| |
C © updated 04092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
RETNO ISWARI SUHARTO TRANGGONO
Lahir :
Jakarta, 17 November 1939
Agama:
Islam
Suami:
dr Suharto Tranggono, Sp KJ
Anak:
1. Savitri Pardani
2. Krishna Nindita
3. dr Indira Parwitasari
Ayah:
Soerana Tjitra Santjaka (alm)
Ibu:
Moekibah (alm)
Jabatan:
- Presiden Direktur PT Ristra Indolab, 2005-sekarang
Pendidikan:
-SR Kartini Semarang (1952)
-SMP II Negeri Semarang (1955)
-SMA BII Negeri Semarang (1958)
-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1965)
-Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UI (1968)
Karir :
-Asisten Ahli Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (1964-1984)
-Pendiri/Perintis Bagian Bedah Kulit dan Kosmetologi FK UI/RSCM (1970)
-Kepala Subbagian Bedah Kulit dan Kosmetologi FK UI/RSCM (1970 - 1981)
-Anggota Panitia Registrasi Kosmetika Depkes (1978-1983)
-Wakil Ketua/Staf Ahli Panitia Monitoring Efek Samping Kosmetika Ditjen
POM Depkes (1980-1983)
-Tim Penyusun Kamus Istilah Kosmetika Proyek Pengembangan Bahasa, Sastra
Indonesia dan Daerah, Departemen P&K (1983)
-Konsultan dan anggota Konsorsium Pendidikan Tata Kecantikan Kulit dan
Rambut P&K (1986)
-Direktris Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kosmetika (R&D) Ristra
Laboratories/Direktris PT Dwi Citra Utama (1986 - sekarang)
-Dosen Luar Biasa FMIPA UI (1990-sekarang)
-Pengajar Ristra Institute of Skin Health and Beauty Science
(2006-sekarang)
Kegiatan Lain:
-Konsultan Majalah Kedokteran Media Aesvulapius FK UI (sejak
1978)
-Konsultan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
-Anggota World Confederation of Societies for Aesthetic Surgery (1981)
-Anggota International Society of Cosmetic Dermatology (1986)
-Ketua Himpunan Ilmuwan Kosmetika Indonesia (1986-sekarang)
-Boards of Directors dari The International Society of Dermatologic
Surgery (1986)
-Organisasi Kedokteran Anti Penuaan Indonesia (Perkapi)
-Organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski)
-Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Penghargaan:
- Award dari 34th CIDESCO International Congress Tokyo-Japan
(1980)
-International Award to Tradition and Prestige dari Editoria De
Comerfcio International, Spanyol (1984)
-Penghargaan sebagai Wanita Berbusana Terbaik (1984)
-Penghargaan dari International Meeting on Cosmetic Dermotology ke-2,
Roma, Italia (1987)
-Penghargaan dari Outstanding Service to Research Development dari
American Biographical Institute (1987)
-Penghargaan dari International Meeting on Cosmetic Dermatology ke-2,
Viena, Austria (1989)
-Award dari Center for Profesional Advancement, Amsterdam (1990)
-Cipta Phala Adi Daya Award dari Lembaga Daya & Swadaya Manusia (1991)
-Award, sebagai Eksekutif Direktur Indonesia periode 1993-1994 dalam
Penerapan SDM Berkualitas dari yayasan Pengembangan Mode, Karir & Budaya
Indonesia (1994)
-Penghargaan Natasyakarsa sebagai salah satu “21 Kartini Indonesia” dari
Natasyakarsa SNS Group (1992)
-Citra Kartini Indonesia, Semarang (2000)
-Entrepreneur of The Year 2001 bidang Industri and Manufaktur dari Ernst
& Young, Jakarta (2001)
-Lencana Satyabhakti Wirasistha untuk Pengabdian Terhadap Masyarakat
dari Perdoski (2005)
Karya :
-Kiat Apik Menjadi Sehat dan Cantik I dan II (1992)
-Hand Book of Cosmetic Science
Buku:
-Buku Biografi berjudul “The Entrepreneur Behind The Science of
Beauty, Inspirator Kosmetik Indonesia Retno Tranggono.“ Penulis : Jean
Couteau (2007)
Alamat Rumah:
Jalan Kencana Indah III/24, Pondok Indah
Jakarta Selatan
Telepon : 75914362
Alamat Kantor:
Jalan Radio Dalam 48, Jakarta 12140.
Telepon 7226673. Faksimile : 7226674
Graha Ristra:
Jl. Radio Dalam no. 5,
Jakarta Selatan
Telp. 7395207, 72786117
Kantor Cabang Ristra:
Ristra House I
Graha Ristra
Jl. Sumatra No. 12-14
Jakarta Pusat 10350
Phone 021-322380,322686
Ristra House II
Graha Ristra
Jl. Radio Dalam No.5
Jakarta Selatan 12140
Phone 021-7395207, 72786117
Ristra House IV
Jl. Cihampelas No.95
Bandung
Phone 022-232174,235173
Ristra House V
Jl. Imam Bonjol No.157
Semarang
Phone 024-540275
Ristra House VI
Jl. Bintaro Utama IX Blok J. BI/8
Bintaro Jaya Sektor IX
Jakarta Selatan
Phone 021-7450756
Customer Service : customer@ristra.co.id
|
|
| |
|
|
|
|
| RETNO ISWARI HOME |
|
|
 |
Retno Iswari Tranggono
Inspirator Kosmetik Indonesia
Retno Iswari Treggono, seorang inspirator kosmetik Indonesia. Ketua
Himpunan Ilmuwan Kosmetika Indonesia dan Presiden Direktur PT Ristra
Indolab, ini membuka usaha bidang kosmetika dengan berbasis ilmu medis.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UI, ini
membagikan ilmu dan pengalaman dalam buku otobiografinya, The
Entrepreneur Behind The Science of Beauty, Inspirator Kosmetik
Indonesia, yang diluncurkan Senin 3/9/07.
Pendiri/Perintis Bagian Bedah Kulit dan Kosmetologi FK UI/RSCM (1970 ini
mengaku heran, bila di zaman seperti sekarang ini masih ditemukannya
kandungan berbahaya (formalin) dalam suatu produk kecantikan. Terkait
dengan persoalan ini, Retno, Dosen Luar Biasa FMIPA Universitas
Indonesia (UI) ini pun tampak sibuk mencari-cari referensi koleksi
bukunya, dia berharap bisa memberi masukan pada Balai Pengawasan
Obat-Obatan dan Produk Makanan (BPOM).
BPOM merupakan lembaga milik
Negara yang memiliki otoritas pemberi labelisasi dan juga bertanggung
jawab terhadap berbagai produk makanan, obat-obatan termasuk didalamnya
kosmetik yang aman dikonsumsi masyarakat.
Wanita yang masih tampak cantik dan sehat pada usia 68 ini pun bercerita
bahwa kejadian seperti itu, (maraknya zat berbahaya yang beredar di
masyarakat) sering dia alami dan sudah terjadi sejak awal dirinya
berpraktik sebagai dokter kulit sekitar tahun 60-an.
Retno pun menuturkan bahwa sekitar tahun 1970-an berbagai produk
kosmetik asal Thailand, Taiwan dan China pernah membanjiri Indonesia.
Selaku dokter ahli kulit ia melihat bahwa produk-produk tersebut tidak
semuanya aman dikonsumsi masyarakat. Bahkan sebaliknya bisa menjadi
racun.
Pada tahun yang sama juga Retno mengkritisi soal banyaknya kosmetika
yang tidak mencantumkan komposisi produk dalam kemasannya, lalu Retno
melapor pada Departemen Kesehatan. Setahun kemudian dugaan Retno
terbukti, produk-produk itu ternyata mengandung merkuri, sebuah zat yang
berbahaya bagi organ tubuh manusia seperti otak, lever dan ginjal.
Peraih gelar Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UI
tahun 1968 ini juga menjelaskan panjang lebar mengenai kesalahpengertian
konsumen soal berbagai produk dan perawatan kecantikan yang ditawarkan
dengan berbasis teknologi modern, yang sebenarnya belum tentu cocok
untuk digunakan di Indonesia. Retno mencontohkan soal chemical peeling
(CP). CP merupakan proses pengelupasan kulit yang membuat lapisan dalam
kulit menipis. CP ini sebenarnya hanya cocok diterapkan di negara-negara
beriklim subtropik, seperti Eropa dan Amerika. Dan tidak cocok bila
diterapkan di Indonesia yang beriklim tropis.
Pendiri dan pengajar Ristra Institute of Skin Health and Beauty Science
ini memberi alasan dan menjelaskan secara rinci mengenai CP ini, pertama,
perbedaan intensitas cahaya matahari antara iklim tropis dan iklim
subtropis. Kedua, soal pigmen melanin kulit, orang Indonesia memiliki
pigmen kulit melanin lebih besar dan banyak dibanding dengan kulit orang
bule, hal ini membuat penyerapan sinar matahari kulit orang Indonesia
lebih banyak dan akibatnya kulit akan bertambah hitam, atau bisa juga
kulit akan menjadi merah seperti udang rebus akibat pengaruh dan masalah
dengan pembuluh darah.
Adalagi contoh lain mengenai pemahaman yang keliru soal Sun Prptecting
Factor (SPF), pada Tabir Surya. SPF ini berfungsi memberi perlindungan
terhadap ultraviolet B, dan akan membuat pembentukan pigmen lebih cepat.
Kalau untuk kulit orang Indonesia yang beriklim tropis, SPF ini membuat
kulit malah jadi tambah hitam. Sementara untuk yang beriklim subtropics
SPF membuat kulit jadi coklatt umumnya orang bule ingin kulitnya menjadi
coklat.
Sedang
buat kulit orang Indonesia malah jadi tambah hitam.
Retno berupaya mengingatkan dan menjelaskan bahwa untuk daerah tropis
seperti Indonesia, dibutuhkan SPF yang terintegrasi. “Prinsipnya, kita
enggak bisa langsung pakai kosmetik asal negara-negara subtropik," jelas
Retno.
Berawal dari Jerawat
Ketika remaja, Retno Iswari punya masalah dengan kulitnya yang
berjerawat, yang membuatnya sedih. Lulusan SMA di Semarang ini pun
melamar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Jakarta
dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung – dan diterima di kedua
tempat itu. Lalu Retno memutuskan kuliah di FK UI. Ketika awal menjadi
mahasiswa di FK UI Retno sudah mendapat julukan “janda Bopeng’ karena
memang wajahnya yang memang ditumbuhi banyak jerawat.
Julukan ini tidak membuatnya berkecil hati tapi sebaliknya, menambah
semangatnya belajar, setelah tiga tahun meraih gelar dokter, Is
panggilan akrabnya, mengambil spesialisasi penyakit kulit dan kelamin,
juga di FK UI, di program spesialis inji dia lulus tahun 1968. Is
teringat saat program spesialisi kulit dan kelamin ini masih dianggap
sebagai penyakit kotor pada pelaut,
Selain itu Retno teringat pada Prof
Dr M Djoewar, Kepala Bagian Kulit dan Kelamin UI yang mendorongnya untuk
menggabungkan antara masalah kosmetik dan kesehatan. “Kalau kamu yakin
ilmu itu diminati oleh para dokter dan masyarakat membutuhkan, dirikan
dan kembangkan!" kata Retno mengutip perkataan Djoewari.
Retno berjuang dan akhirnya berhasil mendirikan Subbagian Bedah Kulit
dan Kosmetologi FK UI/RSCM, dan menjadi kepalanya hingga 1981.
Penggabungan ilmu medis dan perawatan kecantikan menurut Retno dia lalui
melalui proses otodidak. Retno pun sadar kalau ilmu yang dia pelajari
ini memang belum berkembang di Indonesia dan tentu berimbas pada
ketersedian buku yang sangat terbatas. Diapun tah patah semangat,
apalagi dia mendapat dukungan demikian besarnya dari keluarga, terutama
suaminya, Suharto Tranggono, seorang kolonel TNI AU.
Karena keterbatasan itu, Retno terkenang pada sekitar tahun 1965 dia
mendapatkan buku pertamanya berjudul The Structure and Function of The
Skin yang membahas soal kecantikan dari sang suami yang juga seorang
dokter. Buku itu diberikan sang suami, yang juga pernah menjabat sebagai
Kepala RS Angkatan Udara saat dr Tranggono pulang dari Eropa untuk tugas
belajar sebagai dokter AURI. Buku itu menurut Retno masih disimpan rapi
dan selalu menjadi inspirasinya setiap saat.
Kesempatan membuka usaha bidang kosmetika dengan menggabungkan ilmu
medis yang dia punya, menurut Retno, berawal dari pengalaman pribadinya
yang tanpa sengaja. Tahun 1963 tanpa sengaja Retno menyerempet bunga
Bougenville milik Bo Tan Tjoa, pendiri Viva Cosmetic.
Perkenalan yang
tanpa sengaja itu membuat Bo Tan Tjoa mengundang Retno untuk menjadi
guru di Viva Health and Beauty Institute, miliknya. Ditempat itu Retno
mendapat kesempatan meneliti berbagai hal mengenai kecantikan kulit,
termasuk penyebab timbulnya jerawat, dan sekalian menemukan obat
penangkalnya.
Selain itu, Dosen FK UI yang juga dokter spesialis kulit di RSCM ini
sering kali menerima keluhan masyarakat mengenai ketidak cocokan
pemakaian kosmetika yang membuat kulit mereka menjadi rusak.
“Awalnya, saya berikan resep obat jerawat dan bedak berdasarkan konsep
kesehatan. Tapi banyak pasien mengeluh, karena obat dan bedak yang
diracik apotek menurut mereka berbau tidak enak dan putih seperti topeng
kalau dipakaikan pada muka,” papar pendiri Subbagian Bedah Kulit dan
Kosmetologi FK UI/RSCM ini.
Dari pengalaman-pengalaman ini akhirnya membuat Retno tergugah melakukan
serangkaian penelitian. Mulanya, dia memberikan resep ke apotek untuk
meraciknya menjadi obat. Tapi, hasil racikan apotek tidak persis seperti
yang dia resepkan. Ia pun memutuskan meracik sendiri produk kosmetik itu
di garasi rumahnya, Perumahan Angkatan Udara Kemayoran, Jakarta Pusat.
Tak disangka obat “racikan” yang dibuatnya mendapat repon, ini bisa
dilihat dari animo masyarakat yang memesan semakin hari kian banyak.
Awalnya, Retno mengaku gamang ketika mulai terjun menjadi pebisnis,
apalagi dia seorang dokter. Namun akhirnya Retno memutuskan unrtuk
membuka usaha sendiri. “Saya berpikir bagaimana kalau produk itu saya
kembangkan,” tutur nenek bercucu enam ini.
Tahun 1981 sebagai tonggak sejarah dirinya mulai menerjuni bidang usaha
kosmetika secara lebih intensif dan profesional. Bersama suaminya,
Suharto Tranggono, kolonel Angkatan Udara (purn) dan bekas Kepala RS
Angkatan Udara.Retno mendirikan PT Dwi Citra Utama dengan label produk
Ristra dengan modal awal sebesar Rp 40 juta, modal ini didapat dari
hasil penjualan tanahnya di Sukabumi. Kemudian nama Ristra sendiri
diambil dari nama pasangan suami istri ini, Retno Iswari dan Suharto
Tranggono. Diperusahaan kosmetik ini suaminya, mengurusi soal manajemen
dan Retno sendiri berkutat pada research and development..
Menyinggung soal keunggulan dari bisnis produk Ristra “racikan” Retno
ini bisa dilihat dari segi kualitas produknya yang mengutamakan
kesehatan kulit, menjaga keamanan kulit dan yang terpenting menyesuaikan
produk dengan kultur kulit orang Indonesia, selain itu dia terus
melakukan inovasi dan penelitian teknologi kosmetika tiada henti.
Dalam buku otobiografinya, The Entrepreneur Behind The Science of
Beauty, Inspirator Kosmetik Indonesia, Retno Tranggono yang diluncurkan
Senin (3/9), juga menyinggung soal posisi bisnis produk Ristra yang
berbeda dengan produk-produk tradisional lainnya yang sudah ada di
masyarakat dan dikenal cukup lama.
Hingga sekarang produk Ristra milik Retno ini berkembang pesat dan
berhasil bertahan selama 24 tahun. Saat ini Ristra telah mememiliki enam
cabang klinik yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.
Beberapa perusahaan internasional, seperti Sara Lee dan British
Petroleum, sempat menawar untuk membeli perusahaan itu. Tapi, semua
tawaran itu ditolak Retno.
Perjalanan usaha yang dilakoni Retno ini bukan berarti selalu berjalan
mulus, Retnopun bertutur pada tahun 1987 Ristra pernah menghadapi
masalah, pernah mengalami rugi sekitar lima ratus milliard. Peristiwa
ini terjadi bukan karena produknya tidak laku di pasaran, akan tetapi
uangnya tidak masuk perusahaan karena ditipu orang. Saat itu modal yang
dimiliki Retno di Bank hanya tersisa Rp 10 juta dengan terpaksa Retno
harus meminjam modal di bank. Meski merugi, Ristra tetap bertahan dan
bangkit lagi serta bertahan hingga sekarang.. Bagi Retno, turun-naik
sebuah usaha itu lumrah, layaknya roda kehidupan.
Saat ini Retno bermaksud menyerahkan usahanya kepada pebisnis yang lebih
professional, Dia berharap, ditangan pebisnis yang lebih muda, usahanya
ini akan lebih maju. Lalu kemanakah Retno? Dia mengaku akan lebih
berkutat dibalik layar. Dan obsesinya yang mau mau kuliah lagi di
jurusan filsafat. (Dari berbagai Sumber, antara lain Tempo Interaktif dan
Kompas) ►e-ti/zah
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|