| KOLOM |
|
|
 |
Rosihan Anwar
Ekonomi Pemimpin Asteng
WASPADA 30/5/05: TEAM Indonesia Bangkit adalah sekelompok ekonom yang
pada awal Mei 2005 menggelar diskusi, mengundang pers dan menyerang team
ekonomi pemerintah yang dinilai lemah mengelola makro ekonomi. Team
Indonesia Bangkit terutama terdiri atas ekonom dari Indef seperti Hendri
Saparini, Dradjad Wibowo, Didik Rachbini, Fadhil Hasan, Aviliani.
Kadang-kadang Revrisond Baswir dari Gajah Mada ikut kelompok ini.
Kabarnya mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli juga ada di belakang Team
Indonesia Bangkit. Revrisond Baswir percaya pemerintah sekarang terlalu
dikuasai oleh pengaruh kapitalisme-imperialis.
Prof. Mohammad Sadli dalam induk karangan Business News (16-5-05)
menulis: Kritik Team Indonesia Bangkit sebetulnya tidak terlalu kena,
karena keadaan makro-ekonomi dan economic fundamentals Indonesia,
sekarang ini cukup baik. Memang, belakangan ini ada gejolak tingkat
inflasi meningkat dan kurs rupiah melemah, akan tetapi ini dipandang (antara
lain oleh lembaga-lembaga keuangan asing) sebagai kelemahan temporer
pada pelaksanaan kebijakan moneter, dan "salahnya" lebih banyak di Bank
Indonesia.
Dari luar negeri ada pandangan bahwa ekonomi global menguji-coba para
pemimpin Asia Tenggara. Michael Vatikiotis, mantan koresponden Far
Eastern Economi Review di Jakarta, menulis dalam International Herald
Tribune, 10 Mei 2005 bahwa pemimpin-pemimpin Asia Tenggara kini
menghadapi uji coba gawat mengenai popularitas mereka.
Janji mereka menaikkan tingkat kehidupan yang menyebabkan mereka
mereka menang dalam pemilu baru-baru ini kini terancam oleh harga tinggi
minyak, suku bunga Amerika yang lebih tinggi dan prospek melambannya
ekonomi global. PM Thailand Thaksin Shinawatra dan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono meraih dukungan sepenuhnya dari rakyat dalam pemilu
2004. Tidak sampai tiga bulan setelah kemenangan dalam pemilu, PM
Thaksin terpaksa mengakui pertumbuhan dalam Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
akan diterpa oleh harga tinggi minyak. Thaksin menilai kembali
pertumbuhan ekonomi yang diturunkan sekitar 5 persen.
Di Jakarta Presiden SBY harus berkunjung ke lantai Bursa guna
menghentikan kemerosotan 5 persen dalam nilai rupiah sejak bulan Januari.
Rupiah merosot nilainya terhadap dolar AS karena tekanan kuat inflasi
dan suku bunga yang lebih tinggi. Setelah mengatasi kemarahan publik
mengenai kenaikan harga BBM bulan Maret, SBY kini berhadapan dengan
inflasi yang "menggantung" lebih 9 persen, sejumlah skandal keuangan
yang bisa merusak kredibilitas pemerintahnya dan kepercayaan investor
yang vital.
Di Malaysia PM Abdullah Badawi yang sampai sekarang dapat pujian di
dalamnegeri karena pendekatannya yang lembut terhadap pemerintah semakin
menghadapi kritik bahwa kebijakannya adalah lamban guna menghasilkan
resultat. Dengan pasar-pasar valuta asing (valas) begitu mudah berubah
(volatile), terdapat keprihatinan bahwa mata uang Malaysia (ringgit)
mungkin menjadi pusat kisaran suatu krisis keuangan regional lagi.
Sudah barang tentu ada perbedaan signifikan antara periode dewasa ini
mengenai ketidakpastian dengan krisis moneter Asia tahun 1997. Kini
banyak masalah yang dihadapi oleh para pemimpin adalah produk dari lebih
banyak transparansi dan keterbukaan, bukan kurang. Tapi di sini terletak
bahaya. Suatu kemelut ekonomi lain di kawasan bisa membahayakan
perkembangan politik. Baik Thaksin, maupun Yudhoyono sedang berjuang
menanggulangi tantangan-tantangan ekonomi dan skandal korupsi lebih
terbuka, tapi berada di bawah tekanan para pendukung politik mereka guna
berhemat dan melindungi mereka sendiri.
Sebegitu jauh adalah bagus di Indonesia di mana pemerintah telah
menegaskan kembali komitmennya kepada keadilan sosial dan transparansi,
kendati penundaan-penundaan lama dalam menyusun rencana-rencana untuk
meringankan kemiskinan dan kemajuan lambat dari sejumlah penyelidikan
korupsi. Adalah berita bagus bahwa pemerintah ternyata bersih dalam
kemungkinan korupsi Bank Mandiri di mana negara punya saham terbesar.
Suatu keputusan Presiden mengenai peringanan kemiskinan diharapkan
segera terbit yang akan memberi wewenang mengeluarkan cukup banyak uang
untuk kesehatan dan pendidikan di seluruh negeri.
Di Thailand, PM Thaksin terpaksa menerima prediksi pertumbuhan lebih
rendah tahun ini dan mungkin harus mengurangi program pengeluaran publik
seraya deficit anggaran, ketekoran rekening sedang berjalan dan deficit
perdagangan bertumbuh. Dia telah menggunakan kebiasaannya bicara terus
terang guna membantu menjelaskan masalah-masalah kepada rakyat yang
telah dijanjikan pertumbuhan dam taruhan lebih besar dalam ekonomi.
"Kita harus akui kita tidak bisa kontrol semuanya" ujar Thaksin
baru-baru ini guna menepis kritik khalayak ramai mengenai kenaikan tarif
bis yang direncanakan di Bangkok. "Tiap orang harus membantu dan berbagi
memikul beban, lantaran tingginya biaya minyak telah mempengaruhi tiap
negeri".
Para pengritik berkata bahwa bicara terbukanya Thaksin seharusnya
diimbangi dengan beberapa penanganan yang terbuka pula. Seperti mitranya
di Jakarta SBY, maka Thaksin telah berjanji akan memberantas korupsi.
Pengungkapan bahwa para pejabat pemerintah mungkin mengetahui mengenai
sebuah transaksi membeli detektor eksplosif untuk bandara baru Bangkok
dengan harga yang dinaikkan akan merupakan suatu uji-coba kritis dari
kebijakan anti-korupsinya.
Mengingat cara bergeraknya harga minyak dan dengan tanda-tanda ekonomi
Amerika Serikat mungkin akan goyang seraya suku bunga naik, maka pasti
bahwa uji-coba riil bagi para pemimpin seperti Yudhoyono dan Thaksin
ialah bagaimana mereka akan mengelola ekonomi mereka berhadapan dengan
harapan-harapan rakyat. Pasar-pasar dan para pemilih telah mengharapkan
lebih banyak keterbukaan dan manajemen langsung tepat dari pemerintah
mereka.
Artinya memang bagus menyaksikan Presiden Indonesia berada di gedung
Bursa Jakarta guna menenteramkan para investor yang senemen gugup, akan
tetapi akan diperlukan lebih banyak untuk membantu menyelamatkan nilai
rupiah dan mengelakkan suatu krisis ekonomi lagi daripada hanya suatu
permintaan supaya tidak panik, karena persediaan devisa masih cukup dan
dasar ekonomi masih kuat, demikian Michael Vatikiotis yang kini jadi
visiting research fellow di Institute of Southeast Asian Studies di
Singapura.
Balik pada tulisan Prof. M. Sadli dalam Business News, gurubesar UI itu
berkata "Memang ada inti benarnya pada kritik Team Indonesia Bangkit
bahwa koordinasi antar-menteri ekonomi dan kepemimpinannya (dari Menko
Perekonomian ?) sering tampak lemah. Tetapi kalau lalu menyimpulkan
bahwa kesalahan "hanya" terletak pada jajaran menteri dan Presiden serta
Wakil Presiden bebas dosa, itu bukan kesimpulan yang terlalu kuat.
Kinerja antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden
Jusuf Kalla juga sering kena kritik.
Presiden sering lamban dalam mengambil keputusan, sedangkan Wakil
Presiden bertindak terlalu cepat. Tetapi, ada juga pendapat yang melihat
sinergi antara kedua pimpinan puncak ini. Walaupun tidak ideal, namun
cocok dalam situasi dan kondisi Indonesia sekarang. Tidak ada alternatif
kepemimpinan nasional yang lebih baik". ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|