A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
 
 
  C © updated 08022005  
   
  ► e-ti/ricky photo  
  Nama:
Rustam Effendi, SH, M.Si
Lahir:
Medan, 8 Juli 1950
 
 
     
 

BIOGRAFI:  01   02   03   04   05   06

Rustam Effendi (02)

Segitiga Emas Jakarta


Keberhasilan Rustam membebaskan lahan di Kuningan Timur sampai juga ke telinga sejumlah developer. Cerita tentang lahan itu begitu dramatis sebab sejak tahun 1972 tak pernah bisa tersentuh. Malah, sebelumnya sewaktu di situ dilakukan penyuluhan, camatnya pernah disandera oleh masyarakat. ‘Penyanderaan’ baru bisa diakhiri setelah datang bantuan kepolisian.


Namun di tangan Rustam, setelah langsung turun, semuanya menjadi beres saja segera. Informasi ini cepat menyebar ke kalangan developer yang lama mengincar lahan Kuningan.
Berbagai kasus lubang-lubang lahan (lahan yang sudah dibeli dan dibayar oleh developer namun tak pernah bisa tuntas terselesaikan sebab ada saja warga yang bertahan bahkan muncul penggarap baru) di sekitar kawasan jalan Sudirman, Gatot Subroto dan Rasuna Said, segera saja muncul terangkat kembali ke permukaan. Para developer memohon kepadanya untuk menyelesaikan permasalahan lahan itu.


Setelah bukti-bukti dan segala kelengkapan diperiksa, Rustam mengundang pemilik dan penggarap untuk dipertemukan dengan pengusahanya. Keduanya akhirnya melakukan perdamaian, penggarap bisa pergi dengan damai pengusaha pun menguasai lahannya kembali.


Berita tentang keberhasilan penyelesaian dengan baik berbagai kasus tanah semakin cepat menyebar kemana-mana. Banyak bankir serta-merta menyatakan minat beraktivitas di sekitar kawasan Kuningan. Rustam mempersilakan setiap developer memilih sendiri lahan yang disukai untuk dibebaskan. Namun harus lebih dahulu dirundingkan dengan warga. Jangan main paksa.


Di sisi lain masyarakat sudah tersadarkan untuk tak mau lagi lahannya dibebaskan sembarang sebelum berkonsultasi dengan sesama warga. Pengusaha dipersilakan datang menemui warga berbicara langsung. Bila perlu sebagai camat, Rustam siap memfasilitasi atau menjembatani, sekaligus menjadi saksi.


Sejak itu, sebutan ‘Segitiga Emas Jakarta’ kemudian mencuat ke permukaan. Rustam sendiri tak pernah bisa melepaskan diri dari lekatnya citra sebagai penggagas istilah Kawasan Segitiga Emas Jakarta. Sebab konsep itu sudah melekat erat di ubun-ubunnya.


Istilah Segitiga Emas Jakarta itu efektif melambungkan harga lahan di sekitar Jalan Sudirman-Gatot Subroto-Rasuna Said untuk memakmurkan warga yang dalam tempo sekejap usai menjual tanahnya berubah menjadi kaya raya.


Sebagai misal, dari 10 RW yang ada di Kelurahan Guntur tinggal tersisa satu RW. Maklum, harga lahan pada masa puncaknya bisa mencapai rata-rata Rp 4 juta/meter dari sebelumnya hanya dihargai Rp 60 ribu/meter.
Rustam sebagai camat yang sekaligus bisa bertindak sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), memperoleh keuntungan berganda lain.


Jalan-jalan yang mestinya dibangun oleh pemerintah dengan harus membebaskan tanah warga, tak lagi menyisakan penderitaan korban. Tugas itu telah diambil alih oleh pengusaha dengan membangun jalan di lahannya sendiri, lalu diserahkan menjadi milik pemerintah.


Ketika Rustam Effendi hendak mengakhiri tugas sebagai camat tahun 1993, banyak warga dan alim ulama kawasan Setiabudi keberatan. Mereka tak setuju camatnya dipindahkan.
Sebagai camat yang berkali-kali menerima penghargaan dari pemerintah yang didasarkan atas penilaian tugas camat, termasuk penghargaan sebagai camat terbaik pengelola dan pengumpul dana zakat infaq dan shadaqah (ZIS) se-Propinsi DKI Jakarta, Rustam memang sangat mencintai dan dicintai warganya.


Harun Al-Rasyid, Walikota Jakarta Selatan, ketika itu, menengahi dengan menyebutkan, “Jika warga Setiabudi sayang sama Rustam Effendi maka janganlah kepindahannya dihalang-halangi.


Sebab dengan kepindahan itu jabatannya justru hendak dinaikkan menjadi Asisten Tatapraja Kotamadya Jakarta Selatan.” Warga akhirnya rela dan lega menghantarkan sang camat mengabdi ke tempat baru.

Raih Adipura
Cukup lama Rustam Effendi menjabat Asisten Tatapraja Jakarta Selatan, sejak tahun 1993 hingga 1999. Namun tugas dan hasil kerja kerasnya tak kurang mulia di sini. Ia diperintahkan oleh Walikota Parjoko untuk bekerja keras dan kreatif membantunya membenahi Jakarta Selatan sampai bisa meraih penghargaan Adipura.


Salah satu langkah terpenting yang ia lakukan, membenahi kesemrawutan Pasar Minggu. Kawasan selatan Jakarta ini selama lima walikota sebelumnya seolah tak pernah bisa terjamah.


Di tangan Rustam, kesemrawutan sirna seketika. Pasar Minggu menjadi tampak lebih cantik dan teratur. Terminal hingga pasar semua serba hijau. Hal yang sama dilakukannya di kawasan Kebayoran Lama. Jakarta Selatan pun meraih penghargaan tertinggi Adipura untuk pertama kalinya.


Sayangnya kedua prestasi emas itu hanya bisa bertahan selama Rustam masih berkesempatan mengawasinya. Padahal dia tak bisa berlama-lama di situ. Sebab sejak tahun 1999, ia pindah ke Kotamadya Jakarta Pusat menjabat sebagai Sekretaris Kota (Seko).


Pelayanan Satu Pintu
Rustam sendiri tetap melaju dengan sikap patriotik dan kerja kerasnya. Ide-ide baru seolah tak pernah kering dari otak pria penikmat hobi olahraga tenis dan golf ini. Di Jakarta Pusat, ia membuat untuk pertamakali sebuah sistem pelayanan baru bernama one door service, atau pelayanan satu pintu. Ia memanfaatkan ruangan lama Korpri kantor Kotamadya Jakarta Pusat, yang kosong begitu pengurusnya pindah ke Jalan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat.


Di ruangan yang lebih dahulu direnovasi, dia menyebar banyak komputer dan menempatkan petugas pelayanan.
Warga cukup datang ke satu counter itu untuk mengurus berbagai keperluan. Apakah urusan pemakaman, pertanahan, kependudukan, PBB, Dispenda, pertamanan dan sebagainya. Semua ada di situ.


Dengan one door service, masyarakat yang datang pertama-tama memencet komputer memanggil menu tentang apa keperluannya.


Terus, apa yang perlu diurus, apa syarat-syarat, berapa biaya dan sebagainya tertera di situ. Selanjutnya, masih dari komputer, masyarakat diperintahkan untuk menemui petugas pelayanan di counter yang ditunjuk. Banyak counter didirikan laksana plaza membuat masyarakat cepat dan mudah terlayani.


Di counter itu masyarakat tak perlu bolak-balik atau ke belakang menyelesaikan pengurusan. Cukup dari satu pintu. Jika pengurusan membutuhkan waktu, ditentukan dan ditulis di situ kepastian berapa hari urusan selesai. Sehingga pada hari yang ditentukan kedatangan masyarakat sudah dijadwal. Namanya tinggal dipanggil.


Gubernur Sutiyoso berkali-kali memerintahkan seluruh walikota untuk menerapkan one door service, tapi sampai saat ini konsep ini belum bisa dinikmati masyarakat selain di Jakarta Pusat.


Bagaimana ide itu muncul? Menurut pengakuan Rustam, ide one door service muncul sederhana saja, sebetulnya. Saat masih bertugas sebagai Asisten Tatapraja Jakarta Selatan, Walikota Parjoko pernah memerintahkan Rustam agar di jalan persis di depan kantornya dibuat pelayanan masyarakat. Mengerti bahwa perintah Parjoko sangat bagus, ide itu dimatangkan dan dilaksanakan. Lalu saat menjabat Sesko Jakarta Pusat, ide itu disempurnakan direalisasikan sebagai one door service .

Digagas Gubernur
Apakah hal ini yang menjadi perhatian Gubernur Sutiyoso, lalu Rustam pun diangkat menjadi Kepala Dinas LLAJ (2001) yang kemudian menjadi Dinas Perhubungan Pemda DKI.
Beberapa hari setelah dilantik, pada bulan Juni 2001, Rustam dipanggil dan ditantang kesanggupannya untuk membuat program sistem jaringan makro transportasi kota Jakarta. Sebagai pekerja keras dan kreatif yang menyukai tantangan, ia menyatakan siap dan memastikan programnya selesai Mei 2002.


Rustam segera belajar tentang transportasi. Ia beranjak dari sisi kebutuhan, sebagaimana telah dialami sejak menjadi pamong tahun 1975 di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Termasuk lebih khusus lagi data sejak tahun 1985 hingga 2001, sudah dipelajarinya. Dan juga sudah secara aktif memelajari konsep MRT (mass rapid transport) yang sangat menonjolkan subway sebagai solusi alternatif utama.


Rustam melakukan studi banding ke beberapa tempat. Ia pergi ke Jepang, Singapura, Malaysia, Ekuador dan Kolombia. Tapi yang paling intens adalah studi banding ke Bogota, ibukota Kolombia. Alasannya, karena memang Bogota itu persis kayak orang Indonesia, orang Jakarta.


Kemudian, dia dibantu para staf Dinas Perhubungan DKI dan konsultan dari Center for Transportation Studies (CTS) Universitas Indonesia (UI), kemudian berhasil membuat konsep baru yang dinamainya Pola Transportasi Makro (PTM) DKI Jakarta (Jakarta Macro Transportation Scheme).


Gubernur Sutiyoso sebagai penggagas (inisiator) dan pemimpin pembangunan DKI Jakarta, memproklamirkan Pola Transportasi Makro (PTM) DKI Jakarta itu untuk segera dilaksanakan. Gubernur menyebutnya sebagai revolusi (reformasi total) transportasi Jakarta. Program ini diawali dengan mengoperasikan TransJakarta Busway, Koridor 1 Blok M – Kota pada 15 Januari 2004.


Namun, pada awalnya, bukan pujian yang mereka terima. Gubernur Sutiyoso dan dirinya selaku Kepala Dinas Perhubungan yang memimpin langsung proyek busway itu, dicerca dan dikecam habis oleh berbagai kalangan.


Bahkan, mereka dituduh korupsi. Walau hampir tak tahan lagi sebab selalu saja dihujat, Gubernur Sutiyoso terus mendorong untuk semakin memantapkan langkah maju.
Rustam pun seperti mendapat darah segar, setiap kali bertemu dan menerima arahan dari Gubernur. Dia melangkah makin tegar, apalagi dia merasa yakin benar dan tidak macam-macam. Orientasinya adalah orientasi kerja dan pelayanan kepada publik.


Uang bukanlah orientasi Rustam dalam bekerja. Perihal yang satu ini, Rustam telah berkesempatan untuk mengabdi puluhan tahun dan pemerintah telah mengatur itu.
Ketika sebagai Camat, ia secara hukum bertindak pula sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Karenanya, Rustam berhak memperoleh komisi legal masing-masing 1,5% dari dua pihak yang bertransaksi tanah.


Uang yang diterima secara legal semasa menjabat camat (PPAT) itu, dirasa sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Ia dan keluarganya bukan orang tamak. Maka, Rustam sama sekali tidak mau memikirkan isu-isu yang berhembus.


Obsesinya kala itu, ingin menyelesaikan tugas-tugas Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, sampai ia pensiun. Kepada penggantinya, Rustam berharap agar melaksanakan program transportasi makro Jakarta itu, secara konsisten, tegas, punya tanggungjawab dan jangan berpikir cari duit macam-macam.


“Karena, kalau dia berpikir mau cari duit di sini saya bisa digebukin orang, dikatakan sama dengan pendahulu,” kata Rustam serius. Ia merasakan sudah waktunya untuk tiba pada suatu status semacam mencapai prestasi (accomplish-ment), sekaligus menunjukkan bukti pengorbanan dirinya sebagai pamong di saat-saat terakhir pengabdian. Ia ingin memberikan sebuah pengabdian untuk warga Jakarta.


Saat acara perpisahan dengan segenap karyawan/karyawati Dishub Provinsi DKI Jakarta di Sahid Jaya, 30 September 2005, kepada Rustam Effendy dipersembahkan sajak bertajuk: Selamat Jalan. Diiringi musik dan lagu, seorang karyawati membacakan dengan suara haru:


Ketika engkau datang, aku terhenyak dengar gelegar suaramu. Ketika engkau pergi, aku tertegun dengan hasil kerjamu.
Kekasih! Ketika pertemuan itu ada, aku yakin dan pasti, di sana ada perpisahan.
Selamat Jalan Bapak Rustam Effendy dan Ibu. Doa kami mengiring keper-gianmu.  ► e-ti/ht-crs

==> Lanjut

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)