| |
C © updated 27012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky |
|
| |
Nama:
Drs. Setia Simangunsong, MM
Lahir:
Balige, 11 Oktober 1949
Jabatan:
Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Departemen Kelautan dan
Perikanan RI
Alamat Kantor:
Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Jalan Medan Merdeka Timur No. 16, Lt. 17
Jakarta 10110
Telp. (021) 351.9070, Ext. 8700, Faks. (021) 350.0149
E-mail: mutu@indosat.net.id
Alamat Rumah:
Jalan Kepala Hijau IX Blok Q2 No. 14, Billy Moon, Pondok Kelapa,
Jakarta Timur
Telp. (021) 864.2905, Email: setiamm@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09 =
Setia Mangunsong (07)
Nukilan Kisah Unik Dua Training
Terbentuknya image tentang Setia Mangunsong sebagai “Guru” di bidang
pengawasan mutu makanan pengolahan hasil perikanan, tak terlepas dari
kegandrungannya mengikuti sejumlah pelatihan dan kunjungan langsung ke
pabrik pengolahan ikan berskala internasional di luar negeri. Ia
menjalankannya sudah sejak dekade 1990-an. Setidaknya sudah delapan kali
ia mengikuti pelatihan besar di luar negeri. Dua diantaranya menyisakan
kisah menarik yang tak pernah bisa dilupakan Setia Mangunsong.
Setia Mangunsong sudah diakui sebagai “Guru” di bidang pengawasan mutu
hingga ke lingkungan negara tetangga seperti Vietnam, Afghanistan, Iran
dan lain-lain. Negara sahabat sering mengundang Mangunsong memberikan
pelatihan.
Beberapa negara tujuan ekspor hasill perikanan seperti Uni Eropa,
Amerika Serikat, Kanada dan Jepang, malah menganggap lembaga yang Setia
Mangunsong pimpin, sekarang Direktorat Standarisasi dan Akreditasi,
sebagai competent authority yang berhak memberikan sertifikasi dan
akreditasi produk-produk ekspor perikanan Indonesia.
Setia Mangunsong yang sudah mahir di bidang pengawasan mutu, selalu
memiliki pengalaman yang menarik dan selalu baru serta berbeda-beda
setiap kali mengikuti pelatihan.
Dua diantaranya sangat berkesan sampai-sampai tak pernah bisa dilupakan
hingga kapanpun. Pertama, ketika diundang mengikuti pelatihan Quality
Assurance ke India tahun 1991, diselenggarakan oleh FAO-MPDA selama tiga
minggu penuh. Kedua, terjadi pada tahun 1994 saat mengikuti pelatihan
Pemeriksaan Mutu Berdasarkan HACCP, diselenggarakan oleh National Marine
Fisheries Services (NMFS), AS.
Di India Presenter Terbaik
Pelatihan di India, semua peserta diminta pula untuk memberikan
presentasi mengenai kondisi pelatihan di negara masing-masing.
Undangan ini, sekaligus merupakan kunjungan pertama Setia ke luar
negeri. Dilihat dari substansi materi yang mau dibahas, memang cocok
benar dengan Setia Mangunsong, yang saat itu menjabat Kepala Seksi
Sertifikasi dan Pengawasan Mutu, Ditjen Perikanan, Derpartemen
Pertanian.
Persoalan yang Mangunsong hadapi adalah kemampuan berbahasa Inggris yang
lemah. Ia pernah mempelajari bahasa ini hanya sampai bangku SMA Negeri 1
Balige Jurusan Paspal. Sesudah tamat Akademi Usaha Perikanan tahun 1972
Mangunsong banyak berada di desa di wilayah Kepulauan Riau, seperti
Indragiri Hilir dan Singkep.
Tetapi, kini, Mangunsong harus bepergian ke India seorang diri. Dia
diharuskan pula memberikan presentasi di hadapan semua peserta dari
negara-negara Asia Pasifik, berikut para instruktur dari Amerika,
Kanada, dan negara-negara Eropa.
Setia Mangunsong tekun menyiapkan bahan presentasi. Awalnya ia buat
dalam bahasa Indonesia. Kepada teman-teman, ia minta bantuan untuk
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. “Jadilah itu paper. Waktu itu
belum ada laptop segala macam, masih kertas slide menggunakan overhead
projector,” kata Mangunsong.
Menyiapkan materi sebaik mungkin masih belum menghilangkan kegundahan
hati. Ia memikirkan, kalaulah bahan presentasi sudah bagus, bagaimana
cara ngomongnya nanti. “Masih belajar saya. Jadi saya siapkan betul.
Saya bawa tidak hanya paper, tidak hanya slide, tapi juga rekaman
video.” Rekaman video Mangunsong maksudkan untuk difungsikan membantu
memberikan penjelasan, yang tanpa harus disertai omongan langsung.
Mangunsong merasa beruntung tampil paling akhir. Ia sempat belajar dari
peserta terdahulu sehingga paham. “Oh, caranya seperti ini. Kalau ada
tanya jawab, cara bertanya seperti ini, cara menjawab seperti ini, itu
saja.” Substansi, baginya, adalah hal yang mudah sebab sudah
berpengalaman melaksanakan langsung di lapangan.
Sebelum memulai presentasi instruktur mengatakan, nanti, di antara
peserta akan diadakan pemilihan siapa presenter terbaik. Kepada yang
terpilih akan diberi kesempatan mengikuti training gratis ke Kanada.
Berjalan menuju overhead projector Mangunsong tak berharap akan
terpilih, kecuali akan mengucap syukur kepada Tuhan apabila berhasil
menyelesaikan pelatihan dengan baik. Ia sangat sadar, ini adalah
kunjungan pertama ke luar negeri.
Mangunsong sangat tekun memberikan presentasi, dan betul-betul siapkan
bermacam kiat. Seperti, manakala sulit ngomongnya, segera memutar
rekaman video sekadar menujukkan ini contoh pelatihan yang baik, atau
itu adalah contoh yang tidak baik. Sangat sederhana sekali kiatnya.
Tetapi, usai presentasi, di luar dugaan banyak pertanyaan yang muncul,
sesuatu yang sesungguhnya tak begitu diharapkan.
Kebingungan baru muncul, bagaimana cara menjawab. Untung Mangunsong
segera menemukan kiat. Kepada teman saudara serumpun dari Melayu,
peserta dari negeri Jiran Malaysia, Mangunsong berujar, nanti, tolong
saya dibantu kalau kurang paham pertanyaannya.
“Jadi, itu entah betul entah tidak, apa yang ditanya, dan apa yang saya
jawab, katanya nyambung,” kata Mangunsong yang, di sesi akhir terpilih
sebagai presentasi terbaik.
Para peserta rupanya sangat tertarik dengan apa yang Mangunsong
paparkan. Seperti, bagaimana cara melaksanakan pelatihan kepada para
nelayan dalam skala kecil. Misalnya, kalau waktu mereka dipakai selama
seminggu mengikuti pelatihan, bagaimana nanti dengan biaya hidup mereka.
Kemudian, karena ada ketentuan, besoknya semua peserta dipersilakan
memilih siapa presenter dan topik apa yang akan dipresentasikan, seluruh
peserta lagi-lagi memilih Setia Mangunsong. Demi persiapan
sebaik-baiknya, maka, malam perpisahan menjadi luput dari ketertarikan
Mangunsong.
Setia terpilih sebagai yang terbaik, memungkinkannya mengikuti training
lanjutan gratis ke Kanada. Padahal, ini adalah kunjungan pertama ke luar
negeri, hingga harus membawa bekal tiga buah kamus sebab berangkat
dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih pas-pasan.
Tak Lulus TOEFL Tapi Berangkat
Kejadian yang tak kalah unik terjadi pada tahun 1994. Setia Mangunsong
diundang mengikuti pelatihan ke Amerika Serikat selama empat minggu,
membahas materi Pemeriksaan Mutu Berdasarkan Hazard Analysis Critical
Controlpoint/HACCP (Seafood Inspection based on FACCP), diselenggarakan
oleh National Marine Fisheries Services (NMFS), AS.
Tapi ada syarat untuk berangkat kali ini. Selain melewati testing di
Kedutaan AS di Jakarta, Setia juga harus lulus testing bahasa Inggris
TOEFL.
Dan benarlah, Setia Mangunsong tidak lulus TOEFL. Ia tak boleh
berangkat. Namun dari segi materi pelatihan, namanya merupakan
satu-satunya yang paling kompeten menghadiri. “Tidak lulus TOEFL-nya,
tapi harus saya yang berangkat. Sebab ini adalah ketentuan dari yang
minta itu,” kata Mangunsong.
Pada akhirnya Mangunsong berangkat namun harus didampingi interpreter.
Biaya interpreter ditanggung penyelenggara, dan dalam kenyataan
sehari-hari fungsi interpreter tak terpakai karena pelatihan menggunakan
bahasa komunikasi sehari-hari yang biasa berlaku di Amerika.
Di hari pertama semua peserta diberi sebuah buku tebal sebagai materi
pelatihan. Dan di hari pertama itu pula penyelenggara dibuat bingung
oleh Mangunsong. Setia, berterus terang mengatakan tak suka mengikuti
training dengan cara seperti itu.
“Saya langsung bilang, saya tidak suka training seperti itu. ‘Ah,
Amerika modelnya begitu’, saya bilang. ‘Sebab itu semua bisa saya baca
di buku. Saya mau tahu bagaimana penerapannya di lapangan,’” protes
Mangunsong keras.
Mangunsong berujar lagi, ia mau terjun langsung ke perusahaan. “Saya
mau, dari kantornya ini bagaimana melaksanakan pengawasan terhadap
perusahaan-perusahaan di bidang pengawasan mutu, karena itu yang saya
geluti di bidang pengolahan dan pengawasan mutu.”
Penyelenggara sibuk berpikir. Mereka segera mengadakan rapat dadakan,
dan akhirnya memutuskan, oke, sepakat dengan usulan Mangunsong.
Mangunsong memang memberikan alasan gamblang ketika itu, “Saya akan
lebih mudah mencerna, kalau memang langsung terjun ke lapangan, sebab
saya ini orang lapangan, saya bilang. Buku ini, training seperti ini,
sudah sering saya ikuti. Saya kasih tahu, saya sudah ikuti caranya, ini
juga materinya. Tapi saya mau tahu pelaksanaannya di Amerika. Akhirnya
itu disetujui.”
Dari total lima minggu pelatihan, setelah usulnya disetujui, Mangunsong
mintakan selama dua minggu bisa bersama-sama dengan para
inspektur-inspektur Amerika. Sisanya, ia mintakan magang langsung di
pabrik.
Pada akhirnya Setia Mangunsong tak sekadar ikut magang. Semua peserta,
terutama penyelenggara menjadi terkesan akhirnya. Ada yang terbuka
mengatakan, “Saya baru lihat dari negara berkembang berani seperti ini.”
Pengakuan itu muncul, karena kendati sedang berada di pabrik milik
mereka, Setia berani mengatakan dan melakukan koreksi jika memang
menemukan ada ketidakbenaran pengawasan mutu.
“Ini nggak benar, saya bilang. Kamu kalau datang ke negara saya bilang
ini nggak benar. Nah, ini juga nggak benar, saya bilang, haha…ha.”
Paling tidak Setia Mangunsong sudah pernah mengikuti delapan pelatihan
pengawasan mutu berskala internasional di luar negeri. ►mti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|