| |
C © updated 03072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/depdiknas |
|
| |
Nama:
Silas Papare
Lahir:
Serui, Irian Jaya, 18 Desember 1918
Meninggal:
Serui, 7 Maret 1978
Pendidikan:
- Sekolah setingkat sekolah dasar
- Sekolah Juru Rawat
Pengalaman Pekerjaan:
Pegawai Pemerintah Belanda
Aktivitas:
- Desember 1945, bersama temannya di Batalyon Papua hendak
melancarkan
pemberontakan terhadap pemerintahan Belanda.
- Nopember 1946, mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
- Oktober 1949, membentuk Badan Perjuangan Irian
- Membentuk Kompi Irian di lingkungan Mabes Angkatan Darat
- Anggota delegasi RI penandatanganan Persetujuan New York.
Pengalaman Selama Perjuangan:
- Dipenjarakan di Jaya Pura
- Dipenjarakan di Serui
- Dipenjarakan di Biak
- Melarikan diri ke Yogyakarta.
|
|
| |
|
|
|
|
Silas Papare
Pahlawan Nasional dari Irian Jaya
Ketika Irian Barat masih di bawah penguasaan Belanda, Silas Papare
berjuang membebaskan untuk menyatukannya dengan Republik Indonesia.
Berbagai usaha dilakukannya seperti, pemberontakan, mendirikan Partai
Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII), serta Badan Perjuangan Irian.
Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil, Irian Barat merdeka dan menyatu
kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Pria kelahiran Serui, Irian Jaya, 18 Desember 1918 ini merupakan orang
yang berjiwa kebangsaan Indonesia yang sangat tinggi. Setelah
menyelesaikan pendidikan dari sekolah setingkat sekolah dasar dan dari
sekolah juru rawat, Silas kemudian menjadi Pegawai Pemerintah Belanda.
Namun karena jiwa ke-Indonesia-annya yang begitu tinggi, maka begitu ia
mendengar bahwa Indonesia telah merdeka, ia pun langsung mengadakan
perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Pada bulan Desember 1945, bersama teman-temannya berusaha mempengaruhi
pemuda-pemuda di Irian Barat yang tergabung dalam Batalyon Papua agar
melancarkan pemberontakan. Rencana itu gagal karena telah bocor duluan.
Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan di Jaya Pura. Setelah bebas,
pemberontakan kedua pun direncanakan kembali. Namun lagi-lagi gagal
karena keburu bocor. Ia pun kembali ditangkap dan dipindahkan ke Serui.
Di Serui inilah ia kebetulan bertemu dan berkenalan dengan Dr.Sam
Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan Belanda dari Sulawesi yang
kembali dikuasai Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.
Selanjutnya pada bulan Nopember 1946, ia mendirikan Partai Kemerdekaan
Indonesia Irian (PKII). Karenanya, ia kembali ditangkap pemerintah
Belanda dan memindahkannya ke Biak. Dari Biak, tanpa sepengetahuan
Belanda, ia melarikan diri ke Yogyakarta.
Dan pada bulan Oktober 1949, ia kemudian membentuk Badan Perjuangan
Irian yang bertujuan untuk membantu pemerintah Indonesia membebaskan
Irian Barat dari tangan Belanda sekaligus menyatukannya dengan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Di pihak lain, Belanda tetap berupaya mempertahankan Irian Barat sebagai
daerah kekuasaannya. Akhirnya pemerintah Indonesia sampai pada
kesimpulan untuk merebut Irian Barat walau dengan cara kekuatan senjata
sekalipun. Silas Papare yang memang sangat menginginkan cepatnya
berakhir penguasaan Belanda di tanah leluhurnya itu dengan cepat
mengambil bagian dalam rencana pemerintah RI tersebut. Bahkan rupanya
jauh-jauh hari, Silas malah sudah mempersiapkan diri akan perang terbuka
ini dengan membentuk Kompi Irian di lingkungan Mabes Angkatan Darat.
Namun pada saat akhir-akhir hendak meletusnya perang terbuka tersebut,
Belanda akhirnya bersedia berunding. Penandatangan persetujuan pun resmi
di lakukan oleh keduabelah pihak pada tanggal 15 Agustus 1962. Dalam
penantanganan Persetujuan New York itu, Silas Papare ikut terlibat
sebagai anggota delegasi RI.
Tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik
Indonesia. Hal sesuai dengan isi persetujuan New York tersebut. Nama
Irian Barat pun kemudian diganti menjadi Irian Jaya.
Walau masa hidup Silas Papare lebih banyak terkuras pada usaha
pembebasan negerinya, namun semua jerih payahnya itu terasa terbayar
sudah. Tanggal 7 Maret 1978, Silas baru kemudian meninggal dunia di
tanah kelahirannya Serui. Dengan begitu, kurang lebih lima belas tahun
sisa hidupnya masih bisa menikmati alam kemerdekaan negerinya yang
diperjuangkannya ini.
Kini estaped perjuangan diteruskan kepada generasi muda. Namun
perjuangan kini bukan lagi mengusir kolonial, tapi perjuangan mengusir
kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, perpecahan, yang kini sepertinya
masih akrab di bumi cendrawasih ini. ► juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|