| |
C © updated 02022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Nama:
PROF DR HM ROEM ROWI, MA
Lahir:
Ponorogo, 3 Oktober 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel,
Surabaya
Isteri:
Nurul Fatimah
Anak:
1. Andrie Anis Rahman, 12-05-1981
2. Denny Wahyudi, 08-03-1983
3. Ahmad Fanny Robbany, 29-11-1986
4. Ahmad Robby Tawabbi, 29-11-1986
5. M. Aly Fikry, 26-11-1991
Riwayat Pendidikan:
1. Sekolah Rakyat Panjeng Jenangan, Ponorogo (1960)
2. Madrasah Diniyah Panjeng Jenangan, Ponorogo (1960)
3. Pondok Modern Gontor Ponorogo (1967)
4. IAIN Ciputat, Jakarta (1967)
5. Sl Universitas Islam Madinah (1971)
6. S2 Universitas Al-Azhar Cairo (1973)
7. S3 Universitas Al-Azhar Cairo (1989)
Riwayat Pekerjaan:
1. Guru Madrasah Aliyah Yayasan Masjid Mujahidin, Surabaya (1985)
2. Dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1977-1989)
3. Ketua Biro Skripsi Fakultas Adab (1977-1989)
4. Assisten Direktur Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel, Surabaya dan
Bidang Bahsa Arab (1979-1987)
5. Dosen Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1989-sekarang)
6. Ketua Jurusan Tafsir Hadith Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel,
Surabaya (1990-1994)
7. Plt. Ketua Program Pasca Sarjana -IAIN Sunan Ampel, Surabaya
(1994-1997)
8. Assisten Direktur II Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya
(1997-2005)
9. Dosen pasca Sarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga dan UMY
(1997-sekarang)
Riwayat Pengabdian:
1. Ketua dan Pembina Yayasan Masjid Al-Wahyu, Surabaya
(1989-sekarang)
2. Ketua Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah (1997-2004)
3. Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah (2004-sekarang)
4. Wakil Ketua LPTQ JawaTimur (s/d 2000)
5. Bidang Perhakiman LPTQ Jawa Timur (s/d sekarang)
6. Ketua Dewan Hakim MTQ Jawa Timur dan Nasional
7. Anggota Dewan Hakim MTQ Internasional di Mekkah (1992 dan 2002)
8. Ketua Dewan Hakim MTQ Internasional di Jakarta (2003)
9. PembinaYayasan Masjid Al-Fa1ah Surabaya (s/d sekarang)
10. Direktur Lembaga Pendidikan I1mu Al-Qur'an Surabaya (s/d sekarang)
11. Plt. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jatim (1998-2000)
12. Ketua MUI Jawa Timur (2000-2005)
13. Anggota Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia Pusat
14. Anggota Dewan Pakar ICMI Korwil Jatim (s/d sekarang)
15. Direktur Imarah Masjid Al-Akbar Surabaya (2000-sekarang)
16. Ketua Dewan Syari'ah BPRS Amanah Sejahtera Cerme Gresik (s/d
sekarang)
17. Anggota Dewan Syariah BPRS Bakti Makmur Indah Krian Sidoarjo (s/d
sekarang)
18. Pembimbing dan Konsu1tan Agama PT .Linda Jaya Tours dan Travel
Surabaya
19. Pembina KBIH Multazam Surabaya
20. Anggota Pembina Kerohanian Islam pada PT Telkom Divre V Jatim, PT
lndosat Divre Indonesia Timur, Surabaya
21. Dai/Miballigh dan Penyuluh Utama Kanwil Depag Jawa Timur
22. Pembina Tafsir Kafilah Jatim dan Indonesia untuk MTQ Nasional maupun
Internasional
23. Promotor dan Co.Promotor 2 Disertasi di IAIN Sunan Kalijaga.
24. Penguji Ujian Tertutup dan Promosi Terbuka Dissertasi di IAIN Sunan
Ampel dan Sunan Kalijaga
25. Ketua Dewan Syari'ah Lembaga Manajemen Infaq Jawa Timur
Karya Ilmiah:
1. M. Abdul Wahab dan Gerakan Tajdidnya
2. SuratYasin, Tafsir, Rahasiadan Hikmahnya
3. Hamka Dalam Karya Monumental Tafsir Al-Azhar
4. Al-Qur'an, Manusia, dan Moralitas (Ceramah Nuzul Al- Qur'an oleh
Negara di Masjid Istiqlal 1997)
5. Spektrum Al-Qur'an
6. Sejarah Sosial Rukun Islam
7. Menafsir Ulum Al-Qur'an
8. Ragam Tafsir Al-Qur'an
9. Beberapa Artikel dalam beberapa jumal terakreditasi.
Alamat Rumah:
Jl. Wisma Pagesangan VII/7 Surabaya
Telepon: (031) 8290377 HP 08121653557
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06 =
Prof Dr HM Roem Rowi, MA (02)
Membentuk Karakter di Gontor Pondok Pesantren
Gontor, Ponorogo, segala-galanya bagi M Roem Rowi. Di sanalah dia
memperoleh pendidikan watak, rohani, ilmu pengetahuan dan olahraga. Dari
Gontor dia memperoleh beasiswa ke Madinah dan Mesir.
Baru usia setahun, Roem Rowi dibawa lari ke sana ke mari oleh orang
tuanya untuk bersembunyi dari kejaran dan kekejian para pemberontak
komunis (PKI) di Madiun, September 1948. Roem lahir di Ponorogo, 3
Oktober 1947. Bersama orang tuanya, Roem bersembunyi di kebun atau di
mana saja agar bisa menyelamatkan diri. Sebab saat itu banyak tokoh
agama, ulama dan kiai yang dibantai PKI.
Setelah dewasa, Roem mendengar kisah sedih tetapi agak lucu. Salah
seorang Pak De-nya (paman) sangat penakut. Dia tidak berani keluar
malam, karena itu tertangkap oleh pemuda-pemuda PKI. Pamannya Roem sudah
disiapkan sebuah lobang, menunggu giliran disembelih. Ketika Pak De-nya
menunggu giliran, tentara Kodam Siliwangi datang menyelamatkannya.
Semula Pak De-nya menolak karena merasa sudah mau dipotong. Belakangan
baru dia tahu bahwa yang datang itu tentara Siliwangi, tentara pun
bergembira karena dia bersedia ditolong.
Di kampungnya di Ponorogo, Roem masuk kelas satu Sekolah Rakyat (SR),
tetapi umurnya belum cukup. Waktu itu namanya SR enam tahun. Ketika
masih kelas satu, padahal hanya ikut-ikutan, dinaikkan ke kelas II,
tetapi dia menolak. Bapaknya menyuruh mengulang di kelas I. Pagi hari
dia sekolah di SR dan sore hari di madrasah (diniyah). Sekolah umum dan
agamanya sama-sama tamat.
Setamat SR dan Diniyah, karena masih kecil, dia tidak tahu harus
melanjutkan ke mana. Waktu itu dia belum bisa memilih. Memang di
kalangan orang tua, waktu itu yang populer Pondok Pesantren Gontor. Dia
ditanya oleh ayahnya, apa bersedia dikirim ke Gontor. Sebenarnya dia
sendiri tidak mau, tetapi dipaksa oleh ayahnya. Karena itu, ketika
mengikuti ujian masuk Gontor, dia sengaja menggarap soal ujian separoh
supaya tidak lulus. Tetapi anehnya dia dinyatakan lulus. Biasanya,
anak-anak yang tinggalnya berdekatan dengan Gontor, jika lulus diberi
kesempatan pulang.
Sewaktu mau berangkat kembali ke Gontor, menjelang subuh, Roem lari dan
bersembunyi, karena dia tidak mau masuk Gontor. Dia dicari oleh ayahnya,
ketahuan dan dikejar-kejar. Ayahnya yang sedang marah, memberinya
hukuman. Paha Roem dipukul dengan tangkai bulu ayam yang terbuat dari
rotan, sampai bengkak. Mau tidak mau Roem memenuhi kehendak ayahnya. Dia
berangkat ke Ponpes Gontor.
Memandangi bangunan-bangunan di Gontor, bagi Roem kecil seperti melihat
penjara. Karena itu hampir setiap bulan dia pulang kampung. Disiplin di
Gontor keras sekali, santri, siapa saja yang bandel dihukum. Teman Roem
banyak yang dihukum. Pernah sekali dia terlambat kembali ke Pondok.
Mestinya kembali Sabtu, Roem baru sampai di Pondok, Minggu. Dia pun
kena sanksi, rambutnya harus dicukur gundul. Karena digunduli, beberapa
bulan dia tidak berani pulang kampung, menunggu sampai rambutnya tumbuh
panjang.
Di Gontor, Roem satu kelas dengan santri Abdussalam (sekarang Syaykh
Ma’had Al-Zaytun Dr Abdussalam Panji Gumilang), mulai tahun pertama
sampai tahun terakhir. Pendidikan di Gontor harus enam tahun, dari
jenjang tsanawiyah sampai aliyah (SMP-SMA). Setelah enam tahun tamat.
Sewaktu mereka tamat, ada persiapan acara peringatan lima windu atau 40
tahun usia Ponpes Gontor. Acaranya cukup besar sehingga anak-anak kelas
VI dipercayakan menjadi anggota panitia penyelenggara.
Lantaran menjadi anggota panitia, mereka terlambat tiga bulan keluar
dari Gontor. Seharusnya pada bulan Ramadhan, tetapi baru bisa pulang ke
kampung masing-masing pada Idul Adha.
Setamat dari Ponpes Gontor, Roem bertemu lagi dengan AS Panji Gumilang
di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Mereka
satu kelas lagi, satu fakultas lagi.
Di situ, Roem masuk setengah tahun terlambat. Tetapi dia diterima,
mungkin karena tamatan Gontor. Dia diterima, dengan catatan, sebagai
pendengar. Selesai ujian setengah semester, Roem lulus dan dianggap
lulus tes masuk, dan dia diterima resmi sebagai mahasiswa.
Roem tinggal di rumah bibinya, istri dosen IAIN, di kompleks perumahan
dosen IAIN Ciputat. Sedangkan AS Panji Gumilang tinggal di Situ Gintung
(Ciputat), sekarang wisma Muhammadiyah Cirende. Roem hanya kuliah
setengah tahun di IAIN karena lolos untuk mendapatkan beasiswa di
Universitas Islam Madina, Arab Saudi.
Gemar Olahraga
Kembali kisah ketika di Gontor. Di Gontor memang segala-galanya ada, mau
olahraga disediakan waktu khusus. Ketika jam olahraga selesai dan bel
berbunyi, Roem dan teman-temannya masih asyik berolahraga, terlambat
kembali ke kelas. Roem kembali dihukum gundul. “Memang di Gontor,
pendidikan keagamaan dan karakter sangat keras,” kata Roem dalam
wawancara dengan Tim Wartawan Majalah Tokoh Indonesia, di kantornya di
Masjid Al-Akbar, Surabaya, Jawa Timur.
Hobi Roem, berolahraga sepakbola sebagai penjaga gawang, bola voli dan
badminton. Hobi utamanya main badminton. Sewaktu kuliah di Universitas
Al-Azhar, Mesir, dia juara badminton seluruh mahasiswa Asean plus Mesir.
Dia pernah mengalahkan juara Malaysia, Thailand dan Indonesia yang lama.
Roem juga pernah ikut kompetisi bola voley di Negeri Belanda bersama
teman-teman mahasiswa Indonesia. Mereka tidak memperoleh juara karena
tidak profesional.
Suatu saat dia pernah mengikuti kejuaraan daerah sepak bola antardesa
se-Kabupaten Ponorogo. Tim kampungnya ikut dan jadi juara. Saat itu dia
terpaksa meninggalkan Gontor, karena ikut kompetisi sepakbola, tetapi
minta izin di sekolah ada urusan keluarga. Ternyata waktu final, wakil
direktur Gontor ikut nonton. Teman-teman sekelas dan guru-guru juga ikut
nonton. Sewaktu kembali ke Gontor, dia ditegur oleh Wakil Direktur
Gontor: “Ternyata kejuaraan daerah lebih penting dari Gontor.” Roem
disindir karena bermain olahraga lebih penting dari sekolah di Gontor.
Monyet Curi Pacul
Sewaktu duduk di kelas VI, dia (setiap santri) diwajibkan praktik
mengajar. Sebernarnya dia juga menginginkannya. Dia praktik mengajar di
kelas II. Tetapi teman-teman sekelasnya ikut masuk untuk menilai,
mengkritik dan sebagainya. Roem sebenarnya ingin praktik mengajar bahasa
Arab, tetapi tidak diperbolehkan. Dia diharuskan praktik mengajar bahasa
Inggris. Karena tidak ada pilihan, dia terpaksa menerimadan melakoninya.
Pemberitahuan dari guru kelas waktu praktik mengajar pagi hari, keesokan
paginya harus mengajar. Roem pun kelabakan untuk mempersiapkan diri,
karena waktunya sangat singkat menyiapkan bahan-bahan untuk praktik
mengajar. Dia terpaksa tidak tidur semalaman. Karena bahan-bahan
tersebut harus ditulis tangan, belum ada komputer dan mesin foto-kopi.
Menulisnya satu persatu, tidak boleh pakai karbon. Kalau diberitahu
seminggu sebelumnya, dia pasti bisa leluasa persiapkan materi
pelajarannya.
Namun demikian, Roem, sehabis praktik mengajar bahasa Inggris,
mendapatkan nilai yang baik, meskipun belum termasuk yang terbaik.
Komentar gurunya, Pak Zarkasih, yang diingatnya sampai sekarang, pepatah
dalam bahasa Jawa: ketek nyolong petel (monyet curi pacul). Roem sendiri
tak tahu artinya yang sesungguhnya. Intinya, hasilnya di luar dugaan.
Tak Betah di Pondok
Roem memang praktis tidak betah tinggal di Pondok secara permanen.
Dengan segala alasan dia berusaha tinggal di luar. Hal ini dilakukannya
mulai kelas IV. Dia tinggal di sebuah rumah, dekat masjid, yang jaraknya
kira-kira setengah kilometer dari Pondok. Santri asal Ponorogo, waktu
itu memang boleh tinggal di luar pondok.
Sampai kelas VI, ada pemeriksaan, ketahuan. Malam itu juga dia
diwajibkan masuk ke pondok. Saat itu ada pengarahan dari pimpinan
Gontor. Roem dipanggil maju ke depan kelas. Setelah ketahuan tinggal di
luar pondok, dia digembleng habis, harus masuk pondok. Akhirnya dia
masuk pondok. Namun Roem masih mencari akal. Roem tidak benar-benar
masuk ke pondok, tetapi berpura-pura tinggal di Perdos (Perumahan Dosen)
yang masih setengah jadi. Jadi, setiap hari dia muncul di situ, setiap
ada pemeriksaan keliling dia ada di situ. Padahal malam harinya dia
menghilang.
Dambakan Beasiswa
Masih soal keberadaan Roem di Gontor. Tahun 1962 ada dua guru muda.
Mereka berdua akan diberangkatkan ke Madinah, Saudi Arabia. Yang satu
orang Madiun dan satu lagi dari Balong, Ponorogo. Mereka sudah diumumkan
akan dikirim ke Madinah. Dan saat itu kedua santri kelas VI itu sudah
mengajar di Tsanawiyah (SMP). Roem saat itu masih duduk di bangku
Tsanawiyah (SMP). Jika kedua santri (guru) itu melewati mereka, para
santri remaja meniru cara mereka jalan. Soalnya, para santri remaja
ingin sekali mendapat kesempatan seperti kedua santri tersebut.
Mereka mendambakan beasiswa seperti itu, tetapi rasanya tidak mungkin.
Ternyata setelah sekian tahun, kedua santri tersebut belum juga
berangkat ke Madinah. Bahkan satu dari kedua guru tersebut tidak jadi
berangkat sampai sekarang. Roem tidak tahu kenapa.
Namun Roem, bersama tiga temannya, malah duluan memperoleh beasiswa yang
mereka impikan. Roem termasuk yang paling kecil di antara mereka.
Beasiswa itu ditawarkan Pusat Rohani Angkatan Darat yang dipimpin oleh
paman Roem sendiri, Mayjen Mukhlas Rowi. Waktu itu dia belum lama
menjadi mahasiswa di IAIN Syarif Hidayatullah. Mereka ditawari beasiswa
ke Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Dari enam orang yang
terdaftar, ternyata yang diterima hanya empat orang.
Saat itu, Ponpes Gontor setiap tahun mendapat jatah empat santri ke
Madinah. Setelah menamatkan kuliah di sana, mereka ditawari menjadi imam
tentara. Mereka diberi prioritas. Namun tak satu pun dari mereka yang
menerima tawaran tersebut. Padahal pamannya Roem, Kepala Pusroh AD.
Kenapa Roem tidak mau menerima tawaran tersebut? Rupanya sebelum
berangkat ke Madinah, mereka menginap dikediaman Mayjen Mukhlas di
Cikini Raya. Setiap sarapan pagi, pamannya masih mengenakan sarung dan
kaus oblong, tetapi ajudannya harus memberi hormat tentara kepadanya.
Roem merasa tak sanggup jika ditunjuk menjadi ajudan pamannya. Dia tidak
sanggup mengenakan seragam tentara dan berdisiplin kaku seperti tentara.
Sepulang dari Kairo, Roem harus menggantikan peran ayahnya yang
meninggal tahun 1974. Semasa hidupnya, ayah Roem seorang pensiunan
prajurit yang beralih jadi petani. Roem anak tertua dari sepuluh
bersaudara. Ketika ayahnya meninggal, delapan adiknya masih duduk di
bangku SMA turun sampai SD. Tetapi adiknya nomor dua sekolah di
Aljazair. Roem diangkat jadi dosen tetap tahun 1997, setelah mengajar
secara honorer dari tahun 1974.
Dia sendiri menikah terlambat dengan seorang mahasiswinya di IAIN Sunan
Ampel, Surabaya, tahun 1980. Roem merasa bangga sekali bisa membiayai
pendidikan kelima putranya, dan sembilan adik menjadi orang-orang yang
sukses. ►mti/crs/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|