunan, pertanian pada umumnya, perikanan,
pertambangan, dan pariwisata.
Prestasi yang dicapai pemerintahan SBY-JK di bidang ekonomi sepanjang
tahun 2007, ujar Siswono, mampu mencatatkan posisi makro-ekonomi dalam
keadaan membaik. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5,6 persen per tahun, rasio
utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) menurun.
Angka inflasi moderat, pada kisaran 6 persen, nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per dollar AS.
Selain itu, neraca pembayaran juga menguat, sementara cadangan devisa
per Oktober 2007 sekitar 54 miliar dollar AS.
Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno di
Sumenep, Jawa Timur, mengatakan, semua pihak harus menangani secara
sinergis problem tingginya angka pengangguran, yang mencapai sekitar
10,55 juta orang pada awal tahun 2007. (gun/cas) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|