| |
C © updated 27012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Drs. Setia Simangunsong, MM
Lahir:
Balige, 11 Oktober 1949
Jabatan:
Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Departemen Kelautan dan
Perikanan RI
Alamat Kantor:
Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Jalan Medan Merdeka Timur No. 16, Lt. 17
Jakarta 10110
Telp. (021) 351.9070, Ext. 8700, Faks. (021) 350.0149
E-mail: mutu@indosat.net.id
Alamat Rumah:
Jalan Kepala Hijau IX Blok Q2 No. 14, Billy Moon, Pondok Kelapa,
Jakarta Timur
Telp. (021) 864.2905, Email: setiamm@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09 =
Setia Mangunsong (05)
Memiliki Naluri Bisnis
Kandidat Doktor Perencanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan ini
berkehendak menganalisa sejumlah kebijakan penting yang pernah
pemerintah keluarkan di bidang perikanan. Analisa dikaitkan dengan
prospek bagaimana memenangkan persaingan perdagangan perikanan di pasar
global, dilihat dari aspek pengawasan mutu.
Departemen Pertanian suatu ketika di tahun 1973 memanggil pulang Setia
Mangunsong dari perusahaan swasta, untuk ditugaskan membangun satu paket
proyek pembangunan empat pelabuhan perikanan raksasa yang dilengkapi
empat pabrik pengolahan ikan, cold storage, 100 armada kapal penangkap
ikan, dan pabrik es.
Proyek ini berlokasi di wilayah Kepulauan Riau, dan menjadi cikal bakal
pendirian badan usaha milik negara (BUMN) pertama di sektor perikanan
bernama PT (Persero) Karya Mina. Jadi, sebelum menjadi birokrat sejati
yang pandai memanfatkan setiap peluang yang ada, untuk melakukan inovasi
dan kreativitas, Setia Mangunsong sudah lebih dahulu berkiprah sebagai
praktisi perikanan di industri pengolahan. Ia beruntung memiliki talenta
dan naluri bisnis yang tajam.
Begitu tiba di Deptan kepadanya proyek segera saja diperkenalkan. Di
proyek ini terdapat dua orang ekspert dari Jepang yang memiliki keahlian
membangun cold storage. Setia ditugaskan mendampingi keduanya selama
pembangunan pelabuhan dan pabrik pengolahan ikan berlangsung.
Begitu pembangunan selesai status proyek berubah menjadi badan usaha
milik negara bernama PT (Persero) Karya Mina, dan Mangunsong pun
diangkat menjadi pegawai di sana.
Ia sehari-hari mengikuti keseluruhan kegiatan pabrik hingga akhirnya
bisa mengoperasikan sendiri, dan memahami betul bagaimana sebuah pabrik
pengolahan ikan bekerja. Demikian pula dengan tata cara pengoperasian
cold storage, pabrik es, mengolah udang, ikan dan sebagainya.
Pada tahun kedua ia dipercaya memegang jabatan sebagai Wakil Kepala
Cabang PT (Persero) Karya Mina di Indragiri Hilir, dan setahun kemudian
dipindahkan ke Singkep menjabat sebagai Kepala Cabang.
Naluri bisnis Setia Mangunsong terasah tajam ketika bekerja di PT
(Persero) Karya Mina ini. Misalnya, ia dapat melihat bagusnya prospek
industri perikanan Indonesia. Di sisi lain ia juga menemukan sebuah
kendala yang dapat menghambat kemajuan perikanan, yakni lokasi keempat
pabrik yang berdekatan sekali dengan negara tetangga Singapura. Saingan
PT Karya Mina berasal dari Negeri Singa tersebut.
Mangunsong kemudian mempelajari berbagai hal. Bila di satu sisi ia
diperhadapkan dengan pesaing dari Singapura, di sisi lain tata cara
kerja BUMN dilihatnya sangat mirip birokrasi pemerintahan, kurang lincah
kurang sigap bergerak.
Rupa-rupanya di desa sentra pemukiman para nelayan, yang merupakan
lokasi pabrik, sudah sejak lama para pesaing yang merupakan warga
Singapura menanamkan pengaruh. Mereka memberi nelayan jaring gratis
dengan syarat ikan hasil tangkapan harus dijual kepada warga Singapura
ini.
Mangunsong berpikir keras bagaimana cara merebut hati nelayan. Selain
mengoperasikan pabrik, ia sudah turut melakukan pembelian ikan hasil
tangkapan nelayan, karena itu perlu baginya mendalami kebudayaan
masyarakat setempat. Mereka ternyata adalah asli warga keturunan Melayu,
dan sebagian besar lainnya merupakan keturunan China lokal dan China
pendatang dari Singapura.
Mangunsong memahami pula terjadi persaingan ketat antara warga keturunan
China pendatang dari Singapura dengan keturunan China lokal. Ia memilih
merangkul bersatu padu dengan warga China lokal dengan satu tujuan
utama, supaya dapat memenangkan persaingan dengan kalangan industri
perikanan Singapura.
Diminta Menjadi PNS
Setia Mangunsong berada di Riau hingga tahun 1980 sampai muncul
peraturan baru Keppres No. 309 Tahun 1980, yang menghapus dan melarang
seluruh kapal trawl beroperasi di seluruh wilayah perairan Indonesia.
Ketentuan ini sangat memukul bisnis PT (Persero) Karya Mina. Sebagian
besar sarana penangkapan ikan yang dimiliki adalah kapal trawl.
Mangunsong tidak tahu mau melakukan apa lagi setelah semua sarana
penangkapan ikan berhenti beroperasi.
Ia kemudian pindah menjabat Kepala Perwakilan PT (Persero) Karya Mina,
di Jakarta. Ia menjalani status ini hingga 1982. Lalu secara resmi ia
diminta kesediaan untuk membantu Ditjen Perikanan, Departemen Pertanian
terutama untuk menghadiri rapat-rapat penting di Bina Graha tentang
pelaksanaan kebijakan penghapusan kapal trawl. Ia kerap pula diajak
turun langsung ke lapangan membantu mengawasi pelaksanaan penghapusan
kapal-kapal trawl.
Bersamaan itu Departemen Pertanian, dalam hal ini Direktorat Jenderal
Perikanan membuka lowongan bagi profesional untuk dipekerjakan sebagai
pegawai negeri sipil dengan tugas khusus melaksanakan Keppres No. 309
Tahun 1980 tadi, yaitu kebijakan penghapusan kapal trawl. Kualifikasi
yang dibutuhkan, dia harus praktisi perikanan yang berpengalaman luas
mengoperasikan kapal trawl di lapangan.
Pimpinan rapat penerimaan pegawai sudah sering membahas persoalan ini,
dan mencari tahu siapa orang yang paling pas hingga akhirnya ketemulah
nama Setia Mangunsong. Mangunsong, yang dahulu lebih suka memilih
menjadi pegawai perusahaan swasta, tak bisa mengelak. Karena sifatnya
ditawarkan ia sepakat menerima peralihan status menjadi pegawai negeri
sipil (PNS).
Namun sebelum menerima tawaran ia sempatkan mempelajari apa saja
syarat-syarat menjadi PNS. Ia temukan jawaban singkat, dan menjadi kata
kunci bagi setiap birokrat, yaitu ikuti semua peraturan yang berlaku.
Berdasarkan itulah ia mengikuti semua ketentuan dan persyaratan sebagai
PNS. Seperti pangkat dan jabatan, harus ia mulai dari level paling bawah
termasuk harus mengikuti prajabatan terlebih dahulu. Ia harus melupakan
status dan jabatan lama yang sudah setingkat manajer di lingkungan BUMN.
Setia mengiyakan semua persyaratan karena sadar dirinya memang
betul-betul diminta menjadi PNS. Ia membawa misi baru di sini. Setelah
bergerak sebelumnya dari luar sebagai profesional perusahaan perikanan,
kini, giliran dari dalam ia bergerak membangun industri perikanan
nasional yang berdaya saing global. Ia bertekad membangun industri
perikanan dari dalam dengan menjadi birokrat pemerintah.
Tak mudah baginya mengusung misi sebab harus mengorbankan attitude dan
karakter dasarnya yang selalu ingin bergerak cepat, yang menanggapi
serta memutuskan setiap persoalan dengan serba cepat. Iklim perusahaan
swasta sebelumnya memberinya keleluasaan seperti itu.
Memang, begitu mulai berurusan dengan birokrasi, awalnya segera ia
melihat ada kelambanan. ŇTapi saya cobalah dari dalam,Ó tekad ini adalah
pegangan baru Mangunsong sebagai PNS.
Pandai Manfaatkan Peluang
Setia Mangunsong sudah memasuki dunia birokrasi sejak tahun 1980.
Awalnya ia menjalani sambil tetap berstatus sebagai pegawai perusahaan
pemerintah PT (Persero) Karya Mina sebagai Kepala Perwakilan Jakarta.
Barulah tahun 1982 ia resmi diangkat menjadi PNS.
Sebagai pegawai Setia Mangunsong tekun mengikuti semua ketentutan dan
peraturan kepegawaian yang berlaku. Seperti mengikuti prajabatan,
memulai posisi sebagai staf biasa, memulai pangkat dari paling bawah
II-B sesuai ijazah akademi yang dimiliki, kendati ketika berkiprah di
BUMN jabatan manajer sudah membuatnya setingkat dengan golongan III-A.
Dengan lapang dada ia dapat menerima perbedaan yang membuat kepangkatan
dan golongannya tertinggal jauh.
Selain tekun, ia juga rajin mempelajari setiap kesempatan yang bisa
dimanfaatkan. Misalnya, kalau seorang pegawai negeri mengikuti sekolah
dimungkinkan untuk melakukan penyesuaian atau akselerasi. Ini
diistilahkan sebagai kenaikan pangkat karena ijazah. Karena itu ia hanya
butuh dua tahun untuk naik ke golongan II-C.
Sambil tetap mengikuti aturan kepegawaian yang berlaku, pada tahun 1982
ia melanjutkan kuliah S-1 di Sekolah Tinggi Administrasi (STIA) LAN,
Jakarta. Maka, ketika golongannya sudah II-C, tersedia peluang mengisi
jabatan Kepala Seksi yang mensyaratkan pejabatnya harus bergolongan II-D
atau III-A, para kolega menyebut-nyebut dan merekomendasikan Setia
sebagai nama yang sudah pantas untuk mengisinya.
Hikmah ketekunan mengikuti aturan kepegawaian berbuah manis di sini.
Berhubung golongannya masih II-C, Setia menyarankan agar untuk sementara
ia ditempatkan menjadi Pelaksana Tugas (Plt) saja dulu, sambil menunggu
gelar S-1 yang tinggal menunggu hari wisuda. Para kolega dan atasan
akhirnya menjadi mahfum kalau-kalau secara diam-diam Setia telah
memperlengkapi diri dengan ilmu terbaru di bidang manajemen. Ia
menyelesaikan pendidikan tinggi S-1 tahun 1985.
Semua lalu berproses dengan baik. Ia diwisuda, terjadi penyesuaian
golongan, langsung naik ke III-A, jabatan Kepala Seksi pun jatuh ke
pangkuan.
Keberuntungan belum berhenti di situ. Sesudah III-A, jabatan Kepala
Seksi, muncul peraturan yang lebih baru yang mensyaratkan setiap Kepala
Seksi minimum bergolongan III-C. Tidak sulit bagi Mangunsong memenuhi
aturan ini. Dari segi ijazah hanya butuh dua tahun bergerak naik dari
III-A ke III-B.
“Jadi, karena didasari waktu mau masuk PNS harus sesuai aturan, maka
saya selalu pelajari aturan itu,” inilah kiat unik sekaligus
keberuntungan mengejar keterlambatan ketika harus memulai karir dari
tingkat paling bawah.
Meraih Melebihi Impian
Ketekunan menuruti ketentuan terus berlanjut. Muncul aturan yang lebih
baru lagi, setiap sarjana maksimum hanya dapat mencapai golongan III-D.
Jadi, kalau mau naik hingga ke IV-A harus menyesuaikan dengan ijazah
S-2.
Sambil menggeluti pekerjaan sehari-hari, mempertanggungjawabkan resiko
jabatan selaku Kepala Seksi, Setia memberanikan diri mengikuti kuliah
S-2. Ia mengambil Magister Manajemen, Jurusan Manajemen Pemasaran, di
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) IPWI Jakarta.
Memang, sesungguhnya, ada satu titik picu utama lain yang mendorongnya
berkenan mengejar gelar tambahan jauh melebihi impiannya sebelumnya.
Ketika mengikuti Latihan Pendidikan Untuk Jabatan atau SPAMA (dahulu
disebut SEPADYA), di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik
Indonesia, Jakarta, tahun 1994 Setia Mangunsong berhasil tampil sebagai
lulusan terbaik.
Terbuktilah otak cerdas Setia belum membeku. Ia bukan hanya bisa
menyelesaikan pendidikan malahan tampil sebagai lulusan yang terbaik.
Prestasi ini yang memotivasi dirinya untuk bersedia mengikuti kuliah S-2
pada tahun 1996, dan berhasil menamatkannya tahun 1997.
Motivasi yang sama kembali muncul usai Mangunsong mengikuti SPAMEN,
sebuah ajang Pendidikan dan Latihan Pimpinan Tingkat II, yang juga
diselenggarakan LAN-RI di tahun 2002. Seusai SPAMEN segera ia menyatakan
tekad ingin menjadi doktor.
Maka, sejak Oktober 2003 ia mulai mengikuti kuliah Pasca Sarjana S-3 di
IPB Bogor. Direncanakan pada tahun 2006 ia sudah menyelesaikan studi
Program Studi Perencanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan ini.
Kandidat doktor ini berkehendak menganalisa sejumlah kebijakan yang
pernah pemerintah keluarkan di bidang perikanan. Analisa dikaitkan
dengan bagaimana prospek dan masa depan bangsa Indonesia memenangkan
persaingan perdagangan perikanan di pasar global dilihat dari aspek
kepatuhan menjalankan pengawasan mutu perikanan.
Dengan menganalisa kebijakan pengawasan mutu di era perdagangan bebas,
Setia bermaksud akan menelurkan sebuah rekomendasi kebijakan kepada
bangsa, berupa sistem pengawasan mutu pengolahan hasil-hasil perikanan
yang bisa diterima oleh semua negara di dunia tanpa kecuali. ►mti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|