| |
C © updated 19122006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tum |
|
| |
Nama:
Dr. Sinis Munandar, MS
Lahir:
Comal, Pemalang, 8 April 1944
Agama:
Islam
Isteri:
Irawati
Anak:
Diah Paramita ST dan Aditya Sulaksono, SE
Kegiatan Sekarang :
Ketua Umum Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Tertinggal Indonesia (YPMTI)
Pendidikan:
- SR Negeri Comal, 1956
- SMP/B Negeri Comal, 1959
- SMA/B Negeri Pekalongan, 1962
- Akademi Farming di Semarang, 1966
- Universitas Jakarta, Jurusan Administrasi Niaga, Jakarta 1971
- Fak. Pascasarjana IPB, Jurusan Ekonomi Pertanian, S-2-MS, Bogor, 1978
- Fak. Pascasarjana IPB, Doktor (S-3), Jurusan Perencanaan Pembangunan
Wilayah dan Pedesaan, Bogor 1988
Kursus Kepegawaian/Penjenjangan:
- SEPALA Angkatan XV di Ciawi, Bogor, 1979
- SESPANAS Lembaga Administrasi Negara Jakarta, 1992
- Pendidikan dan Pelatihan SPATI Lembaga Administrasi Negara, 1998
- Penataran Kewaspadaan Nasional Angkatan XVII di Jakarta, 1988
Karier:
- Pegawai bulanan Deptan, 1967 – 1968
- Kepala Urusan Pupuk, 1968 – 1969
- Pj. Kasubdin. Pengawetan Tanah, 1969-1971
- Kasie Konservasi Tanah, 1971-1975
- Project Officer (Pusat) di Teluk Lada Irrigation Project (ADB) di
Banten
- Kasie Monitoring Pencetakan Sawah, 1980 - 1984
- Pimpro Perluasan Areal Pertanian, Direktorat Perluasan Areal
Pertanian, 1984 - 1986
- Kasubdit Pengembangan Lahan dan penanggung jawab proyek-proyek
berbantuan LN (ADB, IBRD, IFAD, OECF, JICA) yang terkait dengan
pencetakan sawah, 1985 - 1994
- Direktur Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan, Ditjen Tanaman
Pangan dan Hortikultura, 1994 -1998
- Ketua Tim Pelaksana Upaya Khusus Pemantapan Peningkatan Produksi Padi
tahun 1995 dan tahun 1996
- Ketua Tim Perluasan Pemanfaatan Lahan Potensial di luar Pulau Jawa,
1996
- Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (PERUM) Otorita Jatiluhur, 1996
- Ketua Tim Teknis Departemen Pertanian Proyek Pengembangan Lahan Gambut
Pertanian di Kalimantan Tengah, 1997
- Anggota Dewan Pengawas Perum Jasa Tirta di Malang, Jatim, 1999-2002
- Staf Ahli Mentan bidang Tenaga Kerja dan Alat Mesin Pertanian,
199-2000
- Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian, Dep.
Pertanian, 2000-2004
Kursus/Pelatihan dan Kunjungan Kerja ke LN, al:
- Latihan Multiple Cropping Program di Sri Lanka, 1972
- Pelatihan Basic Project Management di USA dan Taiwan, 1977
- Workshop and Comparative Study for Land Development and Water
Management di Korsel; dan Taiwan, 1986
- Workshop of Project Implementation for Asia-Pasific Region di RRC,
1990
- Anggota delegasi R.I. untuk Negosiasi Provincial Irrigated Agriculture
Development Project dengan IBRD di Washington, USA
- Anggota Delegasi R.I pada pertemuan Working Group for Agriculture and
Food Cooperation antara Indonesia-Australia ; sebagai Ketua Task Force
Land and Water Management di Brisbane, Australia,1994
- Ketua Delegasi SOM AMAF (Senior Official Meeting ASEAN Minister
Agriculture and Fishery) di Pnompeh, Cambodia, 2001
- Wakil Ketua Delegasi Indonesia untuk negosiasi Proyek Kalimantan Timur
dengan IFAD di Roma, 2002
- Mewakili Menteri Pertanian mengunjungi proyek-proyek pertanian bantuan
dari petani Indonesia melalui FAO di Gambia dan diterima oleh Presiden
Gambia
- Ketua Delegasi SOM AMAF di Kualalumpur, Malaysia, 2003
Penghargaan:
- Piagam Penghargaan dari Kepala Badan Pertanahan Nasional, 1988
- Piagam Penghargaan dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM
- Piagam Tanda Kehormatan Satya Lencana Karyasatya 20 tahun dari
Presiden RI
- Piagam Penghargaan sebagai Tokoh Nasional Idola Masyarakat berupa
anugerah Award “Mitra Karya Bhakti Pertiwi” tingkat Nasional yang
diselenggarakanoleh Yayasan Mitra Karya Pembangunan (YMKI) Pusat
Jakarta, 1996.
- Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI, 1997
- Tanda kehormatan Satya Lencana 30 tahun dari Presiden Republik
Indonesia, 1998
Pengalaman Organisasi;
- Ketua Komisariat GMNI di Akademi Farming, Semarang, 1963-1965
- Ketua Komisariat PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) di
Ditjen Pertanian Tanaman pangan, 1978-1982
- Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Masyarakat Farming Indonesia
(HIMAFI), 1990-1995
- Ketua II Yayasan Mujahidin , Dep. Pertanian
- Ketua DPP- MKGR (Dewan Pimpinan Pusat Musyawarah Kekeluargaan Gotong
Royong), Jakarta, 1999 – sekarang.
- Ketua Dewan pembina Lembaga Pendidikan Perkebunan, Yogyakarta, 2000 –
2005
- Ketua Umum Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Tertinggal Indonesia
(YMPTI) ; (Indonesia Marginalized Community Empowerment Foundation),
Jakarta, 2004 – sekarang.
Hobi:
- Membaca buku
- Olah raga jalan kaki
Alamat Kantor:
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Tertinggal Indonesia (YMPTI)
Jln. Rawa Bambu Raya No. 13, Pasar Minggu, Jakarta ; Telp. 021-7805206
Alamat Rumah:
Jln. Elang Prima Blok C 3/25, Perumahan Tanjung Mas Raya, Tanjung Barat,
Jak-Sel,
Telp. 021-7816639
|
|
| |
|
|
|
|
| SINIS MUNANDAR HOME |
|
|
 |
DR Sinis Munandar, MS
Pemberdaya Masyarakat Tertinggal
DR Sinis Munandar, MS merupakan salah satu dari segelintir manusia
Indonesia yang memiliki komitmen tinggi terhadap nasib masyarakat
tertinggal. Begitu ia pensiun sebagai pegawai negeri dengan jabatan
terakhir Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian,
Sinis Munandar tidak lantas berdiam diri. Ia justru berupaya mewujudkan
obsesinya yang sudah lama terpendam, yakni membantu pemecahan masalah
masyarakat tertinggal di tanah air.
Bersama Ir Wardojo (mantan Menteri
Pertanian dan Dr Ir H Ade Djuhara, seorang pakar pertanian, ia pun
menggagas pendirian Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Tertinggal Indonesia
(YPMTI).
Yayasan ini didirikan tanggal 13 Juli 2004 berdasarkan akte notaris
Widyatmoko SH dengan ketua umumnya Dr. Sinis Munandar, MS. Sementara
kedua tokoh pendiri lainnya, Ir Wardojo dan Dr.Ir. H. Ade Djuhara duduk
sebagai Pembina. Yayasan ini berkedudukan di Jakarta, tepatnya di Jln.
Rawa Bambu no 13 di bilangan Pasar Minggu. Sinis Munandar tampaknya tak
ikut-ikutan mempercayai tahyul yang sering merujuk angka 13 sebagai
angka sial. Selain tanggal pendirian yayasannya, alamat kantor yayasan
pun melibatkan angka 13.
Dalam pemahaman Sinis Munandar, konotasi masyarakat tertinggal identik
dengan masyarakat “marjinal”. Merujuk kepada kelompok masyarakat yang
hidup dalam lilitan dan lingkaran kemiskinan. Atau mereka yang secara
ekonomis berada jauh di bawah standar hidup rata-rata penduduk kita.
Termasuk dalam kelompok ini mereka yang terpinggirkan atau anggota
masyarakat yang samasekali belum tersentuh oleh hiruk pikuk pembangunan.
Kenapa bukan istilah “miskin” atau “kemiskinan” ? Yayasan Pemberdayaan
Masyarakat Miskin Indonesia, misalnya, kan lebih lugas dan tegas
Ah, nanti ditafsirkan macam-macam atau dianggap memperuncing gap “si
kaya dan si miskin”, katanya. Menurut Sinis Munandar, pengertian
“tertinggal”, justru jauh lebih luas karena mencakup rendahnya
pendapatan, rendahnya tingkat pendidikan dan rendahnya tingkat
kesehatan.
Sinis Munandar juga menampik jika yayasannya dihubung-hubungkan dengan
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. “Kebetulan saja
menggunakan istilah yang sama. Bahkan pembentukan Kementerian Negara
Pembangunan Daerah Tertinggal lebih belakangan dibandingkan dengan
berdirinya yayasan kami,” ujarnya sambil menahan senyum.
Mantan staf ahli menteri pertanian ini lebih jauh mengemukakan bahwa
YPMTI merupakan organisasi sosial, kemanusiaan dan keagamaan serta tidak
berafiliasi kepada salah satu organisasi sosial-politik. Visinya untuk
membantu terwujudnya masyarakat Indonesia yang makmur sejahtera. Untuk
itu, yayasan siap menjalin kemitraan dan kerjasama dengan semua pihak.
Baik pemerintah, swasta, LSM dan kelompok masyarakat lainnya guna
bahu-membahu mempercepat peningkatan martabat masyarakat tertinggal,
mengentaskan mereka dari himpitan kemiskinan,rendahnya pendidikan dan
rendahnya tingkat kesehatan, ujar Sinis Munandar dalam wawancara khusus
dengan “Tokoh Indonesia” di Jakarta baru – baru ini.
Harus Diprioritaskan
Ia mengingatkan agar masalah yang satu ini jangan menjadi sekedar jargon
dan retorika politik. Atau sekedar bahan wacana, atau topik seminar
dengan kesimpulan yang hanya indah di atas kertas. Masalah masyarakat
tertinggal harus mendapat prioritas dalam pembangunan sekarang dan harus
diwujudkan dengan program yang jelas dan konkrit, katanya.
Departemen Pertanian yang menjadi ladang pengabdiannya selama 30 tahun
lebih membuat Sinis Munandar tidak asing dengan kondisi dan gambaran
masyarakat tertinggal tersebut. Kiprahnya sebagai pegawai maupun unsur
pimpinan di Direktorat Perluasan Areal (waktu itu ganti nama menjadi
Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan) memungkinkannya
menggeluti masalah pengembangan, dan perluasan lahan atau sebagai
pemimpin proyek yang terkait dengan pembukaan lahan pertanian. Berbagai
posisi tersebut sekaligus mendorongnya untuk lebih sering turun ke
lapangan, khususnya ke kawasan tertinggal di wilayah timur Indonesia,
seperti Kalimantan dan Sulawesi. Pada kesempatan itulah ia melihat
sendiri kehidupan para petani kita yang umumnya masih jauh tertinggal
dibanding saudara-saudaranya di tanah air.
Sinis Munandar menunjuk pada terbatasnya tingkat pendidikan (untuk tidak
menyebut kebodohan), minimnya tingkat penghasilan dan rendahnya tingkat
kesehatan sebagai penyebab utama kemiskinan di tanah air. Petani gurem,
petani penggarap dan buruh tani yang berjumlah jutaaan itu termasuk
dalam kategori ini, ia menandaskan.
Sinis Munandar yang meraih gelar doktor bidang perencanaan pembangunan
wilayah dan pedesaan dari Fak. Pascasarjana IPB itu menunjuk judul “head
line” sebuah harian nasional terbitan 8 Desember 2006. Isinya memang
sangat mengerikan, yakni prediksi seputar jumlah penduduk miskin di
Tanah Air yang terus meningkat. Bahkan berpotensi untuk mencapai separuh
dari total jumlah penduduk kita yang kini sekitar 220 juta jiwa itu.
Menurutnya, kenyataan ini sangat ironis dikaitkan dengan predikat
Indonesia yang merupakan salah satu negara agraris yang cukup
diperhitungkan. Negeri yang terkenal kaya dengan potensi dan sumber daya
alamnya, termasuk potensi pertaniannya, tapi sebagian rakyatnya masih
hidup miskin. Negara agraris yang sampai saat ini masih harus mengimpor
bahan pangan seperti beras, jagung, dan kedelai dalam jumlah besar.
“Kita ini ibarat tikus mati kelaparan di lumbung padi,” ujarnya sambil
menahan geram. Untuk itu, Deptan sebagai gantungan dan harapan banyak
orang, kebijakannya harus jelas, ia mengingatkan.
Dalam soal kedelai misalnya, menurut Sinis Munandar, sebenarnya bukanlah
soal yang terlalu rumit. Tak perlu menunggu 10 tahun, tapi cukup 2,5
tahun. Kita hanya membutuhkan tambahan lahan 600 ribu ha dan itu banyak
tersedia di luar Jawa. Prov. Jambi misalnya masih sangat potensial dan
pernah mencatat produktivitas rata-rata 2,4 ton/ha.
Dengan tambahan areal tanam tersebutdan produktivitas 1,5 ton/ha saja
secara nasional, urusan kedelai ini pasti beres, kata Sinis optimis.
Melibatkan 24 Orang Pakar
Sinis Munandar mengakui bahwa melalui yayasan ia akan lebih leluasa
berbuat konkrit bagi masyarakat tertinggal dibanding semasih jadi
pejabat. Pengkajian, pendampingan, advokasi serta penyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan dalam berbagai bidang keahlian merupakan
sebagian dari kegiatan yang digeluti oleh yayasan. Termasuk mendorong
tumbuhnya berbagai kelompok usaha dan munculnya kader tenaga inti
penggerak pembangunan. Untuk itu, tenaga SDM yang dilibatkan dalam
yayasan ini juga rata-rata telah memiliki reputasi tinggi di bidangnya
masing-masing. Sedikitnya 24 orang pakar yang sebagian besar berlatar
belakang disiplin sosial-ekonomi pertanian kini bahu-membahu
melaksanakan visi dan misi yayasan tersebut..
Pemberdayaan petani kecil dengan menjalin kerjasama dengan berbagai
pihak, khususnya Pemda termasuk program yang telah dirintis oleh yayasan
yang kini telah memiliki perwakilan di 20 wilayah propinsi itu. Termasuk
di dalamnya rencana pengembangan pilot project Agropolitan di 50
kabupaten antara lain di Kab. Cianjur dan Pemalang. Serta rencana
pengembangan usahatani sayur-sayuran di kawasan Teluk Naga, kawasan
Bandara Sukarno-Hatta melalui kerjasama dengan Pemda DKI dan Provinsi
Banten, juga dengan pola agropolitan tersebut.
Sinis Munandar yang beristerikan Irawati dan dikaruniai dua orang anak
itu dikenal ramah di lingkungannya. Ia juga termasuk sosok pimpinan yang
sangat humanis. Membantu orang lain terlebih anak buahnya tampaknya
sudah menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Sikap ini dilakoninya di
manapun ia bertugas. Karena itu, seperti diungkapkan sejumlah bekas anak
buahnya, mutasi bagi Sinis Munandar merupakan saat-saat yang amat
memilukan bagi para staf karena harus berpisah dengan sosok pimpinan
yang benar-benar merakyat dan humanis.
Sinis Munandar yang lahir di Comal, Jateng pada 8 April 1944 itu memulai
karier pegawai negerinya di Departemen Pertanian dengan menjadi pegawai
bulanan tahun 1967. Kepala Urusan Pupuk, Kepala Seksi Konservasi Tanah,
Kasubdit Pengembangan Lahan, Direktur Bina Rehabilitasi dan Pengembangan
Lahan, staf ahli Menteri Pertanian bidang Alsintan dan Tenaga kerja
hinggga diakhiri dengan jabatan sebagai Kepala Badan Pengembangan SDM
Pertanian di tahun 2004. Dengan masa bakti sekitar 36 tahun, dan tak
pernah mendapat cela, Sinis Munandar dikenal sebagai sosok yang irit
bicara dan pekerja keras. Namun ia juga memiliki “sense of humor” yang
tinggi dan murah senyum.
PLG Sejuta Ha
Salah satu momen paling “krusial” dalam perjalanan kariernya adalah
saat ia menjabat Direktur Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan di
Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan (kini Ditjen Bina Produksi
Tanaman Pangan). Ketika itu, Presiden Suharto mencanangkan pengembangan
Lahan Gambut Sejuta Ha di Kalteng, yang banyak mengundang kontroversi.
Dengan jabatan tersebut, Sinis Munandar termasuk pejabat yang paling
bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek tersebut di samping Dirjen
Tanaman Pangan dan Mentan sendiri.
Ia mengakui bahwa proyek lahan gambut sejuta hektar sempat telantar.
Tapi kegagalan ini terutama disebabkan oleh persepsi masyarakat yang
mengira bahwa kondisi lahan yang akan dikembangkan berupa lahan alluvial
seperti yang banyak terdapat di berbagai daerah di Indonesia.
Mengendalikan tingkat keasaman dan lapisan pirit lahan gambut sudah
menjadi tantangan tersendiri dan ini paling tidak membutuhkan empat
tahun. Pengalaman China membuka lahan gambut seluas 2 juta ha butuh
waktu sampai 18 tahun. Itupun sudah mengerahkan ratus ribuan tentara,
katanya.
Sinis Munandar mengakui bahwa kurangnya sosialisasi atas tingkat
kesulitan dan kendala teknis di seputar proyek ini menjadi salah satu
penyebab kemandekannya. Namun, pertimbangan yang mendasarinya yakni
pentingnya kawasan pertanian yang baru yang menjadi penyangga produksi
bahan pangan di Indonesia, tetap bisa dipertanggungjawabkan.
”Buktinya, proyek ini dihidupkan lagi oleh pemerintah yang sekarang,”
ujarnya.
Selain dalam pengembangan lahan dan pencetakan sawah baru, goresan
kebijakannya yang cukup monumental juga terlihat di lingkungan Badan
Pengembangan SDM Pertanian. Di masa kepemimpinannya status Akademi
Penyuluhan Pertanian naik kelas menjadi Sekolah Tinggi Penyuluhan
Pertanian. Sekolah Tinggi ini kini 6 buah dan tersebar di Medan, Bogor,
Yogyakarta dan Magelang, Malang, Makasar dan Manokwari. Sementara itu,
masih di era Sinis Munandar, sejumlah balai pendidikan dan pelatihan di
berbagai daerah juga berhasil ditingkatkan statusnya dari unit kerja
eselon III menjadi unit kerja setingkat eselon II.
Peningkatan status unit kerja ini tentu akan menaikkan
profesionalismegengsi lembaga pendidikan dan pelatihan sekaligus membuka
peluang pengembangan karier pegawai. Dengan demikian, semangat bekerja
dan berkarya otomatis juga akan dipacu, ujar doktor lulusan Fak.
Pascasarjana IPB itu. ►e-ti/tumpal siburian
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|