| |
C © updated 02022006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Nama:
PROF DR HM ROEM ROWI, MA
Lahir:
Ponorogo, 3 Oktober 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel,
Surabaya
Alamat Rumah:
Jl. Wisma Pagesangan VII/7 Surabaya
Telepon: (031) 8290377 HP 08121653557
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06 =
Prof Dr HM Roem Rowi, MA (05)
Al-Zaytun Patut Dicontoh Ahli Tafsir Al-Quran dan
mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur, Prof Dr HM Roem Rowi,
MA mengatakan Al-Zaytun itu aset umat Islam dan bangsa Indonesia yang
perlu dan patut dicontoh dan dijaga. “Kita harus mengucapkan terima
kasih dan bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Syaykh Panji
Gumilang dan kawan-kawan di Al-Zaytun, sebab itu merupakan lembaga
pendidikan masa depan yang modern,” begitu penuturan Prof Dr HM Roem
Rowi dalam percakapan dengan Tim Wartawan Tokoh Indonesia, di Surabaya
(9/2/2006).
Menurutnya, apa yang diperbuat oleh Panji Gumilang dengan
para eksponennya di Al-Zaytun patut kiranya kita contohi. Manajemen dan
infrastrukturnya luar biasa. HM Roem Rowi pun mengutip apa yang pernah
dikemukakan mantan Menteri Kehutanan Muslimin Nasution, bahwa Al-Zaytun
itu hebat, kekurangannya hanya satu: Tidak bisa ditiru. Kalau mengejar
dia, kita selalu ketinggalan. Kita kejar satu kilometer, dia sudah lari
100 kilometer. Jadi gerakannya tidak ada duanya.
HM Roem Rowi juga menyatakan paling kaget dan kagum, ketika menghadiri
peresmian Universitas Al-Zaytun, Agustus 2005. Di sana ada gedung yang
peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang pendeta. Menurutnya,
ini sangat luar biasa. “Jadi, toleransinya sampai ke dalam pembangunan
kampus. Hal seperti ini belum pernah terjadi di mana pun juga,” ujar
Ketua Dewan Syariah, Lembaga Manajemen Infaq, Jawa Timur itu.
Ditegaskannya, Syaykh Panji Gumilang tidak hanya menciptakan semboyan
kosong tetapi benar-benar diaplikasikan. Dimulai dari diri sendiri, dan
beliau juga menyarankan mulailah dari dirimu sendiri. Kemudian
disebarkan ke seluruh eksponen dan orang-orang lain.
Prof Dr M Roem Rowi dan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, dua sahabat
kental semasa di Pondok Gontor dan sama-sama mahasiswa IAIN Syarif
Hidayatullah, Ciputat. Kemudian sekian lama tak bersua, seperti
kehilangan jejak satu sama lain. Namun sesungguhnya, kendati tak bersua
secara fisik, mereka saling memantau dari jauh, ada ikatan batin.
Suatu ketika, Roem mendengar berita bahwa Presiden BJ Habibie meresmikan
sebuah pondok pesantren termegah di Asia, namanya Al-Zaytun. Dia juga
sepintas mendengar bahwa Ponpes tersebut dipimpin oleh Syaykh Abdussalam
Panji Gumilang. Mendengar nama Abdussalam, dia langsung teringat sahabat
karibnya itu, namun dia masih ragu. Dalam hati, dia ingin memastikannya.
Sampai suatu hari, ketika mengikuti seminar semalam di kota Malang, Roem
menerima telepon dari seseorang yang tidak mau menyebutkan namanya. Roem
diminta datang ke Al-Zaytun dengan menumpang kereta api Anggrek. Roem
menyimpan tanda-tanya, apakah tokoh Al-Zaytun, teman sekolah di Gontor
dan teman kuliahnya di Ciputat yang bernama Abdussalam Rasyidi itu yang
menelponnya?
Keduanya, selama enam tahun, mengenyam suka dan duka bersama di Gontor.
Persahabatan itu cukup berkesan, baik bagi Roem maupun Abdul Salam.
Selepas dari Gontor, mereka memang sama-sama di IAIN Ciputat, tetapi
hanya sebentar, karena Roem memperoleh beasiswa ke Universitas Islam
Madinah, Arab Saudi.
Dia juga mengatakan kemajuan itu melahirkan pro-kontra. Berikut ini
penuturan HM Roem Rowi kepada Tokoh Indonesia tentang Syaykh AS Panji
Gumilang dan Al-Zaytun, dan hal-hal aktual lainnya.
MTI: Bagaimana perkenalan dan sejauh mana pengenalan Anda dengan
Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang?
MRR: Enam tahun di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, dan sewaktu
sama-sama kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Tetapi,
saya kenal beliau sebagai pemimpin Al-Zaytun, belum lama. Sewaktu ada
peresmian oleh Pak Habibie, di Indramayu saya menghadiri seminar satu
malam. Saya ditelepon sehari sebelumnya, tetapi yang menelepon tidak
memberitahu namanya. Waktu itu, saya diminta datang dengan Kereta Api
Anggrek.
Dan tahun berikutnya, ketika saya memimpin para ulama Jawa Timur ke
Bandung, ada Rakorda MUI se-Jawa. Di Bandung kami diundang makan siang
oleh Gubernur Nuriana, di rumah dinasnya. Semua makanannya khas dari
Al-Zaytun. Dua putra Syaykh datang, saat itulah kedua putranya saya
tanya. Bapak kalian apakah yang dulu di Gontor, namanya Abdussalam
Rasyidi? Ternyata mereka mengangguk. Maka sejak jamuan di kediaman
gubernur itulah saya yakin beliau itu teman saya sewaktu di Gontor.
Kala itu, saya dengar memang ada yang memperdebatkan kehadiran Al-Zaytun
yang spektakuler. Juga ada orang tak sependapat dengan cara berpikir
Syaykh yang demikian maju. Perihal kemajauan itu, biasanya, ada yang
senang dan ada yang tidak senang.
Dalam pepatah Arab, musibah bagi satu kaum, ada manfaatnya buat kaum
yang lain, begitu juga sebaliknya. Kemajuan Al-Zaytun meroket sedemikian
rupa dalam waktu yang sangat singkat, jadi tak mustahil ada pro dan
kontra. Bahkan sampai ada yang menulis hal-hal negatif tentang Al-Zaytun
yang bisa saja tulisanya berangkat dari rasa tidak senang atau motivasi
lain yang tidak kita tahu.
MTI: Bagaimana Anda sendiri melihat kehadiran Al-Zaytun?
MRR: Saya melihatnya sangat positif. Menurut saya itu aset umat Islam
dan bangsa Indonesia yang perlu dijaga. Saya malah pernah mengatakan
kepada Syaykh secara berkelakar: “Kalau Dewi Sandra diundang, saya
mengusulkan MUI juga diundang ke sini supaya informasinya jangan simpang
siur.”
Tentang berbagai tulisan miring, anggap saja sama dengan promosi. Saya
setuju jika Syaykh menjawab berbagai tudingan negatif kepadanya dengan
bekerja keras. Mereka sudah menunjukkan kerja kerasnya, inilah realita
untuk umat. Jadi bagi saya, itu luar biasa. Soal undangan untuk MUI,
Syaykh menjawab, “Anda sudah mewakili MUI.” Saya jawab: “Tetapi saya
hanya MUI Jawa Timur, artis saja kita undang, masa MUI tidak.”
MTI: Apa Anda melihat ada perbedaan?
MRR: Banyak. Manajemennya luar biasa. Cara mereka menerima tamu. Semua
tamu tidak ada yang merasa tidak diperhatikan. Semuanya sudah ditugaskan
seperti itu. Kemudian soal kemandirian. Al-Zaytun tidak pernah memakai
anggaran negara.
Satu lagi, soal pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Budaya
perdamaian, dihujat orang santai saja. Saya paling kaget dan kagum,
ketika saya menghadiri peresmian Universitas Al-Zaytun, ada gedung yang
peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang pendeta. Menurut saya
ini sangat luar biasa. Jadi, toleransinya sampai ke dalam pembangunan
kampus. Hal seperti ini belum pernah terjadi di mana pun juga.
Jadi artinya, Syaykh tidak hanya menciptakan semboyan kosong tetapi
benar-benar diaplikasikan. Dimulai dari diri sendiri, dan beliau juga
menyarankan mulailah dari dirimu sendiri. Kemudian disebarkan ke seluruh
eksponen dan orang-orang lain.
Kemudian soal infrastruktur. Mantan Menteri Kehutanan Muslimin Nasution,
mengatakan Al-Zaytun itu hebat. Kurangnya hanya satu: tidak bisa ditiru.
Kalau mengejar dia, kita selalu ketinggalan. Kita kejar satu kilometer,
dia sudah lari 100 kilometer. Jadi gerakannya tidak ada duanya. Ada
seorang ibu pengusaha restoran, saya ajak ke sana. Dia bilang Massa
Allah, langsung menyumbang Rp 15 juta. Untuk ukuran pribadi, apalagi
belum saling kenal, itu jumlah yang luar biasa.
MTI: Ada forum ulama yang acapkali menyerang Al-Zaytun?
MRR: Oh, itu namanya Forum Ulama Islam Indonesia (FUII). Mereka punya
organisasi tersendiri. Dia itu teman saya sewaktu di Mesir (tapi lupa
namanya), selalu punya pemikiran yang fundamentalis. Ketika di Mesir,
dia dikenal sebagai jago pimpong. Saya kaget ketika dia jadi kiai. FUII
itulah yang menvonis mati tokoh JIL.
MTI: Pandangan Anda tentang Negara Islam Indonesia?
MRR: Kalau itu saya tidak tahu. Negara Islam Indonesia itu dicetuskan
oleh RM Kartosoewiryo. Ketika gerakan itu lahir, saya masih kecil, belum
mengerti. Sementara Syaykh Abdussalam Rasydi Panji Gumilang itu
seangkatan saya. Jadi saya pikir, Syaykh Al-Zaytun tak mungkin demikian.
Jadi waktu pergerakan itu ada, kami belum mengerti. Sementara, saya
melihat, seperti saya kemukakan terdahulu, Syaykh mengimplementasikan
toleransi dan perdamaian secara nyata, tidak hanya slogan atau semboyan.
Soal pemikiran, menurut saya, merupakan hal wajar dalam dunia demokrasi.
Dulu Gus Dur berusaha mencabut TAP MPRS yang melarang komunis, kemudian
mempersilakan kembalinya komunis. Kalau Islam, mengapa tidak. Tapi asal
dengan cara-cara yang demokratis, tidak dengan cara kekerasan. Jadi
sangat aneh kalau di luar negeri mengatakan Indonesia akan menjadi
Negara Islam. Menurut saya itu tidak aneh dalam dunia demokrasi, yang
penting rakyat memang menghendakinya berdasarkan kesepakatan demokratis.
MTI: Bagaimana tentang pribadi Syaykh Abdussalam Panji Gumilang?
MRR: Panji Gumilang teman baik saya sejak sama-sama sekolah dan hingga
sekarang. Saya salut sama beliau yang punya komitemen yang kuat untuk
membangun di bidang pendidikan. Al-Zaytun merupakan sebuah pusat
pendidikan yang terpadu dan modern yang bermoto sebagai Pusat Pendidikan
dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Saya bangga pada
beliau. Komitmen dan perjuangannya luar biasa. Untuk membangun sebuah
kompleks seperti di Al-Zaytun saya kira tidak mudah. Saya yang sudah
berpuluh-puluh tahun mendirikan sebuah yayasan pendidikan di Jawa Timur
ini belum bisa membangun seperti itu.
Kami terus terang saja tidak bisa mengikuti langkah beliau yang begitu
gigih, termasuk bagaimana mengelola dan mendapatkan dana untuk
pembangunan. Saya kira dalam hal ini, kita harus banyak belajar dari
beliau. Tidak ada salahnya kita bertukar pikiran dan ide. Bila di
Al-Zaytun ada keunggulan dan kelebihan, kami rasa tentu perlu belajar
banyak dari sana.
Bahkan, saya kira, dalam hal ini, universitas-universitas yang ada di
Jawa Timur juga harus bisa saling mengisi. ITS, Universitas Airlangga,
misalnya tidak usah segan-segan untuk menimba apa yang ada di sana,
begitu juga sebaliknya dengan Al-Zaytun.
Yang tak bisa disangkal, dalam umurnya yang baru sekian tahun,
perkembangannya cukup pesat. Bahkan tahun ini mereka sudah bisa
mendirikan sebuah Universitas Al-Zaytun, dengan sarana dan fasilitas
yang dimilikinya. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Pembangunan di
bidang pendidikan sangat penting artinya. Karena di sinilah kita bisa
mulai menanamkan akidah dan akhlak bagi generasi kita ke depan.
Dan apa yang diperbuat oleh Panji Gumilang dengan para eksponennya di
Al-Zaytun patut kiranya kita contoh. Mengembangkan sebuah lembaga
pendidikan yang hanya dalam waktu singkat dengan sarana dan prasarana
yang ada sekarang ini tentunya merupakan perjuangan yang berat. Tapi di
Al-Zaytun rasanya kok mudah sekali. Rasanya yang masih sulit kita
lakukan yaitu memotivasi orang untuk menyumbang dan berdarma. Meskipun
saya sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan, ini rasanya masih
susah kami lakukan.
Kita harus mengucapkan terima kasih dan bangga dengan apa yang telah
dilakukan oleh Panji Gumilang dan kawan-kawan di Al-Zaytun, sebab itu
merupakan lembaga pendidikan masa depan yang modern. Untuk mewujudkan
seperti itu tentu membutuhkan waktu yang lama. Kami kagum, mereka begitu
mudah menggairahkan orang untuk ikut membangun Ma’had yang megah,
lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya. Sehingga di sana teori
dan praktik dilaksanakan secara terpadu. ►mti/crs/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|