|
|
 |
Nama:
AWK Samosir
Nama Asli:
Kasmin Samosir
Nama Lengkap:
Abdul Wahab Kasim Samosir
Lahir:
Onanrunggu, Pulau Samosir, 17 Agustus 1928
Karir:
Pimpinan Opera Batak Tilhang Serindo
Penata tortor (tari) dan gondang Batak
|
|
AWK Samosir
Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak
Hampir seluruh hidupnya untuk gondang, uning-uningan, tortor dan opera
Batak. Ia murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri
opera Batak akhir tahun 1920-an). Ia amat gelisah atas perkembangan
kesenian Batak dewasa ini. Sebab, menurutnya, semua orang Batak sudah
menyeleweng dari budayanya. Lihat pesta-pesta perkawinan, band lebih
selalu ditanggap ketimbang gondang termasuk saat mangulosi, menyampirkan
ulos kepada pengantin dan kerabatnya.
Menuju rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak
dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan
menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang perempuan muda cantik
sedang menanti. Ia memandu kami.
Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi.
Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh.
Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu
kaki di bawah permukaan tanah merah itu. Bila hujan turun, gumpalan lumpur
mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu.
Sesosok laki-laki dengan seluruh rambut memutih berdiri di mulut pintu
salah satu petak. Di tahun 1970 hingga 1980-an, wajah itu kerap terlihat
di TVRI. Jarinya memetik kecapi di tengah gondang atau uning-uningan Toba.
Tahunan ia menata dan mengisi tayangan tortor dan opera Batak di situ. Di
tahun 1990-an sesekali ia mengiringi nyanyian dan tari Batak, bersama regu
band Tarida Pandjaitan br Hutauruk, dalam program Horas di televisi swasta.
Ia mudah dikenali dalam sorotan kamera, sebab pada usia tujuh puluhan,
rambut putihnya selalu terkucir.
"Tak sulit sampai di sini?" kata AWK Samosir dalam Batak Toba, bahasa yang
kami pakai selama percakapan. Di salah satu dinding bilik tamu itu
beberapa kecapi dan suling tergantung. Di sebuah sudut di baliknya
tersusun seperangkat instrumen musik Batak untuk gondang dan uning-uningan.
Tak lebih tiga meter dari sana dapur dengan api dan asap mengepul.
Begitu duduk di sofa tua yang compang, murid langsung almarhum Tilhang
Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an di Tapanuli
dan pencipta 360 lagu, 12 tumba, dan 24 judul drama sampai akhir hayatnya
tahun 1970) memulai pembicaraan dengan satu keluhan. "Pikiranku sudah
buntu mengembangkan kesenian Batak sebab semua orang Batak sudah
menyeleweng dari budayanya," katanya.
Yang menyedihkan, katanya, mereka terutama dari kalangan tua. Lihat
pesta-pesta perkawinan. Band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang. Ini
sebetulnya tak keliru asalkan band untuk mengiringi nyanyian selingan.
Akan lain ceritanya bila dipakai pula saat mangulosi, menyampirkan ulos
kepada pengantin dan kerabatnya.
"Apakah ulos itu mereka maksudkan bermanfaat atau tak bermanfaat sesuai
dengan hakikatnya, sebaiknya gondang yang disajikan untuk menarikan ulos
sebelum disampirkan," katanya. "Sebab saat ulos ditenun dan disampirkan,
selalu ada sabda pemberi makna dan penjelas fungsinya."
Jadi, siapa yang salah?
"Semuanya. Yang menyampirkan dan menerima ulos, juga pemusiknya. Semua
jadi bodoh," kata Samosir yang pernah menjadi dosen tortor di Institut
Kesenian Jakarta. "Bayangkan, mereka meminta lagu Poco-poco saat mangulosi.
Lalu, apa artinya ulos?"
Penghargaan pada budaya sendiri pun, menurut Samosir, orang Batak sekarang
sama sekali tak dapat dibanggakan. Kemunafikan sangat jelas. Baptis, sidi,
kawin, memasuki rumah, mengucapkan syukur untuk kandungan berusia tujuh
bulan, mati, sampai mengumpulkan belulang orang mati kepinginnya orang
Batak diselenggarakan dengan adat, selain ritus keagamaan.
Akan tetapi, mereka masih setengah hati menjalankan adat. Petunjuknya apa?
"Lihat, santabi tu angka na burju (kecuali orang yang mengerti), untuk
menawar band orang Batak bersedia di atas Rp 2 juta, tapi untuk gondang
rela kalau di bawah Rp 1 juta," kata ketua Gondang Pardolok na Uli ini.
"Yang membuat hati saya teriris adalah bila ada yang mengatakan, ’Sudah
cukup Rp 700.000’ untuk gondang, padahal pemain gondang yang berjumlah
delapan itu seharian keringatan."
Lahir di Hutanamora, Onanrunggu, Pulau Samosir, pada 17 Agustus 1928, pria
bernama Kasmin ini sudah menyanyi di usia 13 bersama opera keliling
pimpinan Tilhang Gultom.
Di tahun 1941 itulah ia kehilangan ibu yang meninggal setahun setelah sang
ayah wafat. "Jadi, sekolahku hanya sampai kelas dua SR," katanya.
Bergabung dengan opera berarti bergaul liat dengan pemusik, penari, dan
pelakon. Dari nyanyi, Samosir belajar tortor, lakon, memetik hasapi, dan
meniup sulim. Sebagian ia dapat dari seniornya, sebagian lebih besar
justru dari mimpi.
"Tahun 1952 aku bermimpi diajari memetik hasapi. Begitu bangun, aku
langsung bisa memainkannya," katanya. "Jadi memang ada rahasia dalam
gondang dan uning-uningan ini. Sebelum para pemain mendapatkan
kemahirannya dari mimpi, ia tak akan pernah mencapai tahap empu."
Gondang yang ia maksud adalah kumpulan musik untuk adat. Uning- uningan
ialah regu musik untuk panggung, hiburan. Gondang bolon terdiri dari 5
tagading, 1 gordang, 1 odap, 1 sarune bolon, 4 ogung (oloan, ihutan,
panggora, doal), dan 1 hesek sebagai pengendali tempo. Uning-uningan
terdiri atas 1 hasapi, 1 sarune getep, 1 sulim, 1 garantung, 1 tulila, 1
alatoit, 1 mengmung, 1 bulu maringgotolong, 1 tanduk banua, dan 1 hesek
sebagai pengendali tempo.
"Nah, pengetahuan tentang ini pun belum menjadi milik pemusik gondang di
Jakarta yang jumlahnya sekarang cukup banyak," katanya. "Termasuk mereka
yang tahun 1991 bikin Orkes Simfoni Batak."
Opera keliling yang terus berganti nama ini-Tilhang, Pantja Ragam Tilhang,
Serindo, dan sebagainya-membawa Samosir menjelajahi seluruh Sumatera,
Jakarta, dan Bandung. Sejak 1970, tahun Tilhang meninggal, Samosir menetap
di Jakarta seusai manggung di Bandung atas sponsor pengusaha sayur-mayur
Thomas Simanungkalit.
Di situ ia memimpin Opera Batak Tilhang Serindo cabang Jakarta,
mementaskan turi-turian rakyat di Ancol, Taman Ria, TIM, TMII, dan TVRI
dari tahun 1977 sampai tahun 1987.
Sejak tahun 1985 cabang grup opera ini di Sumatera Utara tak manggung lagi
sebab tak mendapat dukungan dari penontonnya. Sebagian besar anggotanya
hijrah ke Ibu Kota, tapi cabang Jakarta sendiri tak mampu mempertahankan
staminanya seperti di masa Ali Sadikin. Requiem opera Batak!
Samosir yang mendapat dua istri dari opera itu, penyanyi Pardamean br
Hasibuan dan Mina br Purba, tak tinggal diam menghidupkan tortor dan
gondang setelah mentok di opera. Tawaran Ali Sadikin supaya ia mengajar
tari di IKJ ia terima hingga pensiun tahun 1986 dengan golongan I-A.
Suasana ruang tamu tempat kami berbincang tidak lazim. Satu meter dari
plafon yang menaungi kami tergantung sebilah papan putih yang menempel di
dinding. Di sepanjang ketiga sisinya menjuntai daun nyiur. "Ini altar
tempat kami martonggo tiap Sabtu," katanya. Sumber penting tentang opera
Batak ini sedang menuturkan tiga tahun lalu ia memeluk Parmalim, agama
orang Batak sebelum misi masuk di Tapanuli, yang kini punya penganut 10
keluarga di Jakarta.
Terlahir sebagai Katolik, ayah tujuh anak ini menganut Islam sejak
pernikahan pertamanya tahun 1948. Dia mendapat nama tambahan Abdul Wahab.
"Saya masuk ke Parmalim karena inilah agama Batak," kata AWK Samosir yang
telah menggubah belasan tortor. "Sejak 1998, dua tahun saya puasa, hanya
minum air putih, memohon Mulajadi Na Bolon memberi saya membilang birama
musik Batak."
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber Kompas 24/4/03, Salomo
Simanungkalit.
|
|