| |
C © updated 21092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
BIODATANama:
Rumhardjono
Lahir:
13 April 1939
Meninggal:
Jakarta, 19 September 2007
Profesi:
Wartawan Kompas 1974-1999
|
|
| |
|
|
|
|
| RUMHARDJONO HOME |
|
|
 |
Rumhardjono (1939-2007)
Wartawan, Ahli Asia Tenggara
Rumhardjono yang akrab dipanggil Mas Rum, Wartawan Kompas
(1974-1999) bertugas di Desk Luar Negeri. Perhatian pria kelahiran 13
April 1939 dan meninggal di Jakarta 19 September 2007 yang intens pada
masalah Asia Tenggara menjadikannya dikenal sebagai wartawan yang ahli
Asia Tenggara pada akhir tahun 1970-an dan 1980-an.
***
Kabar bahwa eks wartawan Kompas Rumhardjono (68) terserang stroke
diterima Redaksi Harian Kompas hari Rabu (19/9/07) malam, tepatnya pukul
22.00. Keponakannya, Endang Basanto Ratri, menelepon dan mengabarkan
bahwa Mas Rum, begitu ia akrab disapa, dirawat di Instalasi Gawat
Darurat Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo di Lantai 2.
Layanan pesan singkat atau SMS pun berseliweran, dan wartawan-wartawan
Kompas segera menyempatkan diri untuk menjenguknya. Di harian Kompas,
Mas Rum memiliki banyak peran, baik sebagai wartawan yang ahli Asia
Tenggara, sebagai tutor bagi wartawan yang lebih muda, maupun sebagai
guru, khususnya bagi wartawan-wartawan Kompas yang masuk pada tahun
1987-1998.
Di antara wartawan Kompas yang datang ke IGD RSCM tampak Pemimpin
Redaksi Suryopratomo dan beberapa rekan yang merupakan murid-murid
pertama Mas Rum.
Saya dan rekan saya, Taufik H Mihardja dan Andi Surudji, adalah tiga
wartawan Kompas yang terakhir menjenguknya di IGD RSCM. Kamis dini hari,
menjelang pukul 02.00, kami bertiga meninggalkan pelataran parkir RSCM.
Pada pukul 03.30, tiba-tiba masuk SMS yang menyatakan bahwa Mas Rum
telah tiada. Ia meninggal dunia pada pukul 02.50. Perasaan kehilangan
pun segera muncul ke permukaan.
Mas Rum yang lahir pada 13 April 1939 memang telah pensiun dari harian
Kompas pada tahun 1999. Namun, sesungguhnya hubungan Mas Rum, yang
sampai akhir hayatnya melajang itu, dengan harian Kompas tidak pernah
berakhir. Sesekali ia menelepon saya dan rekan lain apabila ia merasa
ada hal yang perlu mendapatkan perhatian.
Kadang ia juga mengirimkan tulisan tentang masalah-masalah tertentu,
terutama yang berkaitan dengan Asia Tenggara, dengan catatan, tidak
untuk dimuat, hanya untuk background saja.
Ahli Asia Tenggara
Mas Rum bergabung dengan harian Kompas pada tahun 1974 dan bertugas di
Desk Luar Negeri. Itu sebabnya, ia tercatat sebagai wartawan peliput di
Departemen Luar Negeri (Deplu). Perhatiannya yang intens pada
masalah-masalah yang berkaitan dengan Asia Tenggara menjadikan
Rumhardjono dikenal sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara pada akhir
tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Beberapa kepala pemerintahan dan
Menteri Luar Negeri ASEAN mengenalnya dengan baik.
Saya mengenalnya pada tahun 1983 ketika sebagai wartawan baru saja
ditugaskan untuk meliput kegiatan di Deplu, yang menjadi tempat tugas
Rumhardjono sejak akhir tahun 1970-an. Saat saya bertugas di sana,
segala sesuatunya menjadi mudah, karena ia langsung berperan sebagai
tutor saya.
Bahkan, ketika saya pertama kali ditugaskan untuk meliput Pertemuan
Tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN Ke-17 di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun
1984, ia memberi saya semacam kertas kerja panduan mengenai bagaimana
meliput suatu konferensi internasional dengan efisien dan efektif.
Termasuk mengenai bagaimana cara memperoleh draf joint communique (komunike
bersama), yang merupakan salah satu keahliannya. Dan, juga tentang
bagaimana menggunakannya sebagai bahan berita.
Pengalamannya yang luas dalam meliput konferensi internasional
menjadikan ia selalu bersikap santai. Sikap seperti itu diperlihatkannya
saat meliput Jakarta Informal Meeting (JIM) di Istana Bogor tahun 1988.
Pada saat wartawan lain sudah hadir sejak pagi, Mas Rum masih enak-enak
tidur. Ia baru bangun pukul 10.00 dan datang ke Istana Bogor menjelang
pukul 11.30. Namun, sore harinya, ia sudah memegang draf komunike
bersama JIM. Lobinya yang sangat luas di kalangan pejabat Deplu dan
kementerian luar negeri negara-negara ASEAN lain menjadikan ia selalu
bisa mendapatkan draf komunike bersama yang akan keluar.
Sebagai wartawan senior, Mas Rum asyik diajak berdiskusi. Daya
analisanya tajam, mendalam, dan jernih. Kemampuan berabstraksinya pun
cukup menonjol. Ia selalu menemukan angle (sudut pandang) yang tepat
untuk menulis.
Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama yang turut mengantarnya ke
pemakaman di TPU Karet Bivak, Kamis, dalam sambutannya mengatakan,
analisa mendalam dan jernih, dan selalu dikemukakan dengan dingin, tanpa
emosi. Mungkin itu karena latar belakangnya sebagai periset.
Menurut mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja, yang merupakan
adik ipar Mas Rum, sebelum menjadi wartawan, Mas Rum adalah seorang
periset. (James B Luhulima, Kompas 21 September 2007)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|