| |
C © updated 27012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Drs. Setia Simangunsong, MM
Lahir:
Balige, 11 Oktober 1949
Jabatan:
Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Departemen Kelautan dan
Perikanan RI
Alamat Kantor:
Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Jalan Medan Merdeka Timur No. 16, Lt. 17
Jakarta 10110
Telp. (021) 351.9070, Ext. 8700, Faks. (021) 350.0149
E-mail: mutu@indosat.net.id
Alamat Rumah:
Jalan Kepala Hijau IX Blok Q2 No. 14, Billy Moon, Pondok Kelapa,
Jakarta Timur
Telp. (021) 864.2905, Email: setiamm@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09 =
Setia Mangunsong (06)
Berasal dari Keluarga Pejuang dan Aktivis Gereja
Keluarga besar Setia Mangunsong merupakan aktivis gereja dan pejuang
pada masanya. Bahkan, ada yang pernah sangat dekat dan ikut berjuang
dengan Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII.
Dari Ayah Sori Melanthon Mangunsong, dan Ibu Emelia boru Siahaan, Setia
lahir sebagai anak keempat dari delapan bersaudara. Lima merupakan
laki-laki, di sini Setia adalah anak ketiga, tiga lainnya perempuan.
Selengkapnya, sulung Drs. Basri Mangunsong/menikahi Dewi br. Siahaan,
Ir. Budi Mangunsong, MSM/Drg. Netty br. Aritonang, Drs. Setia
Mangunsong, MM/Rosyam Joice Berliana br. Tambunan, Drs. Soddin
Mangunsong, Ak. MS/Netty br. Naiborhu, SH, MH, dan Lion
Mangunsong/Rohani br. Hutapea.
Nama ketiga anak perempuan masing-masing Maritje Nurita br. Mangungsong,
menikah dengan L. Simanjuntak, lalu Mariani Mangunsong, BA menikah ke
marga Aritonang, dan si bungsu Ir. Marlina br. Mangunsong menikah dengan
Bhakti Tampubolon Lumban Atas.
Mereka semua dikaruniai putra-putri hingga cucu. Setia Mangunsong, yang
sedang menantikan kelahiran cucu pertama, memiliki tiga anak yaitu
Kapten Udara (Lek) Reinhard Sahala Junjungan Mangunsong, yang menikah
dengan Astrid Paskalia br. Tambunan. Lalu Poltak Rio Franky Mangunsong,
ST/Lidya br. Tambunan, dan si bungsu perempuan Eva Novita br.
Mangunsong.
Ayah Setia, Sori Melanthon Mangunsong merupakan anak siampudan atau
bungsu dari tujuh bersaudara terdiri enam lelaki dan seorang perempuan.
Yang tertua bernama Jese Mangunsong/br. Siahaan, diikuti St. Amos/br.
Pardede, Enos menikahi br. Tampubolon dan br. Malango, Markus/br.
Siahaan, Renatus menikahi br. Sihombing dan br. Silalahi, serta Sori
Melanthon/br. Siahaan.
Jese Mangunsong/br. Siahaan memiliki dua anak Gustaf Mangusong/br.
Silalahi (dikaruniai dua anak laki-laki Pemimpin dan Torang), dan Aris
Mangunsong/br. Simanjuntak (Manaor, Maddin, Turangan). Kemudian, St.
Amos Mangunsong/br. Pardede memiliki tiga anak Poda Mangunsong/br.
Pardede (Krisman, Kondar, Arifin, Lumpin, Effendi, Maruap), Sabam
Mangunsong/ br. Sinaga (Mostang, Robinson, Humala, Sontan), dan Hantor
Mangunsong/ br. Tambunan (Konrad, Robert).
Enos Mangunsong/br. Tampubolon/br. Malango juga memiliki tiga anak, Eden
Mangunsong/br. Nainggolan (James, Damson), Pison Mangunsong/br.
Sianturi, dan Sihat Mangunsong/br. Manihuruk (Soardion). Markus
Mangunsong/br. Siahaan memiliki dua anak Abner Mangunsong/br. Tampubolon
dan Arlen Mangunsong/br. Manurung (Hotma). Renatus Mangunsong/br.
Sihombing/br. Silalahi memiliki dua anak Bindu Mangunsong/ br.
Tampubolon (Giat) dan Suman Mangunsong/br. Tampubolon. Si bungsu, yakni
ayah Setia, Sori Melanthon Manunsong/br. Siahaan sebagaimana disebut
dimuka memiliki lima anak laki-laki dan tiga perempuan.
Satu-satunya saudara perempuan mereka bernama Balandina br. Mangunsong,
menikah dengan pria bernama Saul Darianus Tampubolon Lumbanatas.
Pasangan ini melahirkan satu anak laki-laki Nicanor Tampubolon
Lumbanatas/br. Hutagaol, dan tiga perempuan yaitu Timour br. Lumbanatas
yang menikah dengan Raya Tampubolon Sibolahotang, kedua Riamin br.
Lumban Atas menikah dengan Binsar Tambunan, dan bungsu boru siampudan
Maruli Upi br. Lumbanatas yang menikah dengan St. Richard Faber
Tampubolon Sibolahotang.
Kakek Raja Hizkia Tokoh Gereja
Setia Mangunsong memiliki kakek bernama St. KK. Raja Hizkia. Bila garis
silsilah ditarik ke atas, Raja Hizkia memiliki orangtua bergelar Ompu
Parhudatar/br. Tampubolon Sitampulak. Ompu Parhudatar/br. Tampubolon
Sitampulak dilahirkan oleh Ompu Jabarani/br. Siahaan, dan Ompu
Jabarani/br. Siahaan dilahirkan oleh Ompu Jomak/br. Siahaan. Sebutan
Ompu Jomak adalah trade mark bagi keluarga besar Setia Mangunsong di
lingkungan marga.
Nama kakek Setia Mangunsong, Raja Hizkia, itu diambil dari nukilan
sebuah kisah Alkitab bagian Perjanjian Lama. Ia seorang raja yang
melakukan apa yang benar dan baik di mata TUHAN Allah. Raja Hizkia suatu
ketika jatuh sakit dan hampir mati, lalu seorang nabi meminta Raja
Hizkia untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir kepada keluarga sebab ia
pasti akan mati dan tak akan sembuh lagi.
Raja Hizkia lalu berdoa dengan mengatakan, ŇAh Tuhan, ingatlah kiranya,
bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati
dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu,Ó lalu raja
menangis dengan sangat. Tuhan mendengar doa dan melihat air mata Raja
Hizkia lalu menyembuhkan dan memperpanjang hidupnya 15 tahun lagi.
Pemberian nama Raja Hizkia kepada kakek Setia menandai mula kedatangan
misionaris agama Kristen yang memberikan pencerahan ke Tanah Batak,
khususnya Balige. Demikian pula gelar St. di depan nama adalah singkatan
dari Sintua, pertanda bahwa Raja Hizkia Mangunsong adalah seorang
pengerja atau penatua di Gereja HKBP Balige, sebuah gareja bolon yang
pendiriannya turut diprakarsai Raja Hizkia pada abad ke-19 akhir.
Satu lagi gelar di depan KK, singkatan dari Kepala Kampung pertanda
peran Raja Hizkia sebagai Kepala Desa atau Kepala Kampung. Bahkan Raja
Hizkia sangat bersahabat dengan Raja Sisingamangaraja XII, seorang raja
sekaligus pejuang bagi orang Batak yang diakui bangsa Indonesia sebagai
pahlawan nasional yang gigih mengusir penjajah.
Nama ayah Setia, Sori Melanthon adalah pemberian langsung dari Raja
Sisingamangaraja XII. Alkisah Raja Hizkia pada suatu ketika
menyelamatkan Raja Sisingamangaraja XII dari kejaran penjajah Belanda
dengan, menyeberangkan Raja dari desa Lumban Bul-Bul menuju Bakara,
hanya dengan sebuah sampan kecil (solu) alat transportasi air
tradisional yang biasa nelayan pakai untuk mencari ikan di danau. Kata
Sori sendiri dalam konteks dinasti kerajaan Raja Sisingamangaraja,
memiliki pertanda bahwa pemiliknya adalah anggota kerajaan yang
pemaknaannya sama dengan Seri Paduka atau Seri Baginda dalam dinasti
raja-raja lain.
Kisah kepahlawanan St. KK. Raja Hizkia Mangunsong dengan menyelamatkan
Raja Sisingamaraja XII, dan keteguhan keimanannya sebagai tokoh gereja,
adalah bukti-bukti otentik yang selalu diwariskan kepada masing-masing
keturunan dalam keluarga besar Setia Mangunsong. Karena itu, biasanya
akan selalu ada anggota keluarga yang terpanggil menjadi kepala kampung
dan penatua gereja. Setia Mangunsong, salah satunya, tercatat sebagai
pengerja atau sintua di gereja HKBP Jatiasih, Bekasi.
Tentang cerita kejuangan Raja Hizkia, itu berlanjut pada diri Sori
Melanthon yang pernah menjadi tentara pejuang sejak jaman pendudukan
Jepang hingga aksi polisionil Belanda II. Dan kini, kisah itu menitis
lagi pada diri anak tertua Setia, Kapten TNI (Udara) Reinhard Sahala
Junjungan Mangunsong, yang sedang menjalani dinas militer di Pangkalan
Udara (Lanud) TNI Angkatan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.
Sedikit kisah mengenai Sori Melanthon, setelah turut merebut dan
mempertahankan kemerdekaan, ia bersama istri dan anak-anak kembali ke
kampung halaman Balige, tahun 1950 untuk hidup menjadi manusia sipil
biasa. Ia pun diterima menjadi pegawai PLN. Namun, kendati sudah
merupakan orang sipil rumah mereka di desa masih suka digerebek tentara
pemberontak, mengira Sori masih aktif menjadi tentara.
Sebelumnya, para pemberontak ini pulalah yang pernah menghadang laju
perjalanan Sori sekeluarga pulang ke kampung persis saat melintasi kota
Porsea. Sori Melanthon sekeluarga akhirnya menyelamatkan diri dengan
bersembunyi berhari-hari di gorong-gorong sungai, sambil menunggu
datangnya bala bantuan penyelamatan dari tentara pusat.
Setia Mangunsong yang pernah gagal masuk Akabri, sering bertutur kepada
anak-anak mengenai kegigihan ayahnya ini ketika masih aktif berdinas di
militer. Sampai meninggal duniapun prosesi pemakaman Sori Melanthon
berlangsung dalam suasana layaknya pemakaman seorang anggota militer.
Penuturan inilah yang memberi inspirasi kepada Reinhart, untuk berkenan
menempuh pendidikan Akabri Bagian Udara.
Tokoh Pengusaha
Raja Hizkia mulanya memiliki istri br. Tampubolon Lumbanatas yang
melahirkan anak-anak Jese, Amos, Enos, Markus, Renatus, dan Balandina.
St. KK. Raja Hizkia hanya memiliki saudara kandung seorang abang bernama
Panunggam/br. Tampubolon Sitampulak. Suatu ketika Raja Hizkia menduda,
istrinya meninggal dunia. Dalam perjalanan waktu yang lain, satu-satunya
anak abangnya, St. Jason Mangunsong, yang telah memperistri br. Siahaan
Aekbolon, meninggal dunia pula.
Raja Hizkia kemudian berinisiatif membesarkan kedua anak-anak St. Jason
yakni Fridolin dan Benjamin. Bersamaan itu ia mengambil pula istri
Jason, br. Siahaan Aekbolon yang telah menjanda untuk dinikahi dan
dijadikan istri. Hal ini merupakan sesuatu yang lazim terjadi pada masa
itu di Tanah Batak, biasanya dimaksudkan untuk meneruskan keturunan,
dan/atau menjaga kehormatan nama keluarga. Dari pernikahan Raja Hizkia
dengan br. Siahaan Aekbolon inilah diperoleh seorang anak yakni Sori
Melanthon, ayah Setia Mangunsong.
Jadi, dari garis satu ayah yang sama, Sori Melanthon memiliki tujuh
saudara kandung yakni Jese, St. Amos, Enos, Markus, Renatus, Sori
Melanthon, dan perempuan Balandina. Sedangkan dari satu ibu yang sama
br. Siahaan Aekbolon, ia memiliki tiga saudara kandung yakni Fridolin,
Benjamin, dan Sori Melanthon.
Dari pernikahan antara Raja Hizkia dengan istri pertama br. Tampubolon
Lumbanatas, dan istri kedua br. Siahaan Aekbolon, pada masing-masing
keturunan khususnya keturunan Sori Melanthon terbentuklah sebuah sistem
kekerabatan baru yang tergolong istimewa. Yakni, dalam garis keturunan
satu ayah di satu pihak, dan dalam garis keturunan satu ibu di sisi
lain.
Sori Melanthon menyebut dan memanggil Fridolin dan Benjamin sebagai anak
di sisi garis keturunan satu ayah, sedangkan dari garis keturunan Ibu
Sori Melanthon memanggil keduanya sebagai Abang.
Keistimewaan kekerabatan tersebut tetap terpelihara dengan baik hingga
saat ini. Terlebih lagi, Sori Melanthon menghabiskan masa kanak-kanak
lebih banyak bersama kedua abang seibu Fridolin dan Benjamin. Selain
dekat dalam kekerabatan, dan mesra dalam keseharian hidup, di lingkungan
keluarga besar Ompu Jomak sikap saling tolong-menolong memang sangat
terasa kuat.
Fridolin Mangunsong yang memperistri br. Siahaan mempunyai anak
Binsar/br. Tambunan (dikaruniai tiga anak Mangombis, Edison, Dapot).
Sedangkan Benjamin Mangunsong, yang memperistri br. Sinaga mempunyai
anak John/br. Sibarani (Tumpak, Richardo, Baringin).
Benjamin Mangunsong pada masanya dikenal sebagai pengusaha angkutan bis
antar kota, pemilik perusahaan otobus (PO) Roma yang sudah menikmati
masa kejayaan sejak jaman pendudukan Jepang. Bahkan di lingkungan orang
Batak di wilayah Tapanuli, sosok dan nama Benjamin adalah pengusaha
terkemuka yang kehadirannya jauh mendahului nama-nama yang muncul
kemudian.
Selain menjadi pengusaha angkutan umum, Benjamin juga mempunyai sejumlah
pompa bensin yang tersebar di seputar perjalanan antar kota Balige
hingga Tarutung dan Sibolga. ►mti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|