| |
C © updated
02092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Letnan Jenderal Anumerta S. Parman
Lahir:
Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918
Agama:
Islam
Pendidikan Umum Terakhir:
Sekolah Tinggi Kedokteran (tidak tamat)
Pendidikan Lain:
Kenpei Kasya Butai
Pendidikan Tentara:
Military Police School, Amerika Serikat.
Pengalaman Pekerjaan:
Jawatan Kenpeitai
Karier Militer:
- Tahun 1964, Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat
(Men/Pangad)
- Tahun 1959, Atase Militer RI di London
- Staf di Kementerian Pertahanan
- Maret tahun 1950, Kepala Staf G
- Desember tahun 1949 Kepala Staf Gubernur Militer
Jakarta Raya.
- Tahun 1945, Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara
(PT) di Yogyakarta
- Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
Tanda Penghormatan:
Pahlawan Revolusi
Meninggal:
Jakarta, 1 Oktober 1965
Dimakamkan:
Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta |
|
| |
|
|
|
|
Letnan Jenderal Anumerta S. Parman
(1918-1965)
Setia Pada Pancasila
Kata orang bijak, fitnah lebih kejam
daripada membunuh. Dan apa yang dilakukan oleh PKI pada tujuh perwira
pada malam 30 September 1965 jauh lebih kejam lagi. Setelah memfitnah
dengan menyebutkan bahwa para Jenderal itu telah bekerjasama dengan satu
negara luar untuk menjatuhkan Presiden Soekarno, PKI juga menculik dan
membunuh perwira-perwira tersebut secara sadis dan biadab. Letjen.
Anumerta S. Parman yang waktu itu menjabat sebagai Asisten I
Menteri/Panglima Angkatan Darat termasuk salah satu dari ketujuh perwira
tersebut.
Pria kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah ini merupakan
perwira intelijen, sehingga banyak tahu tentang kegiatan rahasia PKI
karena itulah dirinya termasuk salah satu di antara para perwira yang
menolak rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari
buruh dan tani. Penolakan yang membuatnya dimusuhi dan menjadi korban
pembunuhan PKI.
Perwira yang gugur sebagai Pahlawan Revolusi ini
lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Pendidikan umum yang
pernah diikutinya adalah sekolah tingkat dasar, sekolah menengah, dan
Sekolah Tinggi Kedokteran. Namun sebelum menyelesaikan dokternya,
tentara Jepang telah menduduki Republik sehingga gelar dokter pun tidak
sampai berhasil diraihnya.
Setelah tidak bisa meneruskan sekolah kedokteran,
ia sempat bekerja pada Jawatan Kenpeitai. Di sana ia dicurigai Jepang
sehingga ditangkap, namun tidak lama kemudian dibebaskan kembali.
Sesudah itu, ia malah dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan pada
Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya ke tanah air ia kembali lagi bekerja
pada Jawatan Kempeitai.
Awal kariernya di militer dimulai dengan mengikuti
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yang dibentuk setelah
proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulanDesember, tahun 1945, ia
diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di
Yogyakarta.
Selama Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang
dengan melakukan perang gerilya. Pada bulan Desember tahun 1949 ia
ditugaskan sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Salah satu
keberhasilannya saat itu adalah membongkar rahasia gerakan Angkatan
Perang Ratu Adil (APRA) yang akan melakukan operasinya di Jakarta di
bawah pimpinan Westerling. Selanjutnya, pada Maret tahun 1950, ia
diangkat menjadi kepala Staf G. Dan setahun kemudian dikirim ke Amerika
Serikat untuk mengikuti pendidikan pada Military Police School.
Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia ditugaskan di
Kementerian Pertahanan untuk beberapa lama kemudian diangkat menjadi
Atase Militer RI di London pada tahun 1959. Lima tahun berikutnya yakni
pada tahun 1964, ia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima
Angkatan Darat (Men/Pangad) dengan pangkat Mayor Jenderal.
Ketika menjabat Asisten I Menteri/Panglima Angkatan
Darat (Men/Pangad) ini, pengaruh PKI juga sedang marak di Indonesia.
Partai Komunis ini merasa dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian
rakyat pun sudah terpengaruh. Namun sebagai perwira intelijen, S. Parman
sebelumnya sudah banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Maka ketika PKI
mengusulkan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai atau yang disebut
dengan Angkatan Kelima. Ia bersama sebagian besar Perwira Angkatan Darat
lainnya menolak usul yang mengandung maksud tersembunyi itu. Dengan
dasar itulah kemudian dirinya dimusuhi oleh PKI.
Maka pada pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI
tanggal 30 September 1965, dirinya menjadi salah satu target yang akan
diculik dan dibunuh. Dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen.
TNI Anumerta S. Parman bersama enam perwira lainnya yakni Jend. TNI
Anumerta Achmad Yani; Letjen. TNI Anumerta Suprapto; Letjen. TNI
Anumerta M.T. Haryono; Mayjen. TNI Anumerta D.I. Panjaitan; Mayjen. TNI
Anumerta Sutoyo S; dan Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Tendean berhasil
diculik kemudian dibunuh secara membabi buta dan jenazahnya dimasukkan
ke sumur tua di daerah Lubang Buaya tanpa prikemanusiaan.
S. Parman gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk
mempertahankan Pancasila. Bersama enam perwira lainnya ia dimakamkan di
Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor
Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai
penghargaan atas jasa-jasanya.
Untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, oleh
pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya
sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional.
Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, di depan sumur tua tempat
jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ketujuh
Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamai Tugu Kesaktian
Pancasila. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|