|
BIOGRAFI:
01
02
03 04
05 06
Rustam Effendi (02)
Segitiga Emas Jakarta
Keberhasilan Rustam membebaskan lahan di Kuningan Timur sampai juga ke
telinga sejumlah developer. Cerita tentang lahan itu begitu dramatis
sebab sejak tahun 1972 tak pernah bisa tersentuh. Malah, sebelumnya
sewaktu di situ dilakukan penyuluhan, camatnya pernah disandera oleh
masyarakat. ‘Penyanderaan’ baru bisa diakhiri setelah datang bantuan
kepolisian.
Namun di tangan Rustam, setelah langsung turun, semuanya menjadi beres
saja segera. Informasi ini cepat menyebar ke kalangan developer yang
lama mengincar lahan Kuningan.
Berbagai kasus lubang-lubang lahan (lahan yang sudah dibeli dan dibayar
oleh developer namun tak pernah bisa tuntas terselesaikan sebab ada saja
warga yang bertahan bahkan muncul penggarap baru) di sekitar kawasan
jalan Sudirman, Gatot Subroto dan Rasuna Said, segera saja muncul
terangkat kembali ke permukaan. Para developer memohon kepadanya untuk
menyelesaikan permasalahan lahan itu.
Setelah bukti-bukti dan segala kelengkapan diperiksa, Rustam mengundang
pemilik dan penggarap untuk dipertemukan dengan pengusahanya. Keduanya
akhirnya melakukan perdamaian, penggarap bisa pergi dengan damai
pengusaha pun menguasai lahannya kembali.
Berita tentang keberhasilan penyelesaian dengan baik berbagai kasus
tanah semakin cepat menyebar kemana-mana. Banyak bankir serta-merta
menyatakan minat beraktivitas di sekitar kawasan Kuningan. Rustam
mempersilakan setiap developer memilih sendiri lahan yang disukai untuk
dibebaskan. Namun harus lebih dahulu dirundingkan dengan warga. Jangan
main paksa.
Di sisi lain masyarakat sudah tersadarkan untuk tak mau lagi lahannya
dibebaskan sembarang sebelum berkonsultasi dengan sesama warga.
Pengusaha dipersilakan datang menemui warga berbicara langsung. Bila
perlu sebagai camat, Rustam siap memfasilitasi atau menjembatani,
sekaligus menjadi saksi.
Sejak itu, sebutan ‘Segitiga Emas Jakarta’ kemudian mencuat ke
permukaan. Rustam sendiri tak pernah bisa melepaskan diri dari lekatnya
citra sebagai penggagas istilah Kawasan Segitiga Emas Jakarta. Sebab
konsep itu sudah melekat erat di ubun-ubunnya.
Istilah Segitiga Emas Jakarta itu efektif melambungkan harga lahan di
sekitar Jalan Sudirman-Gatot Subroto-Rasuna Said untuk memakmurkan warga
yang dalam tempo sekejap usai menjual tanahnya berubah menjadi kaya
raya.
Sebagai misal, dari 10 RW yang ada di Kelurahan Guntur tinggal tersisa
satu RW. Maklum, harga lahan pada masa puncaknya bisa mencapai rata-rata
Rp 4 juta/meter dari sebelumnya hanya dihargai Rp 60 ribu/meter.
Rustam sebagai camat yang sekaligus bisa bertindak sebagai Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT), memperoleh keuntungan berganda lain.
Jalan-jalan yang mestinya dibangun oleh pemerintah dengan harus
membebaskan tanah warga, tak lagi menyisakan penderitaan korban. Tugas
itu telah diambil alih oleh pengusaha dengan membangun jalan di lahannya
sendiri, lalu diserahkan menjadi milik pemerintah.
Ketika Rustam Effendi hendak mengakhiri tugas sebagai camat tahun 1993,
banyak warga dan alim ulama kawasan Setiabudi keberatan. Mereka tak
setuju camatnya dipindahkan.
Sebagai camat yang berkali-kali menerima penghargaan dari pemerintah
yang didasarkan atas penilaian tugas camat, termasuk penghargaan sebagai
camat terbaik pengelola dan pengumpul dana zakat infaq dan shadaqah
(ZIS) se-Propinsi DKI Jakarta, Rustam memang sangat mencintai dan
dicintai warganya.
Harun Al-Rasyid, Walikota Jakarta Selatan, ketika itu, menengahi dengan
menyebutkan, “Jika warga Setiabudi sayang sama Rustam Effendi maka
janganlah kepindahannya dihalang-halangi.
Sebab dengan kepindahan itu jabatannya justru hendak dinaikkan menjadi
Asisten Tatapraja Kotamadya Jakarta Selatan.” Warga akhirnya rela dan
lega menghantarkan sang camat mengabdi ke tempat baru.
Raih Adipura
Cukup lama Rustam Effendi menjabat Asisten Tatapraja Jakarta Selatan,
sejak tahun 1993 hingga 1999. Namun tugas dan hasil kerja kerasnya tak
kurang mulia di sini. Ia diperintahkan oleh Walikota Parjoko untuk
bekerja keras dan kreatif membantunya membenahi Jakarta Selatan sampai
bisa meraih penghargaan Adipura.
Salah satu langkah terpenting yang ia lakukan, membenahi kesemrawutan
Pasar Minggu. Kawasan selatan Jakarta ini selama lima walikota
sebelumnya seolah tak pernah bisa terjamah.
Di tangan Rustam, kesemrawutan sirna seketika. Pasar Minggu menjadi
tampak lebih cantik dan teratur. Terminal hingga pasar semua serba
hijau. Hal yang sama dilakukannya di kawasan Kebayoran Lama. Jakarta
Selatan pun meraih penghargaan tertinggi Adipura untuk pertama kalinya.
Sayangnya kedua prestasi emas itu hanya bisa bertahan selama Rustam
masih berkesempatan mengawasinya. Padahal dia tak bisa berlama-lama di
situ. Sebab sejak tahun 1999, ia pindah ke Kotamadya Jakarta Pusat
menjabat sebagai Sekretaris Kota (Seko).
Pelayanan Satu Pintu
Rustam sendiri tetap melaju dengan sikap patriotik dan kerja kerasnya.
Ide-ide baru seolah tak pernah kering dari otak pria penikmat hobi
olahraga tenis dan golf ini. Di Jakarta Pusat, ia membuat untuk
pertamakali sebuah sistem pelayanan baru bernama one door service, atau
pelayanan satu pintu. Ia memanfaatkan ruangan lama Korpri kantor
Kotamadya Jakarta Pusat, yang kosong begitu pengurusnya pindah ke Jalan
Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Di ruangan yang lebih dahulu direnovasi, dia menyebar banyak komputer
dan menempatkan petugas pelayanan.
Warga cukup datang ke satu counter itu untuk mengurus berbagai
keperluan. Apakah urusan pemakaman, pertanahan, kependudukan, PBB,
Dispenda, pertamanan dan sebagainya. Semua ada di situ.
Dengan one door service, masyarakat yang datang pertama-tama memencet
komputer memanggil menu tentang apa keperluannya.
Terus, apa yang perlu diurus, apa syarat-syarat, berapa biaya dan
sebagainya tertera di situ. Selanjutnya, masih dari komputer, masyarakat
diperintahkan untuk menemui petugas pelayanan di counter yang ditunjuk.
Banyak counter didirikan laksana plaza membuat masyarakat cepat dan
mudah terlayani.
Di counter itu masyarakat tak perlu bolak-balik atau ke belakang
menyelesaikan pengurusan. Cukup dari satu pintu. Jika pengurusan
membutuhkan waktu, ditentukan dan ditulis di situ kepastian berapa hari
urusan selesai. Sehingga pada hari yang ditentukan kedatangan masyarakat
sudah dijadwal. Namanya tinggal dipanggil.
Gubernur Sutiyoso berkali-kali memerintahkan seluruh walikota untuk
menerapkan one door service, tapi sampai saat ini konsep ini belum bisa
dinikmati masyarakat selain di Jakarta Pusat.
Bagaimana ide itu muncul? Menurut pengakuan Rustam, ide one door service
muncul sederhana saja, sebetulnya. Saat masih bertugas sebagai Asisten
Tatapraja Jakarta Selatan, Walikota Parjoko pernah memerintahkan Rustam
agar di jalan persis di depan kantornya dibuat pelayanan masyarakat.
Mengerti bahwa perintah Parjoko sangat bagus, ide itu dimatangkan dan
dilaksanakan. Lalu saat menjabat Sesko Jakarta Pusat, ide itu
disempurnakan direalisasikan sebagai one door service .
Digagas Gubernur
Apakah hal ini yang menjadi perhatian Gubernur Sutiyoso, lalu Rustam pun
diangkat menjadi Kepala Dinas LLAJ (2001) yang kemudian menjadi Dinas
Perhubungan Pemda DKI.
Beberapa hari setelah dilantik, pada bulan Juni 2001, Rustam dipanggil
dan ditantang kesanggupannya untuk membuat program sistem jaringan makro
transportasi kota Jakarta. Sebagai pekerja keras dan kreatif yang
menyukai tantangan, ia menyatakan siap dan memastikan programnya selesai
Mei 2002.
Rustam segera belajar tentang transportasi. Ia beranjak dari sisi
kebutuhan, sebagaimana telah dialami sejak menjadi pamong tahun 1975 di
Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Termasuk lebih khusus lagi data sejak
tahun 1985 hingga 2001, sudah dipelajarinya. Dan juga sudah secara aktif
memelajari konsep MRT (mass rapid transport) yang sangat menonjolkan
subway sebagai solusi alternatif utama.
Rustam melakukan studi banding ke beberapa tempat. Ia pergi ke Jepang,
Singapura, Malaysia, Ekuador dan Kolombia. Tapi yang paling intens
adalah studi banding ke Bogota, ibukota Kolombia. Alasannya, karena
memang Bogota itu persis kayak orang Indonesia, orang Jakarta.
Kemudian, dia dibantu para staf Dinas Perhubungan DKI dan konsultan dari
Center for Transportation Studies (CTS) Universitas Indonesia (UI),
kemudian berhasil membuat konsep baru yang dinamainya Pola Transportasi
Makro (PTM) DKI Jakarta (Jakarta Macro Transportation Scheme).
Gubernur Sutiyoso sebagai penggagas (inisiator) dan pemimpin pembangunan
DKI Jakarta, memproklamirkan Pola Transportasi Makro (PTM) DKI Jakarta
itu untuk segera dilaksanakan. Gubernur menyebutnya sebagai revolusi
(reformasi total) transportasi Jakarta. Program ini diawali dengan
mengoperasikan TransJakarta Busway, Koridor 1 Blok M – Kota pada 15
Januari 2004.
Namun, pada awalnya, bukan pujian yang mereka terima. Gubernur Sutiyoso
dan dirinya selaku Kepala Dinas Perhubungan yang memimpin langsung
proyek busway itu, dicerca dan dikecam habis oleh berbagai kalangan.
Bahkan, mereka dituduh korupsi. Walau hampir tak tahan lagi sebab selalu
saja dihujat, Gubernur Sutiyoso terus mendorong untuk semakin
memantapkan langkah maju.
Rustam pun seperti mendapat darah segar, setiap kali bertemu dan
menerima arahan dari Gubernur. Dia melangkah makin tegar, apalagi dia
merasa yakin benar dan tidak macam-macam. Orientasinya adalah orientasi
kerja dan pelayanan kepada publik.
Uang bukanlah orientasi Rustam dalam bekerja. Perihal yang satu ini,
Rustam telah berkesempatan untuk mengabdi puluhan tahun dan pemerintah
telah mengatur itu.
Ketika sebagai Camat, ia secara hukum bertindak pula sebagai Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT). Karenanya, Rustam berhak memperoleh komisi
legal masing-masing 1,5% dari dua pihak yang bertransaksi tanah.
Uang yang diterima secara legal semasa menjabat camat (PPAT) itu, dirasa
sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Ia dan keluarganya bukan orang
tamak. Maka, Rustam sama sekali tidak mau memikirkan isu-isu yang
berhembus.
Obsesinya kala itu, ingin menyelesaikan tugas-tugas Kepala Dinas
Perhubungan DKI Jakarta, sampai ia pensiun. Kepada penggantinya, Rustam
berharap agar melaksanakan program transportasi makro Jakarta itu,
secara konsisten, tegas, punya tanggungjawab dan jangan berpikir cari
duit macam-macam.
“Karena, kalau dia berpikir mau cari duit di sini saya bisa digebukin
orang, dikatakan sama dengan pendahulu,” kata Rustam serius. Ia
merasakan sudah waktunya untuk tiba pada suatu status semacam mencapai
prestasi (accomplish-ment), sekaligus menunjukkan bukti pengorbanan
dirinya sebagai pamong di saat-saat terakhir pengabdian. Ia ingin
memberikan sebuah pengabdian untuk warga Jakarta.
Saat acara perpisahan dengan segenap karyawan/karyawati Dishub Provinsi
DKI Jakarta di Sahid Jaya, 30 September 2005, kepada Rustam Effendy
dipersembahkan sajak bertajuk: Selamat Jalan. Diiringi musik dan lagu,
seorang karyawati membacakan dengan suara haru:
Ketika engkau datang, aku terhenyak dengar gelegar suaramu. Ketika
engkau pergi, aku tertegun dengan hasil kerjamu.
Kekasih! Ketika pertemuan itu ada, aku yakin dan pasti, di sana ada
perpisahan.
Selamat Jalan Bapak Rustam Effendy dan Ibu. Doa kami mengiring
keper-gianmu. ► e-ti/ht-crs
==> Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|