| |
C © updated 14092002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok |
|
| |
Nama:
Jacob Elfinus Sahetapy, Prof, Dr, SH, MA.
Lahir:
Saparua, Maluku Tengah, 06 Juni 1933
Agama:
Kristen Protestan
Suku:
Maluku
Istri:
Lestari Rahayu Lahenda, SH
Pekerjaan Istri:
Dosen Luar Biasa /UKP, Surabaya
Anak:
-
Elfina Lebrine, lahir 06-06-1969, (S2) Universitas Hukum Leiden,
Belanda
-
Athilda Henriete, lahir 28-11-1971 , (S2) Ilmu Hukum Undip,
Semarang
-
Wilma Laura, lahir 02-04-1979, (S1) Fakultas Sastra Universitas Kristen Petra, Surabaya,
(S2) FH UBAYA
-
Kezia, lahir 27-01-1992, SMP Petra, Surabaya
Pendidikan :
- Particuliere Saparuasche School (SD Swasta Bahasa Belanda), Saparua, 1942
-
Sekolah Rakyat, Saparua (1947)
- SM (Kurikulum 4 tahun), Saparua, 1951
- SMA 2/1, Surabaya, 1954
- Fakultas Hukum Jurusan Kepidanaan Unair, Surabaya, 1959
-
Business and Industrial Relations, University of Utah, Salt Lake City,
USA, 1962
-
Doktor Ilmu Hukum Unair, Surabaya, 1978
-
Penataran P4 Tingkat Nasional, Jakarta, 1979
-
Institut Alkitab Tiranus, Bandung, 1993
Ayah :
Aspenas Adriaan Sahetapy (Guru)
Ibu :
Constantina Athilda Tomasowa-Lokollo (Guru)
Keanggotaan DPR :
- Anggota di Jawa Timur PDIP, Utusan Partai Politik dari Kabupaten
Maluku Tenggara, Maluku
-
Anggota Fraksi PDIP DPR RI (1999-2004)
-
Anggota Fraksi PDIP MPR RI
-
Anggota BP MPR RI
-
Anggota Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI
-
Anggota Panitia Ad Hoc I (Amandemen UUD 1945) MPR RI
-
Anggota Sub Komisi Bidang Hukum DPR RI
Anggota Baleg DPR RI
Pengalaman Kerja :
- Asisten Dosen Fakultas Hukum Unair, Surabaya, 1959
-
Asisten Ahli Unair, Surabaya, 1960
-
Dosen dan Guru Besar S1, S2, S3 Unair, Surabaya
-
Lektor Muda Unair, Surabaya, 1963
-
Dosen Sekolah Supply AL RI, Surabaya, 1963-1968
-
Pudek I Fakultas Hukum Unair, Surabaya, 1965-1967
-
Lektor Unair, Surabaya, 1967
-
Lektor Madya Unair, Surabaya, 1968
-
Pembina Unair, Surabaya, 1973
-
Ketua PSK Fakultas Hukum Unair, Surabaya, 1974
-
Dekan Fakultas Hukum Unair, Surabaya, 1979-1985
-
Guru Besar Fakultas Hukum Unair, Surabaya
-
Guru Besar Luar Biasa Program Pascasarjana Bidang Hukum UI (1981) dan
Undip, Semarang (1982)
-
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra
Program Manajer Hukum Pidana dan Kriminologi, Badan Kerjasama Kerajaan
Belanda-Republik Indonesia, 1986-1991
-
Guru Besar Tamu di Fakultas Hukum Leiden, Belanda dan Universitas Katholik
Leuven, Belgia, 1989
-
Guru Besar Emeritus, 1998
-
Anggota DPR/MPR RI, 1999
-
Anggota The Asia Pasific Forum of National Human Rights Institutions, 2000
-
Ketua Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia, sejak 2000
Pengalaman Organisasi :
- Ketua PPM (Persatuan Pelajar Maluku), 1954
-
Ketua GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), 1958
-
Ketua PIKI (Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia) di Surabaya, 1963
-
Ketua Asosiasi Kriminologi Indonesia, sejak 1979
-
Anggota World Society of Victimology
- Anggota
ASEAN Law Association
-
Anggota The Law Association for Asia and the Western Pasific
-
Anggota Persatuan Sarjana Hukum Indonesia, sejak 1959
-
Anggota Parkindo, 1967-1970
-
Ketua Forum Pengkajian HAM dan Demokrasi Indonesia, Surabaya, 1999
-
Anggota PDIP, Jawa Timur, sejak 1999
Penguasaan Bahasa :
- Belanda, Aktif
-
Inggris, Aktif
-
Jerman, Pasif
-
Perancis, Pasif
Hobi :
Membaca, menulis dan
berkebun
Sumber Penghasilan :
- Sebagai Anggota DPR/MPR
-
Seminar
-
Menulis
-
Pensiunan
-
Mengajar (LB)
- Ketua KHN (Komisi Hukum Nasional RI)
Alamat Rumah:
- Jalan Darmahusada III/8, Surabaya 60132
- Wisma DPR Kalibata Blok C2/216, Jakarta 12750
Alamat kantor :
Komisi Hukum Nasional, Jalan Diponegoro 64 Lt, Jakarta 10310
|
|
| |
|
|
|
|
| JE SAHETAPY HOME |
|
|
 |
Prof. Dr. J.E. Sahetapy
Penjaga Nurani Hukum dan Politik
Guru Besar Emeritus Unair ini pantas digelari seorang penjaga nurani hukum dan politik.
Ketua Komisi Hukum Nasional RI bernama lengkap Jacob Elfinus Sahetapy,
ini sangat
prihatin pada komitmen dan integritas para penegak hukum. Dalam dunia
politik, anggota DPR dari PDIP ini pun mengatakan politik tanpa moral dan
fatsoen atau etika akan menjerumuskan bangsa ini.
Menurut
Doktor Ilmu Hukum Unair, Surabaya, 1978, ini,
bilamana melihat situasi dan kondisi Indonesia masa kini, sudah
ibarat "Rumah Sakit Gila" yang dihuni sebagian orang yang sudah "gila dan
setengah gila" (gila kekuasaan, KKN, pangkat, dan jabatan) serta
tidak bermoral dan tidak lagi memiliki integritas.
Kesederhanaan, kejujuran dan keteladanannya membuat apa yang
dikatakannya menjadi lebih bernilai dan berbobot serta rasa kebenarannya
menjadi sangat nyata. Prof. Dr. Jacob Elfinus Sahetapy, SH, MA, ini
lahir di Saparua, Maluku, 6 Juni 1932. Ayahnya seorang guru dan ibunya
seorang guru juga.
Tapi ketika masih kecil, Sahetapy sudah harus menghadapi masalah
pelik. Kedua orang tua yang dicintainya harus berpisah. Pasalnya,
ayahnya suka main judi, ibunya minta cerai akibat tidak tahan menanggung
beban. Kemudian sang ibu, Nona C.A. Tomasowa, menikah lagi dengan W.A.
Lokollo setelah berpisah ± 12 tahun dengan suaminya.
Namun demikian, Sahetapy kecil selalu rajin belajar. Ia memulai
pendidikan formalnya di sekolah dasar yang didirikan ibunya sendiri
yakni Particuliere Saparuasche School. Dari ibunya yang sekaligus
gurunya itulah Sahetapy banyak belajar nasionalisme dan keberpihakan
kepada rakyat kecil.
Tapi akibat meletusnya perang pada tahun 1942, sekolahnya sempat
terputus menjelang akhir kelulusannya. Empat tahun berikutnya, 1947,
barulah ia kembali ke sekolah sampai lulus Sekolah Dasar. Lalu ia pun
masuk SM dengan kurikulum 4 tahun. Menjelang lulus, peristiwa RMS
(Republik Maluku Selatan) meledak. Akhirnya Sahetapy pindah ke Surabaya,
bergabung dengan kakaknya, A.J. Tuhusula-Sahetapy. Di kota Pahlawan
itulah ia menamatkan SMA.
Setamat SMA, sebenarnya ia tertarik masuk Akademi Dinas Luar Negeri
(ADLN). Namun ibunya tidak sependapat. Selain itu, ada pula yang
menawarinya masuk sekolah pendeta, tapi ibu pun tidak setuju. Akhirnya,
ia masuk Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di Surabaya (yang
kemudian menjadi Fakultas Hukum Universitas Airlangga).
Semasa kuliah, Sahetapy termasuk mahasiswa yang cerdas. Ia juga
menguasai bahasa Belanda. Tak heran bila kemudian ia dipercaya menjadi
asisten dosen untuk matakuliah hukum perdata di fakultasnya. Kepercayaan
dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga ketika itu Profesor
Gondo-wardoyo, tidak hanya sampai di situ. Bahkan begitu Sahetapy lulus
kuliah, ia ditawari kuliah di Amerika Serikat. Kesempatan itu tidak
disia-siakannya. Ia pun menyelesaikan studinya di AS dalam dua tahun dan
segera balik ke Indonesia.
Namun celakanya, setelah ia tiba di tanah air, Sahetapy harus menerima
tuduhan konyol. Ia diisukan sebagai mata-mata Amerika oleh kelompok kiri
kala itu yang dimotori oleh PKI. Sampai-sampai ia tak diperbolehkan
mengajar. Lalu setelah PKI tumbang, ia juga tidak langsung boleh aktif
mengajar. Sebab ada pula isyu lain yang menyudutkannya, sehingga
Sahetapy harus tabah "menganggur" meski resminya ia adalah dosen FH
Unair. Kondisi ini tidak membuatnya frustrasi. Bahkan semakin menempa
semangatnya untuk membela rakyat kecil.
Buah dari kegigihan dan ketulusannya, beberapa lama kemudian ia
diperbolehkan mengajar kembali. Sampai kemudian pada tahun 1979,
Sahetapy terpilih menjadi Dekan Fakultas Hukum Unair.
Di samping menjadi dosen, doktor yang menulis disertasi berjudul
"Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana" ini sempat juga
menjadi birokrat. Ia pernah menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian
(BPH) Provinsi Jawa Timur dan sempat pula menjadi asisten Gubernur
Mohammad Noor.
Suami Lestari Rahayu ini dikenal sangat kritis. Baik semasa berprofesi
dosen dan birokrat maupun saat menjadi anggota legislatif.
Kritik-kritiknya tajam dan keras. Ia pun dikenal sebagai seorang yang
sungguh bersahaja dalam hidup sehari-harinya.
Ia tinggal di sebuah rumah di kompleks perumahan dosen Universitas
Airlangga, Jalan Darmahusada III. Rumah itu sendiri jauh dari kesan
mewah. Perabotannya biasa saja. Misalnya, sofa di ruang tamunya bukanlah
dari jenis sofa berharga ratusan ribu rupiah. Sehari-hari, untuk
mendukung kegiatannya, ia mengendarai mobil Kijang.
Kesederhanaan ini tidak berobah saat ia menjadi anggota DPR dari PDIP
pada zaman reformasi yang masih kental praktek korupsi ini. Saat
beberapa rekannya, setelah menjadi anggota DPR, tiba-tiba menjadi mewah
dengan mobil-mobil mewah. Sahetapy justru masih kerap jalan kaki dari
tempat tinggalnya, sekitar satu setengah kilometer dari Gedung DPR.
Waktu itu, ia memang tinggal di tempat kerabatnya, dan mengaku tidak
ada taksi yang lewat di lingkungan tersebut. Itu membuatnya harus jalan
sekitar lima ratus meter sebelum bisa menemukan taksi. Tapi, karena
jarak ke Gedung DPR makin dekat, tidak ada taksi yang bersedia
mengantarnya. Jadi, ya, terpaksalah berayun tungkai.
Jelas saja, berjalan kaki di Jakarta yang terik membuatnya berkeringat.
Karena itu setiap hari ia memakai kaos, baru setelah sampai di ruang
kerjanya ganti baju yang dibawanya. Ia juga tergolong orang Indonesia
yang tidak suka memakai jas. Ia pun tidak termasuk anggota DPR yang
memikirkan soal tunjangan mobil, sehingga dari semua perilaku dan
sikapnya, banyak pihak menjulukinya penjaga nurani hukum dan politik.
Bapak tiga anak dan satu anak angkat ini memang seorang tokoh yang
masih memiliki integritas nurani dalam penegakan hukum dan kebenaran.
Hal ini terlihat dari sikapnya sehari-hari. Sikap nurani yang kritis itu
tercermin juga ketika ia mengajukan pertanyaan kepada para calon hakim
agung di DPR. Ia bertanya kepada Benjamin Mangkudilaga, seorang yang
cukup populer sebagai hakim yang jujur dan sederhana, tentang hadiah
rumah yang diterima Benjamin. Tidakkah itu menimbulkan konflik
kepentingan? "
Profesor Sahetapy, yang sudah 40 tahun menjadi dosen di Fakultas Hukum
Unair, tampaknya memang tidak bisa tedeng aling-aling. Seorang calon
hakim dari Gorontalo mengaku sebagai salah seorang muridnya. Entah apa
maksud sang calon, yang kemudian diterimanya adalah semprotan kata-kata
yang keras: "Ya, memang. Tapi saya malu punya murid seperti Anda, karena
menjawab pertanyaan apakah pernah masuk parpol, tidak mengaku. Ternyata
dalam CV, Anda pernah aktif di Golkar."
Itulah Sahetapy yang tidak pernah ragu menyatakan yang benar itu benar
dan yang salah itu salah.
Fatsoen Politik
Bicara soal moral dan sopan santun politik, ia mengutip Charles
Krauthammer: “Alliance with hell is justified as long as it is
temporary.” Diuraikannya, pada zaman otokratisnya Soeharto, yang
tampaknya semua serba teratur dan seolah-olah ada kedamaian, politisi
dan birokrat sesungguhnya hanyalah pion-pion belaka, yang dikendalikan
melalui ancaman terselubung. Dengan perkataan lain, politisi seperti
memiliki moral dan fatsoen politik. Semua yang dikerjakan Soeharto
disambut dengan gembira dan sukacita, seperti tidak ada reserve terhadap
setiap sabda pemimpin yang selalu tersenyum itu.
Anggota Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) dari Fraksi PDIP DPR RI, ini
menggarisbawahi apa yang dikatakan Stalin: "Those who cast the votes
decide nothing. Those who count the votes decide everything." Tetapi,
katanya, hukum alam memutuskan tidak ada yang abadi.
Begitu Soeharto dilengserkan oleh para mahasiswa dan ditusuk dari
belakang oleh para pembantu dekatnya, yang ternyata berwatak Brutus,
tiba-tiba semua berubah. Seperti terjadi iklim pancaroba politik
reformasi. Semua simpul terlepas, semua seperti dibebaskan, dan itulah
yang diperkirakan dengan nama demokrasi.
Reformasi diucapkan di tiap bibir insan Indonesia menurut selera
masing-masing. Terlihat betapa banyak "Dr Jekyll and Mr Hyde", juga
mereka yang mendapat remah-remah KKN untuk diperalat di zaman Soeharto.
Moralitas dan fatsoen atau sopan santun politik hilang tak berbekas
seperti disambar kilat. Orasi-orasi gombal di zaman pemilu dijilat
kembali, dan dengan rekayasa yang tidak bermoral dan tanpa sopan santun
politik, semua kaidah demokrasi dijungkirbalikkan. Dan ketika
titik-titik api terselubung dapat kesempatan disiram bensin dengan
berbagai isu akhir-akhir ini, politikus bermoral picisan dan seperti
tidak tahu abc sopan santun menggerakkan massa -dan itu boleh-boleh
saja, tetapi kemudian dialihkan dan diarahkan, seolah-olah tidak dikenal
adanya amendemen UUD 1945.
Orang acap kali bertanya dan mengharapkan kapan semua itu berakhir.
Apakah politikus picisan yang seolah-olah tidak bermoral dan apakah
negarawan-negarawan yang sok bermoral, masih mau ikut terus menipu
rakyat. Itulah sebabnya Anonymous pernah menulis bahwa "Politicians are
like diapers. They should both be changed frequently and for the same
reason." Memang, apa yang mau diharapkan dari moralitas politisi, kalau
sewaktu bersekolah di SMA dikenal sebagai jago nyontek. Orang sering
lupa bahwa nyontek adalah embrio dari KKN.
Rumah Sakit Gila
Menurut mantan Guru Besar Tamu di Fakultas Hukum Leiden, Belanda dan
Universitas Katholik Leuven, Belgia, ini bilamana melihat situasi dan
kondisi Indonesia di masa kini, tidaklah berkelebihan kalau dikatakan
-tanpa menjadi kasar dan tidak bermaksud melecehkan-, bahwa negara kita
ini ibarat "Rumah Sakit Gila" yang dihuni sebagian orang yang sudah
"gila" (gila kekuasaan, KKN, pangkat, dan jabatan). Sebagian penghuni
sudah setengah "gila" karena keinginan, ambisi yang ambisius tidak
tercapai sehingga berperilaku dan berpikir yang tidak lagi rasional.
Mantan Ketua Asosiasi Kriminologi Indonesia mengatakan ada pula penghuni
yang mengalami "depresi" dan sudah pada tahap fatalistik, karena bingung
melihat gejolaknya kejahatan yang sadistik, KKN ibarat kanker yang
tengah merajalela dengan ganas.
Sebagian penghuni lain seperti sudah kehilangan akal, karena melihat
orang-orang yang begitu tekun menjalankan ibadah agamanya, tetapi kalau
diamati dengan cermat seperti orang-orang ateis yang tidak
berperikemanusiaan, yang amoral, tetapi justru mereka berdalih sebagai
penyelamat dunia ini.
Yang paling besar jumlahnya ingin berteriak tetapi apa daya seperti
tidak berkekuatan karena perut mereka terus keroncongan. Tetapi, mereka
yang di akar rumput ini "have nothing to loose" kalau dihasut untuk
menjadi radikal dan bersedia mati untuk suatu kausa yang mungkin tidak
pernah terpikirkan oleh mereka. Robert M Pirsing Zen pernah menulis,
"When people are fanatically dedicated to political or religious faiths
or any other kinds of dogmas or goals, it's always because these dogmas
or goals are in doubt".
"Rumah Sakit Gila" itu terus diawasi oleh kekuatan besar yang telanjang.
Dan Sang Raja, seperti dituturkan di dunia Barat, berkuda keliling tanpa
busana, dan semua kawula tunduk dengan perasaan malu dan gemas. Raja
mengira mereka menghormatinya, padahal mereka tunduk karena tidak
sanggup melihat ketelanjangannya.
Sejak memasuki Orde Baru, masyarakat Indonesia digiring ke suatu
subkultur tertentu dan dibina untuk menjadi manusia munafik, tetapi
ganas dalam berambisi atau sangat ambisius. Manusia Indonesia menjadi
manusia yang ingin cepat kaya tanpa bekerja keras. Rasa malunya seperti
sudah dimatikan. Orang dilatih untuk selain menjadi panutan dan tidak
boleh berpikiran lain. Otak mereka dicuci secara halus. Kultur retorika
yang kosong dan wacana pagi tempe dan sore tahu, tidak ada yang berani
menegur, sebab bersikap kritis dianggap pembangkangan yang harus
di-Siberia-kan atau di-Pulau Buru-kan.
Petualang-petualang politik dengan dana yang tidak jelas asal-usulnya,
berseliweran di Senayan dan banyak yang berdasi KKN tanpa rasa malu.
Politikus muda yang dulu di SMA jago nyontek, kini bicara ibarat dialah
malaikat yang turun dari surga. Mereka yang dulu menentang status seks
tertentu, kini berbusung dada menghendaki agar perempuan diikutsertakan
di gelanggang kemunafikan.
Pada mulanya mereka menentang berdasarkan dogma. Tidaklah mengherankan
kalau pada permulaan reformasi manusia-manusia yang tidak berhati nurani
itu bisa merekayasa, agar pahlawan peringkat di bawah bisa diusung ke
atas, dan kemudian menjadi Sang Raja. Tetapi dasar serigala berbulu
domba, manusia-manusia berwatak Brutus itu dengan penampilan Pontius
Pilatus, menjatuhkan Rajanya sendiri.
Dan mereka itu dengan sadar atau pura-pura tidak mengerti, bahwa
amendemen konstitusi telah mencabut gigi-gigi yang ingin menghadirkan
Sidang Istimewa MPR untuk melicinkan dan menyukseskan ambisi-ambisi
gelap dengan berpencak silat. Ini tampak ketika orang ribut bertalian
dengan kenaikan dan kesulitan hajat hidup orang banyak. Dan Raja,
seperti atau seolah-olah, tidak atau kurang berempati, apakah mendengar
atau tidak jeritan, tangis dan kemarahan rakyat dan para calon
intelektual yang bertindak acapkali dengan kurang sopan.
Cuci Tangan
Ketua Umum Forum Pengkajian HAM dan Demokrasi Indonesia, ini
mengemukakan kekurangdengaran atau "telmi" mungkin seperti kata orang
Belanda, yaitu: "te diep in het glaasje gekeken", alias minum anggur
terlalu banyak pada pesta akhir tahun. Retorika dan realisme tidak lagi
bersalaman dan berpelukan, sebab gelombang berpikiran antara Senayan dan
Medan Merdeka seperti sudah mengalami "kortsluiting".
Dan seperti Pontius Pilatus, banyak yang main cuci tangan agar bersih
di mata rakyat yang tidak dapat lagi dikibulin.
Kapan sandiwara Petruk ini berakhir, tidak ada yang dapat meramal
kecuali paranormal yang bermain silat dengan kata-kata yang "dibius" dan
yang sampai sekarang selalu gagal dengan ramalan mereka. Dan yang sangat
mengherankan, juga beberapa kaum terpelajar masih tetap percaya kepada
Sang Ratu Adil yang tidak kunjung tiba, entah dari mana asalnya.
Lalu ia teringat pada apa yang dikatakan oleh Franklin Roosevelt tentang
seorang diktator, "He may be a son of a bitch. But he is our son of a
bitch". Politisi yang senang berbohong asal tidak tertangkap basah, para
negarawan yang tidak berhati dermawan, dan para birokrat yang senang
ber-KKN, kiranya sadar bahwa sudah waktunya ada moral dan fatsoen (sopan
santun) dalam berpolitik.
Ia berharap semoga para politisi bermoral dan santun meskipun dalam
jumlah kecil dewasa ini, tetap terpanggil akan gejolak hati nuraninya.
Semua hendaknya benar-benar sadar, seperti dikatakan Mahatma Gandhi,
"The things that will destroy us are: politics without principle,
pleasure without conscience, wealth without work, knowledge without
character, business without morality, science without humanity, and
worship without sacrifice". Tidaklah berkelebihan kalau dikatakan lagi
bahwa politik tanpa moral dan fatsoen atau etika akan menjerumuskan
bangsa ini. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|