| |
C © updated 17102007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sp |
|
| |
Nama:
Prof Dr A Sartono Kartodirdjo
Lahir:
Wonogiri, Jawa Tengah, pada 15 Februari 1921
Meninggal:
Yogyakarta, 7 Desember 2007 pukul 00.45 wib
Profesi:
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta
Isteri:
Sri Kadarjati (nikah 1948)
Anak:
Dua orang
Ayah:
Tjitrosarojo
Ibu:
Sutiya
Pendidikan:
- Sarjana, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI (1956)
- Master dari Universitas Yale, AS (1964)
- Doktor dari Universitas Amsterdam, Belanda (1966)
Karir:
- Guru SMA di Jakarta
- Dosen dan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM),
Yogyakarta
- Koordinator Nasional UNESCO
- Ahli peneliti pada Institute of South East Asian Studies, Singapura.
Karya, al:
- Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I Zaman Kerajaan, dan Jilid II
Pergerakan Sejarah Nasional.
- The Peasants Revolt of Banten in 1888 (1966)
- Protest Movements in Rural Java diterbitkan Oxford University Press
(1973)
- Ratu Adil (1984)
- Modern Indonesia, Tradition and Transformation (1984)
- Indonesian Historiography (2001) |
|
| |
|
|
|
|
| SARTONO K HOME |
|
|
 |
Prof Dr A Sartono Kartodirdjo
Mahaguru Sejarah Indonesia
Prof Dr A Sartono Kartodirdjo, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas
Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, meninggal dunia di Rumah Sakit Panti
Rapih, Yogyakarta, Jumat 7 Desember 2007 pukul 00.45 WIB. Penulis buku
Pengantar Sejarah Indonesia Baru, kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 15
Februari 1921, itu memperkenalkan pendekatan multidimensi dalam
penulisan sejarah.
Dia pionir generasi baru sejarawan Indonesia yang menerapkan metode
penelitian modern dalam lingkup studi sejarah.
Sejak setahun terakhir sudah telah dua kali dirawat di rumah sakit.
Menurut putranya, Nimpuno, Sartono masuk RS Panti Rapih, Kamis
(6/12/2007) malam, karena kondisi kesehatannya memburuk. Sebelumnya dia
dirawat di rumah. Dia memang sudah lama sakit dan sudah sulit makan
sendiri. Jenazah disemayamkan di rumah duka kompleks rumah dinas dosen
UGM Bulak Sumur, Yogyakarta. Upacara penghormatan terakhir dilakukan di
Balairung UGM. Dimakamkan di makam keluarga Astana Kadarismanan, Lemah
Abang, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/11/2007) siang.
Alamarhum Sartono meninggalkan seorang isteri, Sri Kadarjati,
sama-sama berprofesi guru, yang dinikahinya pada 1948, dan dikaruniai
dua anak.
Sartono dilahirkan sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara kandung
buah hati pasangan Tjitrosarojo (ayah) dan Sutiya (ibu) pada tengah
malam di Wonogiri, 15 Februari 1921. Dia dibesarkan dalam ruang sosial
budaya abangan, sebagai lingkungan paling awal pembentukan jati dirinya.
Kemudian melalui dunia pendidikan formalnya di HIS, MULO, dan HIK, dia
menyerap nilai budaya Barat. Terutama di HIK Muntilan, selain menyerap
budaya Barat, Sartono juga menyerap nilai-nilai dan ajaran Kristiani
secara lebih intensif. Sebab di HIK, dia mendapat pendidikan
khusus sebagai (calon) bruder. Kendati dia tidak jadi bruder, karena
akhirnya memilih karier sebagai guru, nilai-nilai yang diajarkan selama
di HIK tetap menjadi pemandu dalam perjalanan hidupnya.
Sebelum menjadi dosen di UGM, Sartono mengajar di SMA di Jakarta,
sambil kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), dan
menyelesaikannya tahun 1956. Kemudian tahun 1959, Sartono menjadi
dosen di UGM, dan di FKIP Bandung. Kemudian dia meraih gelar master dari
Universitas Yale, AS (1964).
Gelar doktor diraih dari Universitas Amsterdam, Belanda (1966) dengan
disertasi: "The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s
Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in
Indonesia" (Pemberontakan Petani Banten 1888). Disertasi ini dinilai
sebagai batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia. Sebuah karya
sarjana sejarah Indonesia pertama yang mengangkat peran wong cilik ke
atas panggung sejarah, yang sebelumnya selalu diisi kaum elite,
konvensional dan Neerlandosentris.
Penulisan disertasi ini, diakuinya didorong oleh hasrat melancarkan
protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan
Neerlandosentris. Menurut M Nursam Alumnus Ilmu Sejarah UGM, yang tengah
menulis Buku Biografi Sartono Kartodirdjo (masih dalam Proses Penerbitan),
Sartono dengan menggunakan social scientific approach, memberikan cahaya
terang dalam perkembangan dan arah historiografi Indonesiasentris. "Petani
atau orang-orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi nonfaktor,
dalam karya Sartono menjadi aktor sejarah," tutur M Nursam.
Kemudian dia dikenal sebagai seorang sejarawan yang berperan bagi
pengembangan ilmu sejarah di Indonesia dengan memperkenalkan pendekatan
multidimensi dalam penulisan sejarah.
Tahun 1968, dia dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Sastra UGM.Dia
seorang mahaguru sejarah Indonesia yang telah menghasilkan banyak ahli
sejarah yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Murid-muridnya itu
pula yang menjadi benang penyambung ide dan gagasan Sartono. Menurutnya,
sejarawan harus tetap berpegang pada etos yang disebut mesu budi.
Istilah itu dia sadur dari Serat Wedatama, yang bermakna mengandalkan
kekuatan batin dan tidak bertumpu pada kemegahan dunia.
Puluhan buku dan ratusan artikel telah lahir dari tangannya. Pada
tahun 2001, pada usia ke-80, Sartono masih menerbitkan buku berjudul
Indonesian Historiography. Baginya, usia bukan alasan untuk berhenti
berkarya. Menurutnya, kerja seorang ilmuwan adalah kerja tanda henti.
Dalam berbagai kesempatan, Sartono sering kali mengingatkan bahwa
ilmuwan "jangan seperti pohon pisang, yang hanya berbuah sekali kemudian
mati." Dia juga sering mengingatkan bahwa sikap asketis menjadi
esensi dari keahlian seorang profesional. Menurutnya, apa yang
dihasilkan adalah buah dari asketisme yang dihayatinya secara
terus-menerus melalui ketekunan, ketelitian, ketuntasan serta
kesempurnaan teknis.
Prof Dr Sartono Kartodirdjo ikut berperan dalam penulisan buku sejarah
pada 1987 dan 1990 itu. Tapi dalam nama tim penulis nama Sartono hanya
muncul hingga jilid II. Pada jilid III sampai VI namanya tiba-tiba
hilang.
Lalu Sartono melepas kekecaawannya dengan menulis sendiri buku Pengantar
Sejarah Indonesia Baru (Jilid I berisi Zaman Kerajaan, dan Jilid II
berisi Pergerakan Sejarah Nasional).
Sebelumnya Sartono sudah menulis The Peasants Revolt of Banten in 1888
(1966); Protest Movements in Rural Java, diterbitkan Oxford University
Press (1973); Ratu Adil (1984); dan Modern Indonesia, Tradition and
Transformation (1984).
Kepakarannya di bidang sejarah tidak hanya diakui di dalam negeri tetapi
juga di mancanegara. Dia pernah berperan sebagai Koordinator Nasional
UNESCO, dan ahli peneliti pada Institute of South East Asian Studies,
Singapura. Berbagai penghargaan dari lembaga internasional dan
universitas mancanegara telah dianugerahkan padanya.
Sebagaimana dikutip M Nursam, salah seorang kolega Sartono, Joseph
Fischer, dari University of California, mengatakan, "Bagi saya, Pak
Sartono merupakan kombinasi dari tokoh Arjuna, Gatotkaca, dan Semar.
Arjuna karena kehalusan sikapnya. Gatotkaca karena kejujurannya, dan
Semar karena kearifannya. Pak Sartono benar-benar seorang cendekiawan
profesional dan seorang guru yang baik."
►ti-hotsan, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|