| |
C © updated 01092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Biodata:
Nama:
Drs HN Serta Ginting
Lahir:
Desa Munte, Tanah Karo, Sumut, 28 Maret 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
- Anggota DPR (Komisi IX)
- Anggota Panitia Anggaran DPR
Isteri:
Hj. Zainar Harahap, BSc.
Anak:
- Drs Iman Swadiri Ginting
- Irma Julita Ginting
- Indra Batara Ginting
- Sri Ayona Ginting, SE
- Akp. Ramon Zamora Ginting
Pendidikan:
- SR Tanah Karo
- SMP Negeri Tanah Karo
- SMEA Negeri Rantauprapat
- Sarjana Ekonomi (S1) Universitas Amir Hamzah Medan
Karier:
- Karyawan PTP Nusantara III Medan, 1969 - 1999
- Anggota DPRD Tkt II Kab. Labuhan Batu (1971-1987)
- Anggota DPRD Tkt I Prov. Sumatra Utara (1997-1999)
- Wakil Ketua DPRD Tkt I Prov. Sumatera Utara (1999-2004)
Anggota Partai:
Partai Golongan Karya
Daerah Pemilihan Sumatera Utara I (Medan, Tebing Tinggi, Kab. Deli
Serdang, Kab, Serdang Bedagai)
Pengalaman Perjuangan:
- Ketua Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G 30 S PKI
Pengalaman Organisasi:
- Ketua KNPI Kab. Labuhan Batu (1973-1979)
- Ketua DEPICAB SOKSI Labuhan Batu (1997-1987)
- Wakil Ketua KNPI Provinsi Sumatera Utara (1979-1982)
- Wakil Ketua DPD Golkar Labuhan Batu (1977-1987)
- Ketua KONI Kab. Labuhan Batu (1979-1984)
- Wakil Ketua DPD Partai Golkar Prov. Sumatera Utara (2002-2006)
- Ketua Pembina Pemuda Panca Marga Prov. Sumatera Utara
- Ketua DEPIDAR SOKSI Prov.Sumatera Utara (2002-2006)
- Ketua DEPINAS SOKSI (2005-sekarang)
- Ketua AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) Prov. Sumut (2002-2004)
- Anggota Departemen Pendidikan dan Ristek, DPP Partai Golkar
Penghargaaan:
- Piagam penghargaan dari Veteran RI
- Piagam Perjuangan dari Forum Exponen 66, Sumatera Utara
- Penghargaan masa kerja 25 tahun dari PTP Nusantara III
- Penghargaan masa kerja 30 tahun dari PTP Nusantara III
Penghargaaan:
- Piagam penghargaan dari Veteran RI
- Piagam Perjuangan dari Forum Exponen 66, Sumatera Utara
- Penghargaan masa kerja 25 tahun dari PTP Nusantara III
- Penghargaan masa kerja 30 tahun dari PTP Nusantara III
Hobi/Olah Raga:
- Tenis Lapangan
- OR Beladiri Tangan Kosong (TAKO)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 WAWANCARA:
05
=
PERSPEKTIF:
06
07
=
Drs H Serta Ginting (02)
Centeng Kebun hingga Jadi Wakil Rakyat
Semasih kanak-kanak, Serta Ginting sudah menunjukkan kharisma sebagai
seorang calon pemimpin. Bagi kawan-kawan sebaya di kampungnya, Desa
Munthe, Tanah Karo, ia sering menjadi tempat bertanya dan mengadu.
Anak-anak yang lebih tua dan fisiknya jauh lebih besar, entah kenapa,
mau saja disuruhnya untuk mengerjakan sesuatu. Saat di bangku sekolah SD
(SR), ia beberapa kali diangkat menjadi ketua kelas.
Cita-citanya waktu itu menjadi tentara. Alasannya, tentara itu
gagah dan pemberani (melawan Belanda). Ia merasa bangga setiap kali
menyaksikan tentara tengah berbaris. Berjalan tegap, langkah serempak,
komando menggelegar, dan hentakan sepatu mereka benar-benar
membangkit-kan semangat Ginting muda.
Tapi niat menjadi tentara itu kandas di tengah jalan. Setelah menamatkan
SMP dan merantau ke Rantauprapat, ia memang melamar menjadi tentara.
Sudah menjalani seleksi di Pematang Siantar. Rambut sudah digunduli
sampai botak. Tapi tiba-tiba pemberontakan G-30-S/PKI meletus, proses
seleksi dibubarkan.
Panggilan menjadi tentara diterima beberapa tahun kemudian. Tapi
kondisinya tak memungkinkan lagi, karena Serta Ginting sudah berumah
tangga.
Karena itulah, ia sangat mencita-citakan anak-anaknya (laki-laki) masuk
tentara. Namun dari 3 orang anak laki-lakinya, hanya si bungsu yang
benar-benar mewujudkan obsesinya itu. Si bungsu lulusan Akpol, Semarang
kini bertugas di Kota Bengkulu.
Sebagaimana umumnya anak-anak, ia juga sering berkelahi. Satu ketika,
Ginting kecil terlibat perkelahian dan minggat dari kampung. Pelarian
itu spontanitas saja, untuk meredakan ketegangan. Tapi rupanya dalam
pelarian itu, ia justru keenakan. Ini terjadi saat ia ikut-ikutan
menjadi kenek bus di Prapat dan dilanjutkan ke Rantauprapat, yang
sekitar 400 kilometer dari kampung halamannya di Tanah Karo.
Ia masih sangat remaja waktu itu, tapi dorongan untuk mandiri sudah
sangat kuat. Pergaulannya di ibukota Kabupaten Labuhan Batu ini telah
menghantarkannya ke dunia yang keras, dunia “preman” (prei-makan).
Bahkan ia menjadi “tokoh preman”. Bus SERASI dan MASLAB, dua perusahaan
bus Rantauprapat-Medan waktu itu berikut bioskop Ria dan Nasional yang
terletak di jantung Rantauprapat, tak luput dari kendali Bang Ginting.
Orang yang Disegani
Ia menjadi orang yang amat disegani di Rantauprapat, khususnya antara
tahun 60-an hingga 80-an. Keberanian dan kenekatannya memang di atas
rata-rata. Fostur tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun berotot, kokoh
bagai batu karang. Rambut dan kumis tebalnya ditambah brewok dan
cambangnya yang khas, mengukuhkan sosoknya sebagai manusia yang harus
diperhitungkan.
Penampilan sangar tersebut sangat disadari oleh Ginting. Karena itu,
kepada siapa pun ia selalu berusaha menebar kebaikan melalui perbuatan
yang konkrit. Ia berusaha menanamkan kesan bahwa penampilan fisik tidak
otomatis mencerminkan sifat dan karakter seseorang.
Karena itu, jika ia berhadapan dengan seseorang yang bertampang seram,
Ginting tidak langsung berpikiran negatif. “Jangan-jangan hatinya justru
lebih baik dari saya,” ujarnya.
Di Rantauprapat waktu itu, ia juga aktif di organisasi. Ketokohan dan
kharismanya semakin menonjol. KNPI, SOKSI, Sekber-Golkar (Golkar dan
kemudian Partai Golkar) menjadi ajang politiknya waktu itu. Ketika
pemberontakan G-30-S/PKI meletus tahun 1965, Ginting menjadi Ketua
Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G-30-S/PKI di daerah
Kabupaten Labuhan Batu.
Lepas dari pengganyangan PKI dan antek-anteknya, banyak pihak melirik
kemampuan khusus Bang Ginting. Tawaran kerja berdatangan dari pemerintah
daerah, ABRI dan perusahaan perkebunan negara. Tahun 1971, dalam usia 24
tahun, akhirnya ia direkrut (dipilih) menjadi anggota DPRD Labuhan Batu
mewakili SOKSI/Golongan Karya. Padahal, 1969, ia juga sudah terdaftar
sebagai karyawan di Kebun Janji/Rantauprapat (salah satu unit kebun PTP
Nusantara III).
Di perkebunan ini, Serta Ginting menjadi centeng alias komandan
pengamanan. Pencuri dan penadah tandan buah segar (TBS) atau getah karet
menjadi urusannya. Di bawah kepemimpinan Bang Ginting, lingkungan kebun
menjadi aman dan bebas dari pencurian.
Agak unik memang perjalanan hidup orang tua dari 5 anak ini. Antara 1971
hingga 1987, Ginting melakoni tiga profesi sekaligus. Yakni sebagai
anggota DPRD Kabupaten Labuhan Batu (tiga periode), karyawan PTP III dan
pimpinan sejumlah orsospol dan organisasi kepemudaan di Rantauprapat.
Menikah di Usia Muda
Kota Rantauprapat memang sangat bersejarah bagi Serta Ginting. Bukan
hanya karier dan pengalaman politis. Isterinya, Zainar Harahap, wanita
yang mendampinginya sampai sekarang juga dikenalnya di kota ini.
Sebagai “tokoh pasaran” waktu itu, sang pujaan hati tidak serta-merta
menerima. Tapi karena didatangi terus, akhirnya diterima. Namun mereka
terpaksa kawin lari. Soalnya, keluarga calon mertua yang anggota ABRI
itu sama sekali tidak mau menerima Ginting sebagai menantu. Keluarga
bupati Labuhan Batu, yang waktu itu akan bertindak sebagai orangtua
angkat Ginting sudah bersiap untuk melamar. Tapi ditolak mentah-mentah.
Tapi setelah menikah dan memiliki akte perkawinan, ia baru berani
menghadap mertua.
Menikah di usia muda, sekitar 22 tahun, ternyata membawa berkah
tersendiri bagi Serta Ginting. Selain dikaruniai anak lima orang (tiga
laki-laki dan dua perempuan), karier dan ekonomi keluarganya juga terus
bersinar. Selama 16 tahun, ia menjadi anggota DPRD Tk II Kabupaten
Labuhan Batu merangkap karyawan PTP III (sekarang PTP Nusantara III).
Kawin muda dan bahagia di usia tua. Begitulah gambaran keluarga Ginting.
Betapa tidak, di usianya yang 60 tahun, kelima anaknya sudah mandiri,
berkeluarga dan memberinya 11 cucu.
Dalam mendidik anak, ia juga termasuk sukses. Tiga dari kelima anaknya
berhasil menjadi sarjana. Tapi, selain si bungsu yang lulusan Akpol,
keempat anaknya itu justru memilih jadi wiraswasta.
Tugas orang tua adalah menyekolahkan anak setinggi mungkin. “Mau jadi
apa mereka selanjutnya, terserah mereka. Saya tidak pernah memaksakan
kehendak saya kepada anak-anak,” ujar Ginting. ►
mti-tum
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|