A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  PENGUSAHA
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Kadin
 ► :: Asosiasi Kadin
 ► :: Kompartemen
 ► :: Kadinda
 ► :: Kadin di LN
 ► :: Asosiasi Lain
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 18032006  
   
  ► e-ti/kompas  
  Nama:
Runi Palar
Nama Lengkap:
Sotjawaruni Kumala Palar
Lahir:
Pujokusuman, Yogyakarta, 26 Mei 1946
Suami:
Drs Adriaan Palar (Lahir di Bandung 14 November 1936, Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966, jurusan Interior)
Menikah:
29 Oktober 1967
Anak:
- Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM
- Alvin Daniel Dipodi Palar, S.Sn
- Xenia Dani Tajiati Palar
Ayah:
RS Tjokrosoeroso (almarhum)
Ibu:
R Ngt Sumiyati Soenandar (almarhumah)

Pendidikan:
- Sekolah Dasar (SD), Yogyakarta
- Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yogyakarta
- Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA), Yogyakarta
- Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung
- Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwendah (1970)
- Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, SPsi (1974-1977)
- Kursus-kursus bahasa dan ketrampilan lainnya

Pekerjaan:
Direktur CV Runa, 1976
- Direktur Kirta Kaloka, 1996
Direktur Utama PT Runi Palar

Penghargaan:
1986: The American Gold Star Award for Quality
1990: UPAKARTI The Indonesian Presidential Award of Merit
1991: The Enterpreneurship Award 1991 dari Rotary Club International.
1992: 28 Best Business Executives in Developing Indonesia dari Natakarsa
1994: WIPI Award (Indonesian Women in Travel), Award of Merit in Indonesian Fine Handicraft for Tourism.
1995: Citra Adhikarsa Budaya’95 dari SCTV (one among seven Indonesian ladies who preserved the Indonesian cultures by Indonesian Television Broadcasting– SCTV).
1995: Srikandi Award dari IMI (International Management Indonesia)
1996: Indonesia Award dari Kharisma Indonesia
2001: Best Fashion Accessories Designer dipilih oleh FTV Paris (Fashion TV) pada acara Bali Fashion Week bulan Mei 2001.

Alamat Kantor:
PT Runi Palar
Jl. Geger Kalong Hilir No.68 Bandung
Telp. 022-21150336 Telex 022-210887



 
 
     
 
BERITA

 

Runi Palar

Bercermin dari Perak Yogya


Yogya dan Kotagede adalah salah satu sentra perak terkenal, meskipun kini kilaunya tidak lagi secemerlang masa lalu. Seni kriya perak memang nasibnya seperti roller coaster, naik turun dengan tajam. Tetapi, bila mengunjungi pameran sebulan sejak tanggal 15 Februari lalu di Erasmus Huis, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, maka kejayaan seni peraklah yang tersaji.


Pameran benda-benda perak milik empat kolektor asal Belanda: Van Gesseler Verschuir, Veldhuisen, Berting, dan de Bont yang berasal dari tahun 1930-an ini menarik dari sisi tema sebab ingin menghubungkan perak masa lalu dan masa kini. Karya desainer perhiasan perak Runi Palar mewakili generasi masa kini.


Semua benda perak yang dipamerkan di Erasmus Huis ini sebelumnya dipamerkan dari Maret hingga akhir Desember 2005 di Tropen Museum, Amsterdam, Belanda. Kedua pameran yang dikuratori antropolog Drs Pienke WH Kal dari Tropen Museum ini mengambil tema sama: ”Yogya Silver. Renewal of a Javanese Handicraft”.


Pilihan pada perak Yogya, atau lebih tepatnya Kotagede, antara lain karena barang perak dari kota itulah yang jejak kebangkitannya bersamaan dengan perubahan politik di Eropa dan terutama Belanda, yaitu Politik Etis, terdokumentasi cukup baik. Selain Kotagede, sentra barang perak Indonesia lainnya adalah Kotagadang (Sumatera Barat), Kendari (Sulawesi Tenggara), Palembang, (Sumatera Selatan), dan Bali.
 

Pilihan pada Runi Palar antara lain karena ayahnya, Tjokro Suroso, adalah salah satu artisan dan pemilik bengkel perak dari periode tersebut yang karyanya ada di dalam karya kolektor.


Situasi sosial-politik
Meskipun periode barang perak yang dipamerkan hanya berasal dari tahun 1930-1942 serta karya Runi Palar yang dimulai dari periode 1980-an hingga kini, tetapi untuk memahami karya tersebut harus juga memahami sejarah Jawa.


Pienke Kal membagi perak Yogya dalam tiga fase perkembangan: pada abad ke-18 dan ke-19 perajin perak Yogya dan Kotagede bekerja untuk kalangan kerajaan Yogyakarta; periode 1930-an perak Yogya berkembang pesat berkat perhatian kalangan elite Belanda dan Jawa; dan periode ketiga selama beberapa puluh tahun terakhir perak Yogya kembali menjadi produk yang penting secara ekonomi.


Pada paruh kedua abad ke-19, ketika raja-raja Jawa menyurut kebesarannya karena buruknya hasil panen, kelaparan, dan krisis ekonomi, artisan perak mulai menerima pesanan dari luar keraton. Meskipun demikian, mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan perak milik Belanda seperti Van Kempen dan Van Arcken&Co.


Pada saat hampir bersamaan di Belanda tumbuh gerakan Politik Etis, sementara di Inggris muncul gerakan Arts and Crafts Movement oleh William Morris. Gerakan ini ingin menjadikan seni sebagai bagian dari komunitas dan seniman seharusnya juga seorang perajin kriya.

 

Menurut Kal, gerakan ini melanda Eropa dengan berbagai nama antara lain Art Nouveau dan di Belanda disebut Nieuwe Kunst (Seni Baru).


Berbagai gerakan itu juga mengimbas ke Hindia Belanda. Salah satunya dipelopori istri Gubernur Hindia Belanda di Yogya, Ny MA van Gesseler Verschuir-Pownall. Pada tahun 1930-an dia mendorong artisan perak Yogya membuat barang perak dengan ragam hias tetap asli—ini bagian dari Politik Etis yang ingin mempertahankan kebudayaan asli—tetapi menggunakan bentuk benda Barat. Ny Van Gesseler mengajak kalangan elite Jawa dan Belanda berpartisipasi dalam proyek ini dengan memesan barang perak dari perajin perak Yogya.


Inilah menurut Pienke Kal salah satu ciri perak Yogya masa 1930-an. Benda-benda seperti perangkat makan Barat, kotak cerutu, asbak, vas bunga, kancing, pegangan tas, sisir dan cermin ala Barat di dalam pameran ini, misalnya, dihiasi ragam hias khas Jawa seperti lotus, sulur-suluran, burung merak, ular, dan wayang. Sebelumnya, ragam hias umumnya sederhana. Selain itu, mereka juga mulai memberi inisial pada karya mereka.


Ragam hias itu mendapat pengaruh Hindu dan Buddha serta kemudian Islam dalam bentuk stilisasi. ”Awalnya ragam hias diambil dari Candi Borobudur, Prambanan, Mendut, dan Mesjid Mantingan, tetapi kemudian mereka mengkreasi sendiri,” kata Pienke Kal.


Kal juga meyakini, meskipun ada berbagai pengaruh dari luar terhadap perkembangan perak periode 1930-an, artisan itu memiliki kemandirian menentukan ragam hias yang ingin mereka buat.


Generasi baru
Perhiasan perak karya Runi Palar dianggap mewakili generasi baru perak Indonesia. Runi yang memulai kariernya pada tahun 1968 membuat perhiasan dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam. Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree (trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian dilas, dan ketokan.


Dengan pasar utamanya Jepang selain Indonesia dan Eropa, Runi menempati posisi tersendiri di dalam perkembangan perak Indonesia.


Akan halnya Kotagede, setelah sempat menyurut saat menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia, perdagangan perak kini kembali hidup. Pasar utama mereka adalah turis. Sayangnya, karena turis tidak mau membeli barang perak berukuran besar, maka yang diproduksi adalah barang-barang berukuran kecil.


”Sebenarnya sayang sekali bila seni perak Yogya dan Kotagede ini menghilang sebab seni mereka unik,” tutur Pienke Kal. Pameran ini mudah-mudahan dapat menginspirasi untuk mengembangkan lebih jauh seni kriya perak kita. (Ninuk Mardiana Pambudy, Kompas 26 Februari 2006)

NAMA DAN PERISTIWA
BARU sekitar sebulan berada di Indonesia, Runi Palar (57) sudah terbang lagi ke Jepang. "Kali ini agak lama, sampai satu setengah bulanan karena harus pameran perhiasan koleksi terbaru saya di tiga kota," tutur Runi, Jumat (14/5) di Jakarta. Pagi itu Runi baru sampai dari Bali untuk mengambil visa di Kedutaan Jepang di Jalan MH Thamrin.


Sebetulnya karya Runi juga sedang dipamerkan di Griya Santrian Gallery, Sanur, Bali, selama dua bulan. Pameran itu dibuka Jumat tanggal 7 Mei lalu. "Yang dipamerkan adalah koleksi dari Museum Runa," papar Runi yang memiliki rumah sekaligus museum di kawasan Ubud, Bali, untuk berbagai produk perhiasan yang diberi merek Runa.


Perhiasan yang dipamerkan menggambarkan perjalanan kreativitas Runi dalam seni perhiasan perak. Menurut Runi, pameran yang juga menarik minat beberapa kurator asing itu menyebabkan dia mendapat tawaran untuk berpameran di Amerika Serikat. "Tetapi, saya bilang jangan tahun ini karena saya banyak pekerjaan. Kalau bisa tahun depan saja," papar ibu tiga anak ini.


Selama beberapa tahun terakhir Runi yang bernama asli Sotjawaruni Kamala mengonsentrasikan diri pada pasar Jepang. Dia aktif mengadakan pameran di berbagai kota, termasuk di Tokyo, yang akan dijalaninya mulai akhir Mei ini.

 

"Pameran di Tokyo bersama anak saya, setelah itu dia pulang. Terpaksa saya menjalani pameran di dua kota lainnya sendirian," kata Runi. Lalu, kapan akan berpameran untuk publik Jakarta? "Mudah-mudahan bisa terlaksana pada bulan ber-ber, Oktober mungkin. Teman-teman di Jakarta sudah meminta," kata Runi. Kalau begitu, kami tunggu Mbak. (NMP) ►e-ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)