| |
C © updated 20102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Profesor dr Roemwerdiniadi Soedoko SpPA
Lahir:
Blitar, 4 Februari 1937
Pendidikan:
= New South Wales University dan Royal Hospital For Women Sidney
dan Prince Henry Hospital Melbourne tahun 1975
Karir:
= Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya
|
|
| |
|
|
|
|
| ROEM HOME |
|
|
 |
Profesor dr Roemwerdiniadi Soedoko SpPA
Ratu Penanggulangan Kanker
Tanggal 10 Oktober 2005 lalu, seharusnya ia berada di Geneva untuk
menerima penghargaan International Star For Quality Award, kategori
penghargaan emas di bidang kemanusiaan. Namun karena tidak ada biaya,
Profesor dr Roemwerdiniadi Soedoko SpPA terpaksa mengurungkan niatnya
berangkat.
Menurut panitia pemberi penghargaan yang dimotori 166 negara di Eropa,
Amerika Serikat, dan Jepang, Roem dinobatkan sebagai satu-satunya
penerima penghargaan pada tahun 2005. Dia dinilai berhasil meningkatkan
kehormatan, wibawa, dan kesadaran masyarakat Indonesia melalui kegiatan
kemanusiaan berupa sosialisasi tentang kesehatan reproduksi dalam rangka
pencegahan serta penanggulangan penyakit kanker selama lebih dari 34
tahun.
Bagi perempuan kelahiran Blitar 4 Februari 1937 ini, mendapat
penghargaan internasional bukan hal baru. Sederet penghargaan pernah
diterima tokoh yang dengan gigih berkampanye kesehatan, terutama bagi
perempuan ini.
Mengapa perempuan? Karena mendidik perempuan sama dengan mendidik
bangsa. Dan perempuan yang maju adalah perempuan yang mampu memperkuat
ketahanan keluarganya, kata nenek delapan cucu ini.
Untuk program kampanyenya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya ini tak pernah meminta ongkos transpor apalagi
memungut bayaran. Ibu yang berhasil mengantarkan keempat anaknya menjadi
dokter itu tak pernah menghiraukan lokasi, waktu, serta dengan siapa ia
berbicara. Perjalanan dari pulau ke pulau, termasuk keluar masuk
pulau-pulau terpencil, pernah dilaluinya.
Bahkan pulau yang hanya bisa ditempuh dengan motor boat milik TNI AL
yang hanya muat dua orang pun pernah disinggahinya. Ia pun tak peduli
jika harus berceramah di bawah pohon, beralaskan tanah, dan beratap
langit.
Menurut lulusan New South Wales University dan Royal Hospital For Women
Sidney dan Prince Henry Hospital Melbourne tahun 1975 ini, tiada
kegembiraan yang lebih besar selain berhasil menggugah kesadaran
masyarakat kecil akan pentingnya menjaga kesehatan.
Kegigihan usahanya memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang
kesehatan inilah yang mengantarkan Wakil Ketua Perhimpunan Onkologi
Indonesia ini mendapat penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia
berupa WHO Awards di bidang Social Medicine tahun 1995.
Lima tahun kemudian, penulis dongeng dalam seri Surat untuk Anakku ini
kembali mendapat penghargaan WHO Awards yang diterimakan 18 Mei 2000 di
Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa, Geneva. Prestasi gemilang yang telah
diukirnya membuat banyak kalangan memberikan apresiasi.
Salah satunya julukan The Queen of Cancer Control untuk Roem. Sebuah
julukan yang diberikan Director of Cancer Division WHO Yan Tsyenwart.
Bukan itu saja, dia pun sering disebut-sebut sebagai perempuan kedua
yang menaruh perhatian terhadap penyakit kanker setelah Hillary Clinton.
Bedanya, Hillary mengkhususkan diri pada kegiatan pencegahan dan
pengobatan kanker payudara yang banyak diderita perempuan di Amerika
Serikat karena mereka enggan menyusui, sedangkan Roem menaruh perhatian
pada semua penyakit kanker, terutama 10 penyakit kanker terbanyak di
Indonesia, di antaranya kanker mulut rahim, kanker payudara, kanker
ovarium, dan leukimia.
Spesialis patologi
Ketertarikannya pada penyakit kanker bermula dari keprihatinannya
terhadap pasien kanker. Ketika itu Roem baru menamatkan pendidikan
spesialis patologi anatomi dan mulai bertugas di RSU Dr Soetomo Surabaya
pada tahun 1969.
Sebagai dokter patologi, ia sering mendapat tugas meneliti specimen
penyakit yang diambil dari tubuh penderita kanker. Dari specimen itu ia
tahu bahwa sebagian besar, bahkan hampir 100 persen, penderita kanker
datang ke rumah sakit dalam keadaan parah atau stadium lanjut. Ironisnya
lagi, kebanyakan penderita kanker yang berasal dari kalangan menengah ke
bawah itu akhirnya meninggal karena terlambat berobat akibat tidak punya
biaya.
Melihat realitas itu, hati perempuan yang berprinsip kesehatan bukan
segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti ini pun
terketuk. Ia tidak rela melihat bangsanya yang menderita akibat
rendahnya kesadaran mereka tentang kesehatan.
Bersama tiga sejawatnya, Roem mendirikan Yayasan Kanker Wisnuwardhana
pada tahun 1969. Selain melakukan sosialisasi dengan cara berceramah di
hadapan masyarakat, khususnya ibu-ibu, yayasan ini juga mengadakan
pemeriksaan kesehatan dan tes pap smear dengan biaya yang terjangkau.
Lembaga ini memperkenalkan alternatif pengobatan kanker terbaik, bisa
diterima secara medis namun terjangkau biayanya. Melalui yayasan sosial
kemanusiaan ini, Roem benar-benar mendedikasikan seluruh hidupnya untuk
masyarakat. (Runik Sri Astuti, Kompas, 20 Oktober 2005) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|