| |
C © updated 02072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tempo |
|
| |
Nama:
Prof Dr Saleh Afiff
Lahir:
Cirebon, 31 Oktober 1930
Agama:
Islam
Meninggal:
Jakarta, 28 Juni 2005
Dimakamkan:
TMP Kalibata, 29 Juni 2005
Isteri:
Fauzia Saleh
Anak:
Tiga orang
Pendidikan:
- SD Cirebon 1943
- SMP Cirebon 1947
- SMA di Bandung 1950
- S1 FE UI 1959
- S2 (MBA) bidang pemasaran Universitas California Berkeley, AS, 1961
- S3 (PhD)) bidang ekonomi pertanian Universitas Oregon, AS, 1967
Karir:
- Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara merangkap Wakil
Ketua Bappenas, Kabinet Pembangunan IV
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet
Pembangunan V
- Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Pengawasan Pembangunan
Kabinet Pembangunan VI (1993-1998)
- Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Patra Kuningan VII No 2, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Muhammad Chatib Basri
Saleh Afiff, Sebuah Kata Kerja
Kompas 2 Juli 2005: Saleh Afiff adalah sebuah kata kerja. Suaranya mungkin
tak terdengar bingar. Tak keras menghantam. Mereka yang mengharap sebuah
teriakan galak membela petani mungkin akan kecewa.
Saleh Afiff memang tak bicara dari dataran emosi. Ia lebih berbicara
dari pemahaman kritis. Ia bicara dari semangat untuk tak berhenti
berpikir dan berpihak pada yang kecil, pada kesejahteraan. Saleh Afiff
memang sebuah kata kerja.
Pada 28 Juni, Profesor Saleh Afiff meninggal dunia. Apa yang harus
dijelaskan tentang Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini?
Saya tak pernah jadi muridnya langsung karena Pak Afiff—begitu saya
memanggilnya—konsentrasi mengajar ekonomi pertanian di FEUI, sedangkan
saya mengambil konsentrasi ekonomi internasional.
Interaksi saya dengan Pak Afiff datang lewat pelbagai diskusi tentang
ekonomi Indonesia. Biasanya, Pak Afiff menelepon saya atau mengirim
e-mail tentang pelbagai perkembangan ekonomi. Ciri khasnya: datang
dengan pertanyaan yang tajam dan tak mudah percaya dengan argumentasi
lawan bicaranya.
Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia (LPEM FEUI) periode 1968-1970 ini punya perhatian
khusus pada pertanian. Bulan Juni 1968, tulisannya bersama Leon A Mears
muncul di jurnal Bulletin of Indonesian Economic Studies (BIES) tentang
program Bimas dan produksi beras (A New Look at the Bimas Program and
Rice Production).
Dalam tulisan itu Mears dan Afiff menulis, Bimas ternyata berkembang
jauh lebih cepat dari yang ditargetkan. Keduanya juga menulis, dalam
kasus Inmas personal finance atau private credit yang ada ternyata
memberi manfaat amat besar untuk penggunaan input, meski tingkat bunga
yang harus dibayar petani relatif tinggi. Satu hal yang menarik dari
tulisan ini, gagasan Pak Afiff dan Mears tentang peran swasta dalam
menyediakan input dan juga aspek pemasaran.
Merujuk kasus Filipina, Afiff dan Mears menunjukkan, peran swasta dalam
distribusi fertilizer dan insektisida amat membantu mengurangi beban
pemerintah. Menarik, karena tahun 1968 Pak Afiff sudah bicara mengenai
peran swasta, sesuatu yang bagi banyak ekonom di era itu dianggap barang
asing.
Tradisi Keynesian
Pak Afiff yang menamatkan PhD-nya di Oregon, Amerika Serikat, tentu
dibesarkan dalam satu tradisi pemikiran Keynesian. Di mana peran dari
pemerintah dianggap begitu penting. Karena itu, menarik jika pada tahun
1968 Pak Afiff sudah bicara soal peran swasta, suatu topik yang praktis
tak terpikirkan, terutama di era ketika pemerintah dianggap sebagai dewa
penyelamat di dalam pelbagai hal.
Bersama Mears, Walter Falcon, dan Peter Timmer (1980), Pak Afiff menulis
risalah, Elements of Food and Nutrition Policy in Indonesia dalam buku
yang di edit Gustav Papanek. Buku ini merupakan salah satu ”klasik”
tentang ekonomi Indonesia. Di sini Pak Afiff bicara soal pola insentif
dan perlunya perubahan pola insentif dalam produksi dan konsumsi tanaman
pangan.
Dari karya-karya ini saja kita bisa melihat bagaimana perhatian Pak
Afiff tentang ekonomi pertanian. Bulan lalu di Stanford University, saya
bicara panjang dengan Walter Falcon. Dan, diskusi melebar sampai ke soal
ekonom yang memiliki perhatian besar mengenai masalah pertanian, Saleh
Afiff tentu saja.
Perhatian dalam hal kesejahteraan tak berhenti sampai di sana. Beberapa
bulan terakhir sebelum meninggal, Pak Afiff kerap mengirim bahan tentang
masalah kesejahteraan. E-mail-nya kepada saya tanggal 14 Juni 2005,
misalnya, datang dengan berita: satu dari lima anak tidak bersekolah.
Tanggal 20 dan 21 Juni 2005, Pak Afiff mengirim satu artikel di Kompas
melalui e-mail. Isinya: Sumber daya manusia yang kian terabaikan. Saya
tak akan mengubah tulisan ini menjadi daftar e-mail Saleh Afiff, saya
hanya ingin memberikan ilustrasi bagaimana sampai di usia tuanya Pak
Afiff masih memiliki perhatian begitu besar terhadap masalah
kesejahteraan dan kebutuhan pokok.
Mencari bukti
Saya juga ingat ketika isu kenaikan harga BBM sedang menghangat, Pak
Afiff kerap menelepon dan mendiskusikan program dana kompensasi dan
kekurangan-kekurangan yang ada dalam program itu.
Tak mudah meyakinkan Pak Afiff karena sikap kritisnya yang kuat. Kerap
kali dalam pembicaraan telepon yang panjang, saya berusaha meyakinkan
tentang beberapa perkembangan dalam ekonomi Indonesia.
Yang menarik, setelah beberapa hari Pak Afiff kembali menelepon saya dan
mengatakan, ”Ok, saya setuju, saya sudah lihat datanya”. Artinya,
selama beberapa hari ia mencari bukti apakah argumen saya punya bukti
empiris atau tidak. Kadang saya jawab sambil bercanda, ”Bapak masa
enggak percaya sama saya”.
Sekian derajat skeptisisme memang selalu dibutuhkan di dalam ilmu
pengetahuan. Itulah yang akan selalu menjaga jarak kita dengan apa yang
kita teliti. Itulah yang membuat kita menjadi tetap obyektif dan tak
sepenuhnya terbawa oleh sekadar keyakinan atau dogma—yang dalam banyak
hal bisa salah. Pak Afiff memberi contoh yang baik tentang sikap kritis
ini.
Tanggal 28 Juni pagi, saya menerima SMS bahwa Pak Afiff comma dan di
rawat di Rumah Sakit Pertamina. Belum sempat saya menjenguk beliau, sore
hari Pak Billy Judono menelepon saya dan memberitahukan berita duka itu:
Pak Afiff meninggal dunia. Saya segera menghubungi Prof Sadli. Dan saya
masih ingat komentar sedih Pak Sadli: ”Kehilangan besar buat saya,
saya kehilangan teman diskusi.”
Pak Sadli benar, Pak Afiff memang kawan berdiskusi yang amat bersemangat.
Pak Afiff memang tak bingar. Ia tak bersuara galak. Namun di balik itu,
Pak Afiff adalah sebuah dinamika untuk terus memerhatikan kesejahteraan
orang banyak. Saleh Afiff memang sebuah kata kerja. ► MUHAMMAD Chatib
Basri, Ekonom
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|