| KOLOM |
|
|
 |
Rosihan Anwar
Inggerisnya Pasifik
WASPADA 27/6/05: MASIH belum berhenti ulasan wartawan
luarnegeri mengenai Schapelle Corby yang divonis oleh Pengadilan Negeri
Den Pasar dengan hukuman penjara 20 tahun karena menyelundupkan
marijuana ke Bali. Kenapa para wartawan itu menulis terus tentang Corby?
Bukan hendak mengupas perkara dari segala sudut hukum. Bukan mau
menyoroti pelaku terpidana ? Melainkan memakai kesempatan itu guna
mengemukakan sifat tabiat orang Australia dan menunjukkan sikap politik
yang ditegakkannya. Demikianlah Michael Vatikiotis yang kini berada di
Lembaga Studi Asia Tenggara, Singapura melakukan riset, pernah jadi
koresponden majalah Far Eastern Economic Review di Jakarta tahun 1980an,
menulis pula sebuah artikel dalam suratkabar International Herald
Tribune, 14 Juni 2005.
Sebagaimana sudah dimaklumi sekarang, tulis Michael Vatikiotis perkara
Corby yang cantik itu yang dihukum penjara 20 tahun oleh pengadilan
negeri Indonesia karena menyelundupkan 4 kilogram marijuana ke Bali
telah menggelorakan suatu arus utama simpati dan kemarahan di Australia.
Media Australia telah melukiskan Corby sebagai korban suatu sistem hukum
yang korup. Mayoritas warga Australia yang dijajaki pendapatnya berpikir
Corby tidak bersalah. Beberapa orang Australia secara tidak fair
membandingkan vonis Corby dengan vonis kurungan penjara dua setengah
tahun yang dijatuhkan atas diri Abu Bakar Basyir, ustad yang dikatakan
mendalangi pengeboman terhadap kafe di Bali pada tahun 2002 yang
membunuh 200 orang, kebanyakan warga Australia. Yang lain menyarankan
memboikot Bali di mana Corby telah diadili. Ada pula yang minta
dikembalikan uang guna membantu korban tsunami di Aceh.
Saat terjadi semua ini adalah buruk sekali. Australia ingin ikut serta
dalam pertemuan puncak negara-negara Asia Timur pada akhir tahun ini
yang akan meletakkan pondamen suatu komunitas Asia Timur yang meliputi
dari India melalui Asia Tenggara dan mencakup China, Jepang dan Korea
Selatan. Malaysia akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak itu, Malaysia
anti dimasukkannya Australia. Indonesia dan negara-negara lain dari
ASEAN setuju Australia ikut serta. PM Australia John Howard tidaklah
membuat keputusan jadi lebih mudah dengan menyarankan pada mulanya bahwa
Australia tidak selayaknya menandatangani sebuah perjanjian persahabatan
dan kerjasama yang sudah disepakati oleh semua negara ASEAN.
Jika penjara-penjara Indonesia tidak cukup bagus, peradilan Indonesia
tidak memenuhi tolok ukur dan perjanjian-perjanjian Asia tidak ada
harganya untuk ditandatangani, masalahnya ialah apakah Australia
betul-betul siap untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas Asia ?
Tatkala ditanya beberapa tahun yang silam kapan Australia bisa bergabung
dengan ASEAN, maka mantan PM Mahathir Mohammad menjawab "Apabila
mayoritas warga Australia adalah orang Asia".
Dipandang dari tepi pelabuhan spektakuler Sydney atau dari kampus-kampus
metropolitan dari Melbourne, dimana orang-orang Asia merupakan bagian
signifikan dari penduduk, hal ini tidaklah mustahil. Hampir delapan
persen dari penduduk kira-kira 20 juta adalah dari asal Asia.
Kebijaksanaan Australia-putih yang menghalangi masuknya orang-orang Asia
telah dicampakkan pada pertengahan tahun 1970an dan orang-orang Asia
yang dulu berimigrasi ke Amerika kini lebih mudah memasuki Australia.
Akan tetapi daerah-inti (heartland) Australia masihlah kokoh bersifat
Eropa. Banyak penghuninya adalah imigran-imigran yang memiliki
purbasangka-purbasangka yang diperoleh para imigran, ketika mereka
berjuang untuk survive (bertahan hidup) dalam lingkungan-lingkungan baru.
Selama pemerintah partai Labour PM Paul Keating pada awal tahun 1990an,
Asia menyaksikan pertunjukan sebuah kisah percintaan Australia dengan
kawasan ini. Keating mempelopori proses pembentukan Asia Pasific
Economic Cooperation (APEC) dan membina hubungan-hubungan pertahanan dan
politik yang lebih dekat dengan negara-negara Asia.
Tapi di bawah pemerintah partai Liberal PM John Howard, yang kini dalam
masa jabatannya yang ketiga, kecenderungan alamiah orang-orang Australia
untuk dekat sekali mengidentifikasikan diri dengan kebudayaan dan
peradaban Barat telah diperkokoh dan dipastikan kembali.
Seorang dutabesar Amerika Serikat senior di Canberra menggambarkan
Australia sebagai "Inggerisnya Pasifik" atau "the United Kingdom of the
Pacific". Karena itu mudahnya Howard memasuki peran sebagai "deputy
sheriff" Amerika dalam perang semesta melawan teror.
Korban di sini ialah apa yang Australia bawa ke Asia. Ekonomi Australia
yang berkembang subur dan teknologi yang dapat dimasuki adalah
sumberdaya-sumberdaya signifikan bagi kawasan. Bahan-bahan mentah
Australia memicu nafsu selera luar biasa RRC akan mineral.
Universitas-universitas Australia diisi oleh mahasiswa-mahasiswa Asia,
dan orang-orang kaya Asia suka berlibur di Australia, memiliki properti
di sana, bermain judi di sana.
Semua ini bisa dilakukan dengan lebih efisien, apabila Australia lebih
banyak berintegrasi dengan kawasan (region) ini. Tapi sayang hal ini
tidaklah akan gampang adanya. Sebuah Web site nasionalis Australia
golongan pinggir menyatakan bahwa politisi Australia "sedang menggunakan
mass Asian immigration (masuknya orang Asia secara besar-besaran) guna
mengimplementasikan Asianisasi Australia untuk alasan-alasan ideologis
mereka sendiri, sebagai bagian dari tekad mereka untuk meletakkan di
atas Australia pandangan-dunia mereka dari
internasionalisme-kosmopolitan".
Sementara itu dukungan emosional terhadap Schapelle Corby tidak
seharusnya menyembunyikan fakta bahwa para pejabat Australia secara
teratur menangkapi imigran-imigran ilegal atau para pendatang haram dari
Asia dan menyekap mereka dalam kamp-kamp. Pada awal tahun ini terungkap
bahwa seorang warga Australia yang secara mental sakit bernama Cornelia
Rau telah ditahan sebagai imigran ilegal selama sepuluh bulan, demikian
tulis Michael Vatikiotis. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |