|
|
 |

Nama:
Robby Djohan
Lahir:
Semarang, 1 Agustus 1938
Agama:
Islam
Isteri:
Nanan Hadiretna
Anak:
Indira Purwita, Sandra Praditya dan Irma Damayanti
Main Job:
City Bank, membesarkan Bank Niaga, menyelamatkan perusahaan penerbangan Garuda
Indonesia, dan mengantarkan mahamerger beberapa bank BUMN menjadi Bank
Mandiri.
Pekerjaan Lainnya:
Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia
Pendidikan:
Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung 1968
Penghargaan:
The Best CEO 2000 dan CEO Terbaik di Masa Krisis, yang diadakan
Majalah Swa dan Asian Market Intelegence (AMI)
Buku:
The Art of Turn Around, (Kiat Restrukturisasi), Penerbit Aksara
2003
|
|
Robby Djohan
Kiat Handal ‘ Si Tukang Catut’
Robby Djohan, dosen Pascasarjana Universitas Indonesia, mantan bankir,
mantan chief executive officer (CEO) pada beragam perusahaan raksasa,
berhasil mengukir berbagai prestasi. Ia merintis karier di Citibank,
kemudian membesarkan Bank Niaga, menyelamatkan perusahaan penerbangan
Garuda Indonesia, dan mengantarkan mahamerger beberapa bank BUMN menjadi
Bank Mandiri. Penerima penghargaan The Best CEO 2000 dan CEO Terbaik di
Masa Krisis, yang diadakan Majalah Swa dan Asian Market Intelegence (AMI),
ini hari Kamis (12/6) malam, meluncurkan bukunya bertajuk The Art of Turn
Around, Kiat Restrukturisasi.
Buku setebal 334 halaman dari Penerbit Aksara Karunia tersebut merupakan
perpaduan antara biografi dan sejumlah kiat bisnis, dipetik dari segala
macam pengalaman yang telah puluhan tahun digelutinya. Mulai dari
perjalanannya sejak berjualan kue basah di zaman Jepang saat duduk di
sekolah dasar, menjadi tukang catut ketika di SMA dan mahasiswa, lalu
merintis karier di Citibank sampai 1976, membesarkan Bank Niaga, menjabat
Dirut Garuda Indonesia, memimpin Bank Mandiri sampai 23/5/2000, dan
pengalaman mengelola sejumlah bisnis pribadi.
Pria yang mengaku memiliki karakter cenderung bebas dengan tendensi
urakan, slebor atau cuek ini dilahirkan tanggal 1 Agustus 1938 di
Semarang. Ia dikaruniai tiga putri cantik (Indira Purwita, Sandra
Praditya, Irma Damayanti) buah kasih dengan isteri Nanan Hadiretna.
Anggota World Economi Forum berbintang saya Leo dengan shio Macan ini
berasal dari keluarga berlatar belakang aneka macam. Ibunya keturunan
Indo-Belanda beragama Katolik. Ayah orang Pontianak masih keturunan Arab
dari pihak nenek, beragama Islam dan pernah bekerja di duane di Semarang,
Medan, kemudian Singapura.
Kakak beradik dalam keluarganya, tiga orang beragama Katolik, dua Islam.
Ia sendiri beragama Islam. Maka, sudah sejak kecil ia selalu merayakan
Lebaran sekaligus Natal. Jika semua keluarga berkumpul, terasa keakraban
oleh karena ia sering jauh dari mereka. Namun walau jauh, komunikasi di
antara mereka tetap berlangsung intens.
Dalam lingkungan bisnis, ia termasuk sosok andalan. Ketika di Bank Niaga,
ia mengangkat bank yang tadinya tidak terkenal itu menjadi bank swasta
nomor dua terbesar di Indonesia. Pengalaman sangat spektakulernya adalah
ketika selama enam bulan ia dipercaya memimpin Garuda. Saat itu ia
langsung dihadapkan pada situasi yang disebutnya sebagai, "… negative
networth gila-gilaan, sebab utang (liabilities) jauh lebih besar dibanding
harta (asset), sehingga saldonya negatif. Bottom line sudah merah, begitu
juga saldo ditahan (retained earning) juga telah negatif. “Pada posisi
demikian, praktis tinggal dua hal yang akan bisa dilakukan yakni menambah
modal atau melikuidasi,” katanya.
Namun, sebagai bankir, membaca posisi keuangan sangat buruk semacam itu
tetap bukan berarti datangnya kiamat. "Kalau kita reevaluasi aset sesuai
market, maka negative networth akan menjadi kecil. Yang penting, dia bukan
bebas cash (noncash-charge), dan negative networth akibat akumulasi
kerugian bisa diatasi. Yang perlu dijaga, Garuda tidak boleh rugi, cash
flow harus positif. Selain itu, juga harus dijaga posisi serasi antara
aset dalam rupiah serta liability dalam dollar AS," tegasnya.
Kalau hanya berpikir seperti ketika sedang mengelola perusahaan biasa, ia
pasti akan melakukan likuidasi. Tetapi, akhirnya ia memilih peluang
restrukturisasi mengingat Garuda adalah pembawa bendera Indonesia sehingga
terdapat ikatan emosional pada masyarakat luas serta kebanggaan yang sulit
dihapuskan.
Restrukturisasi berarti membuang yang jelek dengan melakukan perubahan
mendasar berupa perubahan manajemen, kepemimpinan, operasional dan
pendekatan pasar. Tujuannya satu, agar nilai pasar Garuda bisa meningkat.
Sesudah berhasil mengatasi tantangan dari dalam, ia segera melakukan
program restrukturisasi. Sesudah dua bulan memimpin Garuda (termasuk
memindahkan kantor ke Bandara Soekarno-Hatta agar bisa langsung memantau
situasi lapangan), ia pun berhasil memutar haluan Garuda dari nyaris
bangkrut menjadi maskapai penerbangan yang tetap terbang, sekaligus bisa
menguntungkan.
Namanya makin berkibar ketika ia berhasil menyelamatkan Garuda. Saat itu
ia juga berani menghadapi demonstrasi karyawan yang menyambutnya sewaktu
baru masuk ke Garuda. Dengan tenang ia datang menghadapi serta memberi
penjelasan secara rinci dan terbuka atas semua kebijakan yang sedang,
telah, dan akan dia ambil.
Menurutnya, seseorang bisa naik menjadi pemimpin puncak tentu sesudah ia
lolos dalam berbagai macam seleksi sejak merangkak dari bawah. Dengan
demikian, ketika sudah berada di atas, ia harus berani bertindak dengan
memanfaatkan kekuasaan yang otomatis akan datang melekat pada diri seorang
pemimpin. "Banyak pemimpin, di perusahaan atau pemerintahan, bertindak
sebagai manajer, senang terlibat dalam proses. Tetapi, yang kita butuhkan
sekarang justru pemimpin, leader dan leadership, orang yang bisa melihat
perubahan sebagai potensi, memberi gagasan, inspirasi dan arah, serta
punya kepemimpinan tegas," katanya.
Ia pun mengungkapkan khotbah seorang ustadz, ketika suatu Jumat tanpa
sengaja ia shalat di sebuah masjid kecil di tengah kampung di sudut
Metropolitan Jakarta. Ustadz yang terlihat sebagai orang kebanyakan, sama
sekali bukan sosok terkenal dengan amat prihatin dan pandangan terasa
jernih sekali, berkata, "…negara kita kacau-balau karena tidak pernah
ditangani serius."
“Kita tidak pernah serius ketika mengerjakan sesuatu, maka jadinya… ya
selalu seperti yang kita lihat dan alami," ujar pria yang dikenal berjiawa
terbuka, terus terang, tangkas bertindak, dan berani mengemukakan segala
sesuatu dengan kalimat jelas.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber
|
|