| |
C © updated 18032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Runi Palar
Nama Lengkap:
Sotjawaruni Kumala Palar
Lahir:
Pujokusuman, Yogyakarta, 26 Mei 1946
Suami:
Drs Adriaan Palar (Lahir di Bandung 14 November 1936, Sarjana Seni Rupa
ITB lulusan 1966, jurusan Interior)
Menikah:
29 Oktober 1967
Anak:
- Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM
- Alvin Daniel Dipodi Palar, S.Sn
- Xenia Dani Tajiati Palar
Ayah:
RS Tjokrosoeroso (almarhum)
Ibu:
R Ngt Sumiyati Soenandar (almarhumah)
Pendidikan:
- Sekolah Dasar (SD), Yogyakarta
- Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yogyakarta
- Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA), Yogyakarta
- Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung
- Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwendah (1970)
- Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen
Pribadi, SPsi (1974-1977)
- Kursus-kursus bahasa dan ketrampilan lainnya
Pekerjaan:
Direktur CV Runa, 1976
- Direktur Kirta Kaloka, 1996
Direktur Utama PT Runi Palar
Penghargaan:
1986: The American Gold Star Award for Quality
1990: UPAKARTI The Indonesian Presidential Award of Merit
1991: The Enterpreneurship Award 1991 dari Rotary Club International.
1992: 28 Best Business Executives in Developing Indonesia dari Natakarsa
1994: WIPI Award (Indonesian Women in Travel), Award of Merit in
Indonesian Fine Handicraft for Tourism.
1995: Citra Adhikarsa Budaya’95 dari SCTV (one among seven Indonesian
ladies who preserved the Indonesian cultures by Indonesian Television
Broadcasting– SCTV).
1995: Srikandi Award dari IMI (International Management Indonesia)
1996: Indonesia Award dari Kharisma Indonesia
2001: Best Fashion Accessories Designer dipilih oleh FTV Paris (Fashion
TV) pada acara Bali Fashion Week bulan Mei 2001.
Alamat Kantor:
PT Runi Palar
Jl. Geger Kalong Hilir No.68 Bandung
Telp. 022-21150336 Telex 022-210887
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Runi Palar
Menari di Atas Perak
Ketika akhirnya kami bertemu di Erasmus Huis pada hari pertama pameran
”Yogya Silver, Renewal of a Javanese Handicraft” pertengahan Februari
lalu, Runi Palar baru saja datang dari Bali. Bali menjadi rumah keduanya
setelah Bandung, di mana dia juga memiliki rumah dan bengkel kerja.
Desain perhiasan perak Runi dari periode 1980-an hingga kini termasuk
yang dipamerkan dalam pameran yang berlangsung pada 15 Februari-17 Maret
lalu. Sebelumnya, dari Maret hingga Desember 2005, karya Runi dipamerkan
di Tropen Museum, Amsterdam, Belanda, bersama barang-barang perak
Yogyakarta dari periode tahun 1930-an yang dikoleksi empat orang
Belanda.
”Tadi pagi ke Departemen Perdagangan, diajak bicara pengembangan
kerajinan Indonesia. Saya katakan sekali lagi, kita harus memiliki
merek. Tidak bisa lagi bicara berapa kilo perhiasan yang telah kita
ekspor,” kata Runi.
Itulah yang diperjuangkan Runi sejak tahun 1976-an: membangun nama dan
merek karena dia ingin ada karya orang Indonesia yang diakui di dalam
negeri dan di dunia internasional. Namanya kini telah dikenal di Jepang
dan beberapa negara Eropa, selain di dalam negeri.
Padahal, awalnya Runi tidak pernah bercita-cita menjadi perancang
perhiasan meskipun ayahnya, almarhum RS Tjokrosoeroso, adalah artisan
perak bakar dan menjadi orang Indonesia pertama yang memamerkan seni
kriya perak dan cara pembuatannya di San Francisco, Amerika Serikat,
pada tahun 1938 selama 14 bulan.
Kini, hidup Runi diisi dengan terbang ke Bali, Bandung, sesekali ke
Jakarta, dan hampir separuh waktunya dalam setahun dihabiskan berpameran
di berbagai kota di Jepang. Di antara waktunya yang padat itu, kami
sempat bertemu beberapa kali, termasuk saat hari pertama pamerannya di
Erasmus Huis dibuka untuk umum, 15 Februari lalu. Bagaimana sampai karya
Anda dipamerkan di Museum Tropen dan Erasmus Huis?
Almarhum Ayah punya bengkel perak di Yogyakarta. Lalu Tropen ingin
membuat pameran perak Yogyakarta. Saya dipilih karena dianggap mewakili
generasi muda walaupun bentuk yang dihasilkan beda karena saya lebih
pada seni perhiasan. Sebelumnya, saya pernah pameran juga di sana.
Kuratornya, Drs Pienke WH Kal, kenal saya. Padahal, saya sampaikan di
Indonesia ada banyak desainer perak.
Anda sebelumnya lebih terlatih sebagai penari klasik Jawa?
Waktu muda, saya memang menari di Keraton Yogyakarta. Saya salah satu
penari favorit GPH Tedjo Kusumo yang mengaktifkan tarian klasik Jawa.
Kalau saya datang ke tempat beliau, waktu umur 9, 10, dan 11 tahun,
beliau mesti bersila dan saya harus menari di depan beliau. Liukan,
gereget saya itu persis yang beliau suka. Saya menjadi penari utamanya.
Ketika beliau mendapat penghargaan Wijayakusuma untuk penciptaan seni
tinggi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, beliau membuat lakon
Wijayakusuma. Yang menjadi Wijayakusuma-nya saya.
Menari sejak usia berapa?
Sejak sembilan tahun sampai dua bulan sebelum menikah, usia 22 tahun.
Dua bulan sebelum menikah saya masih melanglang di luar negeri
memperkenalkan Indonesia memalui tari Jawa klasik, antara lain di depan
Ratu Juliana di Belanda dan di Paris di Palais de Chailot yang khusus
untuk tarian seni.
Menjadi artis perak karena Ayah?
Ayah saya bersikap anak perempuan tidak usah dekat-dekat tempat
kerjanya, kotor katanya. Anak perempuan menari dan pandu (pramuka) saja
dan tidak boleh menari di sembarang tepat.
Tahun 1964 saya menari di paviliun Indonesia di New York World’s Fair.
Di situ saya bertemu Mas Adri, dia lulusan seni rupa Institut Teknologi
Bandung yang bekerja sebagai tim interior di paviliun Indonesia.
Indonesia dapat penghargaan kedua sebagai paviliun terbaik, yang pertama
Spanyol.
Dari situ saya lalu ke Belanda dan bertemu lagi dengan Mas Adri yang
sedang belajar editing film. Saya kan sekolah di Institut Teknologi
Tekstil di Bandung, ternyata dia tinggal di Bandung. Jadi, kena deh.
Sekolah saya tidak selesai.
Tidak lagi menari, Runi menyalurkan energinya dengan mendesain busana
sendiri dan membuat perhiasan dari perak dan emas. Dia kerap ikut
berbagai pameran dan tahun 1976 berdirilah CV Runa yang merupakan
singkatan nama Runi dan Adriaan. Tahun 1996, lahir Kirta Kaloka yang
bergerak dalam seni tekstil Indonesia, yang dikelola terutama oleh dua
dari tiga anak mereka, Xenia dan Alvin.
”Saya katakan kepada mereka, bila ingin meneruskan usaha ini tidak bisa
hanya duduk, tetapi harus mau turun sampai ke pelosok, mencari bahan
baku baru, perajin baru, bertemu orang-orang yang dapat bekerja bersama
kami,” tutur Runi.
Kenapa tidak menyelesaikan kuliah?
Biasalah. Ayah khawatir, meminta saya langsung menikah. Saya penurut, ya
saya menikah. Setelah menikah masih meneruskan kuliah, lalu Mas Adri
bilang, ’Run, kamu masih mau jadi sarjana? Silakan, paling-paling kamu
jadi sarjana tekstil, kerja di pabrik tekstil, pulang kerja jam tujuh
malam dari laboratorium’.
Terus saya bilang, saya ingin jadi koreografer tari. Dia bilang,
’Koreografer itu suatu saat akan menari lagi’. Dia tahu, Martha Graham
meski sudah jadi koreografer masih menari juga. Waktu Martha ke sini
saya juga melihat, sudah tua masih menari. ’Kamu belum puas?’
Dibegitukan saya jadi mengeret.
Saya maunya bukan itu, tetapi mengajar menari yang dari hati. Biarpun
tidak cantik, tetapi kalau menari dari hati tariannya nanti jadi bagus.
Lalu, kalau tidak menari, apa? ’Bikin perak.’ Wah, saya tidak terpikir.
Mungkin karena tiap hari dekat dengan perak di Yogya, memakai perak pun
tidak ingin waktu itu karena ketokannya hanya itu-itu saja dan bukan
perhiasan.
Kebetulan dulu saya sekolah teknologi menengah atas yang hanya ada satu
di Indonesia, di Yogya. Muridnya dari seluruh Indonesia. Di sana diajari
praktik di laboratorium dan pertukangan, mengelas. Saya ingin masuk ke
situ karena susah masuknya. Saya selalu begitu, ingin mencoba yang
sulit.
Lalu saya berpikir, barang perak yang ada kuno-kuno modelnya. Dari
menari kok ke perak, ya. Sekarang saya menari di atas perak.
Mas Adri membantu dengan mencarikan satu perajin emas. Tetapi, masih
belum tahu mau bikin apa.
Mengapa Anda turuti permintaan itu?
Saya memang penurut. Zaman dulu lain. Tetapi, memang saya ikut pandu itu
kan harus mandiri. Mungkin dulu saya ada pemalunya.
Karena dulu anak perempuan harus menurut? Padahal, Anda ke mana-mana
sendiri, sangat mandiri?
Mungkin, ya. Tetapi, di luar kepenurutan itu ada faktor X. Saya kan
nyonya rumah. Mas Adri yang mendorong saya berkarya di perak. Segala
sesuatu saya diskusikan dengan dia. Saya enggak mau melangkahi atau
nduwuri (menjadi lebih di atas). Saya itu diberi lahan karena dia, bukan
karena saya sebab saya awalnya ingin jadi guru (tari).
Saya berprinsip karier dan rumah tangga harus bisa seiring. Kuncinya
satu, kita mau menerima. Mungkin dari 100 hal, kita unggul 98 persen,
tetapi jangan mengatakan yang dua persen itu saya lebih tinggi. Ini juga
saya katakan kepada teman-teman yang pintar-pintar untuk merasa satu
sentimeter lebih rendah dari suami. Itu paling asyik. Dia akan memberi
penghargaan lebih kepada Anda.
Dia tahu dong Anda punya kelebihan dalam banyak hal dibandingkan dengan
dia, tetapi kita jangan merasa lebih. Dia akan merasa dan melihat dengan
mata hatinya kelebihan kita. Kami menikah sudah 38 tahun. Rasanya
seperti baru kemarin.
Seperti jatuh cinta terus?
Aduh, di mana pun kami, rasanya seperti berdekatan terus. Di mana pun
saya, kami selalu berteleponan setiap malam. Kalau saya sedang di luar
negeri, biaya telepon kami sama-sama melembung. Entah dia yang menelepon
atau saya yang menelepon.
Berapa lama dalam setahun ada di luar negeri?
Lima tahun terakhir sekitar setengah tahun total waktu saya ada di luar
negeri. Tetapi, saya sering tidak sendiri. Anak-anak bergantian kerap
menemani. Saya mulai memperkenalkan mereka kepada pelanggan di Jepang.
Runi mengatakan, dia ingin terus mendesain meskipun dua anak mereka
sudah dipersiapkan meneruskan usaha ini. Dia tidak perlu tempat khusus
untuk menggoreskan sketsa desainnya. Sambil makan siang di kantin
Erasmus Huis, Runi mengeluarkan penanya dan mencoret-coret di atas
kertas. Inspirasi desainnya dari alam, manusia, dan benda- benda di
sekitarnya.
Di Jepang, selain Runa nama Runi Palar juga sudah dipatenkan sebab Runi
kerap diundang berpameran sebagai artis dalam antara lain Fascinating
Jewellery. Lima tahun terakhir Runi konsentrasi memasuki pasar Jepang.
”Kata orang, Jepang itu sulit. Karena itu, saya malah ingin mencoba,”
katanya.
Apa kiat berbisnis dengan Jepang?
Perlu relasi jangka panjang. Mereka memang berjenjang dalam mengambil
keputusan, karenanya jangan terlalu memaksakan. Kita mesti berteman,
tetapi tetap konsisten dan fokus pada produk kita. Perlahan-lahan mereka
akan percaya dan kalau sudah percaya tidak mau lepas lagi lalu membuka
tawaran untuk ini-itu. Kadang-kadang malah saya yang minta pelan-pelan
karena ingin fokus.
Butuh kesabaran?
Mereka sebenarnya pemalu dan karenanya butuh waktu. Dan kalau bicara
dengan mereka tidak bisa terus menatap mata, sesekali harus agak
menurunkan pandangan. Yang seperti ini memang tidak pernah ditulis di
buku, tetapi berlaku. Biarpun orang luar, tetapi dengan mengikuti budaya
mereka, mereka merasa kita dapat menjadi rekan kerja.
Bagaimana mengompromikan antara seni dan daya jual?
Menurut saya, bila mau menjadi desainer harus bisa menjual. Bila tidak
bisa menjual, bagaimana akan memproduksi karya yang baru?
Saya kadang-kadang membuat desain yang belum tentu orang lain suka.
Tetapi, ketika membuat itu, saya tahu saya akan kenakan ke mana dan
bagaimana. Di situ ada faktor di mana saya merasa benar-benar puas.
Di sisi lain, saya sadar, bila terlalu menuruti perasaan saya, orang
mungkin tidak mengerti. Saya lalu membuat yang lebih sederhana,
mengikuti benda alam misalnya, supaya rotasi keuangan perusahaan lancar
karena saya kan bekerja dengan banyak orang.
Masih ada citra di luar negeri perhiasan Indonesia barang kiloan?
Masih ada. Pemerintah sendiri masih melihat dari sisi kuantitas, berapa
kilo, berapa kontainer. Jadi, bukan jenisnya apa, bagaimana kualitasnya,
apa dijual memakai merek atau nama kita.
Baru sekarang Departemen Perdagangan mulai memerhatikan merek. Mestinya
sudah dari dulu-dulu Indonesia keluar dengan merek, nama perancangnya.
Jangan Indonesia hanya jadi tempat membuat merek asing, diberi ongkos
bikin, tetapi nama Indonesia tidak muncul.
Sampai sekitar 10 tahun lalu saya masih menerima pesanan pembuatan,
tetapi kemudian tidak lagi. Saya mau konsentrasi pada Runa. Orang sering
bilang, membangun merek itu sulit dan saya tahu itu sulit. Tetapi, kalau
tidak pernah dirintis lalu kapan mulainya.
Pengalaman Anda?
Terbayang tidak, saya mulai dari usaha kecil-menengah, dari nol besar.
Ketika membangun merek, saya memasukkan idealisme saya, kelanjutan hidup
perusahaan, menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dan pekerjaan,
seimbang dan harmonis dengan masyarakat, lalu mendesain.
Saya tidak pernah mengeluh karena kalau ingin maju katanya tidak boleh
mengeluh. Tetapi, saya sering berpikir, perempuan katanya bisa
mengerjakan 1.001 pekerjaan. Yang saya kerjakan belum sampai 100,
he-he.... Orang bilang, jadi perempuan itu second grade, tetapi menurut
saya enggak....
Walau harus mengalah kepada orangtua dan suami?
Bukan, itu bukan untuk jadi second grade. Kompromi itu justru untuk
menyejajarkan, win-win, sama-sama. Jangan dua-duanya lost. (Ninuk Mardiana Pambudy,
Kompas 18 Maret 2006)
Kompas 26 Februari 2006:
BECERMIN DARI PERAK YOGYA
Bercermin dari Perak Yogya
Ninuk Mardiana Pambudy
Yogya dan Kotagede adalah salah satu sentra perak terkenal, meskipun
kini kilaunya tidak lagi secemerlang masa lalu. Seni kriya perak memang
nasibnya seperti roller coaster, naik turun dengan tajam. Tetapi, bila
mengunjungi pameran sebulan sejak tanggal 15 Februari lalu di Erasmus
Huis, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, maka kejayaan seni peraklah
yang tersaji.
Pameran benda-benda perak milik empat kolektor asal Belanda: Van
Gesseler Verschuir, Veldhuisen, Berting, dan de Bont yang berasal dari
tahun 1930-an ini menarik dari sisi tema sebab ingin menghubungkan perak
masa lalu dan masa kini. Karya desainer perhiasan perak Runi Palar
mewakili generasi masa kini.
Semua benda perak yang dipamerkan di Erasmus Huis ini sebelumnya
dipamerkan dari Maret hingga akhir Desember 2005 di Tropen Museum,
Amsterdam, Belanda. Kedua pameran yang dikuratori antropolog Drs Pienke
WH Kal dari Tropen Museum ini mengambil tema sama: ”Yogya Silver.
Renewal of a Javanese Handicraft”.
Pilihan pada perak Yogya, atau lebih tepatnya Kotagede, antara lain
karena barang perak dari kota itulah yang jejak kebangkitannya bersamaan
dengan perubahan politik di Eropa dan terutama Belanda, yaitu Politik
Etis, terdokumentasi cukup baik. Selain Kotagede, sentra barang perak
Indonesia lainnya adalah Kotagadang (Sumatera Barat), Kendari (Sulawesi
Tenggara), Palembang, (Sumatera Selatan), dan Bali.
Pilihan pada Runi Palar antara lain karena ayahnya, Tjokro Suroso,
adalah salah satu artisan dan pemilik bengkel perak dari periode
tersebut yang karyanya ada di dalam karya kolektor.
Situasi sosial-politik
Meskipun periode barang perak yang dipamerkan hanya berasal dari tahun
1930-1942 serta karya Runi Palar yang dimulai dari periode 1980-an
hingga kini, tetapi untuk memahami karya tersebut harus juga memahami
sejarah Jawa.
Pienke Kal membagi perak Yogya dalam tiga fase perkembangan: pada abad
ke-18 dan ke-19 perajin perak Yogya dan Kotagede bekerja untuk kalangan
kerajaan Yogyakarta; periode 1930-an perak Yogya berkembang pesat berkat
perhatian kalangan elite Belanda dan Jawa; dan periode ketiga selama
beberapa puluh tahun terakhir perak Yogya kembali menjadi produk yang
penting secara ekonomi.
Pada paruh kedua abad ke-19, ketika raja-raja Jawa menyurut kebesarannya
karena buruknya hasil panen, kelaparan, dan krisis ekonomi, artisan
perak mulai menerima pesanan dari luar keraton. Meskipun demikian,
mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan perak milik Belanda
seperti Van Kempen dan Van Arcken&Co.
Pada saat hampir bersamaan di Belanda tumbuh gerakan Politik Etis,
sementara di Inggris muncul gerakan Arts and Crafts Movement oleh
William Morris. Gerakan ini ingin menjadikan seni sebagai bagian dari
komunitas dan seniman seharusnya juga seorang perajin kriya.
Menurut
Kal, gerakan ini melanda Eropa dengan berbagai nama antara lain Art
Nouveau dan di Belanda disebut Nieuwe Kunst (Seni Baru).
Berbagai gerakan itu juga mengimbas ke Hindia Belanda. Salah satunya
dipelopori istri Gubernur Hindia Belanda di Yogya, Ny MA van Gesseler
Verschuir-Pownall. Pada tahun 1930-an dia mendorong artisan perak Yogya
membuat barang perak dengan ragam hias tetap asli—ini bagian dari
Politik Etis yang ingin mempertahankan kebudayaan asli—tetapi
menggunakan bentuk benda Barat. Ny Van Gesseler mengajak kalangan elite
Jawa dan Belanda berpartisipasi dalam proyek ini dengan memesan barang
perak dari perajin perak Yogya.
Inilah menurut Pienke Kal salah satu ciri perak Yogya masa 1930-an.
Benda-benda seperti perangkat makan Barat, kotak cerutu, asbak, vas
bunga, kancing, pegangan tas, sisir dan cermin ala Barat di dalam
pameran ini, misalnya, dihiasi ragam hias khas Jawa seperti lotus,
sulur-suluran, burung merak, ular, dan wayang. Sebelumnya, ragam hias
umumnya sederhana. Selain itu, mereka juga mulai memberi inisial pada
karya mereka.
Ragam hias itu mendapat pengaruh Hindu dan Buddha serta kemudian Islam
dalam bentuk stilisasi. ”Awalnya ragam hias diambil dari Candi
Borobudur, Prambanan, Mendut, dan Mesjid Mantingan, tetapi kemudian
mereka mengkreasi sendiri,” kata Pienke Kal.
Kal juga meyakini, meskipun ada berbagai pengaruh dari luar terhadap
perkembangan perak periode 1930-an, artisan itu memiliki kemandirian
menentukan ragam hias yang ingin mereka buat.
Generasi baru
Perhiasan perak karya Runi Palar dianggap mewakili generasi baru perak
Indonesia. Runi yang memulai kariernya pada tahun 1968 membuat perhiasan
dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan
benda-benda alam. Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree
(trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian
dilas, dan ketokan.
Dengan pasar utamanya Jepang selain Indonesia dan Eropa, Runi menempati
posisi tersendiri di dalam perkembangan perak Indonesia.
Akan halnya Kotagede, setelah sempat menyurut saat menjelang dan setelah
kemerdekaan Indonesia, perdagangan perak kini kembali hidup. Pasar utama
mereka adalah turis. Sayangnya, karena turis tidak mau membeli barang
perak berukuran besar, maka yang diproduksi adalah barang-barang
berukuran kecil.
”Sebenarnya sayang sekali bila seni perak Yogya dan Kotagede ini
menghilang sebab seni mereka unik,” tutur Pienke Kal. Pameran ini
mudah-mudahan dapat menginspirasi untuk mengembangkan lebih jauh seni
kriya perak kita.
NAMA DAN PERISTIWA
BARU sekitar sebulan berada di Indonesia, Runi Palar (57) sudah terbang
lagi ke Jepang. "Kali ini agak lama, sampai satu setengah bulanan karena
harus pameran perhiasan koleksi terbaru saya di tiga kota," tutur Runi,
Jumat (14/5) di Jakarta. Pagi itu Runi baru sampai dari Bali untuk
mengambil visa di Kedutaan Jepang di Jalan MH Thamrin.
Sebetulnya karya Runi juga sedang dipamerkan di Griya Santrian Gallery,
Sanur, Bali, selama dua bulan. Pameran itu dibuka Jumat tanggal 7 Mei
lalu. "Yang dipamerkan adalah koleksi dari Museum Runa," papar Runi yang
memiliki rumah sekaligus museum di kawasan Ubud, Bali, untuk berbagai
produk perhiasan yang diberi merek Runa.
Perhiasan yang dipamerkan menggambarkan perjalanan kreativitas Runi
dalam seni perhiasan perak. Menurut Runi, pameran yang juga menarik
minat beberapa kurator asing itu menyebabkan dia mendapat tawaran untuk
berpameran di Amerika Serikat. "Tetapi, saya bilang jangan tahun ini
karena saya banyak pekerjaan. Kalau bisa tahun depan saja," papar ibu
tiga anak ini.
Selama beberapa tahun terakhir Runi yang bernama asli Sotjawaruni Kamala
mengonsentrasikan diri pada pasar Jepang. Dia aktif mengadakan pameran
di berbagai kota, termasuk di Tokyo, yang akan dijalaninya mulai akhir
Mei ini.
"Pameran di Tokyo bersama anak saya, setelah itu dia pulang.
Terpaksa saya menjalani pameran di dua kota lainnya sendirian," kata
Runi. Lalu, kapan akan berpameran untuk publik Jakarta? "Mudah-mudahan
bisa terlaksana pada bulan ber-ber, Oktober mungkin. Teman-teman di
Jakarta sudah meminta," kata Runi. Kalau begitu, kami tunggu Mbak. (NMP)
►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|