| |
C © updated 27012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Drs. Setia Simangunsong, MM
Lahir:
Balige, 11 Oktober 1949
Jabatan:
Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Departemen Kelautan dan
Perikanan RI
Alamat Kantor:
Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Jalan Medan Merdeka Timur No. 16, Lt. 17
Jakarta 10110
Telp. (021) 351.9070, Ext. 8700, Faks. (021) 350.0149
E-mail: mutu@indosat.net.id
Alamat Rumah:
Jalan Kepala Hijau IX Blok Q2 No. 14, Billy Moon, Pondok Kelapa,
Jakarta Timur
Telp. (021) 864.2905, Email: setiamm@yahoo.com |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09 =
Setia Mangunsong (04)
Kisah Anak Petani Dari Balige
Pekerja Keras yang Tekun Belajar dan Berdoa. “Saya ini mau jadi apa?”
Pertanyaan ini terus saja menggelayut dalam hati Setia Mangunsong, anak
petani dari Balige, mengingat kondisi ekonomi keluarga.
Setia Mangunsong terlahir sebagai anak keempat dari delapan bersaudara
dari pasangan Ayah Sori Melanthon Mangunsong dan Ibu Emelia br. Siahaan.
Ayah mereka ini merupakan anak siampudan atau bungsu dari tujuh
bersaudara, seorang diantaranya perempuan Balandina br. Mangunsong.
Ketika masih tinggal di Medan Sang Ayah bertugas sebagai tentara,
pejuang daerah yang turut mengangkat senjata sejak jaman Jepang, merebut
dan mempertahankan kemerdekaan hingga aksi polisional kedua Belanda.
Sedangkan Sang Ibunda telaten mengelola rumahtangga, membesarkan dan
mendidik anak-anak.
Setia praktis numpang lahir saja di Medan menghabiskan satu tahun
pertama usianya. Sebab, tak lama kemudian, sejak tahun 1950 keluarga
mereka hijrah dan menetap ke kampung halaman Lumban Bul-Bul, sebuah desa
pertanian kecil yang damai, dikelilingi pohon bambu terletak persis di
tepian pantai Danau Toba yang terkenal indah itu. Desa Lumban Bul-Bul
masuk ke wilayah Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, sekitar 235
kilometer arah selatan Medan, dapat ditempuh lima jam perjalanan darat
dengan kendaraan roda empat.
Keseharian hidup Setia Mangunsong sangat akrab dengan dunia pertanian
dan perikanan. Sebelum menjadi pakar dan birokrat perikanan ia sudah
menggeluti apa yang kini dikenal dengan istilah keren perikanan
budidaya. Sehari-hari ia memelihara ikan mas di kolam. Demikian pula
perihal perikanan tangkap, bersama keluarga ia memiliki sampan kecil
(solu) untuk menangkap berbagai jenis ikan seperti mujahir, ikan mas,
pora-pora, bulan-bulan dan sebagainya dari Danau Toba yang luasnya
terbesar kedua di dunia itu. Konon, danau ini terbentuk sekitar 6.000
tahun lalu melalui sebuah ledakan vulkanik raksasa hingga getarannya
terasa sampai ke benua Eropa.
Sang Ayah, yang mantan tentara, begitu menetap di kampung halaman
beralih profesi menjadi Pegawai PLN. Sang Ibunda mendapatkan tambahan
tugas bertani dan menternakkan sedikit hewan peliharaan. Ibunda begitu
pandai memobilisasi Setia Mangunsong dan seluruh saudara untuk bekerja
banting-tulang di sawah, beternak, serta memelihara dan menangkap ikan,
bertindak layaknya seorang manajer sebuah perusahaan multinasional yang
gesit.
Mencuri Waktu Untuk Belajar
Setia Mangunsong menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), yang
ketika itu masih bernama Sekolah Rakyat (SR), di SR No. 3 Balige antara
tahun 1956-1962, dan pendidikan SMP Negeri 2 Balige (1962-1965). Hingga
menamatkan SMP belum terbersit sedikitpun cita-cita mau jadi apa dirinya
kelak. Barulah ketika hendak menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1
Balige, Jurusan Paspal (1965-1968), seolah tersentak ia harus bersikap
dan menentukan sendiri masa depan. Tapi kondisi keuangan keluarga sangat
tak memungkinkan.
Ia lalu bertanya-tanya dalam hati, apa gunanya kepandaian yang dimiliki
hingga selalu menjadi juara kelas sepanjang SD, SMP, dan SMA bahkan
berkesempatan memperoleh hadiah-hadiah menarik untuk semua itu. Juga,
apa gunanya harus mencuri-curi waktu untuk belajar di persawahan, di
balik kegelapan malam, atau tekun mendengar penjelasan guru di depan
kelas yang membuatnya dikenal sebagai murid yang pandai, jujur dan rajin
belajar.
Berbagai pikiran dan pertimbangan bergejolak dalam diri. Mangunsong muda
berprinsip harus dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi apapun kejadiannya.
Prinsip ini sesungguhnya tak memperoleh tempat di tengah-tengah
keluarga, sebab dua kakak lelaki tertua Basri Mangunsong dan Budi
Mangunsong sedang kuliah di ITB Bandung. Sementara, empat orang
adik-adik sedang duduk di bangku SD dan SMP menunggu untuk juga dapat
melanjut. Padahal Sang Ayah hanya pegawai biasa di PLN, demikian pula
Ibunda hanya ibu rumahtangga biasa yang terpaksa terjun ke sawah menjadi
petani demi menghidupi keluarga. Semua sangat tak mendukung prinsip
Setia untuk hidup harus maju.
Tapi pertanyaan Ôsaya ini mau jadi apaÕ terus saja menggelayut. Sempat
muncul pertimbangan, kalaulah nanti memaksakan diri kuliah, melanjut ke
perguruan tinggi seperti kedua abangnya, apa orangtua masih sanggup
membiayai. Tentu saja ia sudah tahu jawabannya, pasti tidak. Tetapi,
bersamaan itu semakin kukuh pulalah ia untuk memegang prinsip harus
melanjutkan sekolah tinggi apapun kejadiannya.
“Saya terpikir, apapun kejadiannya saya harus sekolah, melanjut.” Tekad
baja ini disemangati oleh nasehat Ayah-Ibunda, yang selalu berpesan,
walau keduanya sadar tak kuasa mewujudkan sekolah tinggi bagi ketujuh
anak, tak akan mewariskan apa-apa selain ilmu dan pengetahuan sebagai
warisan yang paling berharga. Bukan warisan harta, atau sawah, sebab itu
tak dimiliki.
Spirit itulah yang membentuk karakter Setia, juga semua saudara kandung
sehingga menjadi siswa yang rajin belajar, tekun bekerja, dan menjadikan
olahraga sepakbola sebagai salah satu hiburan terbaik dalam hidup.
“Sambil belajar saya sambil bantu orangtua. Jadi, dari kecil kita sudah
terbiasa disiplin bekerja membantu orangtua. Itu selalu yang dipesankan
orangtua, tidak ada warisan yang kami berikan kecuali kalian sekolah
semua,” urai Mangunsong.
Pada akhirnya memang terbukti mereka bertujuh rata-rata dapat
menyelesaikan pendidikan sarjana S-1 hingga master S-2, bahkan Setia
adalah kandidat doktor yang hendak menyelesaikan S-3 di IPB Bogor.
Penanaman spirit dan kedisiplinan mengena kepada Setia dan kakak adik.
Sebelum berangkat sekolah setiap pagi mereka dituntut untuk terlebih
dahulu membantu Ibunda membereskan berbagai pekerjaan di rumah dan
sawah. Demikian pula sepulang sekolah, sama saja, mereka harus segera
bergerak cepat membantu. Satu-satunya cara untuk dapat berprestasi di
sekolah adalah mencuri-curi waktu untuk belajar, dengan membaca buku di
rumah atau di setiap kesempatan yang memungkinkan untuk itu.
“Karena hampir tidak ada waktu untuk belajar, sibuk bekerja semua.
Paling-paling kalau di sekolah kita perhatikan betul penjelasan guru,
dan membaca buku. Waktu untuk belajar sempit sekali karena harus
membantu Ibu,” kata Setia.
Testing Masuk Akabri
Sebagai manusia cerdas Setia tidak kehilangan akal mencari sekolah
lanjutan yang bisa dimasuki. Ia aktif mencari tahu apa saja nama
perguruan tinggi atau akademi yang dibiayai pemerintah. Ia ingin melamar
ke sekolah mana saja yang berbiaya gratis agar tak harus membebani
orangtua, tak membuat kuliah kedua abang terkatung-katung, atau
pendidikan adik-adik terhenti di tengah jalan.
Ia kemudian mengetahui ada sejumlah perguruan tinggi seperti akademi
perpajakan, akademi pelayaran, dan yang lebih populer namun orang bilang
susah masuknya, Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).
Setia Mangunsong yang anak mantan tentara, memiliki badan tegap, dan
tubuh atletis, menjatuhkan pilihan pada Akabri. Ia mencoba masuk dan
ikuti testingnya. Ia gencar mencari tahu apa saja persyaratan. Seperti
tinggi badan, itu bisalah dia cukupi. Kesehatan fisik yang harus bagus
juga oke sebab ia memang rajin olahraga lari pagi dan bermain bola
sepak.
Ia merencanakan masuk Akabri seorang diri tanpa diketahui siapapun,
termasuk kedua orangtua dan sanak saudara. Karena tak memiliki uang ia
mencari tumpangan, supaya dapat berangkat dengan gratis menuju Medan.
Caranya, mendekati agen-agen bis yang beroperasi di Balige, hingga
sampailah ia ke tempat penerimaan pendaftaran di Poldasu (ketika itu
masih bernama Komdak Sumatera Utara). Agen bis bersedia memberi
tumpangan gratis karena mengetahui betul, lelaki muda berwajah tampan
ini masihlah anak sekolahan dan terpelajar pula.
Begitu menginjakkan kaki di rumah salah seorang kerabat di Jalan Sei
Ular No. 134, Medan, pagi itu Abangnya yang melihat terkaget-kaget bukan
kepalang. Ketika ditanya, mau apa datang ke Medan, dengan enteng dijawab
liburan sekolah, sembari menunggu pengumuman tamat SMA.
Tak seorangpun mengetahui persis apa maksud dan agenda perjalanannya ke
Medan. Orang lain juga tak mengetahui kalau dari Balige ia sudah
melengkapi semua berkas lamaran yang diperlukan. Dari rumah menuju
Komdak lumayan jauh jaraknya, itu Setia tempuh dengan berjalan kaki
sambil membawa-bawa map.
Ia termasuk calon yang diperkenankan mengikuti testing tertulis. Semua
ujian yang menyangkut pengetahuan umum, kewarganegaraan, dan segala
macam berhasil diikuti dengan mudah. Demikian pula testing fisik.
Semua ia lakukan diam-diam tanpa diketahui orang. Ketika pagi-pagi pukul
enam berangkat testing ada anggota keluarga bertanya, mau kemana, hanya
dijawab mau jalan-jalan. Demikian pula ketika pulang di sore hari,
jawaban atas pertanyaan dari mana, sama saja, juga dijawabnya dengan
habis jalan-jalan.
Padahal di pagi hari itu ia sudah mempersiapkan barang bawaan sebagai
bekal makan siang. Ia tak punya uang untuk membeli makanan di luaran.
Bahkan ongkos bis untuk jarak yang lumayan jauh pun ia tak punya, hingga
terpaksa ditempuhnya dengan berjalan kaki. Orang baru mengetahui ia
mengikuti testing setelah menemukan nama Setia Mangunsong di koran-koran
dan radio. Media itu memuat nama-nama yang lulus dan berhak melanjutkan
testing lanjutan masuk Akabri, termasuk nama Setia tercantum diterima.
Dialog Pantaphir
Setia masih sempat kembali ke Balige mengikuti pengumuman lulus SMA,
sekaligus untuk melengkapi berkas yang masih diperlukan ke Sukabumi. Ia
kemudian meninggalkan pelabuhan Belawan pada tanggal 30 Desember 1968,
menumpang kapal Airud 513 menuju pelabuhan Tanjung Priok. Kali itu ia
merayakan malam tahun baru malam yang sarat makna bagi setiap anggota
jemaat Kristen Batak Protestan di atas kapal tanpa seorang kerabat.
Setiba di Tanjung Priok ia bersama rombongan dibawa sebentar ke Markas
Besar Kepolisian RI, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
kemudian melanjutkan perjalanan ke Sukabumi.
Begitu sampai tujuan mereka digunduli, mengikuti testing lanjutan sambil
melakukan latihan-latihan layaknya taruna akademi militer. Di saat
Penilaian Tahap Akhir (Pantaphir), dengan didasari kejujuran dan
keluguan seorang anak desa, serta ketidaktahuan bagaimana bentuk
ÔpermainanÕ memasuki Akabri, pada malam harinya ia didatangi oleh
seseorang. Terjadilah dialog yang tak akan Setia lupakan sepanjang
hidup.
Orang itu mencoba mengenali Setia dengan mengajukan pertanyaan pembuka,
“Kamu adiknya si ini, ya?”
Dijawabnya, “iya”.
“Kamu, ada diberangkatkan nggak dari sana?”
Setia menjawab dengan balik bertanya, “Maksudnya apa?”
ÒYa, pokoknya diberangkatin nggak?”
“Ya, tentu saja diberangkatin,” ujarnya.
Rupanya maksudnya dengan diberangkatin adalah dengan “sesuatu”, sehingga
kontan ia membalas dengan jujur dan polos bahwa kalau mengenai hal itu
tidak ada. “Saya dengar, kalau masuk ke sini, kan nggak perlu itu?”
Demikianlah adanya, sesuai tekad terdahulu ia memang berniat mencari
pendidikan yang dibiayai pemerintah, agar tak harus mengeluarkan uang
melanjutkan sekolah. Di sebuah pagi hari di bulan Januari tahun 1969
para siswa dikumpulkan di tengah lapangan. Mereka dibagi ke dalam
beberapa rombongan bis tanpa mengetahui kemana tujuan perjalanan
masing-masing. Rombongan Setia menuju Jakarta. Dan mereka yang berada di
dalam rupanya adalah siswa yang diyatakan tidak lulus masuk Akabri.
Siswa yang lain tetap bermukim di Sukabumi melanjutkan pendidikan.
Temukan Akademi Perikanan
Berada di Jakarta Setia bimbang. Ia tak tahu harus menuju ke mana. Tak
mengenal satupun sanak saudara. Tak sempat mengerti liku-liku jalan di
Jakarta, sebab hanya numpang lewat saja sebelum menuju Sukabumi. Tak
menyangka akan begini, ia tak sempat mempersiapkan diri jika berada
dalam kondisi emergensi.
Namun kebimbangan terbesar bagaimana kelak pendidikan selanjutnya. Ia
mengetahui ada anggota keluarga di Jakarta namun tak mengantongi alamat
lengkap. Ia lalu bermukim sebentar di bilangan Ciputat, di selatan
Jakarta mengikuti seorang teman bermarga Siregar.
Dari situ ia naik angkutan umum menuju rumah abang si kawan tadi. Ia
lalu diberitahu ada seseorang bermarga Mangunsong yang tinggal di Jalan
Sultan Agung No. 11, Jakarta Selatan. Setia membalas, itu adalah
keluarga yang sedang dicari-cari. Ia kemudian diantar ke sana sambil
membawa koper pakaian.
Ia kemudian memperkenalkan diri, sebab saudara tadi rupanya tak lagi
mengenali. Di Sultan Agung Setia tinggal untuk sementara waktu sambil
mencari tahu kelanjutan sekolah. Ia tetap teguh memegang prinsip untuk
tidak pernah mau menganggur di tanah rantau. Ia harus sekolah. Ia
berkirim surat ke Medan, memberi kabar tidak diterima masuk Akabri
Kepolisian.
Keluarga membalas dengan memberi saran agar lekas pulang, Akademi
Perpajakan di Medan sedang menerima mahasiswa baru. Tetapi surat balasan
tak sampai-sampai ke Jakarta. Walau tertulis jelas alamat tujuan surat
Jalan Sultan Agung No. 11, namun karena tertulis kota Medan, bukan
Jakarta, surat tak kunjung tiba.
Sehari-hari Setia aktif membaca iklan di koran, mencari dimana sekolah
tinggi ikatan dinas yang dibiayai oleh pemerintah yang masih buka.
Seorang teman menasehati agar menyerah saja, menunggu testing masuk
Akabri tahun depan. Sebab perguruan tinggi umum saja sudah tutup semua.
Namun pada kesempatan lain ada teman yang memberitahu, sebuah akademi
sedang buka penerimaan mahasiswa baru, namanya Akademi Usaha Perikanan
(AUP). “Coba, kamu cek,” saran teman itu.
Setia bergerak cepat dan menyaksikan model pendidikan AUP tak berbeda
jauh dengan Akabri. Sama-sama berkepala plontos, berikatan dinas,
tinggal di asrama, dan biaya pendidikan ditanggung pemerintah. Sejumlah
persyaratan yang diminta sama pula. Yang membedakan hanya seragam.
Tapi untuk masuk ke sini ia bimbang. Ia tak lagi memiliki dokumen yang
diperlukan untuk melamar. Semua sudah dicurahkan ke Akabri, sebab sama
sekali tak menyangka akan kalah, dan tak menyangka pula harus
diberangkatkan dengan “sesuatu”.
Ia mendengar saran untuk mendatangi Mabes Polri saja, barangkali berkas
lama masih tersimpan. Begitu tiba di sana ia kaget bertemu kembali
dengan petugas yang notabene merupakan instruktur selama di Sukabumi.
Petugas yang termasuk tim penguji itu memberitahu, Setia tidak lulus
Akabri hanya di psikotes saja. Karena itu disarankannya agar Setia
mengulang lagi masuk tahun depan, melalui Jakarta, pasti akan diterima.
“Ya, tapi untuk menunggu satu tahun, tolonglah, kalau bisa berikan
berkas-berkas saya yang dulu, saya mau melamar di sana (AUP),” Setia
memohon dengan sangat. Ia diperbolehkan membawa pulang semua berkas
lamaran.
Ia sangat serius mempersiapkan diri, sampai-sampai meminjam buku seorang
teman lama sesama SMA yang telah lebih dahulu berada di Jakarta. Testing
masuk akademi ini sama persis dengan Akabri. Perbedaan hanya pada mata
pelajaran yang diujikan.
Dari ribuan lebih pelamar nama Setia termasuk salah seorang yang
diterima mengisi 50 bangku yang disediakan. Mereka masuk sebagai
Angkatan Kelima. “Saya diterima lulus di sana, dan langsung masuk
asrama.”
Memenuhi Panggilan Dinas
Diterima di Akademi Perikanan tak membuat Setia kehilangan impian
memasuki Akabri. Hingga satu semester pertama kuliah, tawaran melamar
lagi tahun depan, dan pasti akan diterima, terngiang-ngiang terus di
kepala. Ia bimbang, padahal Akademi ini menerapkan sistem gugur. Bila
tidak lulus ujian semester, termasuk kesempatan mengulang her satu kali
siswa terkena sanksi harus keluar atau drop out.
Ujian semester pertama bersamaan waktunya dengan pengumuman penerimaan
Akabri membuatnya semakin bimbang. Janji tahun depan pasti akan diterima
terus bertiup kencang. Keraguan berpengaruh buruk pada hasil ujian. Ia
dinyatakan tidak lulus. Untung ia segera berubah sikap, membulatkan
tekad untuk hanya menggeluti dunia perikanan, serta melupakan janji
tahun depan pasti diterima masuk Akabri. Ia berkonsentrasi penuh dan
serius mengikuti her hingga akhirnya dapat lulus ujian semester.
Setia kemudian berhasil menikmati dunia baru Akademi Perikanan. Dalam
proses ia diperkenankan memasuki Jurusan Teknik Pengolahan Ikan. Dengan
nikmat ia menjalani masa-masa kuliah. Secara bergantian ia mengikuti
kuliah di depan kelas, di lain waktu menjalankan praktek lapangan
seperti mengunjungi pabrik pengolahan ikan, melaut mengikuti kapal
penangkap ikan, atau memasuki laboratorium pengujian kualitas mutu
perikanan.
Enam bulan menjelang tamat ia dikirim menjalankan praktek akhir di
pabrik pengolahan ikan. Ia mulai dididik bekerja secara mandiri.
Kebetulan sekali masa itu adalah mula berdirinya pabrik-pabrik
pengolahan ikan di Indonesia. Ia memilih berpraktek di Jakarta sambil
memperoleh honor sebagai gaji.
“Saat itu kita sudah dilepas, karena memang saat masuk hingga semester
ke-5 kita sudah kuliah-praktek kuliah-praktek terus. Jadi, kalau masuk
ke pabrik sudah tidak asing lagi,” ujarnya.
Ia menjalani praktek dengan hasil yang cukup lumayan. Honor sangat
berarti bagi mahasiswa ikatan dinas yang tinggal di asrama semacam
dirinya. “Belum begitu tamat, tapi tinggal menunggu wisuda, waktu itu
enak sekali,” kenangnya.
Begitu tamat kuliah di tahun 1972 ia diperkenankan untuk memilih, walau
hanya untuk sementara waktu, mau menjadi profesional perikanan sebagai
pegawai negeri atau pegawai swasta. Tergiur gaji pegawai swasta lebih
enak ia memilih di sini, kendati sejumlah Dinas Perikanan daerah meminta
tenaganya.
Ia mempunyai perhitungan sederhana. Gaji pegawai negeri hanya Rp 4.700
perbulan, sementara saat menjalankan praktek sudah diberi honor sebesar
Rp 10.000 perbulan belum termasuk tempat penginapan.
“Wah, ini gaji Rp 4.700, nanti cari tempat kos lagi, saya pilih swasta,”
ucapnya. Ia sempat enam bulan mempertebal pundi-pundi sebelum instansi
yang menyekolahkan memanggil pulang untuk mengabdi. Ia bersedia
meninggalkan perusahaan swasta sebab terikat kontrak ikatan dinas untuk
bersedia ditempatkan dimana saja. Hanya enam bulan saja ia bebas
berkeliling ke perusahaan-perusahaan swasta, memupuk pengalaman langsung
bekerja di pabrik pengolahan ikan.
Pemanggilan bertepatan waktunya dengan pembangunan sebuah proyek
perikanan terbesar pertama di Indonesia, berlokasi di Riau. Di sana
direncanakan akan dibangun empat pelabuhan perikanaan berukuran besar
dilengkapi empat unit pabrik pengolahan ikan, cold storage, pabrik es,
dan 100 kapal penangkap ikan dari berbagai jenis.
“Saya dipanggil, diberitahu, kamu masuk di proyek ini. Ya sudah, memang
konsekuensinya begitu. Saya pamit ke pimpinan perusahaan karena mereka
juga tahu saya ikatan dinas, jadi harus saya lapor,” kata Setia.
Pimpinan perusahaan menjawab, “Oke, tapi nanti kalau ada apa-apa kembali
ke sini.”
Setia memulai kehidupan yang lebih baru sebagai profesional dan praktisi
perikanan di empat proyek yang kelak menjadi cikal bakal pendirian
perusahaan BUMN perikanan bernama PT (Persero) Karya Mina. Terbukti,
setelah selesai dikerjakan keempat proyek berubah status menjadi empat
cabang dari PT Karya Mina.
Setia pernah berkesempatan memimpin sebagai Kepala Cabang di dua cabang,
Indragiri Hulu dan Singkep. Ia mengoperasikan 25 buah sarana dan
prasarana penangkapan ikan antara lain kapal trawl, 20 buah kapal
gillnet, 1 unit pengolahan, cold storage, pabrik es, serta pelabuhan
perikanan. Ketika Pemerintah melahirkan kebijakan baru penghapusan kapal
trawl, yang membuat perusahaan tak lagi dapat mengoperasikan kapal-kapal
ikannya, pada tahun 1980 Setia ditarik ke Jakarta dipercaya memimpin
sebagai Kepala Perwakilan PT (Persero) Karya Mina, di Jakarta, hingga
1982.
Pegawai BUMN perikanan ini akhirnya bersedia menerima tawaran menjadi
pegawai negeri sipil (PNS), ditempatkan sebagai Staf Ditjen Perikanan
(1982-1985). Tugas utama sebagai PNS justru untuk melaksanakan kebijakan
penghapusan kapal trawl, yang sebelumnya telah mematikan kegiatan
perusahaan tempatnya bekerja.
Kendati hanya menempati posisi sebagai staf Setia kerapkali diutus
mewakili Ditjen Perikanan untuk mengadakan rapat-rapat teknis yang
penting di Bina Graha, bersama dengan para petinggi pemerintahan
lainnya. Setia dari awal sudah membentuk sosok dan jatidiri sebagai PNS
yang kreatif dan inovatif serta lebih mengejar prestasi daripada status.
****
“Ora et Labora and Ora et Study”
Setia Mangunsong sejak masa muda memiliki prinsip untuk harus maju dalam
hidup. Sebuah foto kenangan yang sudah tersimpan selama 36 tahun, dibuat
saat usia dia baru 21 tahun berhasil mengungkapkan fakta bagaimana
profil Setia Mangunsong hidup di masa mudanya. Fakta ini terungkap
secara tak sengaja, setelah menemukan kata-kata manis tulisan tangan di
balik selembar foto kenangan hitam-putih yang ia buat pada tanggal 23
April 1970.
Foto menunjukkan ia sedang berpose di depan Wisma Thunnus, saat menempuh
pendidikan ikatan dinas di Akademi Usaha Perikanan (AUP) Jakarta.
Di balik foto yang lama terpendam itu tertulis catatan khusus hasil
goresan tangan Setia Mangunsong. Bunyinya, masih dalam ejaan lama,
adalah, “Masa muda adalah untuk beladjar. Ingatlah orangtuamu di tempat
jang sudah djauh darimu.”
Putra bangsa dari desa Lumban Bul-Bul, Balige, ini menuliskan di balik
foto sebuah filsafat hidup pribadi. Ia menambahkan kata “Ora et Study”
(Bekerja Sambil Belajar) di belakang filosofi klasik “Ora et Labora”
(Bekerja Sambil Berdoa), sehingga menjadi tertulis, “Ora et Labora and
Ora et Study”.
Inilah rupanya filosofi hidup Setia di kala muda,”Bekerja Sambil Berdoa,
dan Bekerja Sambil Belajar”. Setia memiliki filosofi hidup untuk harus
bekerja sambil berdoa dan belajar.
Di atas semua filofofi itu Setia sudah pula mempunyai roh yang
menyala-nyala, yang membuatnya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Ia
turut menuliskan garis keimanannya dalam foto, yakni, sebuah kalimat
yang menjadi kata kunci dalam menjalani hidup. Ia menuliskannya dalam
bahasa Batak, “Tamiang do dalanna!” yang, jika diletakkan secara
kontekstual memiliki arti doa adalah jalan untuk dapat bekerja dan
belajar. ►mti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|