| |
C © updated 20102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Mayor Jenderal Marinir Safzen Noerdin
Jabatan:
Komandan Korps Marinir TNI-AL, sejak 9 November 2004
Lahir:
Kruengsabe, Aceh tahun 1952
Istri:
Diah Winarsini
Anak:
Empat perempuan satu laki-laki
Pendidikan:
Akademi Angkatan Laut tahun 1975
Pengalaman Kerja:
Komandan Pendidikan TNI AL
Kepala Staf Komandan Korps Marinir
Komandan Brigade Infanteri 2 Korps Marinir
Wakil Panglima Komando Operasi TNI untuk Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD)
Ketua Joint Security Committee (JSC) dari unsur Pemerintah RI di NAD
Asisten Staf Operasipnal Komandan Korps Marinir
Wakil Komandan Kontingen Garuda XII-B Pasukan Pemeliharaan Perdamaian
PBB di Kamboja
Perwira Kontingen Garuda-IX Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Irak
Sumber:
Kompas, Rabu, 10 November 2004
|
|
| |
|
|
|
|
Safzen Noerdin
Dekat dengan Prajurit
Mayor Jenderal (Marinir) Safzen Noerdin kelahiran Kruengsabe, Aceh tahun
1952 butuh waktu 29 tahun saja untuk menduduki jabatan sebagai Komandan
Korps Marinir TNI-AL. Ia, sejak tanggal 9 November 2004 menggantikan
Mayjen (Mar) Ahmad Rivai. Sebelum diangkat menjadi Komandan Korps Marinir,
dia menjabat Komandan Pendidikan TNI Angkatan Laut. Sedangkan jabatan
Kepala Staf Korps Marinir sudah dipegangnya dua tahun sebelumnya.
Suami dari Diah Winarsini yang memiliki lima anak terdiri empat perempuan
dan satu laki-laki, ini lulus dari Akademi Angkatan Laut tahun 1975. Ia
sekaligus terpilih sebagai satu dari tujuh teman seangkatan yang memasuki
kecabangan marinir. Safzen Noerdin yang dikenal sangat dekat dengan para
prajurit memiliki perjalanan karir yang terbilang mulus. Kedekatan dengan
prajurit berikut kelancaran karir selama berbakti di ‘pasukan katak’
adalah buah dari sikap Noerdin yang selalu bersungguh-sungguh dalam
melaksanakan setiap tugas yang dipercayakan pimpinan.
Kesungguhan Noerdin melaksanakan tugas tampak jelas pada setiap penugasan.
Seperti saat bertugas sebagai Wakil Komandan Kontingen Garuda XII-B
Pasukan Pemeliharaan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang
bertugas di Kamboja. Noerdin yang masih berpangkat mayor marinir ketika
itu bertugas mendampingi Komandan Kontingen Garuda XII-B Letkol Ryamizard
Ryacudu (kini Kepala Staf TNI Angkatan Darat). Semasa bertugas di Kamboja
Noerdin aktif membina hubungan dekat dengan wartawan Indonesia yang
meliput konflik di negeri pagoda itu.
Kamboja bukanlah medan penugasan pertama yang dijalani Noerdin di luar
Korps Marinir. Sebelumnya tahun 1988 Noerdin dipercaya bergabung dalam
Kontingen Garuda-IX yang dikirim ke Irak. Noerdin juga pernah dilibatkan
dalam penyelesaian masalah Aceh duduk sebagai Ketua Joint Security
Committee (JSC) dari unsur Pemerintah RI. Noerdin kemudian menjabat
sebagai Wakil Panglima Komando Operasi TNI untuk Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam.
Kedekatan dengan prajurit membuat Noerdin tak merasa rikuh tatkala
pangkatnya telah dinaikkan dari kononel marinir menjadi brigadir jenderal
marinir namun masih memegang jabatan Komandan Brigade Infanteri 2 Korps
Marinir, jabatan yang diperuntukkan bagi seorang kolonel marinir. Ketika
menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri 2 Korps Marinir itu Safzen
Noerdin berkesempatan menunjukkan kedekatan dan kepeduliannya terhadap
prajurit marinir.
Kedekatan Safzen Noerdin dengan prajurit tumbuh di tengah-tengah tempaan
prajurit Korps Marinir yang didesain menjadi prajurit profesional dan
dicintai rakyat. Hasil tempaan bisa dibuktikan pada saat terjadi kerusuhan
massal pada Mei 1998, demikian pula setelahnya yang memperlihatkan betapa
setiap prajurit Korps Marinir sangat begitu dicintai rakyat.
Walau berhasil merebut hati dan kepercayaan rakyat Noerdin tak mau takabur.
Ia mengakui ada saja satu atau dua orang prajurit Korps Marinir yang
menunjukkan perilaku tidak terpuji. Tetapi Noerdin memastikan bahwa
perilaku demikian adalah ulah orang per orang. Karenanya Noerdin meminta
agar perilaku satu dua orang prajurit Korps Marinir yang demikian jangan
dianggap masyarakat sebagai perilaku seluruh prajurit Korps Marinir.
Kecintaan rakyat kepada Korps Marinir sesungguhnya tidak tumbuh dengan
mudah. Korps Marinir telah terlebih dahulu membuktikan darma bhakti kepada
rakyat. Pada peristiwa kerusuhan massal Mei 1998, misalnya, Safzen Noerdin
yang kala itu menjabat sebagai Asisten Staf Operasipnal Komandan Korps
Marinir, sama seperti para prajurit Korps Marinir lainnya hampir tak
sedikitpun memicingkan mata mengawal rakyat sampai-sampai rela menginap di
sebuah ruangan khusus di samping kamar kerjanya. Noerdin harus
mempersiapkan sebuah pelbed tempat tidur lapangan yang bisa dilipat yang
siap digunakan untuk tidur kapan saja.
Karena ukiran bangku
Safzen Noerdin hingga memasuki pendidikan SMA sesungguhnya belum
terpikirkan mempunyai cita-cita menjadi marinir. Semenjak kecil ia tak
sekalipun pernah bermimpi menjadi marinir. Apalagi ia lahir dan dibesarkan
di Aceh Safzen tak banyak mengetahui berita tentang Korps Marinir yang
saat itu masih bernama KKO kependekan dari Korps Komando TNI AL.
Semangat dan orientasi hidup baru Noerdin baru terbentuk ketika duduk di
bangku SMA. Di situ ia membaca sebuah ukiran nama murid terdahulu yang
duduk di bangku yang sama dengan yang ia duduki.
“Saat di SMA, di bangku saya ada ukiran nama murid terdahulu. Ketika saya
tanyakan kepada kawan saya, siapakah yang mengukir nama itu, kawan saya
menjawab bahwa orang yang mengukir nama itu kini telah menjadi seorang
letnan KKO, pasukan komando Angkatan Laut. Dalam benak saya seketika
muncul pemikiran, ’pasukan komando Angkatan Laut, hebat benar’. Sejak saat
itu keinginan untuk menjadi KKO menjadi cita-cita saya,” jelas Safzen,
yang lupa mengingat-ingat siapa nama letnan KKO yang berhasil mengubahkan
peta perjalanan hidupnya itu.
Setiap perwira yang bergabung dalam Korps Marinir pastilah mempunyai mimpi
sama suatu hari kelak akan dapat mencapai karier tertinggi sebagai
Komandan Korps Marinir. Sebagai mimpi tentu setiap perwira sekaligus
menyadari pula hanya sedikit di antara mereka yang dapat meraih kedudukan
tersebut. Karenanya setiap perwira Korps Marinir yang berhasil mencapai
kedudukan puncak sebagai Komandan Korps Marinir, termasuk Safzen Noerdin
pasti sangat merasakan syukur dan bangga.
“Selain tercatat dalam sejarah, menjadi Komandan Korps Marinir juga sangat
bergengsi. Apalagi hubungan antara personel dalam keluarga besar Korps
Marinir sangat spesial. Hubungan antara yang masih aktif dan yang sudah
pensiun sangat solid,” ungkap Safzen.
Sebagai pejabat baru Komandan Korps Marinir pengganti Mayor Jenderal
Marinir Ahmad Rivai Safzen Noerdin menyebutkan akan melanjutkan kebijakan
yang dilakukan oleh pejabat lama agar kesinambungan kebijakan tetap
terjaga.
“Kesinambungan kebijakan itu diperlukan mengingat perkembangan yang
dialami Korps Marinir ini sudah digariskan Kepala Staf TNI AL lewat
rencana jangka panjang atau blue print 2013,” ujar Safzen.
Tentang pendahulunya, “Harus diakui bahwa Mayor Jenderal (Marinir) Ahmad
Rivai telah berbuat banyak bagi pemekaran Korps Marinir, saya tinggal
melanjutkannya. Di bawah kepemimpinannya, batalyon Korps Marinir yang
tadinya berjumlah enam dikembangkan menjadi sembilan.”
Sebagai komandan baru Korps Marinir yang sudah dimekarkan tantangan yag
dihadapi Safzen Noerdin menjadi tidak terbilang ringan. Terdapat sebanyak
17.000 personel Korps Marinir di bawah kendali kepemimpinannya. Jumlah itu
masih akan terus meningkat hingga mencapai 28.000 personel pada tahun
2013. Safzen Noerdin harus menempa seluruh prajurit Korps Marinir agar
tetap profesional dan dicintai rakyat. Noerdin sekaligus pula harus
memikirkan, ini yang paling hakiki menurut pengakuannya, bagaimana
kesejahteraan prajurit.
“Menjaga standar kehidupan dan menempa prajurit yang profesional itu sama
pentingnya. Dan, untuk dicintai rakyat, prajurit tidak boleh melakukan
tindakan yang merugikan rakyat,” jelas Noerdin. Diingatkannya peningkatan
kesejahteraan prajurit akan dilakukan secara proporsional sesuai dengan
dana yang tersedia. “Kalau dananya tidak ada, saya juga tidak berbuat
apa-apa.”
Apa yang ada di benak Safzen Noerdin sama benar dengan para pendahulu
semua pemimpin Korps Marinir, bahwa pemimpin Korps Marinir memimpin
manusia yang dipersenjatai, bukan sebaliknya memimpin senjata yang
dilengkapi manusia. “Itu sebabnya, tugas yang diemban oleh setiap Komandan
Korps Marinir, termasuk saya tentunya, adalah menempa prajurit Korps
Marinir agar menjadi prajurit yang profesional dan dicintai rakyat,”
katanya. ►ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|