|
|
 |
Nama:
Dra Rustriningsih Msi
Lahir:
Kebumen, 3 Juli 1967
Agama:
Islam
Suami:
H. Soni Achmad Saleh Ashari (Menikah 13 Juni 2004 di Kebumen)
Jabatan:
Bupati Kebumen 2000-2005
Pendidikan:
S1 FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
S2 Magister Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM)
Organisasi/Karir
Ketua DPC PDIP Kebumen
Anggota Fraksi PDIP MPR 1999-2000
Alamat Kantor:
Jalan Veteran No.2 Kebumen
Telp. (0287) 81728
Fax. (0287) 81423
Alamat Rumah:
Jalan Mayjen Sutoyo No.1
Telp. (0287) 81626
Sumber:
Suara Pembaruan 24/1/2003, Sinar Harapan 12/6/2004, Pikiran
Rakyat 14/6/2003 dan berbagai sumber
|
|
Dra Rustriningsih Msi
Srikandi Kabupaten Kebumen
Ia srikandi, bupati premempuan pertama Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kiprah alumni S2 Magister Administrasi Negara
Universitas Gadjah Mada (UGM), ini dalam dunia politik sebagai Ketua DPC PDIP
Kebumen telah menghantarnya menjabat bupati (2000-2005) di daerah yang dikenal
sebagai penghasil sarang burung walet alami itu. Pelayanannya kepada warga Kebumen
melalui radio dan SMS (short message service) turut membantu membawa masyarakat
Kebumen ke gerbang kesejahteraan yang lebih baik.
Sewaktu masih kecil, Dra Rustriningsih, MSI yang lahir 3 Juli 1967 sudah akrab dengan 'atmosfir'
politik di rumahnya. Ayahnya seorang aktivis partai PNI, sering membuat rapat di rumah mereka di
Gombong membicarakan soal pembebasan tanah dan pejabat korupsi. Dalam berbagai kesempatan, Rustri
kecil sering ikut nimbrung mendengarkan dan tanya-tanya sama ayahnya.
Kini, sebagai Bupati, realita sosial di tengah masyarakat seperti kesenjangan
ekonomi, kemiskinan dan pengangguran yang dilihatnya di kala beranjak
dewasa dan sekarang justru semakin menjadi-jadi membuat nuraninya berteriak
sehingga memaksanya bertindak lebih nyata agar lebih dekat dengan warganya.
Ia lalu membuka pelayanan publik melalui program radio dan SMS (short
message service). Di kala mentari baru saja terbit di ufuk timur, ia
menyapa warga Kebumen dengan lembut melalui radio In FM 90+. Lewat program
radio ini, berbagai keluhan dan persoalan warga Kebumen yang disampaikan
lewat telepon, ia dengarkan dengan serius dan sabar, lalu ia bantu dengan
memberikan masukan dan jalan keluar.
Perempuan lajang berusia 35 tahun yang semasa kuliah suka membaca dan mengkliping halaman
opini di koran ini, juga mempersilakan warganya untuk mengadukan berbagai permasalahan
mereka lewat SMS (short message service) yang akan dibacanya secara pribadi. Tentu saja,
tak ketinggalan pula, SMS 'rindu' dari kekasihnya, Don Murdono (44), Bupati Sumedang, yang
baru dilantik beberapa bulan lalu.
Dalam kancah politik pemilihan bupati hari Rabu 15/3/02 lalu, ia memenangi pemilihan bupati
dalam Sidang Paripurna Khusus DPRD Kebumen. Ia yang berpasangan dengan Kiai Nashirudin Almansyur,
meraih 22 suara, mengalahkan pasangan pesaingnya Rahardjo Mocharor - H Farid Subagyo
yang meraih 20 suara. Sebanyak 43 anggota DPRD hadir dalam acara itu. Ia dilantik 23 Maret 2000.
Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto (1991) itu saat pemilihan menjabat Ketua DPC PDI Kebumen dan
anggota Fraksi PDIP MPR. Namun, kemenangan anak kedelapan dari 10
bersaudara untuk memimpin kabupaten berpenduduk 1,2 juta jiwa yang
tersebar di 460 desa itu tidak mulus. Sebab, ada saja pihak yang mendesak
agar dia mengundurkan diri dari pencalonan, dengan alasan yang
bersangkutan seorang perempuan. "Aneh pada era reformasi dan keterbukaan
masih ada orang berpikiran sempit seperti itu," ujar Rustriningsih ketika
itu.
Kabupaten Kebumen yang berada di jalur selatan Jawa Tengah berbatasan
dengan Kabupaten Banyumas di bagian barat dan Kabupaten Purworejo di
bagian timur, dikenal sebagai penghasil sarang burung walet alami yang
terdapat di gua-gua yang ada di Pantai Karang Bolong. Dalam tiga tahun
kepemimpinan perempuan lajang yang alumni S2 Magister Administrasi Negara
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini ternyata berhasil membawa
masyarakat Kebumen ke gerbang kesejahteraan yang lebih baik.
Mbak Rustri (panggilan akrab Rustriningsih) memang layak disebut sebagai
Srikandi-nya Kebumen. Selain cerdas, cantik, juga pintar memimpin dengan
naluri kewanitaannya yang halus, kata Gubernur Jateng H Mardiyanto
mengomentari keberhasilan Rustriningsih sebagai Bupati Kebumen, saat
berkunjung ke Kebumen baru-baru ini.
Menurut Gubernur, sejak Rustriningsih menjabat bupati, pembangunan di
daerah ini cukup pesat. Hasil pembangunan yang terbaru adalah Jembatan
Karangbolong yang melintas di atas Sungai Suwuk yang menjadi penghubung
Kecamatan Puring dengan Kecamatan Ayah.
Jalur selatan-selatan di Kabupaten Cilacap dari
Patimuan-Sidareja-Jeruklegi sepanjang 58,95 kilometer dengan lebar 4
sampai 5 meter, serta jalur Adipala Cilacap - sampai Bodo Kebumen
sepanjang 28,3 kilometer dengan lebar 5 meter, kini sudah mulus dengan
konstruksi aspal hotmix.
Sedang di jalur Kalibodo, Kabupaten Kebumen, sampai Wawar, Kabupaten
Purworejo, sepanjang 60 kilometer dengan lebar 4-5 meter, konstruksinya
masih penetrasi. Demikian pula jalur Kabupaten Purworejo mulai dari Wawar
Purworejo sampai Congot Kulonprogo sepanjang 23,23,45 kilometer dengan
lebar 4,5 km konstruksinya juga masih penetrasi.
Banyak Cobaan
Dalam memimpin Kebumen, sebagai orang nomor satu di daerahnya, ia yang
kebetulan wanita, sering mendapat cobaan berat dalam melaksanakan tugas.
Menurutnya, di Kabupaten Kebumen yang baru saja merayakan HUT-nya ke-67
pada 1 Januari 2003 itu (Hari jadi Kebumen itu ditetapkan berdasarkan
peristiwa bersejarah yaitu penggabungan Kabupaten Karanganyar (sekarang
Kecamatan Karanganyar) dan Kabupaten Kebumen oleh Gubernur Jenderal Hindia
Belanda De Joung pada 1 Januari 1936), masih banyak yang harus dibenahi.
Selain itu, bencana alam selalu datang silih berganti. Pada awal musim
hujan saja sudah terjadi banjir, tanah longsor, dan angin ribut.
"Pada malam HUT Kebumen yang ke-67 lalu, saya merenung apa yang telah saya
perbuat tahun lalu, apa manfaatnya bagi masyarakat Kebumen? Apa pula yang
harus saya perbuat di tahun mendatang?" katanya. Walaupun seorang wanita,
ia merasa setara dengan pria dalam memimpin suatu daerah.
Menurut Rustri, cobaan selalu datang silih berganti. Ia sering meneteskan
air mata bila melihat warganya menjadi korban bencana alam. Misalnya
melihat warga yang kehilangan rumah tinggal karena bencana tanah longsor
atau banjir. Bukan hanya itu, harta benda miliknya juga banyak yang hilang
sehingga para korban banjir sangat menderita.
"Kalau melihat nasib rakyat seperti ini, saya begitu bersemangat mencari
dana untuk rehabilitasi serta mencari lahan untuk merelokasi warga yang
kehilangan tempat tinggal," tambahnya. Setiap kali terjadi bencana alam,
Rustri mengaku tidak hanya semakin prihatin, tapi juga semakin mawas diri,
merenungkan apa yang telah terjadi serta berintrospeksi.
Mendongkrak PAD
Sebagai bupati, keberhasilan Rustri yang cukup spektakuler adalah
mendongkrak Penghasilan Asli Daerah (PAD). Pada awal menjabat, PAD
Kabupaten Kebumen tercatat hanya Rp 6 miliar. Kini setelah tiga tahun,
PAD-nya naik menjadi Rp 23 miliar. Saya belum berhasil menaikkan PAD dalam
arti yang sesungguhnya. Saya akan merasa berhasil bila semua rakyat merasa
sejahtera hidupnya, ujarnya merendah.
Rustri juga masih sangat berharap pada partisipasi masyarakat dalam
pembangunan di daerahnya, terutama dalam pemantapan Otonomi Daerah.
Menurutnya, awal pelaksanaan Otonomi Daerah di Pemkab Kebumen adalah
menyelenggarakan pelayanan dasar di bidang pendidikan, kesehatan
permukiman, dan prasarana wilayah (kimpraswil).
Saat ini bidang pendidikan di Kabupaten Kebumen masih penuh dengan
keprihatinan. Ratusan gedung SD rusak berat dan sudah mendesak harus
segera diperbaiki. Belasan gedung SD yang ambruk harus dibangun kembali.
Bila Pemkab melakukan sendiri dalam pekerjaan perbaikan, apalagi bila
dengan cara reguler ditenderkan, maka satu sekolah saja anggarannya bisa
mencapai Rp 30 juta. Namun dengan mengajak masyarakat ikut berpartisipasi,
maka dana yang disediakan Pemkab cukup Rp 5 juta sampai Rp 6,5 juta untuk
perbaikan gedung.
Menurut Bupati Kebumen, tingkat swadaya masyarakat dalam perbaikan gedung
SD pada tahun 2002 lalu cukup tinggi mencapai 80 persen. Sedang dana
stimulan sebesar Rp 13,3 miliar untuk membangun 695 lokal, nilainya hanya
20 persen. Model yang dilakukan Rustriningsih ini dijadikan model nasional,
dan dikampanyekan setiap hari sebagai iklan layanan masyarakat melalui
layar kaca televisi. Dalam iklan tersebut ditonjolkan pemerintah mengajak
peran serta masyarakat dalam memperbaiki gedung sekolah yang rusak.
Dana Bencana Alam
Kebumen yang memiliki daerah bencana banjir rutin serta tanah longsor
harus menyediakan dana khusus untuk penanggulangan bencana alam. Di bidang
kimpraswil, dana tersebut dirasakan sangat berat. Apalagi bila harus
menanggung biaya relokasi korban tanah longsor.
Tahun lalu dana untuk perbaikan prasarana umum seperti jalan, irigasi,
saluran air dan kantor pemerintah kecamatan mencapai Rp 6 miliar. Sedang
di bidang kesehatan, Pemkab berusaha terus meningkatkan pelayanan
kesehatan di puskesmas-puskesmas. Bahkan di puskesmas-puskesmas telah
dipasang jaringan data komputer yang bisa online dari tiap puskesmas, dan
mampu mendeteksi secara dini jika terjadi wabah penyakit di suatu wilayah
. Selain itu data kesehatan masyarakat di setiap kecamatan bisa langsung
terpantau.
Menurut Rustriningsih, Tahun 2003 ini merupakan tahun pemantapan Otonomi
Daerah . Terutama dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,
peningkatan pembangunan daerah, dan peningkatan sistem administrasi. Pada
tahun 2002 lalu, pelayanan bidang pendidikan berhasil menggalang
masyarakat dalam berpartisipasi perbaikan gedung SD yang rusak.
Dukungan dan peran serta semua pihak yang dilandasi kearifan dan etika
moral yang terpuji, berhasil mendorong masyarakat Kebumen ke gerang
kesejahteraan yang lebih baik katanya.
Pemberantasan KKN
Menurut Bupati Rustriningsih, pihaknya sudah sepakat dengan para pejabat
Pemkab dan masyarakat untuk bersama-sama membenahi sistem pemerintahan
yang bebas KKN.
Dalam kaitan itu, pihaknya sering mendapat pertanyaan dari masyarakat,
berapa maling atau pelaku KKN yang telah ditangkap Ibu Bupati? Menjawab
pertanyaan itu, ia selalu mengatakan upaya pemberantasan KKN masih terus
dilakukan. Khususnya dengan pendekatan internal di jajaran eksekutif. Ini
bukan berarti tidak percaya kepada lembaga hukum, tapi kita percaya pada
diri sendiri.
Namun terkadang muncul perbedaan persepsi. Pihak eksekutif menganggap
benar, ternyata pihak legislatif atau pihak lain menganggap salah, katanya.
Untuk itu, ia mengajak komponen masyarakat agar tidak menyentuh kepada
personel, tapi lebih mengarahkan ke sistem. Kita harus lebih percaya diri
dengan pendekatan sistem, tanpa harus menempatkan persoalan itu keluar
dari sistem.
Dalam kapasitas sebagai bupati, Rustriningsih akan terus mengembangkan
penerapan tindakan indispliner. Rustri juga berjanji akan menekankan pada
sistem yang ada bukan personel. Jika hal ini dilakukan, hasilnya akan
makin mantap dalam jangka panjang.
Program Bank Dunia
Kebumen yang memiliki luas wilayah 128.111,5 hektare dengan 1,2 juta jiwa
penduduk yang tersebar di 460 desa dalam 22 kecamatan, saat ini memang
cukup diperhitungkan. Saat ini ada empat agenda yang disepakati
fasilitator Bank Dunia dan sejumlah LSM. Lewat program Prakarsa Pembaruan
dan Tata Pemerintahan Daerah (P2TPD) yang dimulai awal Januari sampai
Oktober 2003.
Terpilihnya Kebumen sebagai salah satu daerah penerima program P2TPD
karena dinilai ada semangat birokrasi dalam melaksanakan reformasi, kata
fasilitator P2TPD yang ditunjuk Bank Dunia, Agus Sarwo Edi kepada
Pembaruan.
Bupati Rustriningsih (35) dan Ketua DPRD H Budi Utomo (28), keduanya
sama-sama figur muda dari elite birokrasi di eksekutif dan legislatif.
Kedua tokoh muda ini dinilai memiliki potensi untuk menjalankan agenda
reformasi.
Aspek lain dalam program yang disponsori Bank Dunia adalah masih tingginya
angka kemiskininan di Kebumen, namun semangat LSM dan pihak lain di luar
pemerintahan dalam menanggulangi kemiskinan serta pengawasan pembangunan
di daerah ini cukup tinggi.
Menurut Agus Sarwo Edi, empat agenda yang akan digarap adalah strategi
pengentasan kemiskininan, pengadaan barang dan jasa, pengawasan
pembangunan partisipasitif, serta pembagian kewenangan daerah dan desa.
Semula SOT (struktur organisasi tata kerja) ikut pula diagendakan. Namun
mengingat SOT merupakan masalah besar, maka harus mendapat perhatian
secara khusus. Agus Sarwo Edi menjelaskan, selama persiapan program
pihaknya mendapat dana hibah dari Pemerintah Jepang dan Inggris.
Sedang program P2TPD yang sudah disepakati itu didanai APBD. Selanjutnya
akan direkomendasikan apakah Kebumen layak mendapat pinjaman Bank Dunia
atau tidak. Keputusan diterima atau tidak pinjaman dari Bank Dunia itu,
tergantung kesepakatan bersama pihak eksekutif, legislatif, dan LSM.
Sedang pihak fasilisator tidak berhak memutuskan Kebumen layak atau tidak
mendapat pinjaman dari Bank Dunia tersebut.
Sementara itu, Kabid Fisik Prasarana Bappeda Kebumen Ir Djoenedi F MSi
menyatakan, Bappeda sangat mendukung program P2TPD. Termasuk pengawasan
pembangunan secara partisipatif. Mengingat berdasarkan pengamatan Bappeda,
selama ini ada kecenderungan kebocoran anggaran terutama dari sektor fisik.
Masih banyak rekanan yang menggarap proyek belum sesuai kualitas yang
diharapkan*
Pernikahan
TUNTASLAH sudah penantian Rustriningsih, Bupati Kebumen, setelah cukup
lama menanti tambatan hati yang dipasangkan oleh-Nya. Minggu 13 Juni 2004,
ijab qabul janji setia mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga antara
Dra. Rustriningsih, M.Si. binti Sukamto (36) dengan H. Soni Achmad Saleh
Ashari bin Noorjatno (41) --laki-laki asal Makassar-Sulawesi Selatan
diperdengarkan di Masjid Agung Kauman Jln. Pahlawan Kota, Kebumen Jawa
Tengah.
Iringan rebana bertalu-talu mengiringi kedatangan Rustriningsih memasuki
masjid terbesar di daerah itu.
Akad nikah yang disaksikan oleh sekitar tamu undangan 350 orang dipimpin
oleh Penghulu Nadjib Chamidi (Kepala Urusan Agama Kecamatan Kebumen,
Kebumen Jawa Tengah). Rencananya, Presiden Megawati Soekarnoputri dan
Taufik Kiemas akan hadir sebagi saksi dari pengantin putri pada saat akad
nikah, namun ternyata batal hadir.
Sebagai saksi panggantinya Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto, di tengah
undangan hadir pula Menteri Agama Said Agil Al Munawar. Gubernur Jawa
Tengah Mardiyanto bertindak selaku saksi mempelai perempuan, Pengajar
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sukandar Rumidi sebagai
saksi mempelai laki-laki. Rusmanto (Kakak Rustriningsih,red) bertindak
sebagai wali nikah.
Sementara itu, mantan pacar Rustriningisih, Don Murdono, Bupati Sumedang
yang ditunggu kehadirannya oleh puluhan wartawan sampai acara resepsi
selesai, juga tidak terlihat.
Pada acara akad nikah, kedua pasangan memakai baju adat Jawa dengan
sentuhan Islami berwarna putih, hasil rancangan desainer busana pengantin
Ir. Nunik Mawasdi dari Bandung .
Hampir semua bupati dan pejabat daerah di Jawa Tengah hadir dalam acara
resepsi. Seusai akan nikah, Rustriningsih kemudian keluar masjid menumpang
mobil sedan menuju ke Rumah Dinas Bupati Kebumen di sekitar alun-alun
setempat.
Beberapa saat kemudian Soni meninggalkan masjid menuju rumah pribadi
Rustriningsih Jln. Veteran Kota Kebumen (tempat menginap keluarga mempelai
laki-laki).
Sebelum memasuki mobilnya, Rustriningsih terlihat melambaikan tangan
sambil tersenyum ceria kepada masyarakat yang menunggu di luar masjid
tersebut. Sekira pukul 11.00 WIB, berlangsung resepsi pernikahan di
Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen Jln. Sutoyo Nomor 1 Kota Kebumen. Di
Alun-alun Kebumen, sejumlah orang sedang menyiapkan panggung pentas wayang
kulit, ratusan pedagang juga telah menggelar dagangan di kawasan pusat
Kota Kebumen itu.
* *
ADAPUN sebagai tanda kenang-kenangan dan ucapan terimakasih untuk para
tamu undangan, diwujudkan dalam bentuk sertifikat derma yang bernilai Rp
9.000 juta/lembar. Seluruh cindera mata dalam bentuk sertifikat derma
disampaikan kepada tamu pasangan keluarga baru Rustriningsih dan Soni
berbentuk dana sumbangan untuk pengembangan wajib belajar 9 tahun. Jumlah
seluruh derma itu diperkirakan mencapai Rp 63 juta.
Derma para tamu pada acara pernikahan nantinya akan diwujudkan dalam
bentuk perlengkapan sekolah siswa setingkat SD dan SLTP dari keluarga
tidak mampu. Perlengkapan sekolah itu nantinya diwujudkan dalam bentuk
baju seragam, buku, dan biaya sekolah. (Eviyanti/"PR")***
Di Tanah Suci
Jalan hidup manusia memang tidak pernah ada yang tahu. Begitulah
kalimat lembut yang mengalir dari bibir Bupati Kebumen Rustriningsih yang
Minggu (13/6) besok menikah dengan pengusaha asal Makassar Soni Achmad
Saleh (41). Semua serba misteri!
Rustriningsih seakan-akan ingin mengatakan bahwa kisah asmaranya bersama
Bupati Sumedang, Don Murdono tidak bisa dilanjutkan ke jenjang perkawinan
setelah pulang dari naik haji pada Januari 2004. Hati Rustriningsih
tertambat pada Soni yang dikenalnya di Tanah Suci saat naik haji Januari
2004.
“Ketika berangkat naik haji, Mas Don masih berangkat, “ kisah Rustri -panggilan
akrab Rustriningsih- saat berbincang khusus dengan wartawan beberapa saat
lalu. Tetapi hanya dalam hitungan minggu saja, sepulang dari Tanah Suci,
dengan sepnuh hati Rustri telah menancapkan panah asmaranya pada orang
yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.
Pertemuannya dengan Soni sebetulnya sangat sepele. Rustri yang ditemani
kakak iparnya terkesima dengan rombongan dari Jakarta yang berjalan di
Padang Arafah. Rustri yang lahir pada 3 Juli 1967 itu sempat bertatapan
mata dengan seseorang yang berjalan berbarengan.
”Memang saat itu saya juga heran, di Padang Arafah kok jalan tidak pakai
alas kaki. Ternyata orang itu baru saja kehilangan sandalnya. Disitulah
awal perkenalan saya dengan Mas
Soni. Saya ingat betul, hari itu adalah tanggal 9 Zulhijjah Januari lalu,”
tuturnya. Perkenalan itu serasa ada getaran lain di hatinya, namun
perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Apalagi berpikir sampai jauh seperti
sekarang.
Namun, perasaan paling di dalam hatinya dia komunikasikan kepada Sang
Khalik. Selama menunaikan ibadah haji itu dia sering berada di Al Mutazam,
untuk zikir, berdoa dan salat sunah.
Ada tiga hal yang menjadi pokok doanya, yakni meminta kepada Allah supaya
diberi kemampuan menjalankan tugasnya, sukses memimpin partai sehingga
memenangkan Pemilu serta enteng jodoh. Hampir setiap hari dengan kyusuk,
ketiga pokok doanya tidak pernah luput diucapkannya. Tak disangka, pada
hari kedelapan usai salat Subuh di Al Mutazam, dia kembali bertemu Soni,
seseorang yang tidak sengaja pernah bertemu dengannya di Padang Arafah.
Hatinya berdegup kencang, karena tanpa sengaja dia kembali bertemu dengan
seseorang yang sempat membuat hatinya tergetar. ”Apakah ini merupakan
kenyataan yang telah menjadi rencana Tuhan ? Apakah benar Tuhan telah
menjawab doa saya,” katanya dalam hati.
Meski terus bertanya-tanya dalam hati, namun sejak itulah dirinya seperti
dituntun alam bawah sadar menjalin komunikasi. Kakak iparnya yang
menyertainya turut andil dalam ”memprovokasi” kedekatan dia dengan Soni.
Rajutan benang-benang cinta semakin erat tatkala ibadah haji yang
ditunaikan selesai. Begitulah, kedua insan itu berusaha untuk lebih
mendekatkan tali silaturahminya, bahkan serius untuk ke jenjang pernikahan.
Pesta Rakyat
Pernikahan Bupati Kebumen ini benar-benar akan menjadi sebuah ”pesta
rakyat” setempat. Semua lapisan masyarakat dibebaskan untuk datang ke
alun-alun menikmati berbagai macam suguhan termasuk kesenian wayang serta
lainnya. ”Saya katakan, saya tidak membeda-bedakan tamu saya. Nanti juga
kita undang seluruh anak-anak yatim piatu serta panti asuhan di seluruh
Kebumen,”katanya.
Lalu apakah ”teman-teman dekat” lama seperti Bupati Sumedang juga diundang?
”Tentu saja, semuanya yang kita kenal, diundang.”
Dengan jabatan yang dipegangnya sekarang, tidak gampang menyisihkan waktu
berbulan madu, apalagi tengah menghadapi Pemilu. ”Saya sudah bilang sama
Mas Soni bahwa usai menikah kita belum dapat berbulan madu. Nanti justru
Mas Soni saya minta untuk sementara berada di Kebumen. Saya akan ajak dia
berkeliling sampai ke desa-desa, biar tahu pekerjaan bupati. Ini lho
pekerjaan bupati itu,”ujarnya.
Soal anak sudah ada rencana? ”Kalau itu sih kita serahkan sama Yang di
Atas. Tapi saya juga sadar kalau kita harus mengingat umur.” (SH/lilik
darmawan)
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
|
|