| |
C © updated 04052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Seto Mulyadi (Kak Seto)
Lahir:
Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951
Agama:
Islam
Ayah/Ibu:
Mulyadi Effendy/Mariati
Istri:
Deviana
Anak:
- Eka Putri Duta Sari
- Bimo Dwi Putra Utama
- Shelomita Kartika Putri Maharani
- Nindya Putri Catur Permatasari
Pendidikan:
- SD Ngepos, Klaten (1963)
- SMK, Klaten (1966)
- SMA St. Louis, Surabaya (1969)
- Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (S1, 1981)
- Program Pascasarjana Universitas Indonesia (Magister bidang psikologi,
1989)
- Program Pascasarjana Universitas Indonesia (doktor bidang psikologi,
1993)
Karir:
- Ketua Pelaksana Pembangunan Istana Anak-Anak Taman Mini Indonesia
Indonesia (1983)
- Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia (1982-sekarang)
- Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Nakula Sadewa (1984-sekarang)
- Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta (1994-1997)
- Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (1998-sekarang)
Kegiatan Lain:
- Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (1983-1985)
- Director at-large International Council of Psychologists (1985)
- Anggota International Society for Twins Studies (1985-sekarang)
- Anggota Creative Education Foundation (1993-sekarang)
- Anggota World Council for Gifted & Talented Children (1994-sekarang)
Buku:
Anakku, Sahabat, dan Guruku (1997)
Penghargaan:
- Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia
Anak-anak dari Presiden RI (1987)
- The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori
Contribution to World Peace, dari Jaycess International (1987)
- Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB Javier Perez de
Cuellar (1987)
- The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari
World Children’s Day Foundation & Unicef (1989)
Alamat Rumah/Kantor:
Jalan Taman Cirendeu Permai 13, Jakarta 15419
Sumber:
Dari berbagai sumber terutama Tempo dan Republika
|
|
| |
|
|
|
|
Dr. Seto Mulyadi, Psi,Msi.
Sahabat Anak-anak
Kedekatannya dengan dunia anak membuat dia begitu dikenal sebagai
sahabat dan pendidik anak-anak. Namun, tidak banyak yang tahu kalau peraih The
Outstanding Young Person of the World 1987 ini pernah melalui getirnya
hidup menjadi pembantu rumah tangga, tukang batu, dan tukang semir
sepatu di Blok M.
Seto Mulyadi yang kemudian dikenal sebagai Kak Seto pada awalnya
bercita-cita menjadi dokter. Manusia berencana tapi Tuhan yang
menentukan. Seto malah mendedikasikan hidupnya demi kemajuan anak-anak.
Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951 ini memiliki saudara
kembar, dr. Kresna Mulyadi dan seorang kakak yang menjadi anggota ABRI.
Ketika masih kecil, Seto termasuk anak nakal dan tidak bisa diam. ''Saya
ini bengal,'' katanya.
Akibat kebengalannya, Seto pernah jatuh saat
bermain sampai kening kirinya sobek. Untuk menutupi bekas jahitan,
potongan rambutnya dibuat ala The Beatles. Sampai dewasa, ketika sudah
menjadi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi tetap
setia dengan model rambutnya.
Perjalanan hidup Seto di masa muda penuh liku yang pahit. Ayahnya,
Mulyadi - direktur perusahaan perkebunan negara di Klaten - meninggal
pada 1966 saat Seto masih berusia 14 tahun. Ekonomi keluarganya pun
mulai kembang-kempis. Untuk mengatasi tekanan ekonomi ini, Seto terpaksa
dititipkan ke rumah bibinya di Surabaya, bersama kakak dan saudara
kembarnya, Kresna. Di sana, Seto melanjutkan sekolahnya di SMA St. Louis
Surabaya.
Demi meringankan beban bibinya, juga untuk memenuhi biaya sekolah, Tong
- panggilan akrab Seto dalam keluarganya – nyambi jadi pengasong di
jalan-jalan selepas sekolah. Ia aktif pula mengisi sebuah rubrik untuk
anak-anak di majalah terbitan Surabaya, Bahagia. “Di situ saya mulai
memakai nama Kak Seto,” ujarnya. Sejak itulah, dan sampai sekarang, ia
dikenal dengan panggilan Kak Seto.
Walau sekolah sambil bekerja, Seto tetap bisa aktif di OSIS bersama
kembarannya. Bahkan rapornya selalu bagus. Lulus SMA, ia bercita-cita
melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran. Tapi, cita-citanya menjadi
dokter kandas, tatkala tak diterima di fakultas kedokteran, baik di
Universitas Airlangga maupun Universitas Indonesia. Sementara Kresna
diterima di kedokteran dan kakaknya, Ma’ruf, masuk Akabri.
Diam-diam, Seto memendam kekecewaan. “Hidup seperti itu membuat saya
tertekan hingga akhirnya saya memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke
Jakarta,” tuturnya. Subuh, 27 Maret 1970, ia pun berangkat tanpa pamit,
hanya meninggalkan surat kepada ibunya.
Tiba di Jakarta sebagai penganggur yang luntang-lantung, Seto menumpang
di garasi milik keluarga temannya, yang kebetulan ia kenal di kereta.
Tidur beralaskan dua keset yang digabung, ia hidup sehari-hari dari
penghasilan sebagai tukang batu, serta sesekali menulis di majalah Si
Kuncung. Sembari bekerja serabutan dia kemudian mendaftar di Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, tahun berikutnya. Tapi, seperti halnya
kala di Surabaya, kali ini pun kegagalan kembali menyertainya.
Seto kemudian mencoba melamar pekerjaan ke hotel-hotel. Namun, akhirnya
ia malah menjadi tukang cuci dan pel suatu keluarga yang kebetulan
mempunyai anak cacat. Seto, yang juga bertugas merawat anak tersebut,
harus bersedia menempati ''kamar'' bekas kandang ayam yang berhadapan
dengan WC. ''Baunya minta ampun,'' ia mengenang.
“Waktu baru di Jakarta, saya mulai dari bawah, ya, saya kerja jadi
pembantu rumah tangga, jadi tukang batu, jadi tukang semir sepatu di
Blok M,” kenang Seto. “Berat sekali keadaan waktu itu, dibentak-bentak
dan dimarahi oleh tuan saya,” lanjut pria yang merasa tenang bila dekat
ibunya ini. Hingga suatu ketika, di rumah tempatnya menumpang, ia
tertarik pada acara yang diasuh Bu Kasur di TVRI.
Satu hal, kalau melihat orang lain mampu melakukan sesuatu, Seto selalu
berpikir, ''Ah, saya juga bisa.'' Lalu dicarinyalah rumah Bu Kasur,
dengan niat ngenger (berguru). Pak Kasur, yang menerimanya, membawanya
ke Taman Kanak-Kanak Situ Lembang, Jakarta Pusat. “Akhirnya saya jadi
asisten Pak Kasur,” tutur Seto.
Kegagalannya masuk ke Fakultas Kedokteran UI, membuatnya putar haluan
dengan memasuki Fakultas Psikologi UI, atas saran dari Pak Kasur. Dua
tahun kemudian, ia masih membantu Pak Kasur, sambil menjadi pembantu dan
pengasuh anak di rumah Direktur Bank Indonesia, saat itu, Soeksmono
Martokoesoemo.
Bersama Pak Kasur, Seto bisa menumpahkan “obsesi” masa kecilnya:
kecintaan pada anak-anak - sesuatu yang berawal dari kerinduan datangnya
seorang adik, setelah adiknya yang masih tiga tahun meninggal.
Pilihannya pun makin mantap di saat mengasuh acara Aneka Ria Taman
Kanak-Kanak di TVRI, bersama Henny Purwonegoro. Seto mendongeng, belajar
sambil bernyanyi, bermain sulap bersama anak-anak.
Ilmu Pak Kasur ia gabungkan dengan kemahirannya bermain sulap, yang
sudah ia pelajari sejak masih SD, melalui buku. Teknik mendongeng,
menurut pengagum Mahatma Gandhi serta Napoleon ini, ia peroleh dari
penulis dan penutur cerita anak-anak, Soekanto S.A., ditambah dengan
pengalamannya sendiri.
Dengan bonekanya Si Komo berikut lagunya, ia pun makin lekat dengan
anak-anak. Dan, ekonominya pun mulai membaik, hingga setelah menggondol
gelar sarjana psikologi, Seto mengundurkan diri dari keluarga Soeksmono.
Saat masih duduk di bangku kuliah, 1983, Seto mendapat kepercayaan Ibu
Tien Soeharto untuk mengetuai pelaksanaan pembangunan Istana Anak-Anak
di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Bahkan kelompok bermain Istana
Anak-anak di yang dikembangkannya, di luar dugaan, memiliki peminat yang
cukup banyak. Kini, pengembangan kelompok bermain yang bernaung di bawah
Yayasan Mutiara Indonesia itu sudah menyebar di berbagai cabang di
Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, sampai di Bandung.
Pada 1987, Seto menikahi Deviana – yang usianya terpaut 20 tahun – gadis
yang dicintainya. Tepat pada hari pernikahan, di saat tamu berdatangan,
pengantin baru Seto-Devi melaksanakan nazarnya: mendongeng di panti
asuhan.
Dengan membaiknya keadaan ekonomi, Seto membeli rumah tinggal di kawasan
Cireundeu tetapi tidak ia nikmati sendiri. Sebagian dimanfaatkan untuk
sarana bermain anak-anak. Di lahan seluas 2.000 meter persegi itu ada
perosotan atau ayunan, ruang kelas, kolam renang mini, laiknya taman
kanak-kanak. Semua ruangan didekorasi dengan warna-warna yang ceria dan
benar-benar membuat anak-anak merasa di alam fantasi mereka.
Di situlah keempat buah hatinya, Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra
Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, dan Nindya Putri Catur
Permatasari menikmati masa kecilnya. ''Sebenarnya, tujuan membuat
halaman yang luas adalah supaya anak-anak aktif bermain, menikmati alam
dengan bebas serta lepas,'' jelasnya, pada kesempatan lain. ''Bila
anak-anak terlalu dikekang, akibatnya seperti kuda liar.''
Di dalam keluarga, dia menjadikan anak-anaknya sebagai sahabat dan guru.
Hubungannya dengan buah hatinya itu sudah dituangkan dalam buku,
'Anakku, Sahabatku, dan Guruku' (1997). Di buku itu dia menuliskan
betapa anak dapat menjadi sahabat dalam berbagi masalah. Anak juga bisa
menjadi guru untuk belajar tentang kreativitas, spontanitas, kebebasan
berpikir, pemaaf, tidak pendendam, dan mempunyai kasih sayang yang
tulus.
Kendati begitu, dia masih saja mengaku tidak selalu tahu tentang anak.
Dalam kaitan ini, mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Tarumanegara, Jakarta (1994-1997) ini pernah menuturkan, ''Saya bukan
tahu segala hal tentang anak-anak, tapi berusaha untuk tahu tentang
mereka.'' Untuk itu, ''Saya memiliki senjata rendah hati, tidak pernah
merasa paling berkuasa di keluarga, menghormati mereka sehingga mereka
terbuka kepada saya.''
Kedekatannya dengan anak-anak, boleh jadi, membuat Seto kian merasakan
kebutuhan untuk perkembangan anak. Dia pun mengharapkan agar anak-anak
dipenuhi hak-hak mereka: hak memperoleh suasana gembira, hak bermain,
dan hak untuk tumbuh dan berkembang dalam suasana tenang, tanpa merasa
tertekan.
Kreativitas dan ide Seto makin cemerlang dengan mendirikan sekolah TK
Mutiara Indonesia. Juga membentuk Yayasan Nakula-Sadewa yang menghimpun
anak-anak kembar yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagai pakar
psikologi anak yang bergelar doktor, selain menjadi dosen di Universitas
Tarumanegara, Jakarta, ia kerap menjadi pembicara dalam seminar, menulis
artikel, dan buku.
Atas pengabdiannya pada dunia anak-anak, yang sampai kapan pun akan
terus dilakukannya, Seto telah dianugerahi sejumlah penghargaan. Antara
lain Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia
Anak-anak dari Presiden RI (1987), The Outstanding Young Person of the
World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess
International (1987), Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB
Javier Perez de Cuellar (1987) dan The Golden Balloon Award, New York;
kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & Unicef
(1989). Kemudian, walau tak pernah terlintas dalam benaknya, sejak 1998,
Seto dipercaya menjadi Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA).
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA), Seto
semakin giat berkarya membela anak-anak. Pasca bencana Tsunami di Aceh
misalnya, ia bersama pemerintah merealisasikan pembentukan Trauma
Center. Pendirian Trauma Center ini ditujukan untuk menangani gangguan
traumatis pada anak-anak Aceh yang menjadi korban bencana alam dahsyat
tersebut. Apa yang paling cepat membantu menyembuhkan trauma anak?
"Adanya cinta, perhatian, dan dunia indah untuk bermain," kata Seto.
Seto yang mempunyai motto: bangsa yang besar adalah bangsa yang
mencintai anak-anak ini berharap supaya semua orang menganggap setiap
hari adalah hari anak. “Bukan cuma tanggal 23 Juli saja, tapi setiap
hari adalah hari untuk anak,” kata Seto. “Sehingga anak-anak Indonesia
sekarang, apalagi yang terpinggirkan, bisa memperoleh hak-haknya
sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan menjadi
putra-putri bangsa yang terbaik untuk bangsanya,” ujarnya lagi. ►mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|