| |
C © updated 28082004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Nama:
Pdt. Rudolf Andreas Tendean
Panggilan:
Rudi
Lahir:
Menado, 17 Oktober 1950
Ayah:
T.A. Tendean
Ibu:
Aleta Lumansik
Menikah:
7 November 1975
Istri:
Silvana Rosita Maksurila
Anak:
Zet Immanuel (Plaju, 19 November 1981)
Jeane Eva (12 Januari 1983)
Paskah (19 April 1987)
Pendidikan:
SD-SMA, Makasar
Sarjana Teologia, STT Intim (Indonesia Timur), Makasar
Penahbisan:
Ditahbiskan menjadi pendeta, 22 Juni 1975, GPIB Immanuel, Gambir,
Jakarta
Penempatan Pelayanan:
1 Juli 1975 – 1 April 1981, Jember
1 April 1981 – 1 Agustus 1984, Plaju, Sungai Gerong
1 Agustus 1984 – 1 Juli 1988, Surabaya, GPIB Getsemani
I Juli 1988 – 1 Juli 1992, Makasar, GPIB Mangngamasea
1 Juli 1992 - 1 Juli 1995, Immanuel, Semarang
1 Juli 1995 – 1 Oktober 2000, Silih Asih, Bandung.
1 Oktober 2000 – 1 Juli 2003, Bethel, Bandung
1 Juli 2003 – sekarang, GPIB Koinonia, Jakarta
Jabatan:
2000 – 2003, Ketua Mupel Jawa Barat, Bandung
2000 – 2003, Ketua I PGIW (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah)
Jawa Barat, Bandung
3 Juli 2004, Ketua Mupel (Musyawarah Pelayanan) Jemaat GPIB Jakarta Timur
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 4 ==
Rudolf Adolf Tendean
Jadikan Gereja Inklusif
Sudah tiga dekade ia menjadi pendeta. Selama itu pula, pendeta
berpenampilan sederhana dan bersahaja ini, dalam pelayanan menikmati
segudang pengalaman persaudaraan dengan umat muslim dan umat beragama
lainnya. Ia selalu menjadikan gereja inklusif. Pendeta GPIB ini selalu
menjalin persaudaraan kepada masyarakat sekitar di mana ia bertugas.
Di Jember, misalnya, masyarakat Madura di dekat gerejanya selalu
menjaga dan bersahabat dengannya. Ke mana pun ia hendak pergi,
abang-abang becak (Madura dan dari berbagai suku) siap mengantarnya, itu
pun tanpa bayar. Mereka memperlakukannya sebagai saudara. Begitu pun
sebaliknya.
Maka, ketika ia menerima kartu ucapan Selamat Natal dari Syaykh
Abdussalam Panji Gumilang, pimpinan pondok pesantren modern Ma’had Al-Zaytun,
ia merespon dengan tidak sekadar membalas kartu ucapan terimakasih,
melainkan dilanjutkan dengan komunikasi melalui telepon dan berlanjut
saling mengunjungi penuh rasa persaudaraan dan toleransi.
Pdt. Rudolf Andreas Tendean dilahirkan di Menado, 17 Oktober 1950. Ia
menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga bangku kuliah di tanah
kelahirannya, Menado. Sebenarnya, ia tidak pernah bercita-cita menjadi
pendeta. Ia bercita-cita menjadi seorang ahli elektro atau apoteker.
Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan jualah yang mempersiapkannya
menjadi seorang hamba Tuhan dengan mengikuti pendidikan Teologia di
Sekolah Tinggi Teologia Intim (Indonesia Timur), Makasar, Menado.
Meski demikian, jauh dalam hatinya, ia masih merasa bimbang dengan
keputusannya itu. Sebab, ia menyadari bahwa pelayanan sebagai pendeta
tidak memberikan jaminan penghasilan untuk menutupi kebutuhannya
sehari-hari bersama keluarganya kelak. Ia bergumul selama kurang lebih
10 tahun hingga akhirnya berbulat tekad bahwa ia dipanggil menjadi
seorang pendeta. Berkat pergumulannya itu, jiwanya terbentuk dan kuat
menghadapi banyak kesulitan hidup.
Begitu usai menyelesaikan pendidikan teologianya dan memperoleh gelar
Sarjana Teologia, ia harus melewati satu tahap lagi sebelum dilantik
menjadi seorang pendeta. Sebelum dilantik, ia harus melewati masa
pikariat yang berlangsung selama satu tahun, 1 Januari 1974-1 Juni 1975,
di GPIB Nazaret, Rawa Mangun. Berhasil melewati tahap ini, dia kemudian
dilantik menjadi pendeta pada 22 Juni 1975, di GPIB Immanuel, Gambir
yang merupakan pusat dari seluruh gereja GPIB (Gereja Protestan
Indonesia bagian Barat) di Indonesia.
Seminggu kemudian, sebagai seorang pendeta, ia diberi tugas pelayanan
di Jember, Jawa Timur untuk kurun waktu 1 Juli 1975-1 April 1981. Di
kota inilah, selama 6 tahun, pengalamannya menjalin persaudaran dengan
umat muslim dimulai.
Pada tahun yang sama, beberapa bulan setelah dilantik menjadi pendeta,
Pendeta Rudi, begitu ia biasa dipanggil, menikah dengan seorang gadis
yang dicintainya, Silvana Rosita Maksurila. 7 November 1975, menjadi
hari yang berbahagia, karena ia sudah memiliki seorang penolong yang
sepadan dalam pelayanannya di masa mendatang.
Abang Beca
Di Jember, bersama sang istri, Pendeta Rudi memulai pelayanannya yang
pertama di sebuah gereja yang sederhana. Dengan bekal iman, pengetahuan
teologia dan idealisme yang dipegangnya, ia mulai melakukan tugasnya
sebagai pendeta. Ia tak pernah menyangka bahwa apa yang dikerjakannya
selama di Jember menjadi bekal sangat berharga dalam membentuk jiwanya
untuk 30 tahun ke depan.
Saat itu, di samping gereja berkumpul para pedagang yang menjajakan
berbagai dagangannya. Suasananya menjadi seperti pasar rakyat. Beberapa
orang majelis gereja memberitahunya tentang aktivitas para pedagang itu.
Pendeta Rudi mengatakan bahwa mereka bisa memberitahu pedagang itu agar
tertib.
Setiap hari, beberapa orang tukang bambu biasanya parkir di halaman
gereja. Melihat hal itu, Pendeta Rudi bukannya gusar, malah membuka
pintu agar para pedagang bambu itu menitipkannya di halaman gereja
sehingga mereka tidak perlu repot membawa pulang barang dagangannya.
Tidak hanya tukang bambu, ia juga mengijinkan tukang becak dan pedagang
lainnya seperti tukang sate untuk menjajakan dagangannya di samping
gereja. Tiga meter sebelah kiri halaman gereja kali empat puluh meter,
ia berikan untuk digunakan sebagai pasar. Pendeta Rudi saat itu berpikir
bahwa tidak ada salahnya berbuat hal itu daripada pedagang-pedagang itu
berdagang di jalan besar atau di jalan gang.
Perlahan-lahan, Pendeta Rudi mulai dikenal oleh para pedagang di
pasar itu. Bahkan ada seorang pedagang sate asal Madura yang selalu
membakar sate untuk Pendeta Rudi. Biasanya tukang sate ini buka setiap
jam 3 siang. Saat baru buka, 10 tusuk sate kambing selalu dibakarnya
untuk Pendeta Rudi. Suatu kali ada orang atau jemaat yang memesan dan
meminta agar satenya dibakar lebih dulu. Tukang sate itu malah menjawab,
“Iya, saya bakar dulu punya Pak Pendeta.
Sebab kalau saya bakar 10 tusuk
ini, tidak sampai jam enam atau tujuh malam, pasti sate saya sudah habis.”
Rupanya, tukang sate ini punya pemahaman bahwa Pendeta Rudi memberikan
keberuntungan untuk dagang satenya. Hampir setiap hari Pendeta Rudi
makan sate. Hal itu terus berlangsung meski Pendeta Rudi tidak perlu
membayar sate itu.
Abang-abang becak pun mempunyai cara tersendiri untuk berterima kasih.
Waktu itu, Pendeta Rudi belum mempunyai kendaraan. Dalam kegiatan
pelayanan, ia harus berjalan kaki. Setiap kali Pendeta Rudi hendak ke
kota, abang-abang becak ini tidak bisa melihat Pendeta Rudi berjalan
kaki. Tukang-tukang becak itu memanggil, “Pak Pendeta naik.. nggak punya
tarif…”
Selama di Jember, Pendeta Rudi belum mempunyai gaji tetap. Tapi
untunglah, ia bisa hidup dari pasar yang ada di samping gereja. Ia
sering kali mendapat makan gratis dari pedagang sate itu, bahkan
pedagang-pedagang lainnya ikut memberikan sumbangan sebagai ungkapan
terima kasih karena ia sudah memberikan lahan kepada mereka untuk
berdagang. Padahal Pendeta Rudi tidak pernah mengharapkannya sebelumnya.
Pendeta Rudi hidup bersama masyarakat Madura dengan pemahaman
agamanya sedemikian rupa dan menjalin persaudaraan dengan mereka. Ia
tidak membiarkan tembok gereja membatasi geraknya untuk menjangkau
masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, ketika gereja itu dilempar
orang jahil, masyarakat sekitar langsung datang untuk menjaga.
Selain berbagi lahan, Pendeta Rudi juga memberikan satu kran air agar
bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
Daerah Jember yang panas
membuat sumur gereja sempat kering pada tahun pertama ia di sana.
Akhirnya sumur itu digali lebih dalam sehingga air keluar melimpah ruah.
Masyarakat sekitar sangat berterima kasih dengan adanya kran air itu.
Enam tahun berlalu, Pendeta Rudi harus meninggalkan Jember sebab
ditempatkan di tempat baru, Plaju, Sungai Gerong, Palembang. Saat hendak
menaikkan barang-barangnya ke mobil, abang-abang becak Madura yang biasa
mengantarnya ke mana pun ia pergi, tidak mengijinkannya naik mobil.
Abang-abang becak itu menaikkan barangnya ke atas becak, kemudian
mengantar ia bersama istri sampai ke stasiun.
Beberapa tahun setelah ia meninggalkan Jember, banyak pendeta-pendeta
yang menggantikan dia berkata bahwa nama Pendeta Rudi sangat harum di
tengah-tengah masyarakat di sana. Mendengar hal itu, Pendeta Rudi
mengatakan bahwa itu bukan disebabkan karena mempunyai uang banyak.
Melainkan karena perbuatan, tutur kata, sikap dan perilaku yang baik.
Lebih baik memberi contoh daripada mengumbar-umbar janji.
Setiap kali beberapa rekannya bertanya bagaimana caranya ia bisa
dekat dengan masyarakat sekitar, Pendeta Rudi memberi tips yang selama
ini sudah ia praktekkan. Ia berkata, “Kamu tidak merokok.. tidak apa-apa…
hari ini lima meter ke kanan gereja.. kamu beli rokok satu batang..
isep-isep aja di situ.. tidak usah merokok.. Pulangnya kamu
beli gula. Nggak usah sekilo, setengah kilo aja. Minggu
berikutnya di sebelah sini. Minggu berikut, radius satu kilometer ke
kanan gereja, supaya kamu dikenal oleh orang-orang warung-warung itu.
Bulan berikut kamu ke kiri dan seterusnya.”
Anjing Pendeta
Meski demikian, bukan berarti tantangan tidak pernah datang. Saat ia
melayani di Bandung pada 1995, ia tinggal di sebuah kompleks yang
sembilan puluh sembilan persen dihuni oleh masyarakat Tasik yang
beragama Islam. Saat itu, karena sesuatu hal, ia tidak langsung
mendapatkan KTP di tempat barunya itu. Masyarakat sekitar yang tampak
tertutup dan fanatik membuat ia harus berpikir keras mencari jalan
bagaimana agar dekat dengan mereka.
Suatu kali, tiga orang perempuan berjilbab dari keluarga istrinya
datang mencari dan menjenguknya ke Bandung. Agar lebih mudah mencari,
tiga orang ini mencari gereja yang besar kemudian bertanya di mana
pendeta Rudi tinggal. Kebetulan tempat tinggal Pendeta Rudi agak
terpencil letaknya.
Kemudian seorang penduduk sekitar melapor kepadanya dan bercerita
kalau ada tiga ibu-ibu pakai kerudung mencarinya. Singkat cerita,
Pendeta Rudi menyambut mereka. Masyarakat sekitar yang melihat hal itu
menjadi bertanya-tanya darimana datangnya ibu-ibu pakai kerudung itu dan
mengapa bertemu pendeta. Di rumahnya, tiga orang tamu itu kemudian
diberikan sebuah kamar bila hendak melakukan sholat karena saat itu
Masjid belum dibangun di komplek itu. Tidak lama bertamu di rumah
Pendeta Rudi, mereka akhirnya dijemput melanjutkan perjalanan menuju
Tasik, hendak ke sebuah pondok pesantren. Rupanya, diam-diam masyarakat
sekitar memantau aktivitas Pendeta Rudi.
Di waktu yang lain, keponakannya datang berkunjung saat mengikuti
penataran perwira polisi di Sukabumi. Saat ia datang, masjid sudah
dibangun. Karena keponakannya mengatakan hendak sholat, Pendeta Rudi
kemudian menyuruhnya pergi ke masjid itu. Kebetulan hari itu adalah hari
Jumat. Karena menggunakan seragam perwira, di atas dadanya sebelah kiri,
tertulis nama Tendean. Masyarakat sekitar yang melihat itu kembali
bertanya-tanya mengapa ada Tendean yang menjadi pendeta dan ada Tendean
yang masuk ke masjid. Hari minggu, keponakannya pulang dan Pendeta Rudi
mengantarnya sampai terminal.
Keesokan harinya, hari Senin, datanglah Ketua RT yang selama ini
tidak mau memberikan KTP kepadanya. “Itu kemaren hari Jumat ada yang
sholat, siapa itu Pak?” tanya Pak RT. “Kenapa, Pak, dia kan polisi?,”
sahut Pendeta Rudi. “Iyah… kok namanya Tendean?” tanya Pak RT lagi. “Apa
yang janggal?” balas Pendeta Rudi.
Akhirnya Pendeta Rudi memberikan pengertian bahwa baginya Islam dan
Kristen tidak ada bedanya bahwa mereka adalah sesama manusia ciptaan
Tuhan. Ia mengatakan kalau sudah sering dianggap berbeda karena ia
beragama Kristen padahal ia sendiri tidak menganggap mereka yang muslim
berbeda. Akhirnya, hati Pak RT luluh juga, ia kemudian mengurus KTP
Pendeta Rudi dan memberikannya.
Selama tinggal di komplek itu, Pendeta Rudi memelihara seekor anjing
hingga besar. Begitu besar, anjing berbulu coklat dan berbadan besar
seperti singa itu mulai berkeliaran di sekitar kompleks. Namun
menariknya tidak ada yang mencelakai anjing itu. Masyarakat di kompleks
itu menyebutnya anjing pendeta. Bukan semata-mata karena anjing itu
milik Pendeta Rudi, melainkan karena memang anjing itu tidak jahat. Ia
tidak pernah menggonggong orang kompleks kecuali orang asing. Anjing itu
pun suka duduk-duduk di pos satpam.
Seringkali anak-anak sekolah yang hendak masuk kampung harus melalui
kompleks itu. Anak-anak itu suka mengganggu anjing yang berkeliaran jika
mereka melihatnya. Suatu kali, anjing yang mereka ganggu termasuk galak
karena suatu waktu lepas lalu mengejar anak-anak itu. Tanpa pikir
panjang, seseorang yang ada di kompleks itu mengeluarkan senapannya lalu
menembak mati anjing itu. Si pemilik anjing kemudian mengeluh dan
berkata, “Kenapa anjing Pak Pendeta tidak ditembak?”
“Itu anjing pendeta tidak macam-macam,” jawab mereka.
“Itu kan anjing kampung murahan,” sahut orang itu lagi.
“Meski murahan ndak macam-macam,” kata penduduk setempat.
Jawaban kalau anjing pendeta tidak macam-macam memang tidak
mengada-ada. Saat anak-anak sekolah itu mengganggu anjing pendeta yang
sedang tidur di jalan, anjing itu tenang dan tetap tidur. Lama- kelamaan
anak-anak sekolah itu bosan sendiri karena tidak berhasil mengganggunya.
Bahkan saat anak-anak sekolah itu pulang, anjing pendeta datang
menghampiri mereka sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
Saat baru pertama kali tinggal di kompleks itu, masih sedikit rumah
yang dibangun, itupun tanpa pagar sehingga kehadiran anjing sangat
diperlukan. Perlahan-lahan rumah baru bertambah dan mulai berpagar.
Meski demikian suasana komplek masih sepi dan rawan kejahatan.
Jadi, setiap kali Idul Fitri, banyak orang komplek yang pulang
kampung. Mereka kemudian meminta Pendeta Rudi untuk berjaga-jaga dan
menitipkan rumah mereka kepadanya. Dengan senang hati, Pendeta Rudi
bersama teman-teman Kristen lainnya, menjagai komplek itu dibantu oleh
anjing peliharaannya. Selama seminggu, mereka pulang kampung, kompleks
itu aman-aman saja.
Tiba giliran Pendeta Rudi mengambil cuti dan meninggalkan rumahnya,
tetangga-tetangganya menjaga anjing pendeta itu. Tidak lupa mereka juga
memberi makan anjing itu. Uniknya lagi, anjing pendeta itu sering tidur
di halaman masjid. Padahal, bila ada anjing lain masuk melewati pagar
pasti ditembak, meski anjing-anjing itu termasuk anjing keturunan yang
berharga mahal.
Pendeta Rudi juga menanam berbagai tanaman di depan rumahnya. Jika
ada ibu-ibu yang meminta cabe atau tomat kepadanya, ia memberikannya. Ia
juga sering jalan-jalan pagi tembus kampung. Selama lima tahun di sana,
ia mulai dekat di hati masyarakat kompleks itu.
Saat kerusuhan sedang marak terjadi pada tahun 96/97, sekolah Penabur
di samping kompleksnya dibakar. Sebagai tokoh masyarakat Kristen di RW
itu, ia hadir menyampaikan beberapa kata dan menyesali adanya kejadian
itu. Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua PGIW (Persekutuan Gereja-gereja
di Indonesia Wilayah) Jawa Barat.
Ia mengingatkan kaum Kristiani agar tidak eksklusif dan jangan selalu
menyalahkan keadaan karena tidak diberi ijin. Ia berkata, “Kalau kita
pandai bermasyarakat, jangankan mereka kasih ijin, mereka pun ikut
membangun. Itu sudah saya alami.”
Begitu pula saat terjadi kerusuhan di Situbondo, Pendeta Rudi pergi
ke sana. Kebetulan saat dulu melayani di Jember, ia bertanggung jawab
terhadap wilayah Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Di sana, kepada
pendeta muda, ia berkata, “Jangan jadikan kamu yang memiliki gereja ini,
jangan kamu jadikan keluarga memiliki gereja ini, jadikan masyarakat
yang memilikinya.”
Delapan tahun berlalu, Pendeta Rudi harus meninggalkan Bandung karena
akan ditempatkan di tempat baru. Tercatat, selama di Bandung, ia
melayani di GPIB Silih Asih (1 Juli 1992-1 Juli 1995) dan GPIB Bethel (1
Oktober 2000-1 Juli 2003).
Kartu Natal
Pertengahan 2003 di awal bulan Juli, Pendeta Rudi ditempatkan
melayani di GPIB Koinonia, Jakarta. Selama beberapa bulan selanjutnya,
ia menjalani keseharian dan pelayanannya seperti biasa di gereja tua
peninggalan Belanda itu. Begitu memasuki bulan Desember, ia mulai sibuk
bersama rekan-rekan gerejanya mempersiapkan perayaan Natal. Seperti
kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, ia juga disibukkan membaca dan
membalas berbagai kartu ucapan Natal yang mulai berdatangan.
Sambil duduk di kursi kantornya, dengan cepat ia membolak-balik
setiap kartu Natal, melihat siapa pengirimnya dan apa isi ucapannya.
Banyak di antara kartu-kartu Natal itu, coraknya terbilang biasa-biasa
saja dengan ucapan selamat yang biasa pula.
Hingga kemudian tangannya berhenti pada sebuah kartu Natal kecil yang
terlihat unik. Di dalam kartu itu tertera tulisan “Ma’had Al-Zaytun”
yang diikuti serangkaian tulisan Arab. Tiada hentinya ia membolak-balik
kartu itu karena selain desainnya yang unik merupakan perpaduan nuansa
muslim dan nuansa modern bergaya nasional dan internasional yang sarat
budaya, ia juga merasa terkejut karena mendapat kartu ucapan Natal dari
sebuah pondok pesantren. Selama pelayanannya sebagai pendeta, ia belum
pernah menerima kartu ucapan Natal seperti itu. “Ini menarik…,” katanya
penuh penasaran.
Rupanya Pendeta Rudi tidak berhenti hanya memandangi kartu itu. Ia
kemudian membuat sebuah rapat dan memutuskan tidak hanya mengirimkan
kartu ucapan terima kasih tetapi juga menjalin komunikasi dengan Ma’had
Al-Zaytun. Semenjak hari itu, hidup Pendeta Rudi tidak pernah sama lagi.
Pengalamannya selama di Jember dan Bandung bergaul dengan
saudara-saudaranya yang muslim seakan mengukuhkan bahwa persaudaraan itu
tidak pernah berhenti. Ia mulai membuka kran persaudaraan dengan
saudara-saudara muslimnya di Ma’had Al-Zaytun yang sudah terlebih dahulu
menyodorkan kran itu.
Setelah melalui serangkaian proses dan tahapan komunikasi, Ma’had Al-Zaytun
menyatakan akan berkunjung ke GPIB Koinonia. Empat hari setelah Pendeta
Rudi diangkat menjadi Ketua Mupel (Musyawarah Pelayanan) Jemaat GPIB
untuk wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, pada 7 Juli 2004, Syaykh AS
Panji Gumilang bersama rombongan membuka lebih besar lagi kran
persaudaraan itu. Di sana mereka bersehati menanggalkan perbedaan demi
toleransi dan perdamaian.
Kunjungan Syakh AS Panji Gumilang bersama rombongan meninggalkan
kesan yang mendalam di hati Pendeta Rudi dan rekan-rekannya. Meski
diterpa berbagai sentimen negatif yang datang dari berbagai kalangan
termasuk jemaat tentang Ma’had Al-Zaytun, Pendeta Rudi tetap pada
keputusannya untuk mengunjungi Ma’had Al-Zaytun. Hari Sabtu, 31 Juli
2004, sedari pagi hingga malam, Pendeta Rudi menghirup udara toleransi
dan perdamaian di Kompleks Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.
Di
sana, ia beserta rombongan Jemaat GPIB Koinonia yang berjumlah kurang
lebih 205 orang, disambut dengan hangat dan meriah oleh Syaykh AS Panji
Gumilang beserta seluruh eksponen Ma’had Al-Zaytun. Mereka berdoa
bersama, makan bersama, berolahraga bersama, tertawa bersama dan
menangis bersama, meresapi makna toleransi dan perdamaian itu.
Sepulang dari sana, Pendeta Rudi sudah bertekad untuk mengabarkan
pesan damai yang dibawanya dari Ma’had Al-Zaytun. Bahkan ia mengaku,
pengalaman persaudaraan yang dijumpainya di Ma’had Al-Zaytun, membuatnya
sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil oleh Sang Pencipta. Di antara
penuturannya selama 3 jam berbicang-bincang dengan wartawan Tokoh
Indonesia di ruang kantornya, ia mengatakan punya keinginan untuk
menyekolahkan anaknya di Ma’had Al-Zaytun. Ia dikaru-niai tiga orang
anak yaitu Zet Immanuel (1981), Jeane Eva (1983), dan Paskah (1987).
Ia mulai berandai-andai sambil tersenyum, apakah itu kelak akan
terjadi. Ma’had Al-Zaytun akan mempunyai santri yang beragama Islam,
Kristen, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Di sana akan ada masjid, gereja
dan kuil. Dunia akan melihat suatu bukti nyata bahwa toleransi dan
perdamaian bukan sesuatu yang mustahil. ►e-ti/atur/crs =>
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|