| |
C © updated 02092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Prof. Dr. Saparinah Sadli
Lahir:
Tegalsari, Jawa Tengah 24 Agustus 1927
Suami:
Prof. Dr. Ir Muhammad Sadli, MSc
Pendidikan:
- Europesche Lager School Purwokerto, 1933-1940
- Sekolah Menengah Pertama, Semarang dan Yogyakarta, 1942-1945
- Sekolah Asisten Apoteker, Yogyakarta, 1946-1948
- Sarjana Muda Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1953
- S1 Fakultas Psikologi Universitas indonesia, 1961
- S3 Fakultas Psikologi Universitas indonesia, 1976
Pekerjaan:
- Dosen-Dekan Fakultas Psikologi UI
- Ketua Pusat Kajian Perempuan UI 1990-2000
- Anggota dan Wakil Ketua Komnas HAM 1996-2000
- Ketua Komnas Perempuan 1998
- Kelompok Kerja Convention Watch
- Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan 13-15 Mei 1998, 23
Juli-23 Oktober 1998
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 04 == Prof Dr Saparinah Sadli
Yang Terpenting Tetap Sehat
Ada dua acara yang diadakan teman-teman Prof Dr Saparinah Sadli, atau Bu
Sap teman-temannya biasa menyapa, untuk memperingati ulang tahunnya yang
ke-80. Tepat pada hari ulang tahun Bu Sap, 24 Agustus, diserahkan
Penghargaan Saparinah Sadli kepada Aleta Ba’un dari Timor Barat dan
Mutmainah Korona dari Palu.
"Penghargaan diberikan kepada pemimpin dari generasi baru yang memiliki
ciri seperti Bu Sap, antara lain terbuka dan memimpin dengan tidak
memaksa tetapi dapat menggerakkan semua pihak untuk bersatu. Bu Sap
adalah jembatan antara generasi muda dan generasi tua," kata Carla
Bianpoen, salah satu penggagas penghargaan yang dicetuskan tahun 2000
itu.
Acara kedua diadakan di Arsip Nasional, Jakarta, Selasa (28/8), oleh
Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia,
yang didirikan Bu Sap dan di mana Bu Sap masih mengajar mahasiswa
program S-2.
Pada acara itu diluncurkan dua buku, Menjadi Perempuan Sehat dan
Produktif di Usia Lanjut, ditulis Bu Sap sendiri, dan Perempuan Pejuang
Menitipkan Pesan, Bagaimana Mengisi Kemerdekaan. Buku yang terakhir
disusun Tita Marlita dan Shelly Adelina dengan inspirasi dari Bu Sap.
Empat perempuan mewakili perempuan pejuang dari bidangnya masing-masing,
yaitu ahli hukum Kartini Muljadi, pengusaha Martha Tilaar, mantan
anggota Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memantau pelaksanaan
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW)
Sjamsiah Achmad, dan Menneg Pemberdayaan Wanita tahun 1988-1993
Sulasikin Murpratomo, membagi pengalaman dan visi mereka dalam acara itu.
Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menjadi moderator.
Bu Sap hanya dapat mengikuti pembukaan acara diskusi sebab harus
bergegas kembali ke rumah sakit di Jakarta Pusat di mana suaminya, Prof
Dr Ir Mohammad Sadli, MSc, tengah dirawat.
"Saya tidak bisa datang pada acara penghargaan karena tempat acara agak
jauh dari rumah sakit. Kalau acara ini kan cukup dekat. Saya harus
selalu ada di rumah sakit karena dokter sering ingin bertemu saya
mengenai perkembangan kondisi Pak Sadli," kata Bu Sap, yang tinggal di
kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Mengenai buku Menjadi Perempuan Sehat, Bu Sap mengatakan, sebenarnya
buku itu sudah lama ingin dia tulis. "Buku ini ditulis berdasarkan
pengalaman ibu-ibu yang sudah berusia di atas 76 tahun. Sama sekali
bukan hasil riset, tetapi dari pengalaman ibu-ibu tersebut yang saya
tangkap," kata Bu Sap.
Fenomena baru
Pengalaman memasuki usia 80 tahun dan masih aktif secara fisik dan
produktif juga dia lihat pada sejumlah perempuan lain. Selain jumlahnya
semakin bertambah, hal ini juga merupakan hal baru untuk Indonesia. Dia
mengagumi Ny Herawati Diah yang masih aktif, mandiri, dan produktif pada
usia 90 tahun, seperti juga Bu Sap mengagumi Ny Martadinata.
"Jumlah perempuan dalam rentang usia 76 tahun hingga lebih dari 80 tahun
yang masih sehat dan produktif adalah fenomena baru di sini. Tetapi,
perhatian untuk kelompok ini masih rendah, saya juga tidak menemukan
cukup referensi dari media massa," kata Bu Sap.
"Untuk perempuan yang lebih muda usianya, apa pun bisa dilakukan asalkan
menjaga fisik. Hal lain, seorang ibu yang saya wawancara mengatakan,
juga harus punya uang. Tanpa punya uang tidak bisa melakukan hal-hal
yang diinginkan," kata Bu Sap. "Bagi saya, melalui usia 80 tahun, yang
penting adalah sehat secara fisik." (Maria Hartiningsih & Ninuk Mardiana
Pambudy, Persona Kompas 2 September 2007) ►ti
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|