A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► CEO-Manajer
 ► Wartawan
  B E R A N D A
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 05092007  
   
  ► e-ti/sp  
 

BIODATA

Nama:
Sasongko Soedarjo
Lahir:
Solo, 24 Juli 1948
Meninggal:
Jakarta, 30 Agustus 2007
Agama:
Kristen

Isteri:
Jeanne Lotje Augustine
Anak:
Alvin (28), Rendy Diego Soedarjo (26), dan Garibaldi Nataniel Soedarjo (11)
Ayah:
Soedarjo (Alm)
Ibu:
Soekini

Pendidikan:
Master of business administration dari University of San Francisco, California, AS, 1973

Karir:
- PT Union Carbide Indonesia, sampai 1978
- Manajer Sirkulasi PT Sinar Kasih, bertanggung jawab atas peredaran surat kabar Sinar Harapan
- Direktur Keuangan PT MIU sejak Oktober 1987
- Presiden Direktur PT MIU sekaligus Pemimpin Umum Suara Pembaruan, 2001-2007
- Komisaris PT Media Interaksi Utama (PT MIU) penerbit Suara Pembaruan, 2007
- Presiden Komisaris PT Radio Pelita Kasih (RPK), 2007
- Anggota Dewan Redaksi Suara Pembaruan
- Presiden Komisaris PT Sinar Kasih
- Komisaris PT Higina Alhadin (penerbit Kosmopolitan)
- Presiden Direktur Medikaloka Health Center

Organisasi:
- Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), 2007
- Pengurus Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI), 2007


 
 
 
 
 
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:  01  02  03  ==

Sasongko Soedarjo (1948-2007)

Catatan Sahabat Dekat

 

Oleh Sabam Siagian: Sudah pasti tidak semua kalangan pembaca harian ini mengenal almarhum Sasongko Soedarjo. Namun, kalaupun kita uraikan beberapa aspek dari sosok kepribadiannya, maksudnya supaya Anda juga dapat berkenalan dengan berbagai dimensi manusia Indonesia yang tidak begitu menonjol ke permukaan.

Berita meninggalnya saja merupakan kejutan. Kamis sore (30/8), setelah bermain tenis di kompleks harian Suara Pembaruan di daerah Cawang, ia mengalami serangan jantung yang fatal. Meskipun cepat dilarikan ke Rumah Sakit UKI, namun tidak tertolong lagi. "Koko" (sebutan akrabnya) dipanggil pulang oleh Allah Bapa Maha Pencipta.

Seorang rekan dekat atau anggota keluarga yang tiba-tiba meninggal, memaksa kita yang ditinggalkan segera mencetak sebuah potret di ingatan kita masing-masing, tentang almarhum atau almarhumah.

Khusus tentang Koko Soedarjo, maka ingatan saya bukan saja sebagai rekan sekerja di organisasi penerbitan harian Suara Pembaruan. Karena Keluarga Soedarjo dan Keluarga Siagian, atau konkretnya almarhum Pak Soedarjo, ayah Bung Koko, almarhum Pendeta I Siagian, sebelum Perang Pasifik dan pendudukan militer Jepang tahun 1942, sudah seperti bapak dan anak di lingkungan Gereja Kwitang. Maka, hubungan kerja dengan Koko Soedarjo dan saya bukan sekadar "business like" saja.

Terakhir kami jumpa pada hari Rabu, 22 Agustus lalu, di gedung harian Suara Pembaruan. Sekali sebulan diselenggarakan Dewan (Penasihat) Redaksi untuk memberikan masukan kepada jajaran redaksi dalam mengolah pemberitaan tentang berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Ketika memimpin rapat tersebut, Koko Soedarjo yang duduk di sebelah kiri saya, tampak berdiam diri saja. Dialah yang selalu mendorong diselenggarakannya rapat bulanan Dewan (Penasihat) Redaksi ini supaya cakupan liputan harian Suara Pembaruan selalu setia pada misinya ("Memperjuangkan Harapan Rakyat Berdasarkan Pancasila").


*


Koko Soedarjo memasuki bidang usaha persuratkabaran setelah bekerja di beberapa perusahaan internasional. Dengan ijazahnya, master of business administration dari University of California, sebenarnya ia dapat mengembangkan karier yang gemilang di perusahaan multinasional. Ketika ia mulai bekerja sebagai Direktur Keuangan PT Media Interaksi Utama, penerbit harian Suara Pembaruan, kuat dugaan saya bahwa hal itu terjadi karena dorongan ayahnya, Bapak Soedarjo.

Harian Sinar Harapan dilarang terbit pada Oktober 1986, setelah berumur 25 tahun. Karena kesalahannya dianggap fatal oleh pemimpin Orde Baru, maka larangan itu mutlak. Dengan susah payah diusahakan sebuah harian baru dengan nama baru dan penerbit baru, terbit. Tapi secara intern disepakati bahwa jiwa Sinar Harapan dan misinya untuk memperjuangkan keadilan, meskipun dalam keterbatasan yang ada, tetap dipertahankan.

Meskipun saya tidak ikuti dari dekat perkembangan terbitan baru itu, karena sudah bertugas sebagai pemimpin redaksi harian berbahasa Inggris The Jakarta Post (PT Sinar Kasih, penerbit Sinar Harapan yang diberedel 1986, ikut menjadi partner dalam usaha bersama menerbitkan harian berbahasa Inggris yang berkualitas), namun saya duga, juga disepakati bahwa koran baru Suara Pembaruan dikelola secara terbuka dan accountable. Pada tahap inilah alm Pak Soedarjo yang sebenarnya sudah menikmati reputasi sebagai usahawan sukses di beberapa bidang lainnya, mendorong putra tertuanya, Sasongko, untuk bersedia menjadi Direktur Keuangan.

Selama 20 tahun, dari 1987 sampai 2007, Koko memikul berbagai tanggung jawab sampai bertugas sebagai Presiden Direktur PT MIU, penerbitan harian Suara Pembaruan. Dan, saya sebagai Presiden Komisaris. Pada tahun-tahun harian tersebut mengalami kesulitan sebagai dampak krismon 1997/1998 dan minat terhadap koran sore secara berangsur berkurang, di situ tampak sifat kebapakan Koko Soedarjo.

Secara berkelekar saya berkomentar, "Dia bukan eksekutif yang jitu". Maksudnya, meskipun Dewan Komisaris sudah memberikan mandat untuk merumahkan sejumlah karyawan demi penghematan, namun Koko sebagai Presiden Direktur berusaha mengundurkan proses tersebut. Di balik setiap nama seorang karyawan, ia bayangkan keluarga yang nantinya menderita.

Saya juga ingat, beberapa tahun setelah Reformasi, ketika harian Suara Pembaruan masih lumayan bisnisnya, Koko Soedarjo benar-benar sakit hati dan mengeluh kepada saya secara tulus. Rupanya ada rekan yang mulai beragitasi bahwa setelah Reformasi merekah dan demokrasi mulai pulih, maka Suara Pembaruan sebagai "anak haram" tidak punya tempat lagi, dan lebih baik ditutup saja.

Logikanya, koran yang menjadi korban pemerintahan yang sewenang-wenang perlu dihidupkan. Padahal, dalam rapat-rapat gabungan direksi dan komisaris, kami secara intensif berusaha mencari jalan keluar. Yang membuat Koko begitu sakit hati, karena rekan yang beragitasi itu seperti tidak menghargai sikap keterbukaan harian Suara Pembaruan.


*


Kepergian Sasongko Soedarjo secara mendadak setelah bergumul dengan segi manajemen dan bisnis dari persuratkabaran mendorong kolomnis ini untuk merenungkan sejenak ten- tang peranan dan masa depan bidang penerbitan, jurnalistik, dan komunikasi digital di Indonesia. Negeri ini secara sosiologis sedang bergolak mencari keseimbangan baru dan profil baru.

Apakah bangsa ini yang sudah melebihi 220 juta warga tersebar di Nusantara yang amat luas, dengan bentuk geografis yang unik, dapat mempertahankan dan mengembangkan kerukunan yang harmonis, saling menghormati latar belakang keagamaan dan kesukuan, serta pandangan politik sesama warga, hal itu tergantung dari kualitas dan komitmen dari mereka yang bertugas di bidang penerbitan, jurnalistik, dan komunikasi.

Meminjam peristilahan dari sebuah lagu yang pernah populer, mereka menggenggam di tangan mereka sekaligus "madu dan racun". Para penerbit, wartawan, dan komunikator, pada umumnya dapat mengobarkan konflik dan kebencian antarberbagai suku dan pengikut agama, ataupun antarpendukung politik yang berlainan, sehingga berantakanlah kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia.

Namun, bidang penerbitan, jurnalistik dan komunikasi digital, dapat merupakan faktor efektif untuk mendorong pandangan akal sehat, mengembangkan iktikad untuk memahami dan menghargai adat istiadat suku lain, nilai-nilai keagamaan yang berlainan, serta pandangan politik yang aneka ragam.

Justru dalam situasi dan kondisi Indonesia, maka asas pluralisme wajib kita pegang teguh. Kalau tidak, kita akan tercerai-berai sebagai bangsa.

Bagaimana merekrut orang-orang dan angkatan muda di bidang penerbitan, jurnalistik, dan komunikasi digital yang profesional, yang memiliki komitmen terhadap apa yang digambarkan di atas dan tetap yakin akan masa depan Indonesia yang pluralis?

Keluarga Besar Soedarjo adalah contoh baik. Almarhum Bapak Soedarjo, setelah sukses di berbagai bidang usaha, ikut berkarya di bidang persuratkabaran. Ia adalah perintis dari percetakan Sinar Agape Press yang mencetak koran Sinar Harapan, kemudian Suara Pembaruan. Ia juga mendorong pembangunan gedung kantor penerbit dan redaksi Sinar Harapan dan Suara Pembaruan. Putranya, Sasongko, meninggalkan perusahaan multinasional supaya dapat menerapkan pengetahuannya tentang administrasi bisnis modern untuk penerbitan koran dan buku yang dapat meningkatkan kecerdasan bangsa.

Dan putra Koko Soedarjo, Alvin, sekarang reporter muda di harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post. Ia diterima setelah melalui berbagai tes tanpa mengandalkan nama ayahnya yang menjadi komisaris badan penerbit harian tersebut.

Saya dengar dari seorang rekan di The Jakarta Post, ketika Alvin sedang menangani sebuah berita Kamis sore itu, ia mendapat telepon tentang musibah yang menyergap ayahnya. Dengan tentang Alvin menyelesaikan beritanya, menyerahkan kepada redaktur desk-nya. Dan kemudian pergi tanpa menampakkan kegelisahan ataupun kerisauan. "Dia memperlihatkan bakat seorang wartawan yang ulung: tenang, sambil menyelesaikan tugas yang sedang ditangani."

Pasti sejumlah keluarga besar seperti Keluarga Besar Soedarjo dengan anggota-anggota keluarga yang serbaberbakat dan terikat pada asas demokrasi, pluralisme, dan toleransi, tersebar di berbagai lokasi wilayah Indonesia. Pasti kita sedih dengan meninggalnya Sasongko Soedarjo secara mendadak. Namun, kita tidak boleh pesimistis, bahwa dengan kepergiannya itu, perjuangan menuju pemantapan demokrasi, pluralisme dan toleransi, akan menjadi kendur. [Suara Pembaruan, 4 September 2007]

Sabam Siagian, adalah pengamat perkembangan po litik nasional dan peranan media di Indonesia 


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)