| |
C © updated
14072005-20052002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama :
H. Rosihan Anwar
Lahir:
Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922
Agama:
Islam
Isteri:
Siti Zuraida Sanawi
Anak:
Tiga orang
Pendidikan:
Sekolah Rakyat (HIS)
SMP (MULO) di Padang
Algemeene Middlebare School (AMS) Bagian A II tahun 1942 di Yogyakarta
Berbagai workshop di Yale University dan School of Journalism di
Columbia University, New York, Amerika Serikat.
Pekerjaan:
Wartawan Senior
Karir:
Reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang (1943)
Redaktur harian Merdeka (1945)
Pemimpin Redaksi Siasat (1947-1957)
Pemimpin Redaksi Pedoman (1948-1961).
Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia/PWI (1968-1974)
Salah satu pendiri Perusahaan Film Nasional (Perfini) tahun 1950
bersama (alm) Usmar Ismail.
Kritikus film sampai sekarang.
Penghargaan:
Bintang Mahaputra III (1974)
Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan (2005)
Alamat Rumah:
Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 =
Rosihan Anwar (01) Symbol Kebebasan Berpikir
Dia wartawan, penulis, pendidik, seniman dan sejarawan sepanjang hidup.
Sosok yang layak disenut sebagai simbol kebebasan berpikir. Rezim Orde
Baru dan Lama menyimpan rasa love-hate terhadapnya. Karena dia selalu
mengikuti insting jurnalistiknya, menyuarakan isi hatinya, mengungkapkan
kebenaran, ketidakadilan. Tak satu gembok pun bisa mengunci kebebasan
berpikirnya.
Banyak yang pernah berhubungan dengan Rosihan atau mengenalnya dari jauh,
menganggapnya sebagai pribadi yang arogan. Ada pula yang menggambarkan
Rosihan sebagai tokoh yang punya karisma kuat, disayang, tetapi dibenci.
Tetapi, sebagian terbesar dari 60 tahun lebih karier jurnalistiknya
penuh ambivalensi dalam hubungannya dengan dua rezim pertama negeri ini.
Begitu Abdullah Alamudi, Wartawan senior, instruktur pada Lembaga
Pers Dr Soetomo, Jakarta, menggambarkan sosok Rosihan dalam kolomnya di
Kompas (10/5). Berikut penuturan Abdullah perihal profil Rosihan:
Rezim Orde Baru dan Lama tampak menyimpan rasa love-hate terhadap
Rosihan. Sebagian besar karena dia selalu mengikuti insting
jurnalistiknya, menyuarakan isi hatinya, mengungkapkan kebenaran,
ketidakadilan, yang tidak satu gembok pun bisa mengunci kebebasan
berpikirnya. Seperti kata Virginia Woolf itu.
Ketika Jenderal Spoor dan pasukannya melancarkan aksi polisionil Belanda
pertama, Juli 1947, mereka menyekap Rosihan di penjara Bukitduri,
Jakarta Selatan. Lalu, Presiden Soekarno menutup korannya, Pedoman, pada
tahun 1961. Pemerintah Orde Baru menghargai pengabdian tiada henti
Rosihan sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan
menganugerahinya Bintang Mahaputra III, tetapi mereka menutup Pedoman
pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto
mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya-termasuk Jakob Oetama.
Sekarang pun, sikap kritisnya tidak berubah. Ini tercermin, misalnya,
dalam tulisannya di Jakarta Post (4/3/01). Di sana, Rosihan bercerita
mengenai pengalaman dan pendapat seorang penulis dan wartawan Belanda,
Willem Walraven, tentang pergerakan Indonesia di tahun 1940-an.
Walraven meninggal di kamp konsentrasi Jepang di Jawa Timur pada tahun
1943. Dan Rosihan berkomentar: "Oligarki pribumi". "Tanpa ampun terhadap
bangsa sendiri". "Penderitaan yang menyedihkan bagi pekerja biasa". "56
tahun merdeka, 15 bulan dalam pemerintahan Gus Dur. Aku melihat
sekeliling republik yang luas ini dan semuanya seperti tiada perubahan."
Di harian Kompas (26/4), dia mengingatkan pers Indonesia tentang
kecenderungan penguasa sekarang dan anggota DPR untuk mengekang
kebebasan pers seperti di zaman kolonial. Rosihan mengingatkan wartawan
supaya tidak banyak menaruh harapan kepada para anggota DPR dan elite
politik kini yang digambarkannya sebagai golddiggers, pemburu harta. Dia
berseru kepada masyarakat pers agar mereka "merapatkan barisan untuk
siap siaga terhadap datangnya malapetaka pemasungan atas diri mereka."
Sikap kerasnya itu merupakan reaksi terhadap golddiggers yang berusaha
memasung pers dengan mengajukan rancangan undang-undang tentang Rahasia
Negara dan RUU tentang Penyiaran yang lebih banyak berisi larangan
ketimbang mengembalikan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.
Ketika memperingati "Hari Kemerdekaan Pers Dunia" (Kompas, 7/5/97),
Rosihan mengingatkan, ada suatu masa di zaman Revolusi pers Indonesia
menikmati kebebasan, yakni sewaktu Perdana Menteri Mohammad Hatta
membiarkan pers mengkritiknya dan koran-koran oposisi mengecamnya. "...Warisan
sejarah itu jangan dilupakan," katanya. Pesan ini baik juga diingat oleh
golddiggers yang ingin mengembalikan pers Indonesia ke zaman kolonial.
Sebagai reporter Asia Raya sejak 1943, redaktur harian Merdeka, pendiri
dan pemimpin redaksi majalah Siasat sebelum mendirikan harian Pedoman,
Rosihan banyak menulis tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada
edisi pertama harian Merdeka 1 Oktober 1945, Rosihan menulis sajak yang
pesan-pesannya amat kiri, berjudul, Kini Abad Rakyat Merdeka. Sebagian
dari sajak itu berbunyi:
"... Kami putra abad sekarang/Gairah berjuang terus-menerus/Mewujudkan
cita semboyan kudus:/SAMA RASA, SAMA RATA/Tiada lagi bangsa terjajah/Mereka
semua berdaulat sendiri/Buat jaminan damai abadi."
Ensiklopedi berjalan
Lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, Rosihan belajar di
sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Dia melanjutkan
pendidikannya di AMS di Yogyakarta. Dari sana Rosihan mengikuti berbagai
workshop di dalam dan di luar negeri, termasuk di Yale University dan
School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat.
Ayahnya adalah Asisten Demang Anwar, gelar Maharaja Sutan di Sumatera
Barat.
Memulai karier jurnalistiknya sejak berumur 20-an, sedikitnya Rosihan
sudah menulis 21 judul buku dan mungkin ratusan artikel di hampir semua
koran dan majalah utama di negeri ini dan di beberapa penerbitan asing.
Dia juga bermain dalam beberapa film Indonesia sejak tahun 1950, bahkan
dia salah satu pendiri Perusahaan Film Nasional (Perfini) pada tahun
1950 bersama (alm) Usmar Ismail dan tetap menjadi kritikus film sampai
sekarang.
Rosihan adalah bagian dari sejarah Indonesia. Dia seolah ensiklopedia
Indonesia berjalan. Karena itu pula Masyarakat Sejarah Indonesia
mengangkatnya menjadi salah seorang anggota kehormatannya.
Dalam pengantarnya pada buku H Rosihan Anwar: Wartawan Dengan Aneka
Citra, Jakob Oetama, Pemimpin Redaksi harian Kompas, menggambarkan
Rosihan sebagai "...wartawan sejati, bukanlah man of power melainkan man
of conscience and of culture, lebih cenderung kepada suara hati dan
kebudayaan (baca: kemanusiaan) daripada kekuasaan."
Sakit hati Rosihan pada Pemerintah Orde Baru, yang tetap menolak Pedoman
terbit kembali meski Menteri Penerangan Mashuri sudah memintakannya
kepada Presiden Soeharto. Itu tercermin pada penolakannya menjadi duta
besar dan berkuasa penuh untuk Vietnam. Rosihan menolaknya secara halus
dengan alasan dia tidak bisa meninggalkan anak-anaknya yang masih duduk
di sekolah menengah.
Banyak peninjau politik melihat keputusan Rosihan saat itu sebagai
tindakan terlalu berani untuk menolak penugasan terhormat dari seorang
"Raja Jawa" (baca: Presiden Soeharto). Tetapi, itulah Haji Waang-julukan
banyak orang terhadap Rosihan, yang mereka ambil dari nama tokoh lugu
dan polos dalam tajuk-tajuk rencana Pedoman setiap Jum'at. Rosihan
memang tidak membentak atau menghardik orang, tetapi sentilannya (baca:
arogansinya) dalam menghujam di hati, lama mendengung di kuping.
Rosihan juga seorang pendidik, fair, dan selalu memberi kesempatan
kepada stafnya untuk maju. Keterampilannya menulis menjadikan Rosihan
kolumnis yang mungkin terbaik di Indonesia saat ini. Dia bercerita
sebagai seorang storyteller dan menunjukkan authenticity
artikelnya dengan menampilkan diri dalam tulisannya, menjadi saksi
sejarah, sehingga pembaca hanyut dalam arus ceritanya.
Bila menulis obituary, Rosihan bercerita tentang the life and work
orang
bersangkutan dan tempatnya dalam sejarah negeri ini sehingga pembaca
bisa meneteskan air mata. Selalu ada warna dalam ceritanya, tetapi tanpa
flowery words dan tak ada lubang dalam tulisannya.
Penampilan fisik H Rosihan Anwar, yang hari ini berumur 80 tahun,
rasanya tidak berbeda dengan penampilannya pada 1968. Bahkan, Rosihan
tampak lebih rapi karena dia tidak lagi mengenakan ciri khasnya yang
dulu: saputangan di tengkuk untuk melindungi kerah baju dari keringatnya.
Namun, betapapun penampilan dan arogansinya, Rosihan adalah panutan para
wartawan dalam menghadapi orang-orang yang dia sebut golddiggers. ►e-ti/retno handayani,
dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|