| |
C © updated 02022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Nama:
PROF DR HM ROEM ROWI, MA
Lahir:
Ponorogo, 3 Oktober 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel,
Surabaya
Isteri:
Nurul Fatimah
Anak:
1. Andrie Anis Rahman, 12-05-1981
2. Denny Wahyudi, 08-03-1983
3. Ahmad Fanny Robbany, 29-11-1986
4. Ahmad Robby Tawabbi, 29-11-1986
5. M. Aly Fikry, 26-11-1991
Riwayat Pendidikan:
1. Sekolah Rakyat Panjeng Jenangan, Ponorogo (1960)
2. Madrasah Diniyah Panjeng Jenangan, Ponorogo (1960)
3. Pondok Modern Gontor Ponorogo (1967)
4. IAIN Ciputat, Jakarta (1967)
5. Sl Universitas Islam Madinah (1971)
6. S2 Universitas Al-Azhar Cairo (1973)
7. S3 Universitas Al-Azhar Cairo (1989)
Riwayat Pekerjaan:
1. Guru Madrasah Aliyah Yayasan Masjid Mujahidin, Surabaya (1985)
2. Dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1977-1989)
3. Ketua Biro Skripsi Fakultas Adab (1977-1989)
4. Assisten Direktur Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel, Surabaya dan
Bidang Bahsa Arab (1979-1987)
5. Dosen Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1989-sekarang)
6. Ketua Jurusan Tafsir Hadith Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel,
Surabaya (1990-1994)
7. Plt. Ketua Program Pasca Sarjana -IAIN Sunan Ampel, Surabaya
(1994-1997)
8. Assisten Direktur II Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya
(1997-2005)
9. Dosen pasca Sarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga dan UMY
(1997-sekarang)
Riwayat Pengabdian:
1. Ketua dan Pembina Yayasan Masjid Al-Wahyu, Surabaya
(1989-sekarang)
2. Ketua Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah (1997-2004)
3. Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah (2004-sekarang)
4. Wakil Ketua LPTQ JawaTimur (s/d 2000)
5. Bidang Perhakiman LPTQ Jawa Timur (s/d sekarang)
6. Ketua Dewan Hakim MTQ Jawa Timur dan Nasional
7. Anggota Dewan Hakim MTQ Internasional di Mekkah (1992 dan 2002)
8. Ketua Dewan Hakim MTQ Internasional di Jakarta (2003)
9. PembinaYayasan Masjid Al-Fa1ah Surabaya (s/d sekarang)
10. Direktur Lembaga Pendidikan I1mu Al-Qur'an Surabaya (s/d sekarang)
11. Plt. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jatim (1998-2000)
12. Ketua MUI Jawa Timur (2000-2005)
13. Anggota Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia Pusat
14. Anggota Dewan Pakar ICMI Korwil Jatim (s/d sekarang)
15. Direktur Imarah Masjid Al-Akbar Surabaya (2000-sekarang)
16. Ketua Dewan Syari'ah BPRS Amanah Sejahtera Cerme Gresik (s/d
sekarang)
17. Anggota Dewan Syariah BPRS Bakti Makmur Indah Krian Sidoarjo (s/d
sekarang)
18. Pembimbing dan Konsu1tan Agama PT .Linda Jaya Tours dan Travel
Surabaya
19. Pembina KBIH Multazam Surabaya
20. Anggota Pembina Kerohanian Islam pada PT Telkom Divre V Jatim, PT
lndosat Divre Indonesia Timur, Surabaya
21. Dai/Miballigh dan Penyuluh Utama Kanwil Depag Jawa Timur
22. Pembina Tafsir Kafilah Jatim dan Indonesia untuk MTQ Nasional maupun
Internasional
23. Promotor dan Co.Promotor 2 Disertasi di IAIN Sunan Kalijaga.
24. Penguji Ujian Tertutup dan Promosi Terbuka Dissertasi di IAIN Sunan
Ampel dan Sunan Kalijaga
25. Ketua Dewan Syari'ah Lembaga Manajemen Infaq Jawa Timur
Karya Ilmiah:
1. M. Abdul Wahab dan Gerakan Tajdidnya
2. SuratYasin, Tafsir, Rahasiadan Hikmahnya
3. Hamka Dalam Karya Monumental Tafsir Al-Azhar
4. Al-Qur'an, Manusia, dan Moralitas (Ceramah Nuzul Al- Qur'an oleh
Negara di Masjid Istiqlal 1997)
5. Spektrum Al-Qur'an
6. Sejarah Sosial Rukun Islam
7. Menafsir Ulum Al-Qur'an
8. Ragam Tafsir Al-Qur'an
9. Beberapa Artikel dalam beberapa jumal terakreditasi.
Alamat Rumah:
Jl. Wisma Pagesangan VII/7 Surabaya
Telepon: (031) 8290377 HP 08121653557
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06 =
Prof Dr HM Roem Rowi, MA (01)
Penyelami Rahasia Al-Qur’an Doktor Ilmu Tafsir, ini
seorang berkepribadian ulet, tidak kenal menyerah. Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Jawa Timur (2000-2005) ini seorang penyelami rahasia
Al-Qur’an terkemuka di Indonesia. Guru Besar Ilmu Al-Quran Program
Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, ini tak pernah berhenti
menyelami rahasia Ilahi dan mengkaji sistematika Allah dalam Al-Qur’an.
Prof Dr HM Roem Rowi, MA, putera bangsa kelahiran Ponorogo, 3 Oktober
1947, yang tanpa terasa menitikkan air mata tatkala berkesempatan masuk
Ka’bah, itu sebagai
seorang muslim, menjalani kehidupan dengan bersahaja di bawah ridho
ilahi. Segala aktivitasnya diserahkan dan dipertanggungjawabkan kepada
kehendak Allah.
Selain sebagai guru besar di Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel,
Surabaya, Roem Rowi juga aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, di
antaranya dosen Pascasarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga
dan UMY.
Pengabdiannya juga tidak terbatas hanya pada lingkungan pendidikan
tinggi. Dia juga aktif di berbagai kegiatan keagamaan. Tahun 1998-2000,
Roem pernah menjabat Plt. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Jatim. Kemudian dia menjabat Ketua MUI Jawa Timur (2000-2005).
Saat ini, alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo (1967), IAIN Ciputat,
Jakarta (1967), S1 Universitas Islam Madinah (1971) dan S2 Universitas
Al-Azhar Cairo (1973), ini aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Direktur Imarah Masjid Agung Al-Akbar, Surabaya, ini pernah menjabat
Ketua Dewan Hakim MTQ Jawa Timur dan Nasional. Bahkan tahun 1992 dan
2002, dia terpilih sebagai Anggota Dewan Hakim MTQ Internasional di
Mekkah. Kemudian menjabat Ketua Dewan Hakim MTQ Internasional di Jakarta
(2003).
Anggota Dewan Pakar ICMI Korwil Jatim, ini juga mengabdikan diri sebagai
Ketua Dewan Syari’ah Lembaga Manajemen Infaq Jawa Timur. Dia juga aktif
sebagai Ketua Dewan Syari’ah BPRS Amanah Sejahtera Cerme Gresik. Anggota
Dewan Syariah BPRS Bakti Makmur Indah Krian Sidoarjo.
Juga aktif sebagai pembimbing dan konsultan agama PT Linda Jaya Tours
dan Travel Surabaya, Pembina KBIH Multazam Surabaya, Anggota Pembina
Kerohanian Islam pada PT Telkom Divre V Jatim, PT lndosat Divre
Indonesia Timur, Surabaya, Dai/Miballigh dan Penyuluh Utama Kanwil Depag
Jawa Timur, dan Pembina Tafsir Kafilah Jatim dan Indonesia untuk MTQ
Nasional maupun Internasional.
Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Cairo (1989), ini juga mengabdikan
diri sebagai Promotor dan Co Promotor 2 Disertasi di IAIN Sunan
Kalijaga, serta Penguji Ujian Tertutup dan Promosi Terbuka Dissertasi di
IAIN Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.
Dengan pengabdiannya sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel, Surabaya sejak
1977, pada hari Sabtu, 20 Agustus 2005, Roem Rowi dikukuhkan sebagai
Guru Besar (Profesor) Ilmu Al-Qur’an Program Pascasarjana. Ketika itu,
dia menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “Menimbang Kembali Signifikasi
Asbab an-Nuzul dalam Pemahaman Al-Qur’an.”
Dia mencoba melakukan kajian singkat sejauh mana signifikasi (posisi dan
fungsi) Asbab al-Nuzul dalam pemahaman Al-Qur’an. Dijelaskannya, Dalam
kitab-kitab ‘Ulum al-Qur’an atau ‘Ulum al-Tafsir, baik yng klasik
ataupun yang kontemporer, hampir semua ulama sepakat tentang pentingnya
memelajari dan mengetahui Asbab an-Nuzul dalam rangka memahami atau
menafsirkan al-Qur’an.
Hal ini, katanya, karena begitu besar dan banyaknya manfaat Asbab
al-Nuzul untuk mengantarkan seseorang pada penafsiran yang benar
terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur’an.
Menurutnya, dari hasil penghitungan terhadap jumlah ayat-ayat yang
mempunyai asbab al-nuzul serta jumlah hadith-hadithnya pada kitab Asbab
al-Nuzul karya al-Wahidi, Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul karya
al-Suyuti serta kitab al-Musnad al-Sahih Min Asbab al-Nuzul karya
Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, maka diperoleh beberapa temuan sebagai
berikut:
Pertama, tidak semua ayat mempunyai Asbab al-Nuzul. Dari 6234
ayat, yang mempunyai asbab al-nuzul hanya sebanyak 715 ayat / 11,46%
(al-Wahidi), 711 ayat / 11,40% (al-Suyuti), dan 333 ayat 5,34 (Muqbil
bin Hadi al-Wadi’i). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ayat-ayat yang
mempunyai Asbab al-Nuzul sangat sedikit dibanding dengan jumlah ayat
al-Qur’an secara keseluruhan.
Kedua, bahwa jumlah surat yang memiliki Asbab al-Nuzul menurut
ketiga ulama tersebut cukup dominan. Dari 114 surat-surat al-Qur’an,
maka jumlah surat yang ayat ayatnya mempunyai Asbab al-Nuzul
perinciannya adalah sebanyak: 82 surat / 71,90% (al-Wahidi), 103 surat
90,35% (al-Suyuti), dan 55 surat 48,24% (Muqbil bin Hadi).
Meskipun dari jumlah surat al-Qur’an lebih dari separoh yang mempunyai
Asbab al-Nuzul, bahkan bagi al-Suyuti hampir semuanya, namun tetap tidak
signifikan karena yang menjadi ukuran adalah jumlah ayat yang mempunyai
Asbab al-Nuzul. Padahal jumlah ayat Al-Qur’an yang mempunyai Asbab
al-Nuzul, hanya sedikit saja dibanding jumlah ayat Al-Qur’an secara
keseluruhan.
“Apalagi jika yang dilakukan seleksi ketat untuk mengambil
riwayat-riwayat yang terpercaya saja seperti yang dilakukan Shaikh
Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, di mana hanya tinggal 333 ayat,” kata mantan
guru Madrasah Aliyah Yayasan Masjid Mujahidin, Surabaya, ini.
Setelah menyelesaikan studi S2 Universitas Al-Azhar Cairo (1973), Roem
telah mengabdi dalam profesi guru. Dia menjadi tenaga pengajar di
Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya sekaligus menjabat Ketua Biro
Skripsi Fakultas Adab (1977-1989). Dia juga pernah menjabat Assisten
Direktur Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel, Surabaya Bidang Bahasa Arab
(1979-1987).
Sejak 1989 dia pun mengajar di Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel,
Surabaya. Lalu menjabat Ketua Jurusan Tafsir Hadith Fakultas Ushuludin
IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1990-1994). Kemudian sempat bertugas sebagai
Plt. Ketua Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1994-1997),
sebelum menjabat sebagai Assisten Direktur II Program Pascasarjana IAIN
Sunan Ampel, Surabaya (1997-2005). Sejak 1977, dia juga aktif sebagai
dosen Pascasarjana Unair, Undar, Ikaha, IAIN Sunan Kalijaga dan UMY.
Sebagai ahli tafsir, Roem Rowi juga telah menilis berbagai karya ilmiah.
Di antaranya: (1) M. Abdul Wahab dan Gerakan Tajdidnya; (2) Surat Yasin,
Tafsir, Rahasiadan Hikmahnya; (3) Hamka Dalam Karya Monumental Tafsir
Al-Azhar; (4) Al-Qur’an, Manusia, dan Moralitas (Ceramah Nuzul Al-Qur’an
oleh Negara di Masjid Istiqlal 1997); (5) Spektrum Al-Qur’an; (6)
Sejarah Sosial Rukun Islam; (7) Menafsir Ulum Al-Qur’an; (8) Ragam
Tafsir Al-Qur’an; dan (9) Beberapa Artikel dalam beberapa jurnal
terakreditasi.
Raih Doktor, Tercepat Setelah Hampir DO
Dia menimba banyak pengalaman dalam perjuangannya yang sangat panjang
dan melelahkan, ketika studi, yang akhirnya membuahkan gelar doktor pada
program ilmu tafsir Al Qur’an di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
Setiap kali usulan program doktornya ditolak, Roem tak pernah surut
untuk mengusulkannya kembali. Baginya tak ada kata menyerah. Dia
berjuang sepuluh tahun agar bisa mengikuti program doktor jurusan tafsir
Al-Qur’an. Sebenarnya tidak perlu menunggu sampai 11 tahun jika Roem
tidak segera kembali ke Jawa Timur setelah meraih gelar S-2 di Kairo,
tahun 1974. Namun berita “kepergian” ayahnya memaksanya tidak bisa
menunggu setahun lagi di Kairo.
Roem dipanggil pihak Universitas Al Azhar untuk mengikuti program
doktor, tahun 1975, tetapi dia sudah kembali ke Indonesia. Dia mengajar
mata kuliah tafsir Al-Qur’an di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Bagi Roem
sangat berat meninggalkan ibu dan banyak adiknya yang belum bisa mandiri
setelah kepergian ayahnya. Roem memilih menyelamatkan adik-adiknya yang
masih kecil, menunda obsesinya untuk menjadi doktor.
Semula Roem ingin melupakan sama sekali mimpinya menjadi doktor,
memusatkan diri pada pekerjaannya sambil menulis. Ternyata, selama 10
tahun tak satu pun karya tulis yang dihasilkanya. Sebenarnya, dia
melakukan kontak ke Kairo mulai tahun 1976, baru dijawab tahun 1986.
Selama 10 tahun tidak ada hasil. Dia pun mengirim surat kepada seorang
sahabat di sana. Sahabatnya itu bekerja di Kairo sembari mengikuti
program S-3. Sudah 12 tahun berjalan, program doktornya tidak selesai
juga.
Roem memutuskan untuk kembali ke Kairo tahun 1987. Tetapi dia tidak
diberitahu bahwa batas waktu maksimum agar bisa masuk kembali ke program
S-3 adalah 12 tahun. Sedangkan dia sudah 11 tahun meninggalkan bangku
kuliah. Artinya, sisa waktunya tinggal setahun. Roem tidak kehabisan
akal. Dia meminta perpanjangan batas waktu dengan alasan bahwa dia
pulang dan menetap lama di Indonesia lantaran ayahnya meninggal dan
mengurus adik-adiknya.
Tetapi alasan tersebut tidak bisa diterima. Satu-satunya alasan yang
bisa diterima, kalau dia menderita sakit kronis. Karena itu dia harus ke
dokter untuk memberikan keterangan tentang penyakit yang pernah
diidapnya. Kebetulan, Roem punya teman yang kuliah di fakultas
kedokteran. Temannya itu setuju memberikan Roem surat keterangan
menderita penyakit stres (sakit jiwa).
Persoalannya belum selesai sampai di situ. Waktu itu, dia diharuskan
kembali ke dokter jiwa. Soalnya dia grogi ketika ditanya, “kamu diberi
obat oleh siapa?” Roem datang ke dokter jiwa, diberi obat dan
rekomendasi sakit jiwa. Dengan demikian peluang Roem di perpanjang.
“Jadi harus berpura-pura gila. Tetapi setelah diberi perpanjangan, saya
ngebut,” kata Roem kepada Tim Wartawan Tokoh Indonesia di ruang kerjanya
selaku Direktur Masjid Agung Al-Akbar Surabaya.
Sebelum merampungkan disertasinya, Roem terdampar tiga bulan,
mempertahankan disertasinya. Persoalan pokok terletak pada promotornya,
seorang profesor yang tuna netra. Sang promotor sulit sekali ditemui.
Hanya mau ditemui di ruang kantor dosen. Ketika ke ruang dosen, Roem
bertemu dengan promotornya, tetapi ketika memulai pembicaraan selalu
dipotong oleh tamu. Demikian seterusnya. Kebiasaan orang Arab, bertamu
lama sekali.
Roem minta izin ke rumahnya, malah dimarahi, tidak boleh. Keadaan
seperti ini berjalan selama tiga bulan. Dia pun sadar, kalau begitu
terus tidak akan berhasil. Akhirnya, Roem memberanikan diri datang ke
rumahnya. Ketemu. Promotornya meminta Roem menyiapkan sekian pasal.
Diuji dari pagi sampai jam sembilan malam, nonstop. Roem membacakan,
dosennya mendengarkan sambil memberi petunjuk: “ini boleh, ini tidak
boleh, harus begini, harus begitu.” Ketika Roem membaca sebuah pasal,
dosennya masih ingat apa yang diujikannya dua tahun lalu. Padahal Roem
sendiri sudah lupa.
Tepat dua tahun, Roem menyelesaikan program doktronya. Dia pun melapor
ke Kedubes Indonesia di Kairo. Kepada seorang staf Kedubes, teman
lamanya, Roem memberitahukan bahwa dia akan menerima promosi doktor.
Temannya malah heran karena merasa Roem belum lama berada di Mesir, kok
tiba-tiba sudah selesai. Padahal dia sendiri sudah sekian tahun tidak
selesai juga. Dan tragisnya, sempat terancam di-DO (drop out).
Setelah melapor, Kedubes memberi respon positif, karena hanya Roem yang
lulus tepat waktu, setelah sekian lama tidak ada lulusan doktor. Kata
Roem, Al Azhar memang lain dari yang lain. Ijazah asli baru boleh
diambil setelah dua tahun. Ini jadi masalah karena setelah selesai
kuliah, dia harus kembali ke Indonesia. Dicoba dengan semua cara, ijazah
aslinya tetap tidak boleh diambil. Kalau dikirim lewat pos,
kadang-kadang tidak sampai, bahkan bisa hilang.
Akhirnya untuk orang asing dibolehkan juga. Setelah mengajukan
permohonan dan berbagai alasan, permintaan Roem diproses. Uniknya,
menurut Roem, proses itu harus melewati banyak meja. Di belakang ijazah,
isinya puluhan paraf. Seperti mainan anak-anak, karena penuh dengan
paraf. Setelah menunggu dua bulan, ijazah asli (S-3) Roem dikasih,
ukurannya sekoper kecil, susah jika mau difotokopi. Setelah menerima
ijazah doktor, Roem berencana segera kembali ke Indonesia.
Sebetulnya, izin belajar dari pemerintah tiga tahun, sehingga bagi Roem
masih ada sisa setahun. Ada temannya yang mengajak mengajar di Brunai
Darussalam. Tentu dengan imbalan yang cukup besar. Roem hampir tergiur,
hampir mengiyakan, karena mengajar di sana cukup lima atau enam bulan,
bisa memperoleh imbalan yang cukup besar.
Dia memikirkan tawaran itu dengan sangat serius, soalnya dia pegawai
negeri. Jika dia mengambil tawaran tersebut, kemudian ketahuan dan
ditulis di koran, akibatnya tidak karuan. Karena itu Roem memutuskan
pulang langsung ke Indonesia. Namun di luar dugaannya, sekembalinya di
IAIN Sunan Ampel, dia dipindahkan jadi Ketua Jurusan Fakultas
Ushuluddin.
Tahun 1994, IAIN Sunan Ampel membuka program Pascasarjana (S-2), dan
Roem ditarik ke situ. Dialah “sopir” (ketua) pertama program
Pascasarjana IAIN. Roem menjabat sampai tahun 2005. Setelah masa
jabatannya selesai, Roem tetap mengajar sebagai ahli tafsir Al-Qur’an.
Kesempatan Masuk Ka’bah
Salah satu pengalaman hidup yang amat berkesan baginya adalah kesempatan
tak terduga masuk ke Ka’bah. Kala itu, Roem terpilih masuk ke sebuah tim
yang mewakili Asia Tenggara menjadi hakim MTQ Internasional di Mekah,
tahun 1993. Indonesia bergiliran masing-masing setahun dengan Malaysia.
Pengalaman yang tidak bisa dilupakannya, ketika diberi kesempatan masuk
ke Ka’bah. Biasanya yang masuk ke situ hanya kepala negara, presiden dan
tamunya raja.
Sebelumnya, dia sendiri dan anggota rombongan lainnya belum tahu akan
masuk Ka’bah karena tidak diumumkan. Namun orang-orang Indonesia di
Masjidil Haram rupanya sudah tahu. Begitu rombongan MTQ datang dan
ditempatkan di satu tempat, mereka malah ngelinap masuk ke rombongan
tersebut. Bertambah banyak, akhirnya polisi bingung, digeser ke sana
bertambah banyak lagi.
Akhirnya rombongan juri MTQ Internasional itu dibawa masuk lewat
Hijir Ismail. Ketika mau masuk, polisi meminta kartu sebagai hakim,
peserta dan panitia, diperlihatkan. Yang tidak punya kartu, tentu tidak
diperbolehkan masuk. Tetapi orang-orang Indonesia itu tidak kehabisan
akal. Mereka meminjam kartu orang-orang yang baru keluar. Diberi, dan
mereka masuk. “Itulah canggihnya orang Indonesia,” kata Roem.
Di dalam Ka’bah, Roem mengaku tidak melihat apa-apa, gelap. Yang ada
hanya barang-barang peninggalan zaman Nabi Muhammad SAW, seperti, pedang
emas peninggalan zaman kerajaan Islam, dan tiang penyanggah dari kayu
yang usianya lebih dari 1000 tahun, sejak era sahabat Nabi.
“Ketika berada di dalam Ka’bah perasaan saya biasa saja. Tetapi karena
kesempatan itu di luar dugaan saya, tanpa terasa saya menangis,” kata
Roem.
Rahasia Al-Qur’an
Selama jadi dosen pascasarjana, Roem sekali waktu pernah menemukan
sebuah pengalaman yang dianggapnya cukup aneh. Dalam kesempatan mengajar
mata kuliah khusus, Roem berhadapan dengan sebuah pertanyaan aneh dari
seorang mahasiswa program pascasarjananya. Si mahasiswa merasa semakin
yakin bahwa Al-Qur’an bukan lagi kitab suci. Alasannya: Pertama, Al
Qu’ran tidak sistematis; Kedua, banyak sekali pengulangan, misalnya
tentang Nabi Adam dan iblis di Surat Al Baqarah.
Roem menjawab dengan sebuah pertanyaan: “Apakah Anda sudah sarapan?”
Mahasiswa itu tersentak kaget. Apa hubungan antara sistematika Al Qur’an
dengan sarapan pagi? Tetapi dia menjawab, “Sudah Pak.”
Kata Roem selanjutnya, baiklah kalau sudah sarapan, mulai hari ini dan
seterusnya, jangan mengulang lagi sarapan Anda.
“Lho kenapa Pak?” tanya sang mahasiswa.
“Anda kan tidak setuju dengan pengulangan Al-Qur’an,” kata Roem. Lantas
Roem meneruskan argumentasinya: “Anda bilang Al-Qur’an itu tidak
sistematis. Sistematis itu artinya mengikuti salah satu sistem. Kalau
menurut Anda sistematik itu adalah bab satu, dua, tiga dan seterusnya,
kesimpulan, saran-saran, dan daftar pustaka. Kalau sistematisnya
Al-Quran harus begitu, berarti Anda meminta Allah SWT belajar sama
kamu.”
Kata Roem, sistematika Al-Quran seperti adanya sekarang. Surat
Al-Fatihah, miniatur-nya Al-Qur’an. Fondasinya, Surat Al-Baqarah, paling
panjang. Semakin ke atas semakin kecil, seperti bentuk piramid. Kosa
kata dalam dasar itu mudah dipahami. Surat Al-Baqarah, artinya surat
tentang seekor sapi.
Semakin ke atas, semakin sulit menangkap maknanya, misalnya, Surat
Al-Kausar (inna aktoina kal kausar). Al kausar itu apa? Artinya, nikmat
yang banyak. Tetapi apakah hanya itu? Perlu tafsiran yang lebih panjang.
Menurut Roem, Al-Qur’an itu dimulai dari yang mudah. Puncaknya kecil,
tetapi penafsirannya lebih sulit. Memang ada rahasia Ilahi di sini.
Ternyata, setelah dia teliti di dalam Al-Baqarah, terdapat 80 persen
dari seluruh kosa kata Al-Qur’an. Jadi, setiap muslim yang sudah
menguasai Al-Bagarah, maka 80 persen kosa kata Al-Qur’an sudah dia
fahami. Sehingga surat yang lain mudah dipahami, karena kuncinya sudah
ada di tangan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, juz pertama terdiri dari
3316 kosa kata. Dalam juz pertama 70 persen terdapat kosa kata Al-Quran.
Juz pertama tadi bisa difahami dalam tempo 40 jam. Kalau juz pertama
bisa difahami dalam 40 jam, maka juz kedua dapat difahami dalam 20 jam.
Bisa difahami lebih singkat, kenapa? Jawabnya, karena kuncinya sudah
dikuasai. “Itulah sistematika Al-Quran. Kalau ada orang mengatakan
Al-quran itu tidak sistematis, itu tidak benar. Allah punya sistem lain,
sehingga Allah tidak perlu belajar sama Anda,” kata Roem. ►mti/crs/syahbuddin hamzah
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|