| |
C © updated 29062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama :
H. Roeslan Abdulgani
Lahir :
Surabaya, 24 November 1914
Meninggal:
Jakarta, 29 Juni 2005
Agama :
Islam
Isteri:
Sihwati Nawangwulan
Anak:
Lima orang
Pendidikan :
- HIS, Surabaya (1928)
- MULO, Surabaya (1932)
- HBS-B, Surabaya (1934)
- Kursus Tata Buku A dan B (1938)
- Kursus Notariat I dan II (1940)
- Hunter College, New York, AS (1968)
- Barnard College, New York, AS (1969)
Karir :
- Anggota National Indonesische Padvinderij (1926)
- Ketua Indonesia Moeda (1934)
- Guru Sekolah Menengah Islamiyah/Perguruan Rakyat/Kursus malam Taman
Siswa, Surabaya (1935)
- Ketua Pedoman Besar Indonesia Moeda Surabaya (1936-1937)
- Karyawan Dinas Perindustrian dan Koperasi Rakyat, Surabaya (1937-1941)
- Poetera bagian Ekonomi, Surabaya (1942-1943)
- Redaksi Majalah Bakti (1945-1946)
- Kepala Dinas Penerangan Rakyat Jawa Timur (1946-1947)
- Sekjen Deppen (1947-1954)
- Sekjen Deplu (1954-1956)
- Sekjen KAA, Bandung (1955)
- Menteri Luar Negeri (1956-1957)
- Wakil Ketua Dewan Nasional, Jakarta (1957-1959)
- Wakil Ketua DPA (1959-1962)
- Wakil Ketua IV DPP PNI (1964)
- Menteri Koordinator, merangkap Menteri Penerangan (1962-1966)
- Anggota Presidium Kabinet (1965-1966)
- Wakil Perdana Menteri (1966-1967)
- Dubes RI di PBB, New York (1967-1971)
- Ketua Tim Penasihat Presiden mengenai Pelaksanaan P4 (1978- sekarang)
Karya :
- Antara lain: Heroes Day and the Indonesian Revolution, Prapanca,
1964
- Indocina dalam Kawasan Asia Tenggara Dewasa Ini, Idayu, 1979
- Nationalism, Revolution and Guided Democracy in Indonesia, Monash
University, 1973
- The Bandung Connection, Gunung Agung, 1981
Alamat Rumah :
Jalan Diponegoro 11, Jakarta Pusat Telp: 334526
Sumber:
Wawancara Tokoh Indonesia dan berbagai sumber di antaranya www.pdat.co.id
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
==
Roeslan Abdulgani (03)
Kepergian Sang Penjaga Sejarah
Kematian hanya berlaku pada raga, tidak pada roh dan jiwa. Karena itu,
hiduplah yang baik karena semua yang ada di dunia ini cuma titipan.
Kedekatan Cak Roes dan Pak Harto, dua tokoh bangsa itu, akhirnya harus
dipisahkan oleh takdir. Cak Roeslan lebih dulu berpulang ke pangkuan
Yang Maha Kuasa, Rabu, 29 Juni 2005.
Sebelumnya, menjelang masuk ICU hari Minggu (19/6), sampai seluruh
peralatan selesai dipasang selama lebih kurang satu jam, menurut puteri
Cak Roes, Wati Abdulgani, Pak Harto ditemani ajudan dan putrinya, Mamiek,
menunggui Cak Roes yang sudah tidak bisa berkomunikasi.
“Bapak terlihat sangat sedih setelah pulang dari menengok Pak Roeslan,”
begitu kata Mamiek seperti dikutip Wati.
Suatu hari dalam wawancara dengan sebuah media, Cak Roes pernah ditanya
apa makna kematian bagi dirinya. Ya dipanggil Tuhan, jawabnya kala itu.
Itu tinggal kepercayaan. Tapi kalau secara ilmiah, jiwa itu energi.
Kalau manusia mati, energinya kembali ke universe yang terus recycling.
Kematian hanya berlaku pada raga, tidak pada roh dan jiwa.
“Saya tidak tahu di sana nanti, hanya ibu saya selalu mengingatkan,
hiduplah yang baik karena semua di dunia ini cuma titipan.”
Cak Roeslan dirawat di rumah RSPAD sejak 16 Juni 2005 karena sakit yang
disebabkan faktor usia lanjut. Kondisi tokoh Konferensi Asia Afrika itu
sempat berangsur-angsur pulih. Sebelumnya dia dirawap di rumah oleh
puteranya dr Hafild B. Abdulgani. Sementara Tim dokter kepresidenan
ditugaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu pagi, untuk ikut
merawat Cak Roes.
Ia dirawat akibat keluhan penurunan kesadaran, lemas, dan sesak napas
yang disebabkan infeksi di paru-paru yang memang dideritanya. Dari hasil
pemeriksaan, untuk sementara waktu tim dokter sepakat menilai masalah
kesehatan utama yang dialami Cak Roes adalah faktor usia lanjut. Pada
Minggu pagi kondisinya sempat semakin menurun.
Namun dari hasil tes jantung, diketahui kondisi jantung Cak Roes juga
masih baik. Dijelaskan bahwa sekitar bulan Februari lalu Roeslan pernah
menjalani perawatan dan operasi untuk mengobati penyakit keropos tulang.
Sejumlah tokoh nasional sempat datang menjenguk Cak Roes. Selain mantan
Presiden Soeharto, tampak pula Des Alwi, Jakob Oetama dan Menteri Luar
Negeri Hassan Wirajuda.
Jenazah Almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Diponegoro,
Jakarta, dan dimakamkan Kamis pagi, 30 Juni, di TMP Kalibata. Upacara
pelepasan jenazah dipimpin Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono,
sedangkan upacara pemakaman dipimpin Menko Polhukam Widodo AS.
Sampai jauh malam, pelayat dari berbagai lapisan terus mengalir.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan mantan
Presiden Soeharto juga tampak melayat ke rumah duka Rabu siang.
“Bapak meninggal dengan tenang,” tutur Hafilia, putri bungsu Cak Roes.
Ia bersama suaminya berada di samping ayahnya sampai detik terakhir.
“Bapak lelah, sudah saatnya pulang,” sambung Wati Abdulgani, putri kedua
Cak Roes.
Ketua Tim Dokter Kepresidenan dr Martijo Subandono kepada pers saat itu
mengatakan Cak Roes meninggal karena stroke dan infeksi paru. Ia
meninggalkan lima anak, 10 cucu, dan enam cicit.
Penjaga Sejarah
Cak Roes dilahirkan di Surabaya tanggal 24 November 1914. Ia menikahi
Sihwati Nawangwulan. Kesetiaannya pada kehidupan perkawinan ditunjukkan
dengan merawat dan mendampingi sang istri yang menderita alzheimer
selama 13 tahun sampai meninggal dunia tiga tahun lalu.
Sebagai pribadi, Cak Roes punya beberapa penyesalan. Penyesalannya
adalah waktu muda ia merasa tidak terlalu pemurah. Ia juga menyesal
karena pernah membenci orang.
Namun tokoh yang menguasai empat bahasa asing ini tidak pernah menyesali
yang telah terjadi dalam hidupnya, yang terburuk sekali pun, seperti
ketika dituduh korupsi waktu menjadi Menteri Luar Negeri. Ia disidang,
dijatuhi denda, karena terbukti tidak tahu kalau titipan amplop itu
berisi dolar AS. Padahal membawa dolar AS ke luar negeri pada masa itu
adalah pelanggaran.
Denda yang harus dibayarnya dikumpulkan pembaca surat kabar yang simpati
padanya. Uang itu berlebih, sehingga ia sumbangkan ke yayasan orang
cacat (YPAC) di Solo, karena ia merasa sudah dicacati. Ia menduga ada
orang yang tidak ingin ia bertugas ke London pada pagi tanggal 13
Agustus tahun 1956 itu.
Usianya tak pernah meruntuhkan semangat dan pemahaman nasionalismenya.
Menurutnya, bentuk nasionalisme terus berubah seiring dengan perubahan
di dunia. Kalau nasionalisme tidak bisa menyesuaikan dengan tuntutan
zaman, ia bisa hilang. Nasionalisme Indonesia harus menyesuaikan kepada
perubahan itu dan bersumber pada keadilan sosial, kerakyatan, ilmu
pengetahuan dan teknologi. Rohnya dikuatkan dengan itu semua.
Ia melihat perpecahan di negeri ini hanya a challenge of this time
karena dulu sentralisme begitu kuat. Minyaknya rakyat Aceh disedot, juga
sumber daya alam di Irian, Maluku, dan di berbagai tempat lainnya.
Konflik dan perang di berbagai tempat di dunia banyak disebabkan oleh
perebutan sumber daya alam dan ekonomi, meskipun bungkusnya macam-macam.
Ekstremisme, ketidaktoleranan, dan fundamentalisme agama juga akan
teratasi.
Kalau membaca sejarah, sekarang ini Nuswantara ketiga. Sejarah
memperlihatkan, andaikata pun sampai remuk redam, Nuswantara ini akan
bangkit lagi. Selain itu, bangsa ini sebenarnya juga sedang menghadapi
krisis moral dan etika khususnya di kalangan pemegang kekuasaan.
Dalam peringatan ke-50 KAA di Bandung beberapa waktu lalu, Cak Roes amat
beruntung masih bisa ikut merayakannya. Kala itu, ia bertemu dengan
pemimpin-pemimpin negara Asia Afrika yang menghormatinya sebagai tokoh
yang ikut andil dalam sejarah besar itu.
Menurutnya, sampai kapanpun tujuan KAA tetap relevan, karena tujuan
utamanya adalah menjaga perdamaian dunia. Dengan pertikaian dan perang
yang berkecamuk di mana-mana, harus diingatkan kembali bahwa hubungan
antarnegara tak bisa tercapai kalau tak ada perdamaian. Untuk itu,
persoalan ketidakadilan global harus dibicarakan secara serius dan
diselesaikan secara tuntas.
Dalam perjalanannya sebagai seorang tokoh bangsa, ada yang menyindirnya
sebagai ‘tokoh sepanjang masa’, dalam arti dirinya adalah seorang
oportunis. Cak Roes membantahnya. Apa yang dilakukannya adalah untuk
kepentingan bangsa, bukan kepentingan pribadi seperti dilakukan seorang
oportunis.
Sikapnya yang seperti itu, menempatkan Cak Roeslan dalam posisi melawan
arus. Wajar, karena Cak Roeslan selalu melihat ke masa depan, bukan
kepentingan sesaat.
Pada zaman Orde Lama, Cak Roeslan adalah tokoh penyeimbang dari pengaruh
kaum Komunis/PKI. Cak Roeslan mengerem kebijakan Bung Karno yang
menguntungkan PKI. Toh Bung Karno pun amat percaya kepadanya. Bung Karno
menyerahkan masalah ideologi bangsa kepada Cak Roeslan. Meski pemikiran
PKI telah ikut memberi warna ideologi dan politik negara, Bung Karno
menyerahkan juru bicara politik dan ideologi kepada Cak Roeslan.
Kepergian Cak Roes adalah kehilangan besar. Dia adalah satu dari sedikit
tokoh yang masih hidup, yang terlibat dalam proses pembentukan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Semasa hidupnya, Cak Roes tak bisa menutupi kerisauannya tentang
perkembangan situasi di negeri ini. “Bacalah sejarah, belajarlah dari
sejarah,” katanya selalu mengingatkan. ► e-ti/rh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|