| |
C © updated 22012006-13122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bbc |
|
| |
Nama:
Jenderal (Purn) TNI Rudini
Lahir:
Malang, 15 Desember 1929
Meninggal:
Jakarta, 21 Januari 2006
Agama:
Islam
Isteri:
Oddyana
Anak:
Tiga orang
Ayah:
R. Ismangun Puspohandoyo
Ibu:
Kusbandiah
Pendidikan:
= SD, Malang (1942)
= SMP, Malang (1945)
= SMA, Malang (1950)
= KMA, Breda, Negeri Belanda (1951-1955)
= Suski, Bandung (1961)
= Suslapa, Bandung (1967) ; Para, Bandung (1964)
= Jump Master, Bandung (1966)
= Seskoad, Bandung (1970)
= International Defence Management Course, AS (1973)
= Lemhanas, Jakarta (1977)
Karir :
= Dan Ton Ki Yon 518/Brawijaya (1956)
= Pelatih Taruna AMN (1959)
= Dan Yon 401/Para (1967)
= Dan Brigif 18/Linud (1972)
= Panglima Komando Tempur Lintas Udara (1975)
= Kepala Staf Kostrad (1977)
= Panglima Kodam XIII/Merdeka (1978)
= Panglima Kostrad (1981)
= Kepala Staf Angkatan Darat (1983-1986)
= Menteri Dalam Negeri (1988-1993)
= Ketua Komisi Pemilihan Umum (1999-2001)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra
- Satya Lencana Operasi Militer V
- Bintang Lencana Santi Dharma
- Bintang Lencana Seroja
- Bintang Lencana Unicef
- Bintang Lencana Kesetiaan 8 Tahun, 16 tahun dan 24 tahun.
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan RS Fatmawati 23, Cipete, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
Rudini (1929-2006)
Jenderal Pesta Demokrasi
Mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Ketua Umum KPU Jenderal
(Purn) Rudini meninggal dunia pada usia 77 tahun di Rumah Sakit Pondok
Indah, Jakarta Selatan, Sabtu 21 Januari 2006 malam sekitar pukul 23.00
WIB. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu
(22/1) pukul 13.30 WIB.
Upacara pemakaman yang berlangsung sekitar 45 menit dengan upacara
militer itu dipimpin Kepala Staf TNI AD Jenderal Joko Santoso. Prosesi
pemakaman itu sempat molor dari jadwal semula yang direncanakan dimulai
pukul 12.00 WIB menjadi 13.30 WIB akibat turunnya hujan.
Panglima TNI Jenderal Endriartono Soetarto, Sekjen Departemen Pertahanan
Letjen Sjafrie Sjamsoedin, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Mensekkab Sudi
Silalahi, Mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Panglima TNI Jenderal
(Purn) Wiranto, mantan Kepala Staf TNI AD yang juga mantan Ketua Umum
KONI Jenderal (Purn) Wismoyo Aries Munandar, tampak hadir di antara
ratusan pelayat dalam pemakaman tersebut.
Sebelumnya, Presiden SBY berserta Ibu Ani Bambang Yudhoyono melayat
di rumah duka di Jalan Fatmawati 23, Jakarta Selatan, sekitar pukul
10.30 WIB, Minggu (22/1). Presiden yang menggunakan batik gelap
mengatakan turut berduka cita atas meninggalnya Rudini. Presiden
mengatakan bahwa almarhum adalah tokoh tentara yang baik serta patut
diteladani.
Atas berbagai pengabdiannya, Rudini menerima beberapa penghargaan di antaranya tanda
jasa Bintang Mahaputra, Satya Lencana Operasi Militer V, Bintang Lencana
Santi Dharma, Bintang Lencana Seroja, Bintang Lencana Unicef, Bintang
Lencana Kesetiaan 8 Tahun, 16 tahun dan 24 tahun.
Rudini
Jenderal Pesta Demokrasi 1999
Mantan Menteri Dalam Negeri Kabinet Pembangunan V (1988-1993), ini seorang
pejabat Orde Baru yang berkiprah dalam era reformasi. Dia terbebas dari
penghujatan yang menerpa pejabat-pejabat Orde Baru pada awal bergulirnya
reformasi. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini, justru dipercaya sebagai
Ketua Komisi Pemilihan Umum (1999-2001) yang bertugas sebagai
penyelenggara Pemilu 7 Juni 1999. Dia jenderal pesta demokrasi 1999.
Jenderal bintang empat kelahiran Malang, 15 Desember 1929, ini memimpin 52
anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pemilihan umum dengan kontestan multi partai (48 partai
politik dengan beragam asas dan kepentingan) pertama setelah 44 tahun.
Penyelenggara Pemilu pada masa sangat sulit, terjadi krisis
multidimensional.
Ketika itu, terjadi euphoria demokrasi. Semua orang merasa berhak
melepaskan kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi. Apa saja
didebat dan ditentang jika tidak sesuai dengan kepentingan pribadi dan
kelompoknya. Nyaris tak peduli apakah hal itu sesuai dengan aturan main
demokrasi atau tidak.
Belum lagi harga dan ketersediaan bahan-bahan pokok masih belum stabil,
nilai rupiah berfluktuasi tak terkendali, pemutusan hubungan kerja (PHK)
terjadi secara besar-besaran, pengangguran bertambah banyak, dan kekerasan
massa yang bergantian meledak di berbagai wilayah.
Namun, dalam kondisi seperti itu, Pemilu 7 Juni 1999, berlangsung dengan
baik. Andil kesadaran dan partisipasi masyarakat adalah yang terbesar
dalam menentukan keberhasilan Pemilu tersebut. Tapi kepemimpinan Rudini di
KPU yang beranggotakan unsur-unsur partai dan pemerintah itu, tentulah
mempunyai makna besar.
Penampilannya yang banyak senyum dan tutur katanya
yang lembut, serta kedisiplinannya yang sudah terasah dan teruji, telah
menopang kepemimpinannya mengendalikan KPU yang beranggotakan unsur
pemerintah dan partai-partai dengan berbagai tingkah dan kepentingan.
Rudini, memang seorang jenderal yang telah terlatih dalam soal
kepemimpinan dan kedisiplinan sejak masa kecil. Ayahnya, R. Ismangun
Puspohandoyo, seorang pegawai
dinas pekerjaan umum, telah menerapkan disiplin keras kepadanya bersama
saudara-saudaranya. Sang Ayah menetapkan jadual belajar, sholat dan
bermain secara ketat. ''Sebelum magrib, semua harus di rumah, untuk salat
dan makan bersama.
Masa kecilnya dilalui dengan berpindah-pindah dari satu kota ke kota
lain di Jawa Timur, mengikuti kepindahan tempat kerja ayahnya.
Anak ketiga dari sembilan bersaudara ini diboyang dari kota kelahirannya
Malang ke Blitar, Tulungagung, Mojokerto dan kembali gai ke Malang saat
dia duduk di kelas II HIS.
Kemudian saat ia kelas V, Jepang masuk menduduki Indonesia. Sehingga
ijazah HIS-nya ditulis dalam bahasa Jepang. Saat belajar di SMP, dia ikut
mendapat latihan kemiliteran dari PETA. Proklamasi Kemerdekaan RI terjadi
saat dia kelas III SMP.
Sungguh dia dibesarkan dalam suasana Perang
Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan. Saat mantan Panglima Kostrad (1981),
ini masih remaja, sering menyaksikan parade militer di Malang kota
kelahirannya. Dia sangat mengagumi kedisiplinan dan kejuangan para
prajurit itu. Sejak itu, dia bercita-cita menjadi tentara. Padahal ayah-ibunya
menginginkannya menjadi dokter. Sang Ayah melihat Rudini berpotensi
menjadi dokter karena sangat menyenangi pelajaran berhitung dan IPA.
Namun, Rudini kukuh dalam cita-citanya menjadi tentara. Maka setamat SMA
di Malang (1950), dia mendaftarkan diri menjadi anggota TNI-AD. Dia
beruntung, karena kebetulan, saat itu (1951), ada pengiriman calon perwira
ke Akademi Militer di Breda, Negeri Belanda. Rudini mendaftar mengikuti
tes dan lulus.
Empat tahun (1951-1955) dia belajar di negeri kincir angin itu. Dengan
tekun dia belajar dan megikuti setiap latihan sampai lulus tahun 1955.
Kemudian dia kembali ke Indonesia dan dilantik KSAD Jenderal AH Nasution
menjadi perwira remaja dengan pangkat Letnan II.
Dia pun menjadi instruktur sebapan garran di Inspektorat
Pendidikan dan Latihan sebelum menjabat
komandan peleton pada Yon 518/Brawijaya (1956-1959).
Kemudian dia dimutasi menjadi Pelatih Taruna AMN (1959). Saat menjadi
pelatih AMN bagian darat di Magelang inilah dia berkenalan dengan Oddyana,
gadis Cirebon, yang kemudian menjadi isterinya dan dikaruniai tiga anak.
Tahun 1961 prajurit yang gemar menyanyi dan meniup klarinet ini mengikuti
pendidikan Suski di Bandung. Juga pendidikan Para (1964), Jump Master
(1966) dan Suslapa (1967) semuanya di Bandung. Tahun 1967 dia menjabat Dan
Yon 401/Para (1967). Lalu mengikuti pendidikan Seskoad (1970) di Bandung
dan International Defence Management Course, AS (1973). Sebelum menjabat
Panglima Komando Tempur Lintas Udara (1975), dia terlebih dahulu memimpin
Brigif 18/Linud (1972). Kemudian ikut Lemhanas, Jakarta (1977). Lalu
dipromosikan menjabat Kepala Staf Kostrad (1977) sebelum diangkat menjabat
Panglima Kodam XIII/Merdeka (1978).
Tiga tahun kemudian (1981), pengagum Jenderal Eisenhower dan Achmad Yani,
ini menjabat Panglima Kostrad. Dua tahun di Kostrad, dia dipercaya
menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (1983-1986). Dua tahun dia tidak
mempunyai posisi penting, setelah pensiun dari jabatan Kasad. Ketika itu,
banyak orang menduga bahwa kariernya sudah berakhir.
Namun, ketika Presiden Soeharto mengumumkan susunan personalia menteri
kabinet Pembangunan V periode 1988-1993, Rudini dipercaya memegang jabatan
penting sebagai Menteri Dalam Negeri, yang kala itu antara lain bertugas
sebagai pembina politik dalam negeri.
Pada saat menjabat Mendagri, dia menggagas dan mendirikan STPDN (Sekolah
Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) di Jatinangor, Jawa Barat. Sekolah
tinggi yang disetting dengan kedisiplinan tinggi, namun sayang kemudian di
sana sering terjadi kekerasan oleh kakak kelas kepada adik kelas.
Dia seorang pejabat Orde Baru yang tergolong bersih. Maka tak heran, pada
awal bergulirnya reformasi dia tidak tergolong pejabat Orba yang dihujat.
Bahkan dia dipercaya memimpin bergulirnya pesta demokrasi sebagai ketua
KPU. Di luar jalur militer dan birokrasi, dia pernah menjabat Ketua Umum
Federasi Olah Raga Karate Indonesia (FORKI), 1984- 1989, walaupun dia
bukan seorang krateka. Dia penggemar tenis dan sepeda argo. ►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|