A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Kolom
 ► Buku
 ► Galeri
  P R O F E S I
 ► Seniman
 ► Wartawan
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 14072005  
   
  ► e-ti/  
  Nama :
H. Rosihan Anwar
Lahir:
Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922
Pekerjaan:
Wartawan Senior

Alamat Rumah:
Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat
 
     
 
KOLOM

 

Rosihan Anwar

Inggerisnya Pasifik

 

WASPADA 27/6/05: MASIH belum berhenti ulasan wartawan luarnegeri mengenai Schapelle Corby yang divonis oleh Pengadilan Negeri Den Pasar dengan hukuman penjara 20 tahun karena menyelundupkan marijuana ke Bali. Kenapa para wartawan itu menulis terus tentang Corby?

 

Bukan hendak mengupas perkara dari segala sudut hukum. Bukan mau menyoroti pelaku terpidana ? Melainkan memakai kesempatan itu guna mengemukakan sifat tabiat orang Australia dan menunjukkan sikap politik yang ditegakkannya. Demikianlah Michael Vatikiotis yang kini berada di Lembaga Studi Asia Tenggara, Singapura melakukan riset, pernah jadi koresponden majalah Far Eastern Economic Review di Jakarta tahun 1980an, menulis pula sebuah artikel dalam suratkabar International Herald Tribune, 14 Juni 2005.


Sebagaimana sudah dimaklumi sekarang, tulis Michael Vatikiotis perkara Corby yang cantik itu yang dihukum penjara 20 tahun oleh pengadilan negeri Indonesia karena menyelundupkan 4 kilogram marijuana ke Bali telah menggelorakan suatu arus utama simpati dan kemarahan di Australia.


Media Australia telah melukiskan Corby sebagai korban suatu sistem hukum yang korup. Mayoritas warga Australia yang dijajaki pendapatnya berpikir Corby tidak bersalah. Beberapa orang Australia secara tidak fair membandingkan vonis Corby dengan vonis kurungan penjara dua setengah tahun yang dijatuhkan atas diri Abu Bakar Basyir, ustad yang dikatakan mendalangi pengeboman terhadap kafe di Bali pada tahun 2002 yang membunuh 200 orang, kebanyakan warga Australia. Yang lain menyarankan memboikot Bali di mana Corby telah diadili. Ada pula yang minta dikembalikan uang guna membantu korban tsunami di Aceh.


Saat terjadi semua ini adalah buruk sekali. Australia ingin ikut serta dalam pertemuan puncak negara-negara Asia Timur pada akhir tahun ini yang akan meletakkan pondamen suatu komunitas Asia Timur yang meliputi dari India melalui Asia Tenggara dan mencakup China, Jepang dan Korea Selatan. Malaysia akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak itu, Malaysia anti dimasukkannya Australia. Indonesia dan negara-negara lain dari ASEAN setuju Australia ikut serta. PM Australia John Howard tidaklah membuat keputusan jadi lebih mudah dengan menyarankan pada mulanya bahwa Australia tidak selayaknya menandatangani sebuah perjanjian persahabatan dan kerjasama yang sudah disepakati oleh semua negara ASEAN.


Jika penjara-penjara Indonesia tidak cukup bagus, peradilan Indonesia tidak memenuhi tolok ukur dan perjanjian-perjanjian Asia tidak ada harganya untuk ditandatangani, masalahnya ialah apakah Australia betul-betul siap untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas Asia ? Tatkala ditanya beberapa tahun yang silam kapan Australia bisa bergabung dengan ASEAN, maka mantan PM Mahathir Mohammad menjawab "Apabila mayoritas warga Australia adalah orang Asia".


Dipandang dari tepi pelabuhan spektakuler Sydney atau dari kampus-kampus metropolitan dari Melbourne, dimana orang-orang Asia merupakan bagian signifikan dari penduduk, hal ini tidaklah mustahil. Hampir delapan persen dari penduduk kira-kira 20 juta adalah dari asal Asia. Kebijaksanaan Australia-putih yang menghalangi masuknya orang-orang Asia telah dicampakkan pada pertengahan tahun 1970an dan orang-orang Asia yang dulu berimigrasi ke Amerika kini lebih mudah memasuki Australia.


Akan tetapi daerah-inti (heartland) Australia masihlah kokoh bersifat Eropa. Banyak penghuninya adalah imigran-imigran yang memiliki purbasangka-purbasangka yang diperoleh para imigran, ketika mereka berjuang untuk survive (bertahan hidup) dalam lingkungan-lingkungan baru. Selama pemerintah partai Labour PM Paul Keating pada awal tahun 1990an, Asia menyaksikan pertunjukan sebuah kisah percintaan Australia dengan kawasan ini. Keating mempelopori proses pembentukan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) dan membina hubungan-hubungan pertahanan dan politik yang lebih dekat dengan negara-negara Asia.


Tapi di bawah pemerintah partai Liberal PM John Howard, yang kini dalam masa jabatannya yang ketiga, kecenderungan alamiah orang-orang Australia untuk dekat sekali mengidentifikasikan diri dengan kebudayaan dan peradaban Barat telah diperkokoh dan dipastikan kembali.
Seorang dutabesar Amerika Serikat senior di Canberra menggambarkan Australia sebagai "Inggerisnya Pasifik" atau "the United Kingdom of the Pacific". Karena itu mudahnya Howard memasuki peran sebagai "deputy sheriff" Amerika dalam perang semesta melawan teror.


Korban di sini ialah apa yang Australia bawa ke Asia. Ekonomi Australia yang berkembang subur dan teknologi yang dapat dimasuki adalah sumberdaya-sumberdaya signifikan bagi kawasan. Bahan-bahan mentah Australia memicu nafsu selera luar biasa RRC akan mineral. Universitas-universitas Australia diisi oleh mahasiswa-mahasiswa Asia, dan orang-orang kaya Asia suka berlibur di Australia, memiliki properti di sana, bermain judi di sana.


Semua ini bisa dilakukan dengan lebih efisien, apabila Australia lebih banyak berintegrasi dengan kawasan (region) ini. Tapi sayang hal ini tidaklah akan gampang adanya. Sebuah Web site nasionalis Australia golongan pinggir menyatakan bahwa politisi Australia "sedang menggunakan mass Asian immigration (masuknya orang Asia secara besar-besaran) guna mengimplementasikan Asianisasi Australia untuk alasan-alasan ideologis mereka sendiri, sebagai bagian dari tekad mereka untuk meletakkan di atas Australia pandangan-dunia mereka dari internasionalisme-kosmopolitan".


Sementara itu dukungan emosional terhadap Schapelle Corby tidak seharusnya menyembunyikan fakta bahwa para pejabat Australia secara teratur menangkapi imigran-imigran ilegal atau para pendatang haram dari Asia dan menyekap mereka dalam kamp-kamp. Pada awal tahun ini terungkap bahwa seorang warga Australia yang secara mental sakit bernama Cornelia Rau telah ditahan sebagai imigran ilegal selama sepuluh bulan, demikian tulis Michael Vatikiotis.  ►e-ti
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)