| |
C © updated 01092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Biodata:
Nama:
Drs HN Serta Ginting
Lahir:
Desa Munte, Tanah Karo, Sumut, 28 Maret 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
- Anggota DPR (Komisi IX)
- Anggota Panitia Anggaran DPR
|
|
| |
|
|
|
|
| MAJALAH TI-38 |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 WAWANCARA:
05
=
PERSPEKTIF:
06
07
=
Drs H Serta Ginting (06)
Demi Pancasila dan Keutuhan NKRI
Perspektif: Memilih SOKSI dan Golkar Demi Pancasila dan Keutuhan
NKRI. Serta Ginting memulai debut politiknya dengan menjadi kader
Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) dan Sekber –
Golkar di Rantauprapat tahun 1964. Ia memilih SOKSI dan Golkar karena
kedua organisasi ini berlandaskan Pancasila sebagai ideologi Negara.
Sejarah kemudian membuktikan bahwa pilihan Ginting ini sangat tepat.
Ideologi, Visi, dan Misi SOKSI dan Golkar sangat sesuai dengan hati
nurani dan semangat kebangsaannya yang begitu kental. Di samping itu,
peran SOKSI dan Golkar dalam mempersatukan Nusantara, ribuan suku, 13
ribu pulau, beragam agama dan kepercayaan bisa hidup berdampingan,
akhirnya memang teruji.
Sebagai kader SOKSI yang telah matang baik di tingkat kabupaten,
provinsi dan kini tingkat nasional, masyarakat khususnya para
konstituennya tentu menunggu lebih lanjut kiprah dan terobosan Ginting
selanjutnya. Mereka tentu sangat berharap agar Serta Ginting berbuat
lebih banyak lagi demi kemajuan bangsa dan negara, khususnya Provinsi
Sumatera Utara yang merupakan daerah kelahiran sekaligus ladang
pengabdiannya selama puluhan tahun.
“Yang enaklah kita yang ber-Golkar ini,” ujar Serta Ginting mencoba
melukiskan betapa jiwa dan batinnya sudah begitu menyatu dengan partai
terbesar di Indonesia itu.
Visi Golkar memang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan partai ini
memiliki wawasan jauh ke depan. Yakni terwujudnya masyarakat Indonesia
Baru yang bersatu, berdaulat, modern, damai, adil, makmur, beriman dan
bertakwa, berkesadaran hukum dan lingkungan, dan menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam tatanan masyarakat madani.
Partai Golkar juga mengemban untuk menegakkan, mengamankan dan
mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, demi
kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan terus berupaya
mewujudkan cita-cita Proklamasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional
di segala bidang. Guna merealisasikan masyarakat yang demokratis dan
berdaulat, sejahtera, adil dan makmur menegakkan supremasi hukum dan
menghormati hak asasi manusia.
Sementara itu, platform partai pemenang Pemilu tahun 2004 tersebut
antara lain senantiasa berwawasan kekaryaan guna mewujudkan Negara
Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945;
mengembangkan wawasan kebangsaan sebagai satusatunya cara pandang
mengatasi perbedaan paham, golongan dan kelompok atas dasar suku, etnis,
agama, aliran dan budaya.
Sehingga seluruh bangsa Indonesia terhimpun dalam kekuatan besar;
mengembangkan ciri pluralisme dalam persatuan dengan menampung
kemajemukan bangsa Indonesia yang terpatri dalam semboyan Bhineka
Tunggal Ika; mempertahankan komitmen terhadap kemajuan demokrasi dengan
tetap mempertahankan nilai-nilai dasar yang tertuang dalam Pembukaan UUD
1945; dan berjuang secara konsisten mewujudkan kesejahteraan, keadilan
dan kecerdasan rakyat secara menyeluruh.
Semua ini bagi Serta Ginting, yang sejak remaja di Rantauprapat sudah
bergaul dengan berbagai suku, agama, kelompok dan lapisan masyarakat,
semakin memantapkan pilihannya untuk menjadi bagian dari Golkar sejak
tahun 60-an hingga saat ini.
Kader SOKSI
Sementara itu, pilihan kepada SOKSI juga sangat tepat. SOKSI bersama
MKGR, Kosgoro, ABRI, dan beberapa Ormas lainnya adalah pencetus
sekaligus menjadi pilar Sekber Golkar yang dibentuk dan diarahkan untuk
membendung gerak maju PKI pada awal tahun 60-an. Ketika itu, PKI tengah
menggencarkan penyusupan ke berbagai sektor dan bidang kehidupan.
Termasuk ke kawasan perkebunan di Kab, Labuhan Batu. Sekber Golkar yang
menjadi cikal bakal Golkar dan kini menjadi Partai Golkar sejak awal
telah menegaskan posisinya sebagai salah satu ormas penegak Pancasila.
Kesamaan perjuangan, mengantarkan Serta Ginting merasa cocok dengan
paham, azas, tujuan, dan tugas SOKSI yakni mencetak kader-kader bangsa
yang militan, Pancasilais dan berwatak nasional.
Dengan menjadi anggota sekaligus pentolan SOKSI/Sekber Golkar, Serta
Ginting otomatis berseberangan dengan pengikut PKI di Kab. Labuhan Batu
waktu itu. Sebagai seorang pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan dan
banyak pengikut, Ginting menjadi salah satu tokoh penumpasan simpatisan
PKI. Serta Ginting tampil sebagai pemimpin barisan pemuda dan dipercaya
sebagai Ketua Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G30S/PKI di
daerah Kabupaten Labuhan Batu.
Serta Ginting kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah
seorang pejuang muda, pemimpin tokoh kepemudaan yang berhasil menumpas
Gerakan 30/S/PKI.
Salah seorang kawan seperjuangan Serta Ginting mengatakan, “Waktu itu
kami bersama SOKSI, Golkar serta ABRI berhasil menumpas gerombolan atau
buruh-buruh komunis yang merongrong di daerah perkebunan. Secara tidak
langsung, angkatan kami mampu menegakkan Pancasila. Itu yang tidak
pernah kami lupakan selama bergaul dengan Serta Ginting,” kata sahabat
dekatnya, Bomer Pasaribu.
Serta Ginting berjuang dalam wadah SOKSI dan Sekretariat Bersama (Sekber)
GOLONGAN KARYA (Golkar) Sumatera Utara menegakkan Pancasila, UUD 1945,
dan keutuhan NKRI. Berbagai keberhasilan perjuangan memberi hikmah
kepeloporan Ginting sebagai tokoh pemuda Labuhan Batu. Ia pun dipercaya
memimpin sejumlah organisasi dan jabatan politik di sana. Seperti,
terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten
Labuhan Batu, anggota DPRD Tingkat II Kab. Labuhan Batu (16 tahun)
sambil terus berkiprah sebagai karyawan PTP III (kini PTP Nusantara
III).
Selanjutnya, dengan tetap berbasiskan SOKSI/GOLKAR, mulai tahun 1997
hingga 2004, ia menjadi anggota DPRD Tingkat I Sumatera Utara mewakili
Labuhan Batu. Serta Ginting adalah politisi yang vokal menyuarakan
kepentingan dan keberpihakan kepada kaum pekerja dan buruh.
Ia termasuk politisi yang cukup diperhitungkan di daerah Sumatera Utara.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara periode
1999-2004, Wakil Ketua DPD Golkar Sumatera Utara, dan Ketua Dewan
Pimpinan Daerah (DEPIDAR) SOKSI Sumatera Utara. Serta Ginting kemudian
berkiprah lebih jauh di tingkat nasional. Di DPR Senayan, misalnya,
selain menjabat sebagai Anggota Komisi IX yang membidangi masalah tenaga
kerja dan transmigrasi, kependudukan, kesehatan, Ginting juga duduk
sebagai anggota Panitia Anggaran, dan di beberapa panitia kerja (Panja)
atau panitia khusus (Pansus).
Di jajaran Dewan Pimpinan Nasional (DEPINAS) SOKSI masa bakti 2005 –
2010, yang diketuai oleh Syamsul Mua’rif, Serta Ginting duduk sebagai
Ketua Bidang Ketenagakerjaan. Sedangkan di jajaran kepengurusan Golkar
masa bakti 2004 – 2009, Ginting dipercaya sebagai salah satu anggota
Departemen Pendidikan Nasional dan Ristek.
Berorientasi Karya
SOKSI adalah salah satu ormas pendiri Sekber Golkar. Sentral Organisasi
Karyawan Swadiri Indonesia, dalam pandangan Serta Ginting adalah sebuah
organisasi kemasyarakatan pencetak kader bangsa, bukan hanya kader
organisasi. Berazaskan Pancasila, SOKSI dalam melaksanakan perjuangannya
berorientasi pada karya dan kekaryaan (doktrin karyawanisme).
Hal itu juga terpatri dalam azas, tujuan dan tugas SOKSI yang digariskan
oleh pendiri dan para pimpinannya dalam anggaran dasar.
SOKSI yang berdiri pada 20 Mei 1960, dalam melaksanakan perjuangannya
berorientasi pada karya dan bertujuan: Pertama, mempertahankan,
mengamankan, serta mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
Kedua, mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945; Ketiga, mengembangkan sistem kehidupan
kemasyarakatan dan kenegaraan yang demokratis, konstitusional dan
berlandaskan hukum; Keempat, meningkatkan kualitas manusia Indonesia
sebagai manusia Pancasila; Kelima, menegakkan dan menjunjung tinggi hak
asasi manusia; dan Keenam, meningkatkan pengabdian bagi masyarakat
melalui karya dan kekaryaan untuk mewujudkan keadilan sosial dan
kesejahteraan lahir dan batin.
Serta Ginting melihat terdapat tiga faktor kekuatan yang senantiasa
mendorong organisasi SOKSI bangkit untuk selalu membela Pancasila.
Pertama, SOKSI senantiasa mengembangkan daya kreativitas, bersikap
inovatif sesuai dengan raising demand; Kedua, SOKSI memiliki integrasi
faktor berupa Doktrin Karyawanisme; dan Ketiga, SOKSI memiliki “courage”
atau keberanian untuk menghadapi kenyataan dan tantangan-tantangan
perjuangan.
Kiprah Serta Ginting sebagai politisi dan kader SOKSI yang militan
semakin mendapat pijakan di tingkat nasional. Seusai melaksanakan Munas
Ke-VIII tahun 2005, yang membuat namanya terpilih sebagai Ketua Bidang
Ketenagakerjaan, Serta Ginting kemudian terpilih menjadi Ketua Panitia
Pelaksana Rapat Kerja Nasional/Rapat Pimpinan I SOKSI, berlangsung di
Jakarta Agustus 2006.
Di hadapan Pendiri sekaligus Ketua Dewan Penasehat SOKSI, Mayjen TNI (Purn)
Prof. Dr. Suhardiman, SE dan segenap jajaran Dewan Penasehat, Ketua Umum
Depinas SOKSI dan seluruh jajarannya, para Ketua Depidar SOKSI, dan
peserta berikut peninjau Rakernas/Rapim total berjumlah sebanyak 300
orang, Serta Ginting memaparkan makna tema Rakernas/Rapim yang
dipilihnya, yaitu, “Kobarkan Semangat Juang Pancasila dan NKRI Melalui
Konsolidasi SOKSI”.
“Tema ini mengandung makna bahwa SOKSI di semua tingkatan telah siap
melaksanakan kebijakan-kebijakan organisasi terutama menyangkut
konsolidasi menyeluruh dan total sampai pada tingkat basis di kecamatan,
kelurahan, dan desa,” ujar Ginting waktu itu.
Oleh sebab itu, menurut Ginting, Rakernas/Rapim SOKSI tahun 2006
memiliki makna sangat strategis bagi semua anggota dan masyarakat pada
umumnya. Yakni untuk tetap mempertahankan tegaknya Pancasila dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai jati diri bangsa Indonesia.
Pelopor Reformasi
Sejalan dengan upaya tersebut, Ginting mengatakan Rakernas/Rapim menjadi
penguat yang positif dan sinergis bagi konsolidasi bangsa dalam
melakukan transformasi dan reformasi budaya, sebagaimana yang telah
dicanangkan SOKSI sejak kelahirannya beberapa dasawarsa yang lalu.
Dengan kata lain, jauh sebelum bergulirnya reformasi, SOKSI telah
mempeloporinya dalam berbagai kebijakan dan keputusan organisasi dalam
peran sertanya di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Demikian juga pada Rakernas/Rapim SOKSI, sikap tersebut tidak berubah,
yang tercermin dalam materi yang dibahas selama Rakernas/Rapim, yaitu,
pertama, aksi konsolidasi organisasi yang menitikberatkan pada
konsolidasi di tingkat basis, guna menunjang “platform strategis” SOKSI
yang berlandaskan pada hakekat dan jatidiri bangsa yang berdasarkan
Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan NKRI.
Kedua, aksi program partisipasi masyarakat yang menitikberatkan
penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan usaha ekonomi mikro,
kecil dan menengah. Dan ketiga, rekomendasi mengenai hal-hal strategis
lain sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab SOKSI terhadap masa
depan masyarakat, bangsa dan negara.
Sebagai penerima tongkat estafet kepemimpinan SOKSI, Serta Ginting tak
lupa menunjukkan rasa hormatnya kepada Suhardiman, Pendiri dan Ketua
Dewan Penasehat SOKSI yang didaulatnya untuk memberikan pengarahan
ketika itu.
“Kami yakin dan percaya bahwa kehadiran Bapak Prof. Dr.
Suhardiman, SE di forum Rakernas/Rapim ini memberikan makna yang sangat
mendalam bagi kader-kader SOKSI di seluruh penjuru tanah air, di
desa-desa, gunung dan ngarai serta di seluruh pelosok dan pedalaman,
untuk mengemban tanggung jawabnya sebagai kader SOKSI dalam melaksanakan
tugas-tugas organisasi di tengah-tengah masyarakat dan bangsa yang kita
cintai ini,” urai Serta Ginting yang namanya sempat disebut-sebut
berpeluang menjadi Ketua Umum SOKSI, bersaing dengan Syamsul Mua’rif
yang akhirnya terpilih untuk periode 2005-2010. ►
mti/tum-mh-ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|