| |
C © updated 29062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Prof Dr Saleh Afiff
Lahir:
Cirebon, 31 Oktober 1930
Agama:
Islam
Meninggal:
Jakarta, 28 Juni 2005
Karir:
- Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara merangkap Wakil
Ketua Bappenas, Kabinet Pembangunan IV
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet
Pembangunan V
- Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Pengawasan Pembangunan
Kabinet Pembangunan VI (1993-1998)
- Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Patra Kuningan VII No 2, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Saleh Afiff (1930-2005)
Konseptor Harga Dasar Gabah
Mantan Menteri
Koordinator Ekonomi Keuangan dan Pengawasan Pembangunan Kabinet
Pembangunan VI (1993-1998) Saleh Afiff meninggal dunia dalam usia 75
tahun sekitar pukul 20.00 WIB,
Senin 28 Juni 2005 setelah beberapa saat dirawat di RS
Pusat Pertamina Jakarta. Konseptor harga dasar gabah kelahiran Cirebon, 31 Oktober 1930, itu dibawa ke RS Pertamina
setelah mengalami gangguan pernapasan Minggu sore.
Jenazah Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, itu disemayamkan di rumah duka di
Jalan Patra Kuningan VII No 2, Jakarta Selatan dan dimakamkan di TMP
Kalibata, Selasa 29 Juni 2005. Sekitar pukul 19.00 Senin 28/6, mantan
Presiden Soeharto dan keluarga datang melayat.
Pada 1967, bersama Leon A Mears, Saleh Afiff mengusulkan rumusan
kebijakan harga dasar gabah untuk merangsang peningkatan produksi dan
kontrol harga gabah. Konsep itu diterapkan pemerintah pada 1976.
Saleh Afif juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara merangkap Wakil Ketua Bappenas, Kabinet Pembangunan IV.
Kemudian dipercaya menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Ketua Bappenas Kabinet Pembangunan V.
Dia dikenal sebagai sosok yang bersahaja. Dia memang dibesarkan dalam
keluarga bersahaja. Ayahnya, Ali Afiff, seorang pedagang eceran
buku-buku agama Islam di Cirebon. Dia anak keenam dari delapan
bersaudara.
Semasa kecil, dia tidak pernah membayangkan kelak akan menjadi
seorang petinggi negara, menjadi menteri. Dia hanya berusaha rajin
belajar. Pendidikan dasar ditamatkannya di kota kelahirannya Cirebon
tahun 1943. Di kota yang sama dia menyelesaikan pendidikan SMP tahun
1947. Kemudian melanjut ke SMA di Bandung, tamat tahun 1950.
Sejak kecil, dia memang gemar membaca. Selain membaca buku-buku agama
dan ilmiah, dia juga gemar membaca Taipan dan Shogun. Selepas SMA dia
pun diterima di FE-UI (1950). Sembilan tahun dia menyelesaikan gelar
sarjana. Dia satu angkatan deng Emil Salim.
Awalnya dia masuk pada masalah pemsaran dan ekonomi pertanian adalah
ketia menjadi asisten peneliti di Lembaga Ekonomi UI. Ia amendapat tugas
dari Prof Dr Widjojo Nitisastro yang menjabat direktur lembaga itu. Dia
pun memndapat kesempatan kuliah bidang pemasaran di Universitas
California, Berkeley, AS dan berhasil meraih gelar Master of Business
Administration (MBA), 1961.
Enam tahun kemudian, penggemar musik klasik ringan ciptaan Johann
Strauss, ini juga meraih gelar doktor (PhD) bidang ekonomi pertanian
dari Universitas Oregon, AS. ►tsl
Perginya Pembela Petani
Tajuk Kompas 30/6/2005: Salah satu topik yang hangat dibicarakan dalam
pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia di Cancun, Meksiko, tahun lalu
adalah isu pertanian.
Negara-negara maju selalu menuntut diterapkannya liberalisasi dalam
perdagangan dunia. Namun, ketika masuk ke sektor pertanian, mereka pun
sering ragu untuk melakukannya.
Itulah yang membuat orang seperti Rini MS Soewandi, ketika menjabat
menteri perdagangan dan perindustrian, sering kali kesal. Perdagangan
bebas yang didengung-dengungkan negara-negara maju itu hanya berlaku
untuk sesuatu yang menguntungkan mereka saja.
Negeri seperti Selandia Baru, misalnya, ketika diminta untuk menghapus
subsidi pertanian, justru yang pertama lari. Mereka berpendapat bahwa
hal itu tidaklah mungkin dilakukan segera. Kalaupun harus melakukan
penghapusan subsidi, mereka membutuhkan sosialisasi minimal 15 tahun
untuk meyakinkan sekitar 20.000 petani negeri itu untuk bisa menerimanya.
Isu ini menjadi relevan untuk diangkat karena, hari Selasa, kita baru
kehilangan seorang ahli ekonomi yang dikenal sangat konsisten membela
para petani. Di kalangan para ekonom, Prof Dr Saleh Afiff dihargai
karena ia selalu memerhatikan kesejahteraan petani.
Prof Afiff tidak memperjuangkan sikapnya itu dengan perlawanan frontal,
apalagi dengan berteriak-teriak. Almarhum ikut di dalam tim perumus
kebijakan ekonomi dan memperjuangkan pemikirannya dari dalam.
Sikap seperti itulah yang sekarang sangat dibutuhkan. Bukan hanya karena
sudah terlalu banyak ingar-bingar yang sering kali hanya membingungkan
masyarakat, tetapi persoalan besar yang dihadapi bangsa ini tidak bisa
hanya diselesaikan dengan bicara.
Pemikiran yang bernas seperti sering dilontarkan Prof Afiff sangat
dibutuhkan, apalagi dalam upaya kita untuk merevitalisasi sektor
pertanian, perikanan, dan kehutanan. Tidak mungkin program itu bisa
terealisasi, apalagi tidak dirumuskan dengan konsep yang matang dan
dilaksanakan dengan konsekuen.
Kita tidak cukup lagi sekadar ikut globalisasi tanpa memberikan manfaat
apa-apa bagi kehidupan bangsa dan negara. Kita harus bisa memanfaatkan
dan bahkan memenangi globalisasi itu.
Kunci untuk melakukan itu tidak bisa lain kecuali dengan bekerja keras.
Menemukan inovasi-inovasi yang memungkinkan kita bisa meningkatkan
produktivitas.
Satu hal lagi yang juga sering diingatkan Prof Afiff adalah kepedulian,
keberpihakan. Sebab, pada akhirnya semua kebijakan pembangunan itu harus
mampu menyejahterakan seluruh rakyat, tidak ketinggalan memperbaiki
kehidupan para petani.
Selama ini sering kali kita terjebak dalam slogan globalisasi. Karena
tidak mau dicap ketinggalan zaman, kita menerapkan perdagangan bebas
dengan sebebasbebasnya, tanpa memedulikan di mana kondisi bangsa
sebenarnya berada. Akibatnya, kita hanya menjadi korban dan bahkan
dibuat tidak berdaya. ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|