A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 08022005  
   
  ► e-ti/ms  
 
 
 
     
 

BIOGRAFI:  01   02   03   04   05   06

Rustam Effendi (06)

Satu Tahun TransJakarta

= Investor Lirik Tambang Emas Busway. TransJakarta Busway yang pada awalnya dicerca, kini telah menarik minat investor. Ternyata, baru dalam satu tahun pengoperasian Koridor 1, Tije, sebutan keren untuk TransJakarta Busway, telah menjadi tambang emas, bisnis yang menggiurkan dan menguntungkan.

 

Maka, Kepala Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta Rustam Effendi mengatakan, operator Koridor 2 pun akan diserahkan kepada swasta melalui seleksi terbuka. Sementara Badan Pengelola TransJakarta Busway akan berubah menjadi lembaga bisnis.

TransJakarta Busway merupakan sarana angkutan umum massal dengan moda Bus di mana kendaraan berjalan pada lintasan khusus yang berada di sisi kanan jalan. Menggunakan sistem tertutup di mana penumpang dapat naik turun hanya pada halte dengan sistem tiket sekali jalan ataupun berlangganan dengan mekanisme prabayar.


Demi kenyamanan penumpang menuju dan meninggalkan halte, disediakan fasilitas penyeberangan orang yang landai, petugas keamanan pada setiap halte, jadwal waktu perjalanan dan juga tidak adanya pedagang kaki lima baik di halte maupun jembatan penyeberangan kecuali pada tempat-tempat yang telah ditentukan. Selain itu, agar mudah menuju dan meninggalkan lajur Busway disediakan trayek angkutan umum (bus feeder).


Satu tahun silam, tepatnya Kamis 15 Januari 2004 pukul 11.00 WIB, dalam suasana digempur berbagai kritikan pedas, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso meresmikan peluncuran TransJakarta Busway Koridor 1 jurusan terminal Blok M-Stasiun Kota di depan Pintu I Gelanggang Olahraga Bung Karno.


Gubernur Sutiyoso pada acara itu mengatakan bahwa bus TransJakarta merupakan salah satu dari 15 koridor yang telah direncanakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur juga mengungkapkan, sebetulnya selama lebih dari empat dasawarsa, Jakarta tidak memiliki pola jaringan transportasi yang terintegrasi dan transportasi umum tidak pernah dibenahi.


Gubernur mengatakan TransJakarta Busway merupakan jawaban atas kondisi lalu lintas saat ini dan sekaligus menjadi titik awal dari perombakan total sistem angkutan umum dalam bingkai transportasi makro.


Meski peluncuran bus itu diliputi kecaman beberapa kalangan, tapi warga Jakarta tampak menyambut dengan antusias. Apalagi, ketika itu, selama dua minggu, warga Ibu Kota diberi kesempatan menikmati 56 unit bus khusus berpenyejuk udara 24 derajat itu secara gratis. Ribuan warga tua dan muda memadati terminal Blok M, Stasiun Kota dan beberapa halte di jalur busway.


Dua minggu berikutnya, tepatnya 1 Februari 2004, Tije mulai beroperasi secara komersial. Hasilnya pun menggembirakan. Ternyata, Tije yang awalnya dicerca itu, telah menjadi tambang emas dan bisnis jasa angkutan yang menguntungkan.
Kendati sangat disadari bahwa di seluruh dunia tak ada angkutan massal yang bebas subsidi, tapi TransJakarta dipastikan akan berjuang untuk memecahkannya. Tije diyakini akan mampu mandiri secara keuangan dan tetap memberikan pelayanan angkutan terbaik sesuai komitmennya menyediakan angkutan umum yang nyaman, aman, manusiawi dan modern.


Bayangkan terhitung 1 Februari 2004 hingga 21 Januari 2005, pendapatan tiket bus TransJakarta mencapai Rp 41,3 miliar. Pendataan tiket dari 1 Februari hingga 31 Desember 2004 sebesar Rp 38,9 miliar dan 1 Januari hingga 21 Januari, sebesar Rp2,4 miliar. Jumlah penumpang dari 1 Februari 2004 sampai 21 Januari 2005 mencapai 16.867.070 orang. Rekor penumpang tertinggi bulanan pada Desember 2004 sebanyak 1.612.692 orang. Jumlah penumpang dan pendapatan tiket ini telah melampaui target yang dibebankan oleh Pemprov DKI Jakarta.


Bahkan ketika baru enam bulan Tije aktif beroperasi, Andi Rahmah, Peneliti Transportasi Pelangi, menyatakan ternyata telah membuktikan potensinya sebagai tambang emas baru penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta. Dia menjelaskan, dalam enam bulan keuntungan bersih sebesar 3,488 milyar rupiah yang telah diperoleh TransJakarta.


Berdasarkan hasil perhitungan konsultan keuangan Ernst & Young, konsultan keuangan Pemda Jakarta untuk perencanaan proyek busway Blok M-Kota, total biaya operasi TransJakarta busway adalah Rp. 6.500/ km, di mana titik impas (break even point) akan tercapai pada jumlah penumpang 37.565 orang/ hari.


Berdasarkan analisa Ernst & Young, maka pendapatan TransJakarta selama 160 hari (1 Februari - 11 Juli 2004) adalah 37.565 orang/ hari x 160 hari x harga tiket = 37.565 orang x 160 hari x Rp 2500 = Rp 15.026.000.000.


Sementara berdasarkan data BP TransJakarta pendapatan faktual TransJakarta selama 160 hari dengan jumlah penumpang sebesar 7,405 juta penumpang: 7. 405.827 orang x Rp 2500 = Rp 18.514.567.500. Maka berdasarkan perhitungan itu, keuntungan yang diraih BP TransJakarta selama kurun waktu 160 hari adalah sebesar : Rp 18.514.567.500 - Rp 15.026.000.000 = Rp 3.488.567.500.


Total biaya operasi dimaksud antara lain, biaya kantor BP TransJakarta, PT. JET & PT. Lestari Abadi (operator tiket), biaya pengoperasian bus TransJakarta, pengoperasian halte serta biaya depresiasi. Sementara pembangunan dan pemeliharaan halte, jembatan penyeberangan dan pembangunan jalur busway, tidak termasuk di dalam biaya total operasi.


Perhitungan ini telah menepis anggapan bahwa angkutan umum tidak punya daya jual dan terus menuntut subsidi Pemerintah. Sekaligus mulai mengundang minat para investor memasuki bisnis jasa angkutan umum menguntungkan ini.

Syukuran Sederhana
Pada acara syukuran sederhana di Balai Kota Jumat 14/1/05, Wakil Gubernur Fauzi Bowo dalam sambutannya memaparkan selain dukungan masyarakat, keberhasilan program ini sedikit banyak sangat tergantung pada kekokohan sikap Gubernur Sutiyoso. Fauzi juga memastikan, TransJakarta akan lengkap dalam 15 koridor. Ditegaskan, Pemprov Jakarta tetap berkomitmen menyediakan angkutan umum yang nyaman, aman, manusiawi, dan modern di Jakarta.


Tahun ini, Jakarta akan segera memiliki koridor II dan III, dari Pulogadung ke Kalideres. Lalu, pembangunan monorel dan subway juga akan dimulai. “Ini jadi tugas berat Badan Pengelola sebagai regulator pelayanan untuk mensinergikan semua ini,” harap Fauzi.


Acara syukuran sederhana itu juga dihadiri Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Ketua DPRD DKI Jakarta Ade Surapriatna, Kepala Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta Rustam Effendi dan jajaran kepala dinas lainnya, Kepala Badan Pengelola TransJakarta Irzal Z Djamal, jajaran Direksi operator bus PT JET, Direksi operator tiketing PT Lestari Abadi, para operator bus dan wakil dari masyarakat. Dalam kesempatan itu, dipaparkan pula kilas balik satu tahun beroperasinya TransJakarta.

Akuntabilitas dan Transparansi
Kemudian pada 1 Februari 2004, Badan Pengelola (BP) TransJakarta Busway melakukan paparan publik menyambut satu tahun operasinya, sekaligus sebagai bagian perwujudan akuntabilitas dan transparansi pengelolaannya kepada publik. Paparan publik itu digelar di kantor BP TransJakarta, di Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan (eks Kantor Walikota).


Dalam paparan tersebut tampil pembicara Kepala BP TransJakarta, Irzal Z Djamal, Ketua Center for Transport Studies (CTS) Universitas Indonesia Prof. Dr. Sutanto Soehodo dan anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTK) sebagai panelis. Acara itu dihadiri kalangan akademisi, LSM, komunitas penguna bus Tije (sebutan untuk TransJakarta) serta masyarakat umum.


Memang tak terasa, TransJakarta telah satu tahun, sejak 15 Januari 2005, memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kepala Badan Pengelola TransJakarta, Irzal Z Djamal mengakui, selama setahun ini pelayanan yang diberikan belum sempurna. Dia mengaku masih belajar banyak. Namun, dia memastikan, dengan kehadiran Tije, langkah Gubernur Sutiyoso dan Pemprov DKI Jakarta menyediakan angkutan umum sudah berada di jalur yang benar.


Dalam setahun masa perjalanan ini, Irzal menyakinkan, program TransJakarta telah menciptakan tradisi baru dalam bertransporatasi di Jakarta. Telah melakukan perubahan signifikan atas etos warga Jakarta. Mobilitas masyarakat yang makin tinggi, budaya antre yang makin baik dan etos kerja yang makin mantap. Menurutnya, perubahan-perubahan kultur ini sedikit banyak telah membuat Jakarta menjadi kota yang siap bersaing dengan kota-kota besar dunia lainnya.


Di samping menciptakan kenyamanan, kelancaran serta ketenangan bagi penumpang dalam bepergian serta pendapatan yang menggembirakan, jumlah pemakai mobil pribadi yang beralih ke TransJakarta pun ada sekitar 14 persen.


Meski demikian, menurut Djamal, ada beberapa hal yang harus dibenahi dan diperbaiki untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, di antaranya, tarif TransJakarta perlu disesuaikan sesuai dengan jarak tujuannya.


Dengan penetapan tarif sesuai jarak maka masyarakat yang hanya ingin turun di halte tertentu bisa menggunakan TransJakarta tanpa harus membayar Rp 2.500, melainkan bisa kurang dari Rp 2.500. Karena kalau tetap membayar Rp 2.500 orang bisa memilih kendaraan umum lain dengan tarif Rp 1.000.


Penetapan tarif sesuai dengan jarak akan menjadi pertimbangan ke depan dalam upaya memberikan pelayanan yang baik dan adil. Karena dengan demikian memungkinkan semakin banyak warga Jakarta menggunakan TransJakarta. Menurut Djamal, rasanya tidak adil, kalau seseorang hanya turun di dua halte atau tiga halte berikutnya membayar Rp 2.500 dan seseorang yang naik dari Blok M dan turun di Kota tetap membayar Rp 2.500. Kalau jauh dan dekat jaraknya tetap membayar Rp 2.500 rasanya tidak adil,’’ tegas Irzal.


Masalah lain yang harus menjadi perhatian adalah ketepatan waktu, seperti, setiap dua menit TransJakarta masuk halte. Selama ini masih sering terlihat dalam waktu yang sama, ada dua unit TransJakarta berhenti di halte yang sama. Di samping itu, bus feeder pun masih harus menjadi perhatian.

Lembaga Bisnis dan Swasta
Badan Pengelola TransJakarta sendiri dalam waktu dekat akan berubah bentuk menjadi institusi bisnis. Mengenai kemungkinan bentuk badan hukumnya masih dibahas, apakah berbentuk perseroan terbatas atau perusahaan daerah. Namun, menurut Kepala Dinas Perhubungan Pemprov DKI Rustam Effendi, meskipun berorientasi bisnis, BP TransJakarta akan tetap berpedoman pada standar pelayanan masyarakat dan pada awalnya masih akan disubsidi dari dana APBD.


Dinas Perhubungan telah menunjuk konsultan mengenai perubahan bentuk kelembagaan BP TransJakarta itu. Diharapkan paling lambat akhir Februari ini pemaparan konsultan mengenai hal ini sudah ada. Setelah itu akan ditetapkan oleh Gubernur dalam suatu surat keputusan, apakah berbentuk PT atau PD.


Sementara pengoperasian busway koridor II (Pulo Gadung-Harmoni) dan III (Harmoni-Kalideres, sementara ada perubahan rute melalui Tomang dan Suryopranoto menunggu selesainya jembatan layang di Jalan Hasyim Asyari) juga akan melibatkan investasi swasta, baik untuk pembelian bus maupun pertiketan.


Sehubungan dengan itu, Dinas Perhubungan dan BP TransJakarta sudah merumuskan setidaknya lima patokan yang harus dimiliki operator yang berminat. Kelima kriteria utama yang akan jadi penilaian itu adalah organisasi, aset fisik, keuangan, aset karyawan dan pemasok serta aset pelanggan.


Persyaratan bidang organisasi, ada beberapa turunan bidang, antara lain administrasi yang meliputi lama perusahaan berdiri, pengalaman dalam menjalankan operasi bus dan jasa outsourcing operator, support, stabilitas keuangan, juga sertifikasi. Juga, leadership, sejauh mana strategi, pengetahuan, values dan kultur perusahaan, brand perusahaan, inovasi, sistem dan proses kerja lapangan, dan juga termasuk kepemilikan hak paten atau proteksi aset.


Persyaratan bidang fisik, operator harus menyediakan bus dengan spesifikasi dari Pemprov DKI Jakarta, tingkat pemeliharaan, depo dan kantor, pasokan suku cadang, juga nilai-nilai asetnya. Sedangkan persyaratan bidang keuangan, dilihat pada tingkat laporan keuangan, kas, piutang, hutang, nilai investasi dan ekuitasnya.


Persyaratan aset karyawan dan pemasok, juga akan dinilai bagaimana proses rekruitmennya, hingga lalu lintas manajemen dari petugas lapangan hingga ke tingkat pemegang keputusan. ► e-ti/ht-crs
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)