| |
C © updated
20112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr kps |
|
| |
Nama:
Rudjito
Umur:
58 tahun
Pendidikan:
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, 1972
Pendidikan non formal:
International Correspondent Banking (Chicago-USA)
International Banking and Finance (Los Angeles-USA)
Derivative Product and Capital Market Instruments (New York-USA) School
for Bank Leadership (IBI-Jakarta)
Pekerjaan:
Direktur Korporasi dan Internasional Bank Dagang Negara (2000)
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (Juli 2000 – sekarang)
Organisasi:
Ketua Perhimpunan Bank-bank Negara (Himbara)
Ketua Komite Pendidikan di Indonesian Bankers Institute (IBI) Jakarta
Ketua Federation of Indonesian Association of Banks (FIAB)
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
Anggota Supervisory Board of Asia Pacific Rural and Agriculture Credit
Association (APRACA) Consulting Service
Ketua Asosiasi Para Banker ASEAN 2001–2003
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2 3
4 5
6 ==
Rudjito (3)
BRI Go Public
Krisis perekonomian di dalam negeri menyebabkan sebagian pinjaman BRI
diletakkan di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dan dilakukan
rekapitalisasi.
Rekapitalisasi menuntut beberapa syarat. Pertama, mengganti seluruh
manajemen. Kedua, wajib melakukan restrukturisasi di semua bidang.
Ketiga, wajib memenuhi kontrak mana-jemen dengan pemerintah menyangkut
pelaksanaan business plan.
Pada awal rekapitalisasi oleh pemerintah, BRI disuntik dengan obligasi
berbunga tetap yang pas-pasan. Namun BRI tidak menyerah pada keadaan dan
mengandalkan 4.600 lebih jaringannya untuk penyaluran kredit pada usaha
mikro kecil dan menengah.
Kemudian dilakukan persiapan BRI untuk IPO (Initial Public Offering)
sejak dua setengah tahun lalu yaitu melalui program restrukturisasi yang
ketat untuk menaikkan performance BRI dengan memperbaiki kinerja dan
restrukturisasi di semua bidang. Upaya pengembangan BRI dilakukan dengan
memperkuat struktur permodalan dan mempe5rbaiki manajemen yang didukung
informasi teknologi.
Setelah program rekapitalisasi, manajemen pun diganti. Rudjito yang
terpilih sebagai direktur utama bersama manajemen baru BRI lainnya
segera membuat business plan yang mengukuhkan BRI tetap berfokus pada
usaha kecil menengah dengan target minimum 80 persen dari total
portofolio kredit. Di dalam business plan tersebut pemerintah menekankan
agar BRI mempersiapkan diri untuk melakukan IPO tahun 2003.
Lalu, dalam rangka IPO itu, BRI membuat persiapan yang matang dan
serangkaian kegiatan. Mulai dari penyusunan prospektus lengkap yang
diumumkan dalam Public Expose 13 Oktober 2003 lalu, roadshow di dalam
negeri (Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar dan Medan) dan di luar
negeri (Asia, Eropa dan Amerika Serikat) dari tanggal 13 sampai dengan
tanggal 28 Oktober.
Seluruh lembaga penunjang ditetapkan kira-kira 3-6 bulan sebelumnya dan
proses IPO dalam artian proses due diligence, proses audit untuk posisi
30 Juni 2003, rapat umum pemegang saham untuk menetapkan permodalan BRI
diselesaikan termasuk juga proses pajak dan auditnya.
Kemudian Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan penjamin emisi
(underwriter) UBS dan PT.Bahana Securities dalam rangka penawaran saham
perdana (Initial Public Offering / IPO) kepada publik sedangkan
perusahaan penilai terpilih PT.Piesta Penilai dan PT.Satyama Graha Tara.
Sedangkan untuk rencana penerbitan Obligasi Subordinasi dalam dollar
Amerika, pihak BRI menetapkan UBS sebagai Lead Underwriter.
Pendaftaran minat pemesanan saham untuk para nasabah dilakukan di 54
cabang Bank BRI di kota-kota Jakarta, Banda Aceh, Medan, Padang,
Palembang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin,
Denpasar, Manado dan Makassar.
Untuk umum, pemesanan saham dibuka dari tanggal 3 sampai dengan 5
Nopember di 3 (tiga) gerai khusus di Jakarta, Surabaya dan Medan. Di
Jakarta dibuka di Bapindo Plaza, di Surabaya di lakukan di cabang Bank
BRI Surabaya Kaliasin, Gedung BRI Tower, dan di Medan di Cabang BRI
Medan Putri Hijau.
Dalam halgo public ini, Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun memberikan
diskon harga bagi nasabahnya yang hendak berinvestasi membeli saham BRI
dalam proses IPO. Manajemen BRI juga mengupayakan lebih besar porsi
saham kepada pemodal dalam negeri (dalam persentase) dibanding dengan
porsi lokal saat IPO Bank Mandiri.
Listing di BEJ & BES
Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada 10 Nopember 2003
lalu, mencatat sejarah dengan melakukan pencatatan perdana sahamnya di
Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Bank BRI secara
resmi tercatat sebagai emiten di BEJ dan BES dengan nama saham BBRI.
Selain melakukan pencatatan saham perdana di BEJ dan BES, Bank BRI juga
melakukan refund, distribusi surat konfirmasi penjatahan kepada
investor, distribusi saham secara elektronik serta melakukan pembayaran
kepada pemerintah dan emiten. Pemerintah selaku pemilik saham tunggal
BRI melepas sampai 30 persen sahamnya di BRI kepada publik melalui pasar
modal.
Dalam proses ini, selain pola divestasi (pemerintah melepas
kepemilikannya) untuk disetorkan ke APBN, juga akan ada bagian BRI untuk
memperkuat struktur permodalannya, mendanai pertumbuhan di masa depan
termasuk pemberian kredit dan penyediaan produk pembiayaan lain kepada
nasabah, meng-upgrade sistem pelaporan informasi dan menerapkan sistim
core banking, memperluas cabang dan jaringan unit dan untuk kepentingan
perusahaan secara umum lainnya.
Permintaan akan saham BRI memang mengejutkan sekaligus membanggakan.
Banyak investor belum mendapatkan kesempatan memperoleh saham dalam
penawaran perdana yang oversubscribe sebesar 7,4 kali itu dan habis
dalam waktu singkat. Kenyataan ini sebenarnya menunjukkan kepercayaan
para nasabah dan investor yang amat besar kepada Bank BRI.
Pasca IPO
Rudjito menegaskan Komitmen BRI untuk membangun usaha mikro, kecil, dan
menengah takkan berubah, walaupun pemerintah tidak lagi menjadi pemegang
saham tunggal pasca initial public offering/IPO saham bank ini. Ke depan
BRI sudah menetapkan penyaluran kredit kepada kelompok usaha mikro,
kecil, dan menengah tidak boleh kurang dari 80 persen. Kredit korporasi
tidak boleh lebih dari 20 persen. Kredit untuk korporasi fokusnya kepada
agrobisnis. Untuk tahun 2004, BRI akan siap melakukan ekspansi kredit
sebesar Rp 8 triliun.
Dalam langkahnya menyongsong masa depan, BRI menekankan bebera-pa hal:
pertama, fokus; kedua bersi-nergi tetapi berkompetisi; ketiga jaring-an
yang luas dimanfaatkan; keempat menggunakan teknologi informasi; kelima
selalu melaksanakan good corporate governance dan risk manage-ment.
Kemudian, memahami marketing mix, yaitu product, price, place,
promotion, and people. Hal inilah yang menjadi kunci mengapa kinerja BRI
bisa lebih baik dari hari ke hari. =>LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|