| |
C © updated 08052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Sindudarsono Sudjojono
Nama Panggilan:
Pak Djon
Lahir:
Kisaran, Sumatera Utara, 14 Desember 1913
Meninggal:
Jakarta, 25 Maret 1985
Agama:
Kristen
Isteri:
- Mia Bustam (cerai)
- Rose Pandanwangi (penyanyi seriosa)
Anak:
14 orang
Pendidikan :
- SD, Jakarta
- SMP, Bandung
- SMA Taman Siswa, Yogyakarta
- Kursus Montir
- Belajar melukis pada Pirngadie dan Chioji Yazaki
Karir:
- Guru Taman Siswa di Rogojampi, Jawa Timur (1930-1931)
- Mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia, Jakarta (1937)
- Mendirikan Seniman Muda Indonesia, Madiun (1946)
- Pelukis Profesional (1958-1985)
- Mendirikan Sanggar Pandanwangi
Pameran:
- Pameran bersama pelukis Eropa di Jakarta (1937)
- Fukuoka Art Museum (Japan, 1980)
- Festival of Indonesia (USA, 1990-1992)
- Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993)
- Singapore Art Museum (1994)
- Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia,
1996)
- ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998).
Penghargaan:
Piagam Anugerah Seni (Indonesia, 1970)
Alamat Rumah :
Jalan Raya Pasar Minggu Km 18, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
| DJON HOME |
|
|
 |
BIOGRAFI Sindudarsono Sudjojono (1913-1985) Bapak Seni Lukis
Indonesia Modern
Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas
saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono
Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon iini dijuluki Bapak Seni Lukis
Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar
Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah
seni rupa modern di Indonesia.
Pelukis besar kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913, ini
sangat menguasai teknik melukis dengan hasil lukisan yang berbobot. Dia
guru bagi beberapa pelukis Indonesia. Selain itu, dia mempunyai
pengetahuan luas tentang seni rupa. Dia kritikus seni rupa pertama di
Indonesia.
Ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna
dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam
Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan
cantik dan pemandangan alam. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap
sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935.
Tapi beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret
1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama
Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga
Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga
raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.
Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh
perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia
menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil
sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak.
Yudhokusumo, kemudianmembawanya ke Batavia tahun 1925.
Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman
Siswa di Yogyakarta. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar
melukis pada RM Pirngadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang
Chioji Yazaki di Jakarta.
Bahkan sebenarnya pada awalnya di lebih mempersiapkan diri menjadi guru
daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus
Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar
Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.
Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni
lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai
pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di
Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai
awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis.
Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli
Gambar Indonesia), 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai
awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru
bicara Persagi.
Sudjojono, selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah
tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan
gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni
dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun
memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.
Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang
begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan
alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari
hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya
yang monumental antara lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go
Meh, Pengungsi dan Seko.
Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI.
Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada 1957, ia
membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu
positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal
itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga
diduga menjadi penyebab Djon menceraikan istri pertamanya, Mia Bustam.
Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi. Nama
isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Dari
pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.
Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa
mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri
luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai
kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.
Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga
tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal
untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan
latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.
Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan
pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung
melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter,
ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.
Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat
menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya
diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro
lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret
1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat,
antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation
(Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for
Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN
Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998). ►e-ti/tsl,
dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|