| |
C © updated 29062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Patuan Bosar Ompu Pulo Batu Sinambela
Gelar:
Raja Si Singamangaraja XII
Lahir:
Bakkara, Tapanuli, tahun 1849
Penobatan menjadi raja:
Tahun 1867
Meninggal:
Sionom Hudon, Tapanuli, 17 Juni 1907
Ayah:
Raja Si Singamangaraja XI
Ibu:
Ompu Boru Situmorang
Istri:
- Boru Simanjuntak
- Boru Nadeak
- Boru Sagala
- Boru Siregar
- Boru Situmorang
Anak:
- Patuan Nagari (Lk)
- Raja Pangkilim (Lk)
- Patuan Anggi (Lk)
- Raja Sabidan (Lk)
- Nagok (Lk)
- Sahudat (Lk)
- Raja Buntal (Lk)
- Raja Barita (Lk)
- Randang (Lk)
- Rinsan (Pr)
- Boru Lopian (Pr)
- Sunting Mariam (Pr)
- Tambok Br Sinambela (Pr)
- Saulina (Pr)
- Purnama Rea (Pr)
Catatan: Data ini belum lengkap dan urutannya tidak beraturan.
Cucu:
- Pulo Batu
- Patuan Sori
- Dan lain-lain
Cicit:
- Raja Tonggo Tua Sinambela
- Dan lain-lain
Sumber:
-Album Pahlawan Bangsa, Edisi: Revisi, Cetakan Ke-18. (Diterbitkan
oleh PT. Mutiara Sumber Widya)
-Ahu Si Singamangaraja Oleh Prof. Dr. W. Bonar Sidjabat |
|
| |
|
|
|
|
Raja Si Singamangaraja XII (1849-1907)
Menolak Dinobatkan Menjadi Sultan
Dia seorang pejuang sejati, yang
anti penjajahan dan perbudakan. Pejuang yang tidak mau berkompromi dengan
penjajah kendati kepadanya ditawarkan menjadi Sultan Batak. Ia memilih
lebih baik mati daripada tunduk pada penjajah. Ia kesatria yang tidak
mau mengkhianati bangsa sendiri demi kekuasaan. Ia berjuang sampai akhir
hayat.
Perjuangannya untuk memerdekakan ‘manusia bermata
hitam’ dari penindasan penjajahan si mata putih (sibontar mata), tidak
terbatas pada orang Tapanuli (Batak) saja, tetapi diartikan secara luas
dalam rangka nasional.
Semua orang yang bermata hitam dianggapnya saudara dan harus dibela dari
penjajahan si mata putih (sibontar mata). Dia merasa dekat dengan siapa
saja yang tidak melakukan penindasan, tanpa membedakan asal-usul. Maka
ia pun mengangkat panglimanya yang berasal dari Aceh.
Dengan dasar itulah, sehingga ketika pertempuran melawan penjajah
Belanda di Balige tahun 1883, Si Singamangaraja XII berupaya mendekati
serdadu Belanda yang antara lain terdiri dari saudara-saudara sebangsa
dari Jawa yang jelas juga bermata hitam. Ia mencoba memberitahukan
persaudaraan di antara mereka dibandingkan dengan orang Belanda, yang
ketika itu diidentikkan dengan sekelompok etnis bermata putih yang suka
melakukan penindasan.
Raja Si Singamangaraja XII yang lahir pada tahun 1849 di Bakkara,
Tapanuli, sebuah daerah di tepian Danau Toba, ini diangkat menjadi raja
pada tahun 1867 menggantikan ayahnya Raja Si Singamangaraja XI yang
meninggal dunia akibat penyakit kolera. Sebagaimana leluhurnya, sejak Si
Singamangaraja II, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan dari
pendahulunya secara turun temurun.
Sebagaimana dengan Si Singamangaraja I sampai XI, beliau juga merupakan
seorang pemimpin yang sangat menentang perbudakan yang memang masih
lazim masa itu. Jika beliau pergi ke satu desa (huta), beliau selalu
meminta agar penduduk desa tersebut memerdekakan orang yang sedang
dipasung karena hutang atau kalah perang, orang-orang yang ditawan yang
hendak diperjualbelikan dan diperbudak.
Pada masa pemerintahannya, kegiatan zending pengembangan agama Kristen
oleh Nommensen Cs dari Jerman juga sedang berlangsung di Tapanuli. Tidak
begitu lama dengan itu, kekuasaan kolonial Belanda pun mulai memasuki
daerah Tapanuli. Maka untuk menghadapi segala kemungkinan, ia pun mulai
mengadakan persiapan-persiapan dengan mengadakan musyawarah dengan
raja-raja serta panglima daerah Humbang, Toba, Samosir, dan Pakpak/Dairi.
Perang urat syaraf pun makin meningkat pada kedua belah pihak. Walaupun
sudah dicoba, jalan damai sudah tidak dapat lagi ditempuh. Maka pada
tanggal 19 Pebruari 1878 serangan mulai dilancarkan pasukan Si
Singamangaraja XII yaitu rakyat Tapanuli sendiri terhadap pos pasukan
Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung.
Pertempuran yang menewaskan banyak penduduk tersebut akhirnya memaksa
pasukan Si Singamangaraja mundur. Tapi walaupun harus mundur dari Bahal
Batu, semangat juang perlawanan pasukan itu masih tetap tinggi terutama
di desa-desa yang belum tunduk pada Belanda seperti Butar, Lobu Siregar,
Tangga Batu, dan Balige selaku basis pasukan Si Singamangaraja XII
ketika penyerangan ke Bahal Batu.
Sebaliknya di pihak Belanda, dengan kemenangan di Bahal Batu tersebut,
semakin berani mengejar terus pasukan Si Singamangaraja XII sampai ke
desa-desa yang tidak tunduk pada kolonial. Dalam pengejaran tersebut,
mereka selalu membakar desa dan menawan raja-raja desa. Akibatnya,
pertempuran pun berkobar di mana-mana seperti di Sipintu-pintu, Tangga
Batu, Balige, Bakkara dan sebagainya.
Bahkan dalam pertempuran kedua di Balige, Si Singamangaraja XII sempat
terkena peluru di atas lengan, walau lukanya tidak sampai membahayakan
nyawanya namun kuda putihnya si hapas pili mati ketika itu. Ia pun
melakukan perang gerilia.
Dengan begitu, Si Singamangaraja XII pun terpaksa berpindah-pindah
seperti dari Balige ke Bakkara kemudian ke Huta Paung di Dolok Sanggul,
selanjutnya ke Lintong (kampung pamannya (tulang) Ompu Babiat Situmorang)
dan kembali lagi ke Bakkara, begitulah terkadang berulang. Dan ketika
kedua kalinya Si Singamangaraja XII menyingkir ke Lintong, Belanda pun
menyerbu ke sana secara tiba-tiba pada tahun 1989.
Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi persenjataan yang
lebih modern dari Belanda, akhirnya perlawanan gigih pasukan Si
Singamangaraja XII pun terdesak. Dari situlah dia dan keluarga serta
pasukannya menyingkir ke Dairi, yang kemudian selama 21 tahun tidak
mengadakan serangan terbuka pada pasukan Belanda.
Pada kurun waktu itu, beliau tetap mengadakan perlawanan dengan cara
melakukan kunjungan ke berbagai daerah seperti ke Aceh dan raja-raja
kampung (huta) di Tapanuli dengan maksud agar hubungan di antara mereka
tetap terjaga terutama memberi semangat kepada mereka agar tidak mau
tunduk pada Belanda. Akibatnya perlawanan oleh raja-raja terhadap
Belanda pun kerap terjadi. Pihak Belanda meyakini, bahwa perlawanan yang
dilakukan oleh raja-raja kampung itu tidak lepas dari pengaruh Si
Singamangaraja XII.
Pihak penjajah Belanda juga melakukan upaya pendekatan (diplomasi)
dengan menawarkan penobatan Si Singamangaraja sebagai Sultan Batak,
dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di
daerah lain. Namun Si Singamangaraja menolak tawaran itu.
Sehingga usaha untuk menangkapnya mati atau hidup semakin diaktifkan.
Dan setelah melalui pengepungan yang ketat selama tiga tahun, akhirnya
markasnya ketahuan oleh serdadu Belanda. Dalam pengejaran dan
pengepungan yang sangat rapi, peristiwa tragis pun terjadi. Dalam satu
pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya
menyerah dan akan dinobatkan menja Sultan Batak. Namun pahlawan yang
merasa tidak mau tunduk pada penjajah ini lebih memilih lebih baik mati
daripada menyerah.
Dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia, ia seorang pejuang yang
tidak mau berkompromi dengan Belanda. Sehingga terjadilah pertempuran
sengit yang menewaskan hampir seluruh keluarganya melawan penjajah.
Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau Raja Si Singamangaraja XII bersama dua
putra dan satu putrinya serta beberapa panglimanya yang berasal dari
Aceh gugur pada saat yang sama yaitu tanggal 17 Juni 1907 di Sionom
Hudon. Kedua putranya itu yaitu putra sulungnya Patuan Nagari dan Patuan
Anggi sedangkan putrinya bernama boru Lopian, srikandi sejati yang masih
berumur 17 tahun.
Raja Si Singamangaraja XII tepatnya gugur di hutan daerah Simsim,
Sindias di kaki gunung Sitapongan, kurang lebih 9-10 km dari Pearaja,
Sionom Hudon, Tapanuli, Sumatera Utara. (Disebut Sionom Hudon, sesuai
dengan keenam marga yang menguasai daerah itu yaitu Tinambunan,
Tumanggor, Maharaja, Pinayungan, Turutan, dan Anakampun). Jenazahnya
mula-mula dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Sopo Surung
Balige.
Keluarga Si Singamangaraja XII yang turut gugur dalam pertempuran
melawan kolonial Belanda tersebut bukan hanya dua putra dan putri yang
sangat disayanginya tersebut, tapi tidak lama sebelumnya, abangnya yang
bernama Ompu Parlopuk juga sudah gugur ketika melancarkan perang Gerilya
tersebut. Demikian halnya dengan sang Permaisuri Raja Si Singamangaraja
XII, boru Situmorang, juga telah lebih dulu meninggal tidak lama sebelum
wafatnya Si Singamangaraja XII akibat keletihan bergerilya di tengah
hutan.
Bahkan, Pulo Batu, cucu yang sangat disayanginya, harus meninggal di
usia muda sebelum kakeknya. Raja Si Singamangaraja XII alias Ompu Pulo
Batu (Ompu Pulo Batu merupakan penamaan yang diambil dari nama cucu
laki-laki paling sulung dari putranya paling sulung, dalam hal ini Pulo
Batu merupakan anak sulung dari Patuan Nagari), akhirnya harus sama-sama
wafat dengan cucu yang sebelumnya sangat diharapkannya menjadi penerus
perjuangannya itu.
Perang Batak yang dipimpin Si Singamangaraja XII di Tapanuli, Sumatera
Utara yang pecah sejak tahun 1878 itu, akhirnya berakhir sudah. Sejarah
mencatat, ketika gugurnya sang pahlawan ini yang menjadi Gubernur
Jenderal yaitu pemangku jabatan Kerajaan Belanda yang tertinggi daerah
kolonial di Nusantara adalah Gubernur Jenderal J.B.van Heutsz, sedangkan
Gubernur Militer di Aceh yang mencakup Sumatera Utara adalah Jenderal
G.O.E.van Daalen.
Dan dibawah pasukan Kapten Christoffel alias ‘Si Macan Aceh’, seorang
berkebangsaan Swiss yang sebelumnya hanya merupakan serdadu bayaran,
namun kemudian tahun 1906 menjadi warga negara Belanda, akhirnya sang
pahlawan, Raja Si Singamangaraja XII gugur tertembak.
Kapten Christoffel yang melaporkan gugurnya Raja Si Singamangaraja XII
di Tanah Batak kepada Gubernur Jenderal J.B.van Heutsz di Bogor ketika
itu membawa bukti jarahan berupa Piso Gaja Dompak dan Stempel Kerajaan.
Stempel kerajaan dan Piso Gaja Dompak pun secara resmi disampaikan oleh
Bataviaaschap Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga
Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan di Batavia) pada rapatnya tanggal 7
Agustus 1907 kepada Museum di Gedung Gajah (Jalan Merdeka Barat sekarang-red).
Piso Gaja Dompak waktu itu diberi tanda nomor 13425.
Mengenai pusaka yang satu ini, beberapa kalangan anggota keluarga Raja
Si Singamangaraja XII mengklaim, bahwa Piso Gajah Dompak yang sebenarnya
masih disimpan oleh anggota keluarga. Sementara yang lain mengatakan
bahwa salah seorang dari pihak boru (pihak dari anak perempuan) yang
menyimpannya. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa Piso Gaja Dompak itu
telah menghilang ke langit.
Piso Gaja Dompak itu sendiri adalah satu keris yang panjangnya sekitar
60-70 cm dengan pegangan yang menyerupai patung gajah. Menurut keluarga
Si Singamangaraja dan berdasarkan hasil penelitian berbagai sarjana,
pusaka ini sudah ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan
abad XVI Masehi. Bersama stempel kerajaan, pusaka tersebut merupakan
lambang penting dari pemerintahan Raja Si Singamangaraja I sampai ke
XII.
Perang yang berlangsung selama 30 tahun itu memang telah mengakibatkan
korban yang begitu banyak bagi rakyat termasuk keluarga Si
Singamangaraja XII sendiri. Tapi walaupun Si Singamangaraja XII telah
wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang di tanah Batak
berakhir, sebab sesudahnya terbukti masih banyak perlawanan dilakukan
oleh rakyat Tapanuli khususnya pengikut dari Si Singamangaraja XII
sendiri.
Di hati rakyat sudah tumbuh semangat kemerdekaan dari segala bentuk
penindasan seperti yang sudah ditanamkan sang pahlawan. Namun perlawanan
rakyat itu tidak lagi sebesar perlawanan yang dipimpin Si Singamangaraja
XII, sebab Belanda sudah semakin banyak menguasai kampung-kampung. Di
samping itu, ketika itu pemimpin perlawanan rakyat itu pun belum ada
yang bisa menyamai Si Singamangaraja XII yang bisa menghimpun semua
raja-raja di Tapanuli bahkan dari Aceh.
Sejak itu sejarah baru pun tertulis. Daerah Aceh dan Sumatera Utara
bagian pedalaman yang sampai tahun 1903 masih belum bisa dikuasai
Belanda dan bahkan sebelum wafatnya Si Singamangaraja XII pada tanggal
17 Juni 1907 itu, kekuasaan Hindia Belanda di Nusantara masih minus
Sumatera Utara bagian pedalaman, akhirnya berakhir. Sejak itu lengkaplah
seluruh wilayah Nusantara menjadi daerah jajahan Belanda sebab Sumatera
Utara bagian pedalaman inilah yang merupakan daerah terakhir di
Nusantara yang dimasukkan ke dalam kekuasaan pemerintahan penjajahan
Belanda. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|