A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 27012006  
   
  ► e-ti/ht  
  Nama:
Drs. Setia Simangunsong, MM
Lahir:
Balige, 11 Oktober 1949
Agama:
Kristen Protestan
Istri:
Br. Tambunan
Anak:
1. Kapten TNI Reinhart Sahala Junjungan Mangunsong/Br. Tambunan
2. Poltak Rio Franky Mangunsong/Br. Tambunan
3. Eva Novita Br. Mangunsong
Saudara Kandung:
Delapan orang

Jabatan:
Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Departemen Kelautan dan Perikanan RI

Pangkat/Golongan:
Pembina Utama Muda/(IV/C)

Pendidikan Formal:
1. SR No. 3 Balige, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 1956-1962, Lulus
2. SMP Negeri II Balige, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 1962-1965, Lulus
3. SMA Negeri I Pas/Pal Balige, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 1965-1968, Lulus
4. D-3, Akademi Usaha Perikanan, Jakarta, 1969-1972, Lulus
5. S-1, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, 1982-1985
6. S-2, STIE Jakarta, Program Pascasarjana Magister Manajemen, Jurusan Pemasaran, 1996-1997
7. S-3, IPB Bogor, Program Studi Perencanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan, sejak Oktober 2003

Pengalaman Kerja:
- Agustus 2005-Sekarang: Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan
- Maret 2001-Agustsu 2005: Direktur Mutu dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan RI
- 1997-Maret 2001: Kepala Sub Direktorat Pengolahan Hasil pada Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan (Mencakup Sertifikasi dan Standarisasi Bidang Perikanan)
- 1996-1997: Kepala Seksi Data Perizinan Usaha Perikanan pada Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan
- 1992-1996: Kepala Seksi Bimbingan Mutu pada Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan
- 1989-1992: Kepala Seksi Sertifikasi dan Pengawasan Mutu pada Subdit Pengolahan dan Pemasaran Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan
- 1986-1989: Kepala Seksi Tehnik Pengolahan pada Pengolahan dan Pemasaran Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan
- 1985-1986: Kepala Seksi Bimbingan Permodalan pada Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Perikanan
- 1982-1985: Staf Ditjen Perikanan
- 1980-1982: Kepala Perwakilan BUMN Perikanan di Jakarta
- 1975-1980: Kepala Cabang pada BUMN Perikanan di Singkep, Riau, mengoperasikan 25 buah kapal sarana dan prasarana penangkapan ikan antara lain Kapal Trawl, 20 buah kapal Gillnet, 1 Unit Pengolahan, Cold Storage dan Pabrik Es, pelabuhan perikanan
- 1973-1975: Quality Control pada BUMN Perikanan

Pelatihan/Training di Luar Negeri
1. Nama pelatihan Quality Assurance, penyelenggara FA)-MPDA, tempat pelatihan India, berlangsung pada tahun 1991 (selama 3 minggu)
2. Application of HACCP in Fishery Industry, FAO-INFO Fish, Thailand, 1992 (3 minggu)
3. Quality Management (Manajemen Mutu), DANIDA/FAO, Denmark, 1992 (3 minggu)
4. Sensory Test (Pengujian Mutu Secara Organoleptik) CIDA, Kanada, 1993 (2 minggu)
5. Seafood Inspection based on Quality Management Program (HACCP), CIDA, Kanada, 1993 (3 minggu)
6. Seafood Inspection based on HACCP (Pemeriksaan Mutu Berdasarkan HACCP), National Marine Fisheries Services (NMFS), AS, 1994 (4 minggu)
7. Aplication of HACCP in Fishery Industry , National Marine Fisheries Services (NMFS), AS, 1994 (2 minggu)
8. Quality Audit System based on HACCP (Sistem Audit Mutu berdasarkan HACCP), FAO/INFOFISH, Penang, Malaysia, 1999 (1 minggu)

Pelatihan/Training di dalam negeri
1. Nama pelatihan Penataran P-4, penyelenggara Departemen Pertanian RI, tempat di Jakarta, berlangsung tahun 1980
2. Kursus Kader Koperasi, PKPN-JR, Jakarta, 1982
3. Total Quality Manajemen Kursus Manajemen, Departemen Pertanian RI, Jakarta, 1988
4. Pembinaan Mutu, Departemen Pertanian RI, Jakarta, 1989
5. SPAMA, LAN-RI, Jakarta 1994
6. SPAMEN/DiklatPim Tk. II, LAN-RI, Jakarta, 2002

Lain-Lain:
1. Sekretaris Tim Penilai Perusahaan dalam rangka ekspor ke Uni Eropa dan AS, sejak tahun 1987
2. Ketua Tim Penilai Perusahaan dalam rangka ekspor ke Uni Eropa dan AS, sejak tahun 1997 sampai dengan sekarang
3. Instruktur pada berbagai pelatihan PMMT/HACCP pada Unit Pengolahan Hasil Perikanan, Pembudidayaan Ikal, Kapal Ikan di berbagai perusahaan, termasuk di IPB Bogor dan Unbraw Malang
4. Pengurus Koperasi Pegawai Direktorat Jenderal Perikanan sejak tahun 1982-1999, dan terkahir sebagai Ketua II
5. Sekretaris Tim Penilai cek fisik kapal dan alat tangkap ikan
6. Sebagai pembicara pada berbagai seminar yang diselenggarakan oleh badan internasional, perguruan tinggi negeri seperti Universitas Brawijaya Malang, Institut Pertanian Bogor, Sekolah Tinggi Perikanan (STP)
7. Tenaga Pengajar pada Sekolah Tinggi Perikanan (STP) sejak tahun 1987 sampai dengan sekarang
8. Anggota Delegasi RI pada Sidang SPS/WTO di Genewa, tahun 2001
9. Anggota Delegasi RI pada Conference “Fosh for the People”, Bangkok, tahun 2001
10. Anggota Delegasi RI pada Sidang SOM-AMAF, Medan, tahun 2001
11. Anggota Delegasi RI ke Komisi Uni Eropa untuk penanggulangan ekspor hasil perikanan, tahun 2002
12. Anggota Delegasi RI ke Kanada untuk penandatanganan MRA di bidang Pengawasan Mutu Hasil Perikanan yang Diperdagangkan, Maret 2002
13. Anggota Delegasi RI ke Komisi Uni Eropa untuk penanggulangan ekspor hasil perikanan, Mei 2004
14. Anggota Delegasi RI pada Sidang Eco Labelling di FAO, Roma, Italia, 20-22 Oktober 2004
15. Anggota Delegasi RI pada Sidang Pemanfaatan Trash Fish, di Hanoi, Vietnam, 7-9 Juni 2005
16. Ketua Delegasi RI pada pertemuan bilateral dalam rangka MRA dibidang Pengawasan Mutu dengan Korea Selatan, Seoul, 27-30 Juni 2005

Hobi:
Olahraga

Alamat Kantor:
Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Jalan Medan Merdeka Timur No. 16, Lt. 17
Jakarta 10110
Telp. (021) 351.9070, Ext. 8700, Faks. (021) 350.0149
E-mail: mutu@indosat.net.id

Alamat Rumah:
Jalan Kepala Hijau IX Blok Q2 No. 14, Billy Moon, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Telp. (021) 864.2905, Email: setiamm@yahoo.com
 
     
 
BERITA

 

BIOGRAFI:   01  02  03  04   05  06  07  08  09  =

 

DepthNews:

Kembalikan Kejayaan Bahari


Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) di bawah kepemimpinan Laksamana Madya (Purn) Freddy Numberi bertekad mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai Negara Bahari.

Negeri bahari Indonesia mempunyai sejumlah catatan sejarah penting yang menandai tekad mewujudkan paham negara kesejahteraan (welfare state). Pertama, Deklarasi Djoeanda (13 Desember 1957) menginspirasi konsep Wawasan Nusantara, UU No. 4/60 tentang Perairan, dan UNCLOS di tahun 1982. Kedua, Deklarasi Benua Maritim Indonesia (18 Desember 1996) di Makassar, Sulawesi Selatan yang melahirkan Konsepsi Benua Maritim Indonesia dan pembentukan Dewan Kelautan Nasioanal (DKN). Ketiga, Deklarasi Bunaken (26 September 1998) di Bunaken, Sulawesi Utara yang menghasilkan piagam penting The Ocean Charter.

Keempat, terbentuk Departemen Eksplorasi Laut (Kabinet Persatuan Nasional 1999-2001), yang dipertajam menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (Kabinet Gotong Royong 2001-2004). Lompatan besar kelima “Seruan Sunda Kelapa” (27 Desember 2001) yang menetapkan Gerbang Mina Bahari (GMB) sebagai trigger gerakan pembangunan dunia kebaharian Indonesia.

Kabinet Indonesia Bersatu semakin lugas mengaplikasikan visi kebaharian ini. Menteri Kelautan dan Perikanan, Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi saat menerima jabatan baru dari Rokhmin Dahuri, di Gedung DKP Kamis 21 Oktober 2004 yang turut disaksikan oleh wartawan majalah dan situs internet TokohIndonesia.Com, berjanji akan berusaha mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara bahari dalam lima tahun masa jabatannya.

“Ini, telah menjadi komitmen dan tekad saya. Mudah-mudahan dengan bantuan semua pihak, komitmen itu dapat tercapai,” ujar putra terbaik bangsa asal Papua, yang sebelum dipanggil pulang dari pos pengabdiannya dari KBRI Roma, selaku Dubes RI untuk Italia, pernah menjabat Gubernur Papua dan Men-PAN.

Di bawah kepemimpinan Freddy sektor kelautan dan perikanan mengalami reposisi baru, ditempatkan sebagai arus utama pembangunan nasional. Reposisi diarahkan kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan reposisi Freddy berharap ada dukungan dari seluruh komponen bangsa. Setiap dedikasi dan kerja keras para insan kelautan dan perikanan, diharapkannya dapat menumbuhkan perhatian dan kepercayaan baru di masyarakat.

Dari sisi pemerintah dan dukungan politik parlemen DKP sudah terlebih dahulu memperoleh perhatian. Anggaran pembangunan Departemen ini tahun demi tahun terus meningkat, tahun 2006 mencapai Rp 2,640 triliun naik dari sebelumnya Rp 2,028 triliun (2005), Rp 1,596 triliun (2004), dan Rp 1,469 triliun (2003).

Proyeksi 2009
Sebagai bangsa bahari terbesar di dunia Indonesia sudah seharusnya mendayagunakan sumberdaya kelautan secara bijaksana, demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan, sekaligus sebagai perekat bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Posisi sebagai bangsa bahari harus dianggap sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga setiap insan dapat memahami, memanfaatkan, dan memelihara kelestariannya.

Selain ingin mengembalikan kejayaan bahari dalam pidato pertama sebagai Menteri, Freddy Numberi menegaskan akan fokus pada pembangunan perikanan budidaya, serta mengendalikan perikanan tangkap.

Ia beralasan, potensi perikanan tangkap terbatas dan sudah tergarap 65 persen. Sebaliknya, potensi komoditas perikanan budidaya sangat besar dan dapat dikembangkan hingga puluhan jenis, tetapi belum tergarap optimal.

Freddy mencontohkan sejumlah negara berhasil membuktikan keandalan usaha budidaya, seperti masyarakat pesisir di selatan Italia, atau selatan Perancis yang semula miskin, setelah tekun dan profesional mengelola usaha budidaya kesejahteraan mereka cenderung naik.

Pembangunan perikanan budidaya tahun 2006 diposisikan sebagai tahapan penguatan, perluasan, dan pendalaman sekaligus penyempurnaan dari program pembangunan perikanan budidaya periode sebelumnya.

Pembangunan perikanan budidaya mempunyai visi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berkeadilan. Visi ini memiliki sejumlah ciri spesifik, yakni pro-job sebagai upaya penyediaan lapangan kerja, pro-growth sebagai upaya pertumbuhan ekonomi masyarakat pembudidaya ikan dan ekonomi nasional, dan pro-poor bersahabat dengan masyarakat pembudidaya ikan skala kecil.

Proyeksi volume ekspor perikanan budidaya naik rata-rata 16,23% pertahun, dari 402.831 ton (2005) menjadi 741.976 ton (2009). Dalam nilai naik rata-rata 16,50% pertahun, dari 1,609 miliar dolar AS (2005) menjadi 2,937 miliar dolar AS (2009). Proyeksi menyerap tenaga kerja naik rata-rata 17,73% pertahun, dari 3.375.900 orang (2005) menjadi 6.484.350 orang (2009).

Proyeksi cenderung naik, didasarkan atas pencapaian sebelumnya 2000-2004 gabungan ekspor perikanan budidaya dan perikanan tangkap, yang naik dalam persentase yang hampir sama. Dalam volume rata-rata naik 17,23% pertahun, dari 519.416 ton (2000) menjadi 921.000 ton (2004), tetapi dalam nilai hanya naik rata-rata 7,16% pertahun, dari 1,675 miliar dolar AS (2000) menjadi 2,142 miliar dolar AS (2004).

Nilai ekspor rata-rata tersebut lebih rendah dibanding volume disebabkan oleh harga ekspor ikan/kg mengalami penurunan rata-rata minus 5,64 dolar AS/kg/tahun, dari sebelumnya 3,22 dolar AS/kg (2000) menjadi 2,33 dolar AS/kg (2004).

Kondisi harga ikan ekspor yang turun tersebut berbanding terbalik dengan tingkat konsumsi perkapita pertahun dalam negeri, yang justru naik rata-rata 3,48% pertahun, dari 21,69 kg/kap/tahun (2000) menjadi 23,18 kg/kap/tahun (2004). Demikian pula total konsumsi ikan secara nasional selalu naik, dari 4.352,93 ribu ton (2000) menjadi 4.984,82 ribu ton (2004).

Permasalahan
Bila diidentifikasi terdapat sejumlah permasalahan yang bisa menghadang laju pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Seperti, kurangnya keterpaduan program dan wilayah, monitoring pelaksanaan program belum mantap, kesinambungan pelaksanaan program belum jelas, kurang keserasian antara program pusat dengan daerah, dan belum ada sinergi pembiayaan antar sumber pembiayaan APBN, APBD I/II, dan sumber-sumber pembiayaan lainnya.

Permasalahan dapat saja sedikit teratasi manakala penempatan personalia di semua eselon berlangsung secara profesional, yang didasarkan atas pilihan orang yang tepat di tempat yang tepat, atau menggunakan paham the right man on the right place. Prinsip ini perlu dikedepankan mengingat DKP sudah mengimplementasikan Peraturan Presiden No. 10 tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Berdasarkan implementasi ini DKP kini digerakkan oleh 8 unit kerja setingkat Eselon I, dibantu sejumlah Staf Ahli.

Satu permasalahan lain yang juga perlu mendapat perhatian segera dari Sang Menteri untuk dilaksanakan, adalah derivatif dari UU No. 31/2004 Tentang Perikanan yang membutuhkan 15 Peraturan Pemerintah, 2 Keputusan Presiden, dan 11 Peraturan Menteri. Tujuh diantaranya merupakan isu penting sehingga sangat mendesak untuk diterbitkan.

Perencanaan pembangunan kelautan dan perikanan yang terpadu dan berkesinambungan semakin diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di sejumlah bidang. Tanpa bermaksud inferior diri, sejumlah fakta empiris bisa dibeberkan sebagai bahan perbandingan dengan negara lain.

Perikanan Indonesia memiliki panjang pantai 81.000 km, memberikan kontribusi terhadap GDP 20% senilai 28 miliar dolar AS (tahun 1999).

Perikanan Korea Selatan memiliki panjang pantai 2.713 km, kontribusi terhadap GDP 37% senilai 147 miliar dolar (tahun 1992). Jepang memiliki panjang pantai 34.386, kontribusi terhadap GDP 54% senilai 21.400 miliar dolar AS.

RRC memiliki panjang pantai 32.000 km, kontribusi terhadap GDP 48,4% senilai 17.350 miliar dolar AS (tahun 1999). Negeri Panda ini memiliki luas perairan 503 ribu km persegi, memproduksi perikanan senilai 34 miliar dolar AS atau 41 juta ton/tahun, terdiri 15 juta ton penangkapan ikan, 11 juta ton budidaya laut, dan 15 juta ton budidaya ikan tawar.

Islandia memiliki panjang pantai 2.600 km, luas tambak udang 80.000 ha, produksi perikanan 300.000 ton (tahun 2000, Indonesia di tahun 1998 hanya 120.000 ton), nilai ekspor perikanan 4,2 miliar dolar AS (Indonesia hanya 1,76 miliar dolar AS). Negara dengan GNP/kapita 26.000 dolar AS/tahun ini memiliki produk barang dan jasa ekspor yang 70%-nya adalah perikanan, dan kontribusinya terhadap GDP 65%. Sebagai catatan tambahan, Amerika Serikat memiliki GNP/kapita 24.000 dolar AS/kapita/tahun, dan Indonesia hanya 400 dolar AS/kapita/tahun, Norwegia dengan GNP/kapita 30.000 dolar AS/tahun kontribusi sektor perikanan terhadap GDP 25%. Khusus ikan salmon Norwegia mencatat nilai ekspor 2 miliar dolar AS/tahun.

Philipina memiliki pulau 7.200 buah tahun 1998 mencatat nilai ekspor rumput laut 700 juta dolar AS (Indonesia 45 juta dolar AS), 60% raw materials-nya diimpor dari Indonesia.

Posisi aktual ketertinggalan sektor kelautan dan perikanan Indonesia semakin nyata manakala melihat fakta perbandingan infrastruktur pelabuhan perikanan di tiga negara: Jepang, Thailand, Indonesia.

Garis pantai Jepang 34.000 km dilayani 3.000 buah pekabuhan, rasio 1 pelabuhan: 11 km panjang pantai. Garis pantai Thailand 2.600 km dilayani 52 buah pelabuhan, rasio 1 pelabuhan:50 km panjang pantai. Garis pantai Indonesia 81.000 km dilayani 68 buah pelabuhan (55 PPS dan 13 PPN), rasio 1 pelabuhan: 4.500 km panjang pantai.

Dari fakta-fakta di muka nyatalah bahwa perencanaan pembangunan perikanan Indonesia dalam lima tahun ke depan sangat membutuhkan penataan yang serius baik dari sisi pranata, institusi, personalia, dan regulasi-regulasi yang dibutuhkan untuk itu.r (tokoh indonesia/haposan tampubolon)

9 Arah Pembangunan Kelautan dan Perikanan 2006
1. Meningkatkan taraf hidup nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil.
2. Meningkatkan penerimaan dan devisa negara.
3. Mendorong perluasan kesempatan kerja.
4. Meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein ikan.
5. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan.
6. Meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah, dan daya saing.
7. Meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan ikan.
8. Mencapai pemanfaatan sumberdaya ikan, lahan pembudidayaan ikan,
dan lingkungan sumberdaya ikan secara optimal.
9. Menjamin kelestarian sumberdaya ikan, lahan pembudidaya ikan, dan tata ruang.

8 Sasaran Pembangunan Kelautan dan Perikanan 2006
1. Produksi perikanan 7,7 juta ton, terdiri perikanan tangkap 5,1 juta ton dan budidaya 2,6 juta ton.
2. Ekspor hasil perikanan 5 miliar dolar AS.
3. Konsumsi ikan sebesar 30,65 kg/kapita/tahun.
4. Penyediaan kesempatan kerja kumulatif 7,7 juta ton, pada perikanan tangkap 3,7 juta orang dan budidaya 3,9 juta orang.
5. Pemberdayaan masyarakat menjangkau 13% dari populasi masyarakat pesisir yang miskin.
6. Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil mampu mengelola sumber daya di wilayahnya secara bertanggungjawab.
7. Lingkungan pesisir dan laut bersih dan sehat yang dapat menjamin produktivitas sumberdaya perikanan serta keanekaragaman hayati laut.
8. Pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan berlangsung tertib.

5 Kontribusi Sektor Kelautan dan Perikanan di Tahun 2009
1. Kontribusi terhadap PDB 10%.
2. Produksi perikanan 9,7 juta ton.
3. Nilai ekspor hasil perikanan 7,9 miliar dolar AS.
4. Kumulatif menyerapam tenaga kerja 10,2 juta.
5. Konsumsi ikan 32,29 kg/kap/tahun.  ►mti/haposan tampubolon

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)