A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Kolom
 ► Buku
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Seniman
 ► Wartawan
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 14072005  
   
  ► e-ti/  
  Nama :
H. Rosihan Anwar
Lahir:
Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922
Pekerjaan:
Wartawan Senior

Alamat Rumah:
Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat
 
     
 
KOLOM

 

Rosihan Anwar

Ekonomi Pemimpin Asteng

 

WASPADA 30/5/05: TEAM Indonesia Bangkit adalah sekelompok ekonom yang pada awal Mei 2005 menggelar diskusi, mengundang pers dan menyerang team ekonomi pemerintah yang dinilai lemah mengelola makro ekonomi. Team Indonesia Bangkit terutama terdiri atas ekonom dari Indef seperti Hendri Saparini, Dradjad Wibowo, Didik Rachbini, Fadhil Hasan, Aviliani. Kadang-kadang Revrisond Baswir dari Gajah Mada ikut kelompok ini.

 

Kabarnya mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli juga ada di belakang Team Indonesia Bangkit. Revrisond Baswir percaya pemerintah sekarang terlalu dikuasai oleh pengaruh kapitalisme-imperialis.


Prof. Mohammad Sadli dalam induk karangan Business News (16-5-05) menulis: Kritik Team Indonesia Bangkit sebetulnya tidak terlalu kena, karena keadaan makro-ekonomi dan economic fundamentals Indonesia, sekarang ini cukup baik. Memang, belakangan ini ada gejolak tingkat inflasi meningkat dan kurs rupiah melemah, akan tetapi ini dipandang (antara lain oleh lembaga-lembaga keuangan asing) sebagai kelemahan temporer pada pelaksanaan kebijakan moneter, dan "salahnya" lebih banyak di Bank Indonesia.


Dari luar negeri ada pandangan bahwa ekonomi global menguji-coba para pemimpin Asia Tenggara. Michael Vatikiotis, mantan koresponden Far Eastern Economi Review di Jakarta, menulis dalam International Herald Tribune, 10 Mei 2005 bahwa pemimpin-pemimpin Asia Tenggara kini menghadapi uji coba gawat mengenai popularitas mereka.

 

Janji mereka menaikkan tingkat kehidupan yang menyebabkan mereka mereka menang dalam pemilu baru-baru ini kini terancam oleh harga tinggi minyak, suku bunga Amerika yang lebih tinggi dan prospek melambannya ekonomi global. PM Thailand Thaksin Shinawatra dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meraih dukungan sepenuhnya dari rakyat dalam pemilu 2004. Tidak sampai tiga bulan setelah kemenangan dalam pemilu, PM Thaksin terpaksa mengakui pertumbuhan dalam Pendapatan Domestik Bruto (PDB) akan diterpa oleh harga tinggi minyak. Thaksin menilai kembali pertumbuhan ekonomi yang diturunkan sekitar 5 persen.


Di Jakarta Presiden SBY harus berkunjung ke lantai Bursa guna menghentikan kemerosotan 5 persen dalam nilai rupiah sejak bulan Januari. Rupiah merosot nilainya terhadap dolar AS karena tekanan kuat inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi. Setelah mengatasi kemarahan publik mengenai kenaikan harga BBM bulan Maret, SBY kini berhadapan dengan inflasi yang "menggantung" lebih 9 persen, sejumlah skandal keuangan yang bisa merusak kredibilitas pemerintahnya dan kepercayaan investor yang vital.

 

Di Malaysia PM Abdullah Badawi yang sampai sekarang dapat pujian di dalamnegeri karena pendekatannya yang lembut terhadap pemerintah semakin menghadapi kritik bahwa kebijakannya adalah lamban guna menghasilkan resultat. Dengan pasar-pasar valuta asing (valas) begitu mudah berubah (volatile), terdapat keprihatinan bahwa mata uang Malaysia (ringgit) mungkin menjadi pusat kisaran suatu krisis keuangan regional lagi.


Sudah barang tentu ada perbedaan signifikan antara periode dewasa ini mengenai ketidakpastian dengan krisis moneter Asia tahun 1997. Kini banyak masalah yang dihadapi oleh para pemimpin adalah produk dari lebih banyak transparansi dan keterbukaan, bukan kurang. Tapi di sini terletak bahaya. Suatu kemelut ekonomi lain di kawasan bisa membahayakan perkembangan politik. Baik Thaksin, maupun Yudhoyono sedang berjuang menanggulangi tantangan-tantangan ekonomi dan skandal korupsi lebih terbuka, tapi berada di bawah tekanan para pendukung politik mereka guna berhemat dan melindungi mereka sendiri.


Sebegitu jauh adalah bagus di Indonesia di mana pemerintah telah menegaskan kembali komitmennya kepada keadilan sosial dan transparansi, kendati penundaan-penundaan lama dalam menyusun rencana-rencana untuk meringankan kemiskinan dan kemajuan lambat dari sejumlah penyelidikan korupsi. Adalah berita bagus bahwa pemerintah ternyata bersih dalam kemungkinan korupsi Bank Mandiri di mana negara punya saham terbesar. Suatu keputusan Presiden mengenai peringanan kemiskinan diharapkan segera terbit yang akan memberi wewenang mengeluarkan cukup banyak uang untuk kesehatan dan pendidikan di seluruh negeri.


Di Thailand, PM Thaksin terpaksa menerima prediksi pertumbuhan lebih rendah tahun ini dan mungkin harus mengurangi program pengeluaran publik seraya deficit anggaran, ketekoran rekening sedang berjalan dan deficit perdagangan bertumbuh. Dia telah menggunakan kebiasaannya bicara terus terang guna membantu menjelaskan masalah-masalah kepada rakyat yang telah dijanjikan pertumbuhan dam taruhan lebih besar dalam ekonomi. "Kita harus akui kita tidak bisa kontrol semuanya" ujar Thaksin baru-baru ini guna menepis kritik khalayak ramai mengenai kenaikan tarif bis yang direncanakan di Bangkok. "Tiap orang harus membantu dan berbagi memikul beban, lantaran tingginya biaya minyak telah mempengaruhi tiap negeri".


Para pengritik berkata bahwa bicara terbukanya Thaksin seharusnya diimbangi dengan beberapa penanganan yang terbuka pula. Seperti mitranya di Jakarta SBY, maka Thaksin telah berjanji akan memberantas korupsi. Pengungkapan bahwa para pejabat pemerintah mungkin mengetahui mengenai sebuah transaksi membeli detektor eksplosif untuk bandara baru Bangkok dengan harga yang dinaikkan akan merupakan suatu uji-coba kritis dari kebijakan anti-korupsinya.

 
Mengingat cara bergeraknya harga minyak dan dengan tanda-tanda ekonomi Amerika Serikat mungkin akan goyang seraya suku bunga naik, maka pasti bahwa uji-coba riil bagi para pemimpin seperti Yudhoyono dan Thaksin ialah bagaimana mereka akan mengelola ekonomi mereka berhadapan dengan harapan-harapan rakyat. Pasar-pasar dan para pemilih telah mengharapkan lebih banyak keterbukaan dan manajemen langsung tepat dari pemerintah mereka.


Artinya memang bagus menyaksikan Presiden Indonesia berada di gedung Bursa Jakarta guna menenteramkan para investor yang senemen gugup, akan tetapi akan diperlukan lebih banyak untuk membantu menyelamatkan nilai rupiah dan mengelakkan suatu krisis ekonomi lagi daripada hanya suatu permintaan supaya tidak panik, karena persediaan devisa masih cukup dan dasar ekonomi masih kuat, demikian Michael Vatikiotis yang kini jadi visiting research fellow di Institute of Southeast Asian Studies di Singapura.


Balik pada tulisan Prof. M. Sadli dalam Business News, gurubesar UI itu berkata "Memang ada inti benarnya pada kritik Team Indonesia Bangkit bahwa koordinasi antar-menteri ekonomi dan kepemimpinannya (dari Menko Perekonomian ?) sering tampak lemah. Tetapi kalau lalu menyimpulkan bahwa kesalahan "hanya" terletak pada jajaran menteri dan Presiden serta Wakil Presiden bebas dosa, itu bukan kesimpulan yang terlalu kuat. Kinerja antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sering kena kritik.

 

Presiden sering lamban dalam mengambil keputusan, sedangkan Wakil Presiden bertindak terlalu cepat. Tetapi, ada juga pendapat yang melihat sinergi antara kedua pimpinan puncak ini. Walaupun tidak ideal, namun cocok dalam situasi dan kondisi Indonesia sekarang. Tidak ada alternatif kepemimpinan nasional yang lebih baik". ►e-ti
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

 

 

         

Welcome

This site is currently under construction. Please check back at a later time.