ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
RESENSI
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
R updated 080602
Mohamad Sadli
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Sadli dan "PR" Pemerintahan Pasca-Soeharto 


Judul Buku: 80 Tahun Mohamad Sadli. Ekonomi Indonesia di Era Politik Baru Editor: Mohamad Ikhsan, Chris Manning, Hadi Soesastro, Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Cetakan 1, Juni 2002, Tebal: xxi+423 halaman, Harga : Rp 65.000

Saat direkrut menjadi Tim Ahli Ekonomi Presiden Soeharto (1968-1970-an), usia Prof Dr Mohamad Sadli belum 45 tahun. Keterlibatannya secara intensif dalam pemerintahan Orde Baru sedikit longgar setelah tak lagi menjabat menteri (1978). Tetapi, sampai usia menjelang 80 tahun, ia masih terlibat dengan persoalan pembangunan negara. Dia masih rajin mendatangi seminar, menyampaikan makalah, dan menulis artikel-artikel kolom.
Prof Sadli menjadi bagian dari jatuh-bangunnya Orde Baru, bahkan juga sesudahnya; tidak saja ketika menjadi anggota tim penasihat dengan sebutan sinis "Mafia Berkeley" atau sebagai menteri, tetapi juga saat menjabat dalam lembaga-lembaga ekonomi yang strategis.
Sebagai guru besar di FE UI, kehadirannya tak bisa dipisahkan dengan pengembangan ilmu ekonomi di Indonesia (Ari A Perdana, hlm 231). Sumbangannya terhadap ilmu ekonomi di Indonesia, baik sebagai akademisi maupun seseorang yang sempat terlibat dalam pengambilan kebijakan, merupakan sesuatu yang inspiratif bagi ekonom-ekonom generasi berikutnya.
Buku ini adalah bunga rampai, karangan 38 rekan dan bekas mahasiswa Prof Sadli, diterbitkan untuk menyambut 80 tahun usia Prof Sadli, 10 Juni 2002, berisi 36 artikel, 17 di antaranya dalam bahasa Inggris.
Sederet nama tercantum sebagai penulis, rekan dan bekas muridya, yang dianggap "dekat" dengan Pak Sadli, termasuk HW Arndt yang belum lama ini meninggal. Sekadar kita sebut beberapa: Paul R Deuster, Peter McCawley, John Bresnan, Nono Anwar Makarim, Iwan Jaya Azis, Sjahrir, Sri Mulyani Indrawati, Mari Pangestu, Hadibroto, Iwan Jaya Azis, Mubyarto, dan Faisal H Basri.
Rentangan usia kontributor artikel pun beragam, mulai dari kolega sezaman, seperti Emil Salim sampai yang baru saja lulus seperti Ari A Perdana. Oleh karena itu, benar yang ditulis para editor dalam kata pengantar. Kontributor naskah sebagian besar berasal dari "anak-anak", "cucu-cucu" bahkan "cicit" Pak Sadli.
***
MESKIPUN dimaksud sebagai kado ulang tahun, tentang Sadli hanya ditulis dalam enam judul pada Bab I. Judul lainnya, 30 judul pada Bab II sampai VI, mengupas isu-isu persoalan ekonomi pasar, pemerataan, pertumbuhan, dan globalisasi. Isu-isu itu merupakan bidang yang selama ini menjadi perhatian Pak Sadli.
Dalam 30 artikel tersebut Sadli tidak ditempatkan sebagai titik sentral, tidak juga sebagai tokoh "di atas nampan" artikel-artikel. Artikel-artikel itu bukanlah mozaik untuk memanggungkan Sadli, sesuatu yang selalu dijauhi dengan sikapnya yang low profile.
Dalam buku ini sosok Sadli justru menjadi bagian dari isu-isu ekonomi Indonesia. Karena itu, benar yang ditulis Ari Perdana, kontributor naskah termuda, "Pak Sadli adalah bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu ekonomi di negeri ini". Sosok Sadli yang ditempatkan tidak menonjol, digambarkan sepintas sebagai "bicara ceplas-ceplos", tanpa tedeng aling-aling, easy going di mata rekan Emil Salim (hlm 9) atau di mata wartawan Jakob Oetama (hlm 9), sekaligus familiar di mata HW Arndt (hlm 21).
Oleh karena sebagian besar artikelnya membahas isu-isu negara-bangsa terutama di bidang ekonomi, buku ini bukanlah sebuah buku ringan. Para editornya kaget, sebab seperti dikemukakan Ikhsan-salah seorang editor-semula para kontributor hanya diminta menulis dua atau tiga halaman kesan mereka tentang Pak Sadli. Tetapi, ternyata yang setia memenuhi permintaan itu hanya enam orang, lainnya menulis berbagai isu besar tentang ekonomi-sosial negara bangsa ini, terutama sejak hadirnya Orde Baru sampai upaya pemulihan ekonomi-sosial pasca-Soeharto turun.
Yang kemudian diperoleh adalah artikel-artikel ringkas-pendek, bukan dua atau tiga halaman, melainkan lebih panjang malah ada yang 10 halaman lebih. Isinya tidak hanya refleksi pengalaman atas krisis tahun 1997 berikut dampaknya, bukan hanya jalan keluar yang diusulkan-sayang tak semua dilaksanakan oleh tiga pengganti Soeharto sampai sekarang-tetapi juga klarifikasi bahkan pembelaan diri atas kebijakan pemerintah. Beberapa di antara artikel-artikel itu ibarat rapor (laporan) kepada masyarakat luas.
Pemilihan kata "isu-isu", dirasa cocok, karena persoalan-persoalan yang dibahas sifatnya masih terus diperbicangkan luas. Persoalan dan tawaran persoalan masih belum memperoleh kata akhir. Dalam hal ini kita perlu salut pada ketiga editor. Mereka dengan tepat bisa menempatkan artikel-artikel itu dalam kelompok masing-masing.
***
PENGELOMPOKAN makro ekonomi dan mikro ekonomi (Bab II dan III) memudahkan kita memahami isu-isu persoalan, seperti masalah pemulihan ekonomi (Anwar Nasution), krisis ekonomi diperparah oleh krisis politik (Shin'Ichi Ichimura, hlm 61), jalan keluar yang diusulkan seperti melakukan tindakan-tindakan kecil dalam kerangka yang menyeluruh (J Sudradjat Djiwandono, hlm. 78), otokritik untuk ekonom Indonesia agar jangan jalan di tempat (Sjahrir) atau bagaimana APBN mesti dikelola (Anggito Abimanyu, hlm 129-133), bahkan catatan kritis Ross McLeod soal BI bukan sebagai "dokter" tetapi juga sebagai sumber penyakit (hlm 126).
Masih di bagian ini, disajikan analisis tentang bagaimana otonomi daerah perlu dipahami sebagai desentralisasi kewenangan pemerintah dan bukan desentralisasi kekuasaan (Bambang PS Brodjonegoro, hlm 162), termasuk usulan perbaikan kinerja BUMD (Dibyo Prabowo, hlm 179).
Bab IV yang berisi isu-isu sosial, kemiskinan dan distribusi pendapatan terdiri atas enam tulisan, ditutup tulisan Thee Kian Wie-sebuah tulisan komprehensif tentang kemiskinan bangsa-bangsa dan relevansinya dengan Indonesia (hlm 244-255). Isu-isu krisis Indonesia yang mendominasi bagian ini, dilengkapi dengan isu jender-isu yang belakangan ini menarik perhatian Pak Sadli-yang satu ditulis Ari Perdana yang lain ditulis Mayling Oey Gardiner.
Bab V memuat artikel-artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi dan politik yang membelit Indonesia. Di antaranya mutlak perlunya privatisasi (Mohamad Ikhsan), semacam penjelasan bahwa penyelesaian masalah keuangan tak bisa dicapai tanpa faktor-faktor lain di luar ekonomi (Boediono), maupun bagaimana proses liberalisasi di Indonesia (Hadi Soesastro).
Bab VI memuat isu-isu globalisasi-mengingatkan wilayah perhatian Pak Sadli-di antaranya soal keharusan Indonesia tak boleh ketinggalan dari Cina (Mari Pangestu) atau tantangan dunia usaha (Toshihiko Kinoshita).
Dan Bab VII, bab terakhir buku, membalik kembali sosok Sadli dalam gambar. Jumlahnya tidak banyak, tetapi relatif memberi gambaran Pak Sadli sebagai "kutu buku", punya hobi memotret, setiap akhir pekan berusaha ber-week end bersama istri di Puncak, dan beberapa buah kegiatannya sebagai pejabat pemeritah.
Bab VII dan Bab I seolah-olah membingkai 30 artikel isu-isu Bab II-VI. Dalam kemasan demikian, tampaknya editor mencoba menangkap "pesan sponsor" Pak Sadli, yang tak mau dipestakan, dan selalu tampil low profile.
Serupa sering terjadi dalam kumpulan artikel, satu kekurangan terjadi pula dalam buku ini. Uraian yang sudah ditulis kontributor yang satu ditulis kembali oleh yang lain. Sebagai contoh uraian tentang krisis tahun 1997 baik dengan cara dan sudut pandang masing-masing ditulis oleh beberapa penulis. Dalam redaksi yang berbeda-beda, semua menyebut krisis tahun 1997 diawali dengan krisis keuangan (ekonomi) kemudian berdampak pada krisis multidimensi.
Dengan catatan, sekadar diterima saja istilah "era politik baru", kita bisa menerima judul buku Ekonomi Indonesia di Era Politik Baru. Ke-36 artikel ini akhirnya merupakan catatan-catatan "pekerjaan rumah" (PR) yang harus diselesaikan pemerintahan pasca-Soeharto. Mereka tidak sekadar bercerita tentang Sadli, tetapi sumbangan gagasan tentang apa yang sebaiknya dilakukan bagi pemulihan martabat negara-bangsa Indonesia.
Sudah pasti festschrift semacam itu berkenan bagi Pak Sadli, seorang ekonom Indonesia yang produktif. (Tokoh Indonesia, Repro Kompas/ST Sularto)


  Penulis

Penulis Resensi: ST Soelarto, Wartawan Kompas.

Editor: Mohamad Ikhsan, Chris Manning, Hadi Soesastro

 Resensi

Kupas Soeharto

 

  Artikel Lainnya

 

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero