| |
C © updated 19042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mlp |
|
| |
Nama:
Dra. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum
Lahir:
Jombang, 8 Maret 1948
Gelar:
First Lady (Ibu Negara) ke-4
Suami:
KH Abdurrahman Wahid
Menikah:
11 September 1971
Anak:
1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa)
2. Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny)
3. Anita Hayatunnufus (Nita)
4. Inayah Wulandari (Ina),
Pendidikan:
Program S-2 Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, Depok
Pekerjaan:
Pendiri dan Pimpinan Yayasan PUAN Amal Hayati, didirikan 3 Juli
2000 dan mulai beroperasi Maret 2001
Penguasaan Bahasa:
Inggris, Arab dan Perancis
Alamat:
Jl. Warung Sila No. 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI
Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
Ibu Negara Pejuang Hak Perempuan
Ibu Negara ke-4 ini sudah sangat terbiasa menghadapi perilaku suami yang
kontroversial. Maka, ia pun tak terlalu merasa kaget ketika MPR RI tahun
1999 mengangkat suaminya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi
Presiden ke-4 RI. Ia juga tak perlu merasa kehilangan ketika oleh
lembaga dan anggota yang sama, MPR di tahun 2001 menurunkan suaminya
dari kursi kepresidenan.
Sebelum suaminya belum menjadi apa-apa, lalu menjabat Ketua Umum PBNU
(1984-1999), menjadi Presiden, dan kembali menjadi anggota masyarakat
biasa, tepatnya sebagai tokoh pejuang demokrasi, perdamaian dan
multikulturalisme di sebuah negara yang justru sangat pluralistik, Sinta
Nuriyah tetaplah sama. Ia tidak pernah berubah. Termasuk ketika suami
yang sedang menjabat Presiden, itu diisukan melakukan perselingkuhan
dengan seorang wanita Sinta Nuriyah Wahid tetap tegar sebagai istri yang
percaya akan kebaikan suami.
Menolak poligami
Dra Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum kelahiran Jombang 8 Maret 1948, itu tetap
setia mendampingi Gus Dur yang penglihatannya semakin menurun sehingga
harus dituntun oleh putrinya Yenny. Walau pendampingan itu sendiri harus
ia lakukan dari kursi roda. Ia membutuhkan alat bantu itu setelah
mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1993, pada saat ia justru sedang
memasuki semester kedua program studi S-2 Studi Kajian Wanita, di
Universitas Indonesia, Depok. Keinginan kuat Sinta untuk memberikan yang
terbaik bagi bangsanya tetap tidak berubah kendati sudah hidup di luar
Istana. Ia memilih jalur pemberdayaan perempuan sebagai ikon perjuangan
baru.
Maka itu ketika berlangsung Muktamar PBNU tahun 2004 ia dengan lantang
menolak menu makanan yang disajikan oleh sebuah jaringan restoran
waralaba, sebab pemiliknya dikenal luas sebagai penganut poligami. Sikap
tegas Sinta itu segera menyadarkan pemikiran banyak orang tentang telah
munculnya sebuah dobrakan baru, yang bermaksud mengubah persepsi lama
pemikiran kaum lelaki mengenai perempuan. Ia memang tidak main-main
dalam perjuangannya. Jauh sebelumnya, pada 3 Juli 2000 Sinta telah
mendirikan sebuah lembaga Yayasan PUAN AMAL HAYATI. PUAN, yang diartikan
Sinta sebagai “Pesantren Untuk Pemberdayaan Perempuan”.
Yayasan itu baru resmi beroperasi sejak Maret 2001. Ada alasan unik
mengapa Sinta menundanya. Ia menghindari kemungkinan timbulnya persepsi
buruk di masyarakat, sebab tidak mau dikatakan memanfaatkan kedudukan
Ibu Negara untuk mendirikan Yayasan. Karena itu ada uang atau tidak
Yayasan akan tetap jalan. Tetapi paling tidak pasti akan ada uang dari
honor KH Abdurrahman Wahid, sang suami untuk membiayainya.
Sinta yang
sudah dilamar oleh Gus Dur sebagai istri saat masih berumur 13 tahun,
namun baru diwujudkan kemudian pada pernikahan 11 September 1971, itu
memastikan tidak ada campur tangan lembaga dan orang-orang Kepresidenan
ketika mendirikan Yayasan. Kecuali sumbangan nama “Amal” dari Alwi
Shihab yang ketika itu menjabat Menteri Luar Negeri, yang lalu ditimpali
oleh Presiden Gus Dur dengan nama “Hayati”. Sedangkan kata PUAN sudah
disediakan Sinta sebagai ikon perjuangannya lewat Yayasan.
Kaji Ulang Kitab Kuning
Sinta bukan hanya lantang menyuarakan penolakan kehidupan poligami. Ia
sekaligus menerobos dan memperbaiki persepsi para kiyai tentang
perempuan, yang selama ini selalu saja menggunakan paradigma lama
berpegang pada Kitab Kuning sebagai pedoman. Isi Kitab Kuning menurut
Sinta sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sesuai dengan isi al-Quran. Sinta
mengatakan isi Kitab berisi relasi suami istri yang menggambarkan
kedudukan istri sangat terpuruk. Di situ, disebutkan kedudukan seorang
istri ibarat tawanan perang sang majikan (suami) di dalam rumah tangga.
Isi Kitab Kuning kata Sinta berbeda dengan ide kesetaraan gender. Karena
itulah keseteraan gender tak akan bergaung di lingkungan pesantren sebab
kiyai-kiyai masih tetap beranggapan lama sesuai dengan isi Kitab, dimana
kedudukan istri digambarkan sebagai seorang budak di hadapan suami, atau
seperti seorang yang menanggung hutang dengan suaminya. Kata Sinta, ada
juga yang mengatakan seorang istri sekalipun menjilati nanah di muka
suami, kalau suaminya itu tidak ridho maka tidak akan berarti apa-apa.
Hal itu membuat Sinta merasa ganjil, apakah memang benar Islam
mengajarkan hal itu. Karena Sinta merasa itu tidak benar maka ia
mengkaji ulang isi Kitab Kuning, dan ternyata hadits-hadits seperti itu
adalah hadits-hadits palsu. Sinta harus mengkaji ulang Kitab Kuning
setelah sebelumnya berhasil membuat tesis, berjudul “Perkawinan Usia
Muda dan Kesehatan Reproduksi” dengan mengambil responden dari kalangan
pesantren dan non pesantren.
Sinta menyarankan pihak-pihak yang berpendapat bahwa poligami boleh, itu
sebaiknya mengkaji al-Qur’an lebih dalam, saksama, teliti, dan semua
aspek mesti dikaji lagi. Sebab, menerjemahkan al-Qur’an tidak terbatas
pada lingkup yang tekstual tapi juga kontekstual. Termasuk mencakup
kajian asbâb al-nuzűl (sebab diturunkannya) dan melihat bahasanya.
Secara tekstual ayat poligami memang berbunyi, “fankihű mâ thâba lakum
min al-nisâ’ matsnâ wa tsulâtsa wa rubâ’…”, (nikahilah dua atau tiga
atau empat perempuan yang baik menurutmu). Ayat ini kata Sinta jangan
dipotong sampai di situ saja, sebagaimana umumnya orang banyak memotong
hanya hingga penggalan ayat tersebut. Sebab masih ada sambungan yang
sering dilupakan yakni, “Fain khiftum allâ ta’dilű fawâhidah” (sekiranya
kamu khawatir tidak dapat berlaku adil, maka kawini satu perempuan
saja).
Masalahnya, kata Sinta, keadilan itu dilihat dari sudut mana dan ukuran
siapa. Al-Qur’an memiliki dua padanan kosakata untuk kata keadilan yaitu
qashata dan ‘adala. Qashata sering dipakai untuk pengertian “keadilan
yang bersifat materil”. Sementara ‘adala untuk “keadilan yang bersifat
immateril termasuk cinta, kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya.”
Nah, dalam ayat tadi al-Qur’an menggunakan kosakata ‘adala.
Jadi yang dituntut dalam ayat, yang justru sering dijadikan justifikasi
teologis poligami, adalah keadilan yang bersifat immateril. Maka jika
sudah bicara keadilan immateril itu dipastkan tidak bisa diwujudkan
melalui poligami. Dalam al-Qur’an, masih dalam surat Al-Nisâ’,
disebutkan, “Falâ tashtathî’u ‘an ta’dilű baina al-nisâ’ walau
haratstum” (engkau tidak akan mampu berbuat adil atas perempuan meski
engkau berusaha keras untuk itu). Jadi keadilan tidak akan mungkin
terwujud melalui praktik-praktik poligami.
Sinta menyatakan bahwa poligami secara eksplisit tidak diperkenankan
menurut al-Qur’an. Ia juga menyebut banyak hadits Nabi Saw yang tidak
membolehkan poligami. Sebagai contoh, ketika Ali ra minta izin untuk
menikahi Juwairiyyah Rasulullah langsung menolak. Dia tidak mengizinkan
karena Fatimah (istri Ali, anak Rasulullah) adalah bagian dari Nabi.
Nabi itu tegas-tegas mengatakan sampai tiga kali tidak mengizinkan. Itu
tentu berarti poligami tidak diperkenankan.
Kalaupun ada pandangan populer bahwa poligami adalah bagian dari ajaran
Islam, Sinta memastikan pandangan itu salah dan kesalahan terjadi karena
ayat al-Qur’an diartikan secara tektual seperti halnya membaca secara
letterlijk, dan ditambah lagi ada kepentingan laki-laki (male-biased) di
dalamnya. Maka akibatnya adalah muncul pandangan populer yang salah,
jadi bukan dilalah-nya (maksud utama) yang ditonjolkan.
Sinta menyebutkan salah satu tujuan Allah mengutus Nabi adalah untuk
membebaskan kaum perempuan dari belenggu-belenggu yang mengikat. Setelah
belenggu mulai terbuka dan teratasi, Nabi wafat, sayangnya muncul
kembali keinginan laki-laki untuk menguasai perempuan. Sinta
mencontohkan adanya hadits yang menyebutkan, bahwa malaikat akan
melaknat perempuan semalam suntuk bila menolak “ajakan” suaminya.
Menurut Sinta hadits ini justeru menunjukkan kelemahan laki-laki sebab
tidak berani kepada perempuan. Untuk melakukan hubungan seksual saja
laki-laki harus meminta bantuan laknat malaikat.
Tak Terhalang Keterbatasan Fisik
Ibu dari empat orang putri Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba
Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), dan Inayah Wulandari
(Ina), ini tergolong aktivis organisasi. Ia adalah anggota Kongres
Wanita Indonesia (Kowani) yang merupakan federsi berbagai organsiasi
wanita di Indonesia, juga anggota Komite Nasional Kedudukan Wanita
Indonesia (National Commission on the Status of Women).
Bersama
organisasi-organisasi lain, sebelum mendirikan Yayasan PUAN Sinta sudah
aktif memperjuangkan kepentingan-kepentingan perempuan. Hanya saja ia
tidak mengerti betul apa yang menjadi tujuan perjuangan organisasi
tersebut. Ia pun merasa sesungguhnya tidaklah tertarik untuk terjun ke
dalam perjuangan perempuan.
Perubahan besar baru dapat dialaminya setelah mengkaji Kitab Kuning
tadi, lalu iapun mendirikan Yayasan PUAN Amal Hayati. Di Yayasan ini
Sinta mulai sangat mengerti betul, dan sekaligus ingin berjuang membela
kepentingan perempuan baik perempuan yang berada di dalam maupun di luar
rumah tangga yang sama-sama banyak mendapat ketidakadilan.
Keterbatasan gerak fisik akibat kecelakaan tak menghambat munculnya
ide-ide segar dari Sinta Nuriyah. Kegigihannya berjuang menempatkan
wanita Indonesia pada posisi yang terhormat justru makin mencuat setelah
secara fisik ia tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal tugas rutin
mendampingi seorang tokoh yang sangat dan selalu kontroversial, Gus Dur,
itu tak kurang rumitnya. Kecelakaan mobil tahun 1993 memang membuat
Sinta harus berada di kursi roda.
Ia mengalami kelumpuhan tak dapat
menggerakkan bagian tubuh dari leher hingga kaki. Ia membutuhkan waktu
satu setengah tahun perawatan untuk dapat dikatakan sembuh, walau harus
tetap menggunakan alat bantu kursi roda. Tentang kelanjutan kuliahnya di
UI Sinta pernah meminta pihak kampus agar memberikan kelonggaran dengan
menyediakan ruang kuliah khusus baginya, yang dapat dijangkau kursi roda
seperti di lantai bawah. Namun permintaan itu tak dapat dipenenuhi dan
Sinta harus kuliah di lantai empat.
Maka ketika sudah semester empat Sinta yang bertekad menyelesaikan
kuliah dengan rendah hati sadar, ialah yang membutuhkan belajar bukan
pihak kampus. Iapun bersedia kuliah di lantai empat. Tapi apa mau dikata
lift kampus kemudian rusak. Tapi Sinta tak mau kehilangan akal. Ia
kemudian memasuki ruang kuliah layaknya Jenderal Sudirman saat berjuang
melawan penjajah, yakni digotong di atas tandu dinaik-turunkan dari
bawah ke lantai empat dan sebaliknya. Kejadian seperti itu berlangsung
satu semester penuh menunggu hingga liftnya selesai diperbaiki.
Bersuamikan Pria Romantis
Sinta sangat sadar ia bersuamikan seorang pria yang sangat
kontroversial. Karena kontroversial itu banyak yang suka dan banyak pula
yang tak suka terhadap suaminya. Gus Dur ketika menjabat Presiden banyak
disanjung-sanjung hingga diberi gelar sebagai “Bapak Bangsa”. Namun
serta-merta Sinta menolak jika disebut pula sebagai “Ibu Negara”. Sinta
beralasan, yang namanya “Ibu Bangsa” tidak selalu harus pasangan dari
“Bapak Bangsa”. Sebab bisa saja istri dari “Bapak Bangsa” kadang-kadang
berpendidikan rendah sehingga tidak layak disebut “Ibu Bangsa”.
Walau menolak disebut “Ibu Bangsa” Sinta Nuriyah sangatlah berperan
besar menunjang karir dan kesuksesan Gus Dur di kancah politik nasional.
Ia berprinsip sederhana, seorang istri kalau bisa menciptakan ketenangan
dalam rumahtangga berarti suami akan tenang. Jika di luaran Gus Dur
banyak memainkan jurus-jurus ‘silat’ perpolitikan nasional, di rumah
Sinta menawarkan tema pembicaraan keluar dari politik untuk masuk ke hal
yang ringan-ringan.
Namun jika Gus Dur yang, kata Sinta ia tergolong
pria romantis, itu memasuki pembicaraan area politik maka Sinta yang
menguasai aktif bahasa Inggris, Arab, dan Perancis tetap mau meladeni
dan mampu pula menanggapinya.
Sinta pun menjadi bisa memahami segala kegiatan Gus Dur. Diskusi adalah
cara yang jitu bagi Sinta untuk bisa mengerti tentang Gus Dur. Setiap
muncul ide-ide Gus Dur yang mendapat sorotan luas dari amsyarakat maka
Sinta akan mencoba memahami, atau paling tidak keduanya berdiskusi dulu.
Diskusi seolah telah menjadi ‘menu’ pengganti keromantisan Gus Dur, yang
menjadi semakin sibuk sejak terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Jika Gus
Dur ‘sibuk’ sendiri maka Sinta sebagai ibu yang baik akan tetap telaten
mendidik anak-anak dan memelihara keharmonisan rumahtangga.
Sinta kerapkali memperlakukan Gus Dur sebagai teman yang baik,
sebagaimana pernah ia tuangkan dalam tulisan “Sehari Bersama Abdurrahman
Wahid”. Itu, adalah sebuah artikel reportase hasil ‘investigasi’ Sinta
saat mengikuti keseharian kegiatan Gus Dur kemanapun suaminya pergi.
Sinta, selain aktivis organisasi ternyata pernah pula berprofesi sebagai
wartawan, yakni pada tahun 1980-1985 di Majalah “Zaman”. Profesi itu
harus berhenti karena majalahnya ditutup, Sinta lalu sempat bekerja
untuk Sybah Asa (Tempo).
Hidup diijinkan Sinta mengalir begitu saja tanpa harus dipersiapkan
menjadi ini atau menjadi itu. What ever wil be, will be, kata Sinta.
Prinsip what ever will be semakin ketika ia ‘harus’ menjadi “First Lady”
Indonesia, sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah ada dalam kamus dan
skenario hidup Sinta. Maka itu ketika Gus Dur diminta mundur tahun 2001
Sinta dan keluarga tak perlu berkecil hati. Ia malah menganjurkan Gus
Dur agar secepatnya saja mundur. Ia dan anak-anak tak harus shock atau
down, karena sejak sebelum menjadi Presiden pun mereka sudah terbiasa
akan kontroversialitas Gus Dur.
Apalagi, Gus Dur yang diminta menjadi
Presiden maka ketika diminta tidak lagi menjadi Presiden pun menjadi
tidak apa-apa pula. Sinta sudah menyerahkan hidup secara total ke dalam
perlindungan Tuhan. Maka tak heran jika Sinta yang gemar membaca,
sehingga kerapkali dikirimi buku ‘silat asli’ dari Cina oleh Gusdur
sampai kecanduan, itu sesekali masih mau turun ke jalan berdemonstrasi
sebagaimana kebiasaannya saat menentang pemerintahan Soeharto.
Sinta sangat percaya akan suaminya. Karena itulah isu perselingkuhan
yang dituduhkan pada Gus Dur yang disertai dengan bukti-bukti otentik
segala, itu tak membuat Sinta goyah. Ia tetap percaya, memahami, hingga
mengagumi suami. Sebagai tokoh kontroverisial Sinta paham banyak yang
ingin menjatuhkan suaminya.
Salah satunya menggunakan perempuan, untuk
mengusung isu perselingkuhan yang ternyata tidak terbukti kebenarannya.
Tanpa selingkuh pun, kata Sinta, sudah banyak orang yang menawari
suaminya kawin lagi. Orang itu sekaligus menyodorkan anaknya segala,
atau siapanya kepada Gus Dur sebab katanya untuk ngalap berkah. ►ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|