| |
C © updated 05122006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Ryan Lalisang
Lahir:
B
Juara:
Juara Boling Putra Asian Games 2006
Alamat Rumah:
|
|
| |
|
|
|
|
| RYAN LALISANG HOME |
|
|
 |
Ryan Lalisang
Sang Juara Boling Asian Games 2006
Ryan Lalisang, Sang Juara Boling! Dia peraih medali emas pertama bagi
tim Indonesia di Asian Games 2006. Medali emas pertama juga bagi cabang
boling Indonesia di Asian Games dan pertama pula buat Ryan yang baru
pertama kali tampil di Asian Games. Pemuda putus kuliah ini memecahkan
rekor enam game pertama di ajang Asian Games 2006 dengan angka tertinggi
1.442 pin di nomor tunggal putra dan angka rata-rata 240,3 pin.
Pencapaian itu melampaui rekor lama yang 1.408 pin oleh Kritchawat
Jampakao (Thailand) yang tercipta di Asain Games Bangkok 1998. Dia juga
nyaris mencatat nilai sempurna dengan pencapaian 299 pin, hanya satu
kurangnya dari 300 pin. Hasil itu dia buat pada game kedua dan
mengantarkannya ke puncak peraih angka tertinggi guna merebut emas. Emas
pertama bagi bangsa Indonesia.
Sebelumnya, pencapaian tertinggi boling Indonesia di Asian Games
adalah medali perak, yang diraih Hendro Pratono di Hiroshima 1994, dan
perak Putty Armein beberapa jam sebelumnya.
Prestasi yang ditorehkan Ryan dari cabang boling, di samping buah
dari latihan kerasnya selama ini, juga tak luput pengalaman dan jam
terbangnya bertanding di level internasional.
Ryan menyebutkan, atas biaya sponsornya Lintasan Jaya Boling Ancol
Jakarta, ia dapat mencicipi berbagai kejuaraan di mancanegara. Satu
tahun rata-rata enam kali. Pengalaman bertambah dan mental kian terasah.
"Padahal, lawan-lawan yang dihadapi pun sebenarnya juga itu-itu saja,"
katanya lugas.
Sebelum menjuarai tunggal putra Asian Games 2006, Ryan adalah juara
tunggal putra di Kejuaraan Asia Boling 2006 di Jakarta, Agustus lalu. Ia
juga mempersembahkan emas tunggal putra di SEA Games XXIII 2005 Manila.
Maka, ia menyarankan agar para peboling Indonesia lebih sering mendapat
dukungan dan kesempatan bertanding di luar negeri.
"Mudah-mudahan saja olahraga boling lebih diperhatikan lagi. Lebih
banyak bertanding ke luar negeri, lebih baik. Kesempatan itu juga tidak
untuk satu-dua orang saja, tetapi pada semua anggota tim agar tim boling
kita kuat," ungkapnya yakin.
Menurut pria berkacamata ini, seperti cabang olahraga lainnya, jam
terbang di level internasional penting. Kian banyak kompetisi yang
diikuti, kian matang mental. Kepercayaan diri meningkat dan kian pandai
mengukur kemampuan diri.
Putus kuliah
Ryan merasa beruntung, sebagai peboling putra nomor satu di Tanah Air
dia memiliki sponsor sehingga dapat sering berlaga ke banyak negara.
Namun, ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar.
Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, harus
terhenti di semester empat. Sponsor mewajibkan dirinya sering bertanding
ke luar negeri. Itu berarti ia harus sering meninggalkan kuliah.
Namun, Ryan sudah tahu ke mana akan melangkah. Sambil mematangkan diri
menjadi peboling tangguh, ia tidak ingin melupakan pentingnya pendidikan
bagi masa depannya kelak.
"Kalau ada dana, saya mau sekolah boling ke Amerika Serikat (AS). AS
masih pusat olahraga boling," ujar lulusan SMA Negeri III Setia Budi,
Jakarta, itu.
Sudah 11 tahun dia selalu terpilih sebagai peboling pelatnas, sejak SEA
Games XIX 1997. Ketika itu, dia masih remaja dan menjadi yang paling
bungsu.
Kini, pengorbanan Ryan terasa manis setelah ia berhasil memboyong emas
di Asian Games. Ia belum puas dan masih ingin mengukir prestasi. Setelah
Doha, dia membidik Kejuaraan Dunia Antarbenua, yang diikuti delapan
peboling terbaik dari Asia, Eropa, dan Amerika.
Sepenuh hati dia memilih jalur olahraga boling sebagai bagian hidupnya.
Boling adalah jalan hidupnya. Ryan berharap prestasinya terus
menggelinding, seperti gelindingan bola yang dilemparkannya di arena
boling.
Angka Tertinggi
Ketika pertama kali mencoba lintasan Qatar Bowling Centre, Doha,
peboling putra Indonesia, Ryan Leonard Lalisang (26), sudah menduga:
bakal ada skor tinggi di Asian Games 2006. Ternyata, dia terkejut ketika
dirinya pencipta rekor tersebut di Asian Games, Minggu (3/12/2006).
Tidak pernah dia menduga dirinya dapat tampil begitu meyakinkan,
mengingat persaingan luar biasa berat. Dia memecahkan rekor enam game
pertama di ajang Asian Games 2006 dengan angka tertinggi 1.442 pin di
nomor tunggal putra dan angka rata-rata 240,3 pin. Pencapaian itu
melampaui rekor lama yang 1.408 pin oleh Kritchawat Jampakao (Thailand)
yang tercipta di Asain Games Bangkok 1998.
Dia juga nyaris mencatat nilai sempurna dengan pencapaian 299 pin, hanya
satu kurangnya dari 300 pin. Hasil itu dia buat pada game kedua dan
mengantarkannya ke puncak peraih angka tertinggi guna merebut emas. Emas
pertama bagi bangsa Indonesia.
"Saya senang banget dan tidak menyangka dapat emas. Setelah selesai
main, saya sempat merasa tidak bakal tergeser, tetapi persaingan merebut
poin sangat tinggi," ujar Ryan dengan wajah berbinar gembira.
Lucunya, Ryan justru belum tahu sudah mendapat emas saat berangkat
tidur, Minggu malam. Ia baru tahu dirinya menerima emas setelah bangun
tidur, keesokan harinya, melalui manajer tim, Ongky Priyongko.
Bagi si bungsu dari tiga bersaudara pasangan Robert J Lalisang dan
Yvonne Kalesaran itu, mencetak angka sempurna tidak ada artinya jika
gagal meraih emas. Sepanjang kariernya, dia 14 kali mencatat nilai
sempurna. Terakhir, pada Kejuaraan Dunia Boling Qubica AMF di Caracas,
Venezuela, November lalu. "Itu tidak ada artinya kalau tidak mendapat
emas," katanya.
Maklum, sebelumnya peboling putri Putty Insavilla Armein, yang tampil
enam game di tunggal putri, juga memecahkan rekor Asian Games. Namun,
medali emas melayang karena poin peboling Malaysia, Mei Lan Esther
Cheah, lebih tinggi. Putty harus puas dengan perak, medali pertama
Indonesia di Doha.
Selama pertandingan, Ryan mengaku sempat mengalami kendala pada game
pertama. Turun di lintasan 13-14, ia kesulitan mengendalikan bola
sehingga meraih skor terendah dalam enam game, 200 pin.
"Dua lemparan pertama, bola tidak belok. Baru lima lemparan terakhir
saya bisa menyesuaikan diri. Game-game berikutnya, bola mau belok,"
tuturnya.
Di game kedua, ia mencetak skor tertinggi, yakni 299 pin, sekaligus
memecahkan rekor satu game 290 yang dibuat peboling Filipina, Virgilio
Sablan, di Asian Games 1998. Namun, skor itu hanya sehari karena Nayef
Eqab Al Abadla (Uni Emirat Arab) membukukan nilai sempurna 300 pin di
game keenam saat turun di nomor ganda bersama Jamal Ali Mohammad.
"Dengan lintasan yang ada, sudah diprediksi akan menghasilkan skor-skor
tinggi. Pelatih meyakinkan kami untuk mencapainya. Tinggal kami bisa
membaca situasi atau tidak," papar pemuda kelahiran Balikpapan, 2
Agustus 1980 tersebut. (MH Samsul Hadi, Kompas, Selasa 5 Desember 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|