A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Link
 ► Seniman
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 24022005  
   
  ► e-ti/suzanne  
  Nama:
Semsar Siahaan
Lahir,
Medan, Sumatra Utara, 11 Juni 1952
Meninggal:
Tabanan, Bali, 23 Februari 2005
 
 
     
 
BERITA

Parulian Manullang

Sam dalam Kenangan


TOPI besar terbuat dari bambu, dengan model mengerucut ke atas itu terbenam dalam-dalam hingga menutupi kuping dan alis matanya. Hujan rintik-rintik hanya dapat membasahi dagunya. Begitu turun dari sepeda motor yang mengantarnya, seniman kondang bernama Semsar Siahaan itu mengatakan kepada saya jika topi yang biasa dipakai petani tersebut akan menjadi pilihannya di tempat barunya di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, sekitar 15 km utara Kota Tabanan, Bali.

Usai menepis air di beberapa bagian tubuhnya, perupa kelahiran Sumatra Utara, 11 Juni 1952 itu langsung memesan kopi kental kebiasaannya buat kami berdua, di sebuah warung di Jatiluwih, pada 3 Januari lalu. Di tempat itulah saya dan Semsar bertemu untuk terakhir kalinya.

Sam --begitu dia biasa disapa-- sejak 1 Januari 2005 memang telah memutuskan akan menetap di Jatiluwih. Keberadaannya di sana dalam rangka membabat tanaman liar yang tumbuh subur di tanah miliknya, seluas 6.000 meter persegi yang lama ditinggalkannya.
Semsar yang sudah melanglang buana ke berbagai belahan bumi ini mengatakan, di atas tanah itu akan dijadikan studio alam bagi para perupa dari berbagai negeri. Oleh karena itu, usai 'mengungsi' di Kanada selama enam tahun dia memutuskan membangun sendiri studio itu.

Perupa kondang dengan objek potret realitas masyarakat di sekitarnya ini di masa hidupnya --Semsar meninggal dunia kemarin, pukul 01.00 Wita, di Rumah Sakit Tabanan, Bali-- memilih hidup berpihak pada kaum tertindas. Sebagai pelukis dan pematung dia sering menggambarkan kegetiran para kaum buruh dari penindasan majikan. Tak mengherankan jika dia lalu menjadi salah seorang pendiri Serikat Buruh Merdeka bersama H Pongke Princent.

Begitu pun soal kepeduliannya terhadap masalah lingkungan. Pria peranakan ayah Batak dan ibu keturunan India ini pada 1980-an juga aktif di Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skepy) menentang pembabatan hutan di berbagai daerah. Dalam pengasingannya di Kanada pun, ia masih menghasilkan sejumlah lukisan bertema keserakahan negara-negara kaya yang membabat hutan di negara-negara miskin. Lukisan tersebut dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia selama dua pekan sejak 17 Agustus tahun lalu.

Di kalangan aktivis (betulan), Sam bukanlah orang asing. Ketika beberapa media massa di Tanah Air dibredel penguasa Orde Baru, pria yang masa kecilnya tinggal di Beograd, Yugoslavia ini pun langsung bergabung dengan para aktivis untuk berdemonstrasi. Tidak tanggung-tanggung, dia bahkan pasang badan ketika salah seorang perempuan dianiaya aparat. Sam melindunginya di tengah para demonstran pria lainnya kalang kabut diserbu aparat. Akibatnya, dia harus menginap berbulan-bulan di rumah sakit. Sejak peristiwa nahas (27/6/1994) itu, hingga ajal menjemputnya, cacat patah pada kakinya tidak bisa disembuhkan total.

Semsar memang selalu gundah. Usai berdemonstrasi membela kebebasan pers tersebut, dia juga aktif membidani berdirinya Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) bersama tokoh-tokoh pers lainnya di Indonesia. Niat membebaskan bangsanya dari berbagai penindasan tidak pernah membuatnya tidur nyenyak.

Pada 1997 Semsar ke Kanada. Ia meninggalkan Indonesia karena bujukan mantan anak buah bapaknya, agar 'sementara mengungsi' ke luar negeri karena di dalam negeri situasi politik kacau. Saat itu memang sering terjadi penculikan terhadap para aktivis. Semsar sendiri tidak serta-merta menurut. Adapun faktor utama anak kedua Mayjen (purn) Richardo Siahaan itu meninggalkan Tanah Air adalah karena harus berobat.

Begitulah Semsar, sebelum berangkat ke Kanada ia bertandang dulu ke Bali. Di sanalah ia tanpa sengaja bertemu seorang petani yang tanahnya tergadaikan karena tidak mampu membayar utang. Saat itu juga Semsar memberinya uang agar tanah itu ditebus. Dan jadilah dengan ikhlas petani itu memberikan tanahnya seluas 6.000 meter persegi tadi.
Kegundahan Semsar sekembali dari keliling dunia tidak mereda. Sebelum memutuskan tinggal di Bali, ia mengatakan punya dua daerah pilihan lain, yakni Pematang Siantar tempat asal leluhurnya dan Banda Aceh, di mana dirinya pernah menikahi gadis Aceh dan memiliki seorang anak yang meninggal dalam usia sehari.

Bagi yang mengenal dekat Semsar, kegundahan hatinya memang tidak muncul tiba-tiba. Pada 1979 ia melakukan protes keras terhadap Sunaryo, dosen seni patung di Institut Teknologi Bandung (ITB) di mana Sam kuliah. Tidak tanggung-tanggung, pria yang sangat humanis ini membakar patung berjudul Irian dalam Tarso karya dosennya itu di kampus. Alasannya, Sunaryo mengeksploitasi orang Papua dengan membuat patung dan mendapatkan uang dari situ, sementara orang Papua tidak dapat apa-apa.
Sanksi yang Semsar dapat adalah dipecat dari ITB. Sejak itu, ia melanglang buana ke Prancis dan mendalami seni lukis.

Pertengahan 1980-an, Semsar yang gundah muncul kembali di tengah gerakan-gerakan aktivis di Tanah Air. Sebagai salah satu sumbangsihnya pada gerakan mahasiswa dan prodemokrasi adalah dengan menggelar pameran lukisan yang disertai diskusi keliling sejumlah kampus di Pulau Jawa.

Tokoh kontroversial ini, lagi-lagi membakar puluhan lukisan yang sudah lama dibuatnya di hadapan para aktivis. Bisa jadi, Semsar yang besar dari lingkungan kelas menengah Indonesia itu mau menggambarkan bahwa uang tidaklah segala-galanya dalam hidup. Bahkan suatu ketika dalam pameran dia membuat bentuk kayu yang sangat besar, padahal dia hanya menunjukkan sebuah karya sederhana dengan objek kayu di bungkus menggambarkan lontong.

Kepada saya, Semsar mengaku bahwa belakangan ia tidak bisa tidur berminggu-minggu. Ada penyakit di tubuhnya yang ia akui 'diwarisi' mendiang ibunya. Bahkan begitu kejamnya penyakit itu, baru 10 menit saja ia tertidur, tiba-tiba tulang-tulang tubuhnya seakan disengat listrik bertegangan tinggi yang membuatnya terbangun lagi. Menurutnya, para ahli kesehatan yang juga teman-temannya mengakui penyakit disengat 'listrik' tersebut tidak bisa disembuhkan.

Semsar memang bagaikan ensiklopedi dan 'kamus berjalan'. Jika bicara dengannya, waktu yang teramat panjang terasa sebentar. Di tengah 'musik' dari suara binatang di persawahan dan hutan di sekitar warung tempat kami minum kopi, Semsar meminta saya agar melihat tanah impian terakhirnya. Dengan mobil sewaan, 20 menit kemudian kami tiba di tempat yang dituju. Tangan Semsar menunjuk jurang yang berbatasan dengan sungai. "Itulah tanah yang saya mau bangun."

Sebelum berpisah, Semsar yang saat itu mengaku sehat-sehat saja membuka topi petani yang menutupi kepalanya. Melihat dia kehujanan, saya spontan mengajaknya agar naik kembali ke mobil dan pulang ke penginapannya. Ia mengangkat kembali topi itu lebih tinggi sambil bersuara lebih keras, "Salam saja buat teman-teman."
Selamat jalan sahabat. * Parulian Manullang, Media Indonesia, 24 Februari 2005
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)