A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  PENGUSAHA
 ► Pengusaha
 ► Company Profile
 ► Kadin
 ► :: Asosiasi Kadin
 ► :: Kompartemen
 ► :: Kadinda
 ► :: Kadin di LN
 ► :: Asosiasi Lain
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 18032006  
   
  ► e-ti/kompas  
  Nama:
Runi Palar
Nama Lengkap:
Sotjawaruni Kumala Palar
Lahir:
Pujokusuman, Yogyakarta, 26 Mei 1946
Suami:
Drs Adriaan Palar (Lahir di Bandung 14 November 1936, Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966, jurusan Interior)
Menikah:
29 Oktober 1967
Anak:
- Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM
- Alvin Daniel Dipodi Palar, S.Sn
- Xenia Dani Tajiati Palar
Ayah:
RS Tjokrosoeroso (almarhum)
Ibu:
R Ngt Sumiyati Soenandar (almarhumah)

Pendidikan:
- Sekolah Dasar (SD), Yogyakarta
- Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yogyakarta
- Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA), Yogyakarta
- Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung
- Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwendah (1970)
- Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, SPsi (1974-1977)
- Kursus-kursus bahasa dan ketrampilan lainnya

Pekerjaan:
Direktur CV Runa, 1976
- Direktur Kirta Kaloka, 1996
Direktur Utama PT Runi Palar

Penghargaan:
1986: The American Gold Star Award for Quality
1990: UPAKARTI The Indonesian Presidential Award of Merit
1991: The Enterpreneurship Award 1991 dari Rotary Club International.
1992: 28 Best Business Executives in Developing Indonesia dari Natakarsa
1994: WIPI Award (Indonesian Women in Travel), Award of Merit in Indonesian Fine Handicraft for Tourism.
1995: Citra Adhikarsa Budaya’95 dari SCTV (one among seven Indonesian ladies who preserved the Indonesian cultures by Indonesian Television Broadcasting– SCTV).
1995: Srikandi Award dari IMI (International Management Indonesia)
1996: Indonesia Award dari Kharisma Indonesia
2001: Best Fashion Accessories Designer dipilih oleh FTV Paris (Fashion TV) pada acara Bali Fashion Week bulan Mei 2001.

Alamat Kantor:
PT Runi Palar
Jl. Geger Kalong Hilir No.68 Bandung
Telp. 022-21150336 Telex 022-210887



 
 
     
 
BERITA

 

Runi Palar

Menari di Atas Perak


Ketika akhirnya kami bertemu di Erasmus Huis pada hari pertama pameran ”Yogya Silver, Renewal of a Javanese Handicraft” pertengahan Februari lalu, Runi Palar baru saja datang dari Bali. Bali menjadi rumah keduanya setelah Bandung, di mana dia juga memiliki rumah dan bengkel kerja.

Desain perhiasan perak Runi dari periode 1980-an hingga kini termasuk yang dipamerkan dalam pameran yang berlangsung pada 15 Februari-17 Maret lalu. Sebelumnya, dari Maret hingga Desember 2005, karya Runi dipamerkan di Tropen Museum, Amsterdam, Belanda, bersama barang-barang perak Yogyakarta dari periode tahun 1930-an yang dikoleksi empat orang Belanda.

”Tadi pagi ke Departemen Perdagangan, diajak bicara pengembangan kerajinan Indonesia. Saya katakan sekali lagi, kita harus memiliki merek. Tidak bisa lagi bicara berapa kilo perhiasan yang telah kita ekspor,” kata Runi.

Itulah yang diperjuangkan Runi sejak tahun 1976-an: membangun nama dan merek karena dia ingin ada karya orang Indonesia yang diakui di dalam negeri dan di dunia internasional. Namanya kini telah dikenal di Jepang dan beberapa negara Eropa, selain di dalam negeri.

Padahal, awalnya Runi tidak pernah bercita-cita menjadi perancang perhiasan meskipun ayahnya, almarhum RS Tjokrosoeroso, adalah artisan perak bakar dan menjadi orang Indonesia pertama yang memamerkan seni kriya perak dan cara pembuatannya di San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 1938 selama 14 bulan.

Kini, hidup Runi diisi dengan terbang ke Bali, Bandung, sesekali ke Jakarta, dan hampir separuh waktunya dalam setahun dihabiskan berpameran di berbagai kota di Jepang. Di antara waktunya yang padat itu, kami sempat bertemu beberapa kali, termasuk saat hari pertama pamerannya di Erasmus Huis dibuka untuk umum, 15 Februari lalu. Bagaimana sampai karya Anda dipamerkan di Museum Tropen dan Erasmus Huis?

Almarhum Ayah punya bengkel perak di Yogyakarta. Lalu Tropen ingin membuat pameran perak Yogyakarta. Saya dipilih karena dianggap mewakili generasi muda walaupun bentuk yang dihasilkan beda karena saya lebih pada seni perhiasan. Sebelumnya, saya pernah pameran juga di sana. Kuratornya, Drs Pienke WH Kal, kenal saya. Padahal, saya sampaikan di Indonesia ada banyak desainer perak.

Anda sebelumnya lebih terlatih sebagai penari klasik Jawa?

Waktu muda, saya memang menari di Keraton Yogyakarta. Saya salah satu penari favorit GPH Tedjo Kusumo yang mengaktifkan tarian klasik Jawa. Kalau saya datang ke tempat beliau, waktu umur 9, 10, dan 11 tahun, beliau mesti bersila dan saya harus menari di depan beliau. Liukan, gereget saya itu persis yang beliau suka. Saya menjadi penari utamanya. Ketika beliau mendapat penghargaan Wijayakusuma untuk penciptaan seni tinggi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, beliau membuat lakon Wijayakusuma. Yang menjadi Wijayakusuma-nya saya.

Menari sejak usia berapa?

Sejak sembilan tahun sampai dua bulan sebelum menikah, usia 22 tahun. Dua bulan sebelum menikah saya masih melanglang di luar negeri memperkenalkan Indonesia memalui tari Jawa klasik, antara lain di depan Ratu Juliana di Belanda dan di Paris di Palais de Chailot yang khusus untuk tarian seni.

Menjadi artis perak karena Ayah?

Ayah saya bersikap anak perempuan tidak usah dekat-dekat tempat kerjanya, kotor katanya. Anak perempuan menari dan pandu (pramuka) saja dan tidak boleh menari di sembarang tepat.

Tahun 1964 saya menari di paviliun Indonesia di New York World’s Fair. Di situ saya bertemu Mas Adri, dia lulusan seni rupa Institut Teknologi Bandung yang bekerja sebagai tim interior di paviliun Indonesia. Indonesia dapat penghargaan kedua sebagai paviliun terbaik, yang pertama Spanyol.

Dari situ saya lalu ke Belanda dan bertemu lagi dengan Mas Adri yang sedang belajar editing film. Saya kan sekolah di Institut Teknologi Tekstil di Bandung, ternyata dia tinggal di Bandung. Jadi, kena deh. Sekolah saya tidak selesai.

Tidak lagi menari, Runi menyalurkan energinya dengan mendesain busana sendiri dan membuat perhiasan dari perak dan emas. Dia kerap ikut berbagai pameran dan tahun 1976 berdirilah CV Runa yang merupakan singkatan nama Runi dan Adriaan. Tahun 1996, lahir Kirta Kaloka yang bergerak dalam seni tekstil Indonesia, yang dikelola terutama oleh dua dari tiga anak mereka, Xenia dan Alvin.

”Saya katakan kepada mereka, bila ingin meneruskan usaha ini tidak bisa hanya duduk, tetapi harus mau turun sampai ke pelosok, mencari bahan baku baru, perajin baru, bertemu orang-orang yang dapat bekerja bersama kami,” tutur Runi.

Kenapa tidak menyelesaikan kuliah?

Biasalah. Ayah khawatir, meminta saya langsung menikah. Saya penurut, ya saya menikah. Setelah menikah masih meneruskan kuliah, lalu Mas Adri bilang, ’Run, kamu masih mau jadi sarjana? Silakan, paling-paling kamu jadi sarjana tekstil, kerja di pabrik tekstil, pulang kerja jam tujuh malam dari laboratorium’.

Terus saya bilang, saya ingin jadi koreografer tari. Dia bilang, ’Koreografer itu suatu saat akan menari lagi’. Dia tahu, Martha Graham meski sudah jadi koreografer masih menari juga. Waktu Martha ke sini saya juga melihat, sudah tua masih menari. ’Kamu belum puas?’ Dibegitukan saya jadi mengeret.

Saya maunya bukan itu, tetapi mengajar menari yang dari hati. Biarpun tidak cantik, tetapi kalau menari dari hati tariannya nanti jadi bagus.

Lalu, kalau tidak menari, apa? ’Bikin perak.’ Wah, saya tidak terpikir. Mungkin karena tiap hari dekat dengan perak di Yogya, memakai perak pun tidak ingin waktu itu karena ketokannya hanya itu-itu saja dan bukan perhiasan.

Kebetulan dulu saya sekolah teknologi menengah atas yang hanya ada satu di Indonesia, di Yogya. Muridnya dari seluruh Indonesia. Di sana diajari praktik di laboratorium dan pertukangan, mengelas. Saya ingin masuk ke situ karena susah masuknya. Saya selalu begitu, ingin mencoba yang sulit.

Lalu saya berpikir, barang perak yang ada kuno-kuno modelnya. Dari menari kok ke perak, ya. Sekarang saya menari di atas perak.

Mas Adri membantu dengan mencarikan satu perajin emas. Tetapi, masih belum tahu mau bikin apa.

Mengapa Anda turuti permintaan itu?

Saya memang penurut. Zaman dulu lain. Tetapi, memang saya ikut pandu itu kan harus mandiri. Mungkin dulu saya ada pemalunya.

Karena dulu anak perempuan harus menurut? Padahal, Anda ke mana-mana sendiri, sangat mandiri?

Mungkin, ya. Tetapi, di luar kepenurutan itu ada faktor X. Saya kan nyonya rumah. Mas Adri yang mendorong saya berkarya di perak. Segala sesuatu saya diskusikan dengan dia. Saya enggak mau melangkahi atau nduwuri (menjadi lebih di atas). Saya itu diberi lahan karena dia, bukan karena saya sebab saya awalnya ingin jadi guru (tari).

Saya berprinsip karier dan rumah tangga harus bisa seiring. Kuncinya satu, kita mau menerima. Mungkin dari 100 hal, kita unggul 98 persen, tetapi jangan mengatakan yang dua persen itu saya lebih tinggi. Ini juga saya katakan kepada teman-teman yang pintar-pintar untuk merasa satu sentimeter lebih rendah dari suami. Itu paling asyik. Dia akan memberi penghargaan lebih kepada Anda.

Dia tahu dong Anda punya kelebihan dalam banyak hal dibandingkan dengan dia, tetapi kita jangan merasa lebih. Dia akan merasa dan melihat dengan mata hatinya kelebihan kita. Kami menikah sudah 38 tahun. Rasanya seperti baru kemarin.

Seperti jatuh cinta terus?

Aduh, di mana pun kami, rasanya seperti berdekatan terus. Di mana pun saya, kami selalu berteleponan setiap malam. Kalau saya sedang di luar negeri, biaya telepon kami sama-sama melembung. Entah dia yang menelepon atau saya yang menelepon.

Berapa lama dalam setahun ada di luar negeri?

Lima tahun terakhir sekitar setengah tahun total waktu saya ada di luar negeri. Tetapi, saya sering tidak sendiri. Anak-anak bergantian kerap menemani. Saya mulai memperkenalkan mereka kepada pelanggan di Jepang.

Runi mengatakan, dia ingin terus mendesain meskipun dua anak mereka sudah dipersiapkan meneruskan usaha ini. Dia tidak perlu tempat khusus untuk menggoreskan sketsa desainnya. Sambil makan siang di kantin Erasmus Huis, Runi mengeluarkan penanya dan mencoret-coret di atas kertas. Inspirasi desainnya dari alam, manusia, dan benda- benda di sekitarnya.

Di Jepang, selain Runa nama Runi Palar juga sudah dipatenkan sebab Runi kerap diundang berpameran sebagai artis dalam antara lain Fascinating Jewellery. Lima tahun terakhir Runi konsentrasi memasuki pasar Jepang. ”Kata orang, Jepang itu sulit. Karena itu, saya malah ingin mencoba,” katanya.

Apa kiat berbisnis dengan Jepang?

Perlu relasi jangka panjang. Mereka memang berjenjang dalam mengambil keputusan, karenanya jangan terlalu memaksakan. Kita mesti berteman, tetapi tetap konsisten dan fokus pada produk kita. Perlahan-lahan mereka akan percaya dan kalau sudah percaya tidak mau lepas lagi lalu membuka tawaran untuk ini-itu. Kadang-kadang malah saya yang minta pelan-pelan karena ingin fokus.

Butuh kesabaran?

Mereka sebenarnya pemalu dan karenanya butuh waktu. Dan kalau bicara dengan mereka tidak bisa terus menatap mata, sesekali harus agak menurunkan pandangan. Yang seperti ini memang tidak pernah ditulis di buku, tetapi berlaku. Biarpun orang luar, tetapi dengan mengikuti budaya mereka, mereka merasa kita dapat menjadi rekan kerja.

Bagaimana mengompromikan antara seni dan daya jual?

Menurut saya, bila mau menjadi desainer harus bisa menjual. Bila tidak bisa menjual, bagaimana akan memproduksi karya yang baru?

Saya kadang-kadang membuat desain yang belum tentu orang lain suka. Tetapi, ketika membuat itu, saya tahu saya akan kenakan ke mana dan bagaimana. Di situ ada faktor di mana saya merasa benar-benar puas.

Di sisi lain, saya sadar, bila terlalu menuruti perasaan saya, orang mungkin tidak mengerti. Saya lalu membuat yang lebih sederhana, mengikuti benda alam misalnya, supaya rotasi keuangan perusahaan lancar karena saya kan bekerja dengan banyak orang.

Masih ada citra di luar negeri perhiasan Indonesia barang kiloan?

Masih ada. Pemerintah sendiri masih melihat dari sisi kuantitas, berapa kilo, berapa kontainer. Jadi, bukan jenisnya apa, bagaimana kualitasnya, apa dijual memakai merek atau nama kita.

Baru sekarang Departemen Perdagangan mulai memerhatikan merek. Mestinya sudah dari dulu-dulu Indonesia keluar dengan merek, nama perancangnya. Jangan Indonesia hanya jadi tempat membuat merek asing, diberi ongkos bikin, tetapi nama Indonesia tidak muncul.

Sampai sekitar 10 tahun lalu saya masih menerima pesanan pembuatan, tetapi kemudian tidak lagi. Saya mau konsentrasi pada Runa. Orang sering bilang, membangun merek itu sulit dan saya tahu itu sulit. Tetapi, kalau tidak pernah dirintis lalu kapan mulainya.

Pengalaman Anda?

Terbayang tidak, saya mulai dari usaha kecil-menengah, dari nol besar. Ketika membangun merek, saya memasukkan idealisme saya, kelanjutan hidup perusahaan, menyeimbangkan kehidupan rumah tangga dan pekerjaan, seimbang dan harmonis dengan masyarakat, lalu mendesain.

Saya tidak pernah mengeluh karena kalau ingin maju katanya tidak boleh mengeluh. Tetapi, saya sering berpikir, perempuan katanya bisa mengerjakan 1.001 pekerjaan. Yang saya kerjakan belum sampai 100, he-he.... Orang bilang, jadi perempuan itu second grade, tetapi menurut saya enggak....

Walau harus mengalah kepada orangtua dan suami?

Bukan, itu bukan untuk jadi second grade. Kompromi itu justru untuk menyejajarkan, win-win, sama-sama. Jangan dua-duanya lost. (Ninuk Mardiana Pambudy, Kompas 18 Maret 2006)

 

 

Kompas 26 Februari 2006:
BECERMIN DARI PERAK YOGYA
Bercermin dari Perak Yogya

 

Ninuk Mardiana Pambudy
Yogya dan Kotagede adalah salah satu sentra perak terkenal, meskipun kini kilaunya tidak lagi secemerlang masa lalu. Seni kriya perak memang nasibnya seperti roller coaster, naik turun dengan tajam. Tetapi, bila mengunjungi pameran sebulan sejak tanggal 15 Februari lalu di Erasmus Huis, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, maka kejayaan seni peraklah yang tersaji.


Pameran benda-benda perak milik empat kolektor asal Belanda: Van Gesseler Verschuir, Veldhuisen, Berting, dan de Bont yang berasal dari tahun 1930-an ini menarik dari sisi tema sebab ingin menghubungkan perak masa lalu dan masa kini. Karya desainer perhiasan perak Runi Palar mewakili generasi masa kini.


Semua benda perak yang dipamerkan di Erasmus Huis ini sebelumnya dipamerkan dari Maret hingga akhir Desember 2005 di Tropen Museum, Amsterdam, Belanda. Kedua pameran yang dikuratori antropolog Drs Pienke WH Kal dari Tropen Museum ini mengambil tema sama: ”Yogya Silver. Renewal of a Javanese Handicraft”.


Pilihan pada perak Yogya, atau lebih tepatnya Kotagede, antara lain karena barang perak dari kota itulah yang jejak kebangkitannya bersamaan dengan perubahan politik di Eropa dan terutama Belanda, yaitu Politik Etis, terdokumentasi cukup baik. Selain Kotagede, sentra barang perak Indonesia lainnya adalah Kotagadang (Sumatera Barat), Kendari (Sulawesi Tenggara), Palembang, (Sumatera Selatan), dan Bali.
 

Pilihan pada Runi Palar antara lain karena ayahnya, Tjokro Suroso, adalah salah satu artisan dan pemilik bengkel perak dari periode tersebut yang karyanya ada di dalam karya kolektor.


Situasi sosial-politik
Meskipun periode barang perak yang dipamerkan hanya berasal dari tahun 1930-1942 serta karya Runi Palar yang dimulai dari periode 1980-an hingga kini, tetapi untuk memahami karya tersebut harus juga memahami sejarah Jawa.


Pienke Kal membagi perak Yogya dalam tiga fase perkembangan: pada abad ke-18 dan ke-19 perajin perak Yogya dan Kotagede bekerja untuk kalangan kerajaan Yogyakarta; periode 1930-an perak Yogya berkembang pesat berkat perhatian kalangan elite Belanda dan Jawa; dan periode ketiga selama beberapa puluh tahun terakhir perak Yogya kembali menjadi produk yang penting secara ekonomi.


Pada paruh kedua abad ke-19, ketika raja-raja Jawa menyurut kebesarannya karena buruknya hasil panen, kelaparan, dan krisis ekonomi, artisan perak mulai menerima pesanan dari luar keraton. Meskipun demikian, mereka tidak mampu bersaing dengan perusahaan perak milik Belanda seperti Van Kempen dan Van Arcken&Co.


Pada saat hampir bersamaan di Belanda tumbuh gerakan Politik Etis, sementara di Inggris muncul gerakan Arts and Crafts Movement oleh William Morris. Gerakan ini ingin menjadikan seni sebagai bagian dari komunitas dan seniman seharusnya juga seorang perajin kriya.

 

Menurut Kal, gerakan ini melanda Eropa dengan berbagai nama antara lain Art Nouveau dan di Belanda disebut Nieuwe Kunst (Seni Baru).


Berbagai gerakan itu juga mengimbas ke Hindia Belanda. Salah satunya dipelopori istri Gubernur Hindia Belanda di Yogya, Ny MA van Gesseler Verschuir-Pownall. Pada tahun 1930-an dia mendorong artisan perak Yogya membuat barang perak dengan ragam hias tetap asli—ini bagian dari Politik Etis yang ingin mempertahankan kebudayaan asli—tetapi menggunakan bentuk benda Barat. Ny Van Gesseler mengajak kalangan elite Jawa dan Belanda berpartisipasi dalam proyek ini dengan memesan barang perak dari perajin perak Yogya.


Inilah menurut Pienke Kal salah satu ciri perak Yogya masa 1930-an. Benda-benda seperti perangkat makan Barat, kotak cerutu, asbak, vas bunga, kancing, pegangan tas, sisir dan cermin ala Barat di dalam pameran ini, misalnya, dihiasi ragam hias khas Jawa seperti lotus, sulur-suluran, burung merak, ular, dan wayang. Sebelumnya, ragam hias umumnya sederhana. Selain itu, mereka juga mulai memberi inisial pada karya mereka.


Ragam hias itu mendapat pengaruh Hindu dan Buddha serta kemudian Islam dalam bentuk stilisasi. ”Awalnya ragam hias diambil dari Candi Borobudur, Prambanan, Mendut, dan Mesjid Mantingan, tetapi kemudian mereka mengkreasi sendiri,” kata Pienke Kal.


Kal juga meyakini, meskipun ada berbagai pengaruh dari luar terhadap perkembangan perak periode 1930-an, artisan itu memiliki kemandirian menentukan ragam hias yang ingin mereka buat.


Generasi baru
Perhiasan perak karya Runi Palar dianggap mewakili generasi baru perak Indonesia. Runi yang memulai kariernya pada tahun 1968 membuat perhiasan dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam. Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree (trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian dilas, dan ketokan.


Dengan pasar utamanya Jepang selain Indonesia dan Eropa, Runi menempati posisi tersendiri di dalam perkembangan perak Indonesia.


Akan halnya Kotagede, setelah sempat menyurut saat menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia, perdagangan perak kini kembali hidup. Pasar utama mereka adalah turis. Sayangnya, karena turis tidak mau membeli barang perak berukuran besar, maka yang diproduksi adalah barang-barang berukuran kecil.


”Sebenarnya sayang sekali bila seni perak Yogya dan Kotagede ini menghilang sebab seni mereka unik,” tutur Pienke Kal. Pameran ini mudah-mudahan dapat menginspirasi untuk mengembangkan lebih jauh seni kriya perak kita.

NAMA DAN PERISTIWA
BARU sekitar sebulan berada di Indonesia, Runi Palar (57) sudah terbang lagi ke Jepang. "Kali ini agak lama, sampai satu setengah bulanan karena harus pameran perhiasan koleksi terbaru saya di tiga kota," tutur Runi, Jumat (14/5) di Jakarta. Pagi itu Runi baru sampai dari Bali untuk mengambil visa di Kedutaan Jepang di Jalan MH Thamrin.


Sebetulnya karya Runi juga sedang dipamerkan di Griya Santrian Gallery, Sanur, Bali, selama dua bulan. Pameran itu dibuka Jumat tanggal 7 Mei lalu. "Yang dipamerkan adalah koleksi dari Museum Runa," papar Runi yang memiliki rumah sekaligus museum di kawasan Ubud, Bali, untuk berbagai produk perhiasan yang diberi merek Runa.


Perhiasan yang dipamerkan menggambarkan perjalanan kreativitas Runi dalam seni perhiasan perak. Menurut Runi, pameran yang juga menarik minat beberapa kurator asing itu menyebabkan dia mendapat tawaran untuk berpameran di Amerika Serikat. "Tetapi, saya bilang jangan tahun ini karena saya banyak pekerjaan. Kalau bisa tahun depan saja," papar ibu tiga anak ini.


Selama beberapa tahun terakhir Runi yang bernama asli Sotjawaruni Kamala mengonsentrasikan diri pada pasar Jepang. Dia aktif mengadakan pameran di berbagai kota, termasuk di Tokyo, yang akan dijalaninya mulai akhir Mei ini.

 

"Pameran di Tokyo bersama anak saya, setelah itu dia pulang. Terpaksa saya menjalani pameran di dua kota lainnya sendirian," kata Runi. Lalu, kapan akan berpameran untuk publik Jakarta? "Mudah-mudahan bisa terlaksana pada bulan ber-ber, Oktober mungkin. Teman-teman di Jakarta sudah meminta," kata Runi. Kalau begitu, kami tunggu Mbak. (NMP)

 ►e-ti/tsl


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)