| |
C © updated
19052005-17122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bii |
|
| |
Nama:
Sigit Pramono
Lahir:
Batang, 14 November 1958
Pendidikan:
Master of Business Administration dalam bidang Manajemen Bisnis
Internasional dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, Jakarta pada
tahun 1995
Sarjana Manajemen Perusahaan dari Universitas Diponegoro, Semarang pada
tahun 1983
Syndicated Loan di Singapura (1997)
Leasing di Leasing School in Salt Lake City, Utah, USA (1990)
International Treasury Management Program di Singapura (1985).
Karir:
Direktur Utama BNI sejak 15 November 2003
Presiden Direktur BII sejak 7 November 2002
Ketua Tim Pengelola BII (17 Mei-07 November,2002)
Karir di Bank Mandiri:
• Executive Management di Bank Mandiri yaitu sebagai:
• Senior Vice President Credit Recovery Group (Agustus 2001)
• Senior Vice President Credit Restructuring Unit (1999-Agustus 2001)
• Kepala Divisi Loan Work Out Division (April-Juli 1999).
Sumber al:
www.bii.co.id
www.wartaekonomi.com
Harian Sinar Harapan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
Sigit Pramono
‘Dokter Spesialis’ Bank Bermasalah
Ibarat soerang dokter, ia adalah ‘dokter spesialis’ bank bermasalah (sakit).
Berhasil mengatasi kredit bermasalah di Bank Mandiri, kemudian memimpin
penyehatan Bank Internasional Indonesia (BII) yang ‘sekarat’. Setelah
berhasil menyehatkan BII, ia lalu dipercayakan menjabat Direktur Utama
Bank Negara Indonesia (BNI) yang tengah bermasalah akibat L/C fiktif Rp
1,7 trilyun.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BNI
(19/5/2005), Sigit Pramono yang tetap dipertahankan menjabat Direktur
Utama BNI. Dia didampingi Gatot M Suwondo yang diangkat menjabat Wakil
Direktur Utama menggantikan Arwin Rasyid. Sementara direksi yang lain
juga dipertahankan.
Sigit, pria kelahiran Batang, 14 November 1958 adalah seorang banker yang telah teruji mengatasi beberapa kesulitan bank
tempatnya bekerja. Seorang banker yang meniti karir dari bawah, mulai dari
officer Bank Exim (1984) sampai dipercaya menangani permasalahan sulit
yang dihadapi beberapa bank.
Pemegang saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dalam RUPSLB (Senin
15/12/03) mengangkat Sigit Pramono menjadi Dirut BNI menggantikan
Saifuddien Hasan. Jabatannya sebagai Direktur Utama Bank Internasional
Indonesia Tbk (BII), sehari sesudahnya )Selasa 16/12/03) diserahkannya
kepada Henry Ho Ceong yang terpilih dalam RUPSLB BII.
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BNI juga merombak
susunan pengurus BNI. Perubahan itu merupakan dampak kasus pembobolan BNI
melalui letter of credit/LC senilai Rp1,7 triliun di BNI cabang Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan.
Direksi baru BNI terdiri dari 10 orang. Lima dari internal BNI, yaitu
Wakil Dirut BNI Arwin Rasjid, Direktur Fero Poerbonegoro, Achmad Baiquni,
Suroto Muhadji, dan Ignatius Supomo. Empat lagi mantan pejabat Bank
Mandiri. Yaitu, Sigit Pramono (sebelum di BII berasal dari Bank Mandiri),
Bien Soebiantoro, Kemal Ranadireksa, dan Tjahjana Tjakrawinata. Kemudian
satu dari Bank Indonesia (BI), yaitu Achil Ridwan Djajadiningrat.
Sementara Komisaris BNI tujuh orang terdiri dari Komisaris Utama Zaki
Baridwan, Wakil Komisaris Utama Irwan Sofyan, dengan Komisaris Agus
Haryanto, Arif Arryman, Dradjad Hari Wibowo, Ahyar Ilyas, dan Yap Tjay
Soen.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) juga menyetujui pengunduran
diri dan pemberhentian dengan hormat anggota direksi yang mengundurkan
diri, Binsar Pangaribuan dan Mohammad Arsjad. Direksi yang diberhentikan
dengan hormat adalah Saifuddien Hasan, Eko Budiwiyono, Suryo Sutanto,
Rachmat Wiryaatmadja, dan Agoest Soebhekti.
Meniti karir dari bawah
Sigit Pramono meniti karir dari bawah. Pengalaman dan keahliannya di
bidang perbankan mengantarkannya sebagai Presiden Direktur BII sejak 7
November, 2002 yang sebelumnya menjadi Ketua Tim Pengelola BII (17 Mei-07
November,2002). Sebelumnya adalah pejabat Executive Management di Bank
Mandiri yaitu sebagai Senior Vice President, Credit Recovery Group (Agustus
2001), Senior Vice President, Credit Restructuring Unit (1999 - Agustus
2001), dan sebagai Kepala Divisi Loan Work Out Division (April-Juli 1999).
Sejak tahun 1984 berkarir di Bank Exim sebagai officer di Cabang Semarang
(1984 - 1985), Assistant Manager pada Domestic Banking Division (1985 -
1987), Assistant Manager pada Treasury & International Banking Division
(1987 - 1988) serta pernah menduduki jabatan-jabatan penting lainnya yaitu
sebagai Head of Loan Syndication Department (1997-1998) dan Head of Loan
Remedial Division (1998-Maret 1999).
Jabatan lain yang pernah dipegang adalah sebagai Vice President Director
Bank Merincorp (1993-1997), Vice President Director PT Merchant Investment
Corporation (1992-1993), Komisaris PT Bank Merincorp Securities
(1992-1993), dan Direktur PT Exim Leasing.
Memperoleh Master of Business Administration dalam bidang Manajemen Bisnis
Internasional dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, Jakarta pada
tahun 1995 dan Sarjana Manajemen Perusahaan dari Universitas Diponegoro,
Semarang pada tahun 1983. Pendidikan lainnya yang pernah diikuti adalah
Syndicated Loan di Singapura (1997), Leasing di Leasing School in Salt
Lake City, Utah, USA (1990) dan International Treasury Management Program
di Singapura (1985).
'Dokter Spesiali'
Dia tak pernah menggantung cita-cita, melainkan cuma ingin cepat kerja
guna mengurangi beban orang tua. Namun, jalan hidup menggiringnya untuk
menjadi spesialis menangani kredit-kredit bermasalah. Apa kiatnya? Piawai
bernegosiasi. "Sebab, masalah ini berkaitan erat dengan human interest,"
kata Sigit.
Cobalah tanyakan kepada Sigit Pramono, apa sebenarnya cita-citanya? Dia
akan menggelengkan kepala dan menjawab: "Tidak tahu." Memang, sejak awal,
lelaki yang lahir di daerah Batang, Jawa Tengah, ini mengaku tidak pernah
secara khusus bercita-cita kelak ingin menjadi apa. Apalagi bercita-cita
menjadi seorang presiden direktur suatu bank nasional. "Saya
hanya ingin menyelesaikan sekolah tepat waktu dan kemudian bekerja agar
tidak berlama-lama membebani orang tua," ungkap Sigit. Itu pulalah yang
melatari keputusan Sigit untuk menimba ilmu di jurusan manajemen
perusahaan, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang. Ketika itu
dia beranggapan bahwa bidang ekonomi merupakan bidang yang cepat menyerap
tenaga kerja, di samping juga menyajikan pilihan bidang kerja yang luas.
Anggapan Sigit terbukti benar. Sebab, tidak lama setelah berhasil
menggondol gelar sarjana, dia diterima bekerja sebagai staf di Bank Export
Import (Exim) di kota Semarang. Tentu saja ini membuatnya merasa senang,
karena keinginannya untuk tidak berlama-lama membebani kedua orang tuanya
akhirnya terwujud. Namun, jangan salah sangka, Sigit juga sempat mengalami
masa-masa prihatin ketika menunggu panggilan kerja dari suatu perusahaan
ke perusahaan lainnya. Naik-turun bus di kota metropolitan sebesar
Jakarta, sembari membawa-bawa berkas-berkas lamaran kerja, juga sempat
dilakoninya.
Berkenalan dengan Dunia Perbankan
Dari sekian banyak perusahaan yang menjadi tujuan lamaran Sigit, Bank
Eximlah yang pertama kali memanggilnya dan menerimanya bekerja pada tahun
1984. "Bisa dikatakan, ini menjadi awal karier saya di bidang perbankan,"
kenang Sigit. Setahun di sana, Sigit mendapatkan kepercayaan untuk
memegang jabatan sebagai asisten manajer pada divisi domestic banking.
Posisi ini diembannya selama dua tahun, sebelum dia kembali dipercaya
untuk menduduki posisi sebagai asisten manajer pada divisi treasury &
international banking pada 1987 di bank yang sama.
Dalam waktu yang relatif singkat, pengalaman dan wawasan Sigit di bidang
perbankan makin terasah. Oleh karena itu, tak heran jika hanya dalam kurun
waktu empat tahun perjalanan kariernya, Sigit sudah dipercaya untuk
menduduki posisi direktur di PT Exim SB Leasing, suatu perusahaan leasing
patungan (joint venture) antara Bank Exim dan Sumitomo Bank dari Jepang. "Saya
termasuk orang yang beruntung karena dalam waktu relatif singkat sudah
dipercaya duduk di jajaran direksi," kata Sigit.
Di perusahaan leasing itulah Sigit mengaku mulai mendapatkan gemblengan
dan pengalaman untuk mengasah kemampuan manajerialnya. Hal ini tidak lepas
dari kondisi perusahaan Jepang yang dikenal memiliki etos kerja dan
disiplin yang tinggi, serta menerapkan cara pengambilan keputusan yang
berbeda. Selain pengalaman manajerial, yang juga terasah adalah
kemampuannya dalam bernegosiasi. Pasalnya, menurut pria yang
tahun ini bakal berusia 43 tahun itu, dalam suatu perusahaan patungan
selalu dituntut kesediaan untuk melakukan kompromi, yang arus dikelola
bersama antara kedua belah pihak. Dan kelak di puncak kariernya, kemampuan
negosiasinya ini terbukti bermanfaat dalam menghadapi permasalahan yang
terjadi di perusahaan barunya.
Setelah menduduki posisi direktur selama empat tahun, karier Sigit pun
makin menanjak dengan terpilihnya dia sebagai vice-president director di
PT Merchant Investment Corporation. Perusahaan yang merupakan lembaga
keuangan bukan bank (LKBB) ini menjalankan bisnis yang serupa dengan
investment banking. Salah satu tugasnya adalah mengatur
perusahaan-perusahaan yang ingin go public.
Selang setahun setelah Sigit menduduki posisinya itu, PT
Merchant Investment Corporation berubah bentuk menjadi Bank Merincorp.
Saat itu, putra pensiunan pegawai pos ini masih dipercaya menduduki posisi
vice-president director di perusahaan yang baru, Bank Merincorp. Di
perusahaan itu pulalah Sigit mendapatkan pengalaman tambahan mengenai
consumer financing, investment banking, dan sekaligus juga memperkuat
kemampuan manajerialnya yang makin memuluskan perjalanan kariernya di
perbankan.
Mulusnya perjalanan karier Sigit tentu tidak lepas dari kerja keras yang
dia lakukan. Meski sempat merendah dengan mengakui bahwa semuanya itu
dimulai dari faktor keberuntungan, Sigit tidak menampik bahwa tekad untuk
bekerja dengan baik dan memiliki integritas yang tinggi akan mendatangkan
keberuntungan-keberuntungan berikutnya. "Jika hanya mengandalkan faktor 'bejo'
(keberuntungan-- Red .), tetapi tidak bisa membuktikannya, saya rasa
prestasi itu tidak akan berlanjut. Perkara mengapa saya yang dipilih, itu
bukan urusan saya, tetapi urusan yang memilih. Bagi saya, yang paling
penting adalah melakukan yang terbaik atas apa yang ditugaskan dan selalu
berbuat lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi ketimbang sebelumnya,"
katanya, berbagi kiat sukses.
Jadi Dokter Bank-Bank Bermasalah
Setelah dari Merincorp, tepat saat krisis ekonomi melanda Indonesia, Sigit
pun pulang kandang. Ia kembali lagi ke Bank Exim. Di sana dia ditugaskan
untuk menangani sindikasi dan divisi penyelamatan kredit Bank Exim.
Tugasnya makin berat ketika Bank Exim terpaksa melakukan merger bersama
empat bank pemerintah lainnya, yaitu PT Bank Bumi Daya (BBD), PT Bank
Dagang Negara (BDN), dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), dan
menjadi bank baru dengan nama PT Bank Mandiri. Ketika itu dia dipercaya
menjadi salah seorang eksekutif manajemen di Bank Mandiri, dengan tugas
utama menangani restructuring unit. “Di sini saya menangani 70% - 80%
portofolio kredit yang perlu direstrukturisasi, yang merupakan gabungan
kredit dari empat bank tersebut," tuturnya.
Bukan itu saja. Sigit juga harus menangani sekitar 615 debitur korporasi
besar yang harus direstrukturisasi kreditnya, serta puluhan ribu kredit
menengah dan kecil. Oleh karena waktu itu adalah masa awal krisis,
portofolio Bank Mandiri mayoritas adalah kredit bermasalah. "Dan ini
menjadi tanggung jawab unit kami untuk melakukan restructuring , atau
istilahnya work out dari kondisi ini," jelas Sigit.
Menangani bank yang bermasalah tentu bukanlah perkara mudah. Apalagi,
ketika menangani proses restrukturisasi ini, organisasinya sendiri belum
lagi terbentuk. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal tugasnya, Sigit
membentuk organisasi, merekrut orang-orang dari gabungan keempat bank
tersebut dan membuat petunjuk kerja. "Jadi, bisa dikatakan kami mulai dari
nol baik dari sisi hardware-nya, software-nya, dan dari brainware-nya. Dan
ini saya rasakan sebagai suatu tantangan," ungkap Sigit.
Tantangan itu pulalah yang diakui Sigit sangat menguras pikiran, fisik,
dan jiwanya. Apalagi, dalam penanganan kredit bermasalah ini, Sigit harus
berurusan dan bernegosiasi dengan para kreditur yang memiliki karakter
yang beraneka-ragam.
Menghadapi persoalan ini, Sigit pun buka kartu. Ia mengaku bahwa di antara
para kreditur bermasalah itu ada yang datang secara baik-baik dengan niat
yang baik pula untuk menyelesaikan masalahnya. Akan tetapi, sekali waktu,
ada juga yang datang dengan cara mengancam dan membawa-bawa nama
orang-orang penting di negeri ini. Bahkan ada juga yang datang dengan
menangis-nangis meminta belas kasihannya.
"Untuk menghadapi mereka, dibutuhkan kemampuan negosiasi yang cukup tinggi,"
ungkap Sigit. Dan untungnya, kemampuan negosiasi ini telah dimiliki Sigit,
keahlian yang ia petik selama bekerja di perusahaan patungan Indonesia -
Jepang. Dari situ pulalah Sigit belajar bahwa, dalam menangani kredit
bermasalah, yang diperlukan bukan sekadar ilmu, tetapi juga seni. Sebab,
masalah ini berkaitan erat dengan human interest.
Sukses menangani restrukturisasi kredit di Bank Mandiri ternyata menjadi
referensi bagi Sigit untuk menangani hal yang sama di PT Bank
Internasional Indonesia (BII). Sebelum menduduki kursi sebagai presdir di
bank tersebut, Sigit diserahi tugas sebagai ketua tim pengelola BII.
Menurut Sigit, masalah yang dihadapi BII sifatnya menjadi multidimensi
karena pengaruh kondisi eksternal, di mana negara juga sedang mengalami
krisis. Untuk itu, pria yang mempunyai hobi fotografi dan menonton film
ini lantas mengambil langkah-langkah yang dianggapnya strategis. Sigit
membaginya dalam tiga tahap, yaitu tahap stabilisasi, tahap perubahan
haluan untuk mengubah keadaan dari kondisi rugi menjadi untung, dan tahap
transformasi guna membawa BII tumbuh ke depan menjadi lebih baik.
Dalam rangka transformasi ini pula Sigit, bersama tim manajemennya,
mengubah logo BII. Ungkap Sigit, dirinya berharap, dengan perubahan logo
ini, akan makin mempertegas visi BII untuk menjadi bank lokal sejati yang
berstandar internasional. "Program saya dalam 100 hari pertama di BII
adalah mengadakan banyak kegiatan customer gathering dan employee
gathering sampai ke cabang-cabang. Begitu pula halnya dengan teman-teman
direksi lainnya, kami berbagi tugas," terang Sigit.
Bagi Sigit, ini penting guna membangun kepercayaan, baik bagi karyawan
maupun para nasabahnya. Dalam kegiatan itu, Sigit bersama jajaran
direksinya tak bosan-bosan menjelaskan mengenai program penyehatan
perbankan yang ditempuhnya.
Hasilnya? Sigit bersyukur bahwa per September 2002 BII sudah mulai
membukukan keuntungan. Nilai non-performing loan (NPL)-nya pun mulai turun
dari sekitar 60% menjadi 40%, bahkan kini mencapai angka di bawah 10%. Hal
lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan BII dalam menarik
dana pihak ketiga, dari yang tadinya sebesar Rp23,3 triliun menjadi
sekitar Rp29 triliun. Menurut Sigit, angka ini bahkan lebih baik dari
posisi sebelum krisis. "Bagi kami, ini termasuk indikator penting dari
keberhasilan program tadi," tambahnya.
Kesuksesan Sigit dalam memimpin bank-bank bermasalah mengantarkannya pada
satu kesimpulan, bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk
memberi motivasi dan mengajak semua pihak dalam organisasi yang
dipimpinnya untuk mencapai misi dan tujuan yang sama. Caranya? "Membangun
komunikasi yang baik, secara formal maupun informal," ungkap Sigit.
Sebagai presdir, Sigit juga dituntut untuk mampu mengambil keputusan pada
saat yang tepat. Mengenai hal itu, ayah berputra empat ini memegang
prinsip yang dalam bahasa Latin dikenal sebagai primus entrepares.
Ungkapan itu dia artikan bahwa dirinya tidak lebih tinggi dari jajaran
direksi yang ada, tetapi dia merupakan orang pertama di antara mereka,
yang harus berani mengambil keputusan, sepahit apa pun keputusan itu.
Sejauh ini, Sigit dapat bernapas lega karena proses restrukturisasi yang
ditempuhnya berjalan sesuai dengan rencana. Namun, dia masih menyimpan
obsesi yang ingin diwujudkannya, yaitu menyelesaikan seluruh tahapan
restrukturisasi dengan baik sehingga pada saatnya nanti BII siap
menghadapi persaingan dengan bank-bank lainnya.
"Saya ingin memastikan bahwa langkah-langkah restrukturisasi yang
dilakukan berjalan dengan baik. Jika ini semua telah berjalan dengan baik,
maka siapa pun yang melanjutkan tugas saya, tidaklah menjadi masalah,"
harapnya.
Lalu, apa yang akan dilakukannya setelah tak lagi di BII? Berbekal
pengalamannya, akankah Sigit pindah dan menangani tugas "menyehatkan"
bank-bank bermasalah lainnya? Sembari berkelakar dia mengatakan, "Saya ini
ibarat bengkel yang bertugas memperbaiki mobil-mobil yang penyok." Di sisi
lain dalam hidupnya, Sigit juga memendam obsesi untuk tidak berlama-lama
berkarier sebagai seorang bankir. "Hidup ini hanya sekali. Jadi, saya
ingin memanfaatkannya untuk mencari kegiatan yang lain. Namun, pada umur
berapa dan bidang apa yang nanti akan saya lakoni, sampai sekarang masih
belum pasti," akunya.
Mungkinkah dia tertarik untuk menjadi seorang pengusaha? "Rasanya tidak.
Sebab, belajar dari pengalaman empiris rekan-rekan profesional yang
kemudian terjun ke dunia bisnis, ternyata mereka sering kali gagal,"
tegasnya. Dan Sigit kelihatannya tak tertarik untuk mengikuti jejak itu.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|