| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
|
|
| |
Nama :
Ir. Rauf Purnama
Lahir :
Garut, 21 Maret 1943
Agama :
Islam
Jabatan :
Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer
Pendidikan Formal:
SR Garut, 1956
SMP Garut, 1959
SMA IPA, Garut 1962
Sarjana Teknik Kimia ITB – Bandung, 1972
Main Job:
= Membidani lahirnya pupuk majemuk phonska yang kini sebagai obat
mujarab untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras.
= Merancang dan memimpin pembangunan beberapa proyek strategis dalam
mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air. Seperti, proyek
Hidrogen Peroksida (H202), Asam Formiat (Formic Acid), Amonium Nitrat (bahan
peledak), proyek Katalis, Gasket, Amoniak dan Urea, Gypsum Plasterboard,
Proyek 2-Ethyl Hexanol (Octanol), dan pabrik peleburan tembaga di PT Pupuk
Kujang dan PT Petrokimia Gresik dengan total investasi kurang lebih 1,15
miliar dolar AS.
= Berhasil menyehatkan manajemen dan membesarkan Petrogres, sehingga
sejajar dengan industri pupuk dunia.
|
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
Ir Rauf Purnama (6)
Memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Di antara Vietnam dan Thailand Tidak banyak orang yang
menduga kalau Vietnam akan mampu menyelenggarakan SEA Games yang tidak
kalah hebatnya dengan Sea Games sebelum-sebelumnya. Ternyata, Sea Games ke
22 di Hanoi baru-baru ini berlangsung dengan sangat hebat. Bahkan tidak
hanya itu, Vietnam benar-benar mampu menunjukkan prestasinya yang gemilang
pada setiap cabang olah raga yang dipertandingkan, hingga dapat
mengukuhkan diri sebagai juara umum Sea Games ke 22. Sementara
itu, Thailand menduduki posisi juara umum kedua yang kemudian diikuti
Indonesia pada urutan ketiga.
Ini merupakan prestasi Vietnam yang sangat tidak diduga sebelumnya?
Sebagaimana diketahui, selama ini, Vietnam hampir tidak pernah menjadi
fenomena atau menjadi pusat perhatian atau pusat perbincangan dalam
pergaulan masyarakat internasional, baik di lingkungan Asia Tenggara,
Asia, apalagi menjadi fenomena global. Ini sangat jauh berbeda dengan
Indonesia yang pernah menjadi pusat perhatian dunia karena tingkat
pertumbuhan ekonominya yang sangat tinggi, sebelum akhirnya jatuh
bersamaan dengan munculnya krisis ekonomi pada pertengahan 1997 lalu.
Sebelum ini, ingatan dunia tentang Vietnam tidak lebih dari perang negeri
itu melawan Amerika Serikat, perang Vietnam, sistem pemerintahan rezim
komunis yang otoriter, kemiskinan, ketidaan kebebasan, keterkungkungan
rakyat, dan berbagai imej ketertinggalan dibandingkan dengan negara-negara
lain di dunia. Dengan perkataan lain, Vietnam hanya dipandang sebelah mata
oleh masyarakat internasional.
Sekarang, tidak lagi demikian. Negeri komunis ini sudah mulai menunjukkan
siapa dirinya yang sesungguhnya, sebagaimana ia menunjukkan prestasi olah
raganya yang sangat gemilang. Sudah barang tentu, prestasi sedemikian
tidak lahir begitu saja, melainkan dicapai dari sebuah perencanaan yang
matang, strategi yang kuat, dan komitmen yang solid.
Mungkin muncul pertanyaan, apa relevansi antara prestasi olah raga dengan
kinerja perekonomian yang menjadi pusat bahasan dalam tulisan ini? Memang
tidak ada rumusan baku yang memastikan relevansi prestasi suatu negara di
bidang olah raga dengan prestasi di bidang ekonomi. Hanya saja, dalam
konteks Sea Games 2003 ini, telah memunculkan spekulasi di kalangan ekonom
bahwa prestasi masing-masing negara dalam olah raga tersebut sekaligus
merefleksikan prestasi mereka di bidang perekonomian.
Artinya,
urutan perolehan medali di Sea Games 2003 sama persis dengan urutan
masing-masing negara di bidang ekonomi, khususnya dalam hal tingkat
pertumbuhan.
Vietnam yang menjadi juara umum Sea Games juga berada pada urutan pertama
dalam tingkat pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7% terhadap PDB pada tahun
2002. Thailand yang menjadi juara umum kedua juga berada pada urutan kedua
dalam tingkat pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 5% pada PDB. Indonesia
yang menduduki posisi juara umum ketiga juga berada pada urutan ke tiga
dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 4% pada PDB.
Kebangkitan Vietnam
Sebelum krisis ekonomi regional Asia Tenggara, Vietnam, Thailand, dan
Indonesia menunjukkan pertumbuhan perekonomian yang hampir sama. Namun
belakangan sangat perlu dicatat, bahwa Vietnam berhasil mencapai tingkat
pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih maju dibanding Thailand dan Indonesia.
Hal ini merupakan hasil jerih payah Vietnam yang sudah sejak lama
melakukan usaha-usaha yang keras untuk meningkatkan kinerja
perekonomiannya. Pada tahun 1994 Vietnam sudah mencapai tingkat
pertumbuhan ekonomi sebesar 8,8 % pada PDB dan 9,5% pada tahun 1995. Total
pertumbuhan ekonomi Vietnam selama 1991-1995 rata-rata 8,2% pada PDB.
Sementara itu, pada tahun 1993 Thailand hanya berhasil mecapai tingkat
pertumbuhan ekonomi sebesar 8,4% pada PDB, 8,5% pada tahun 1994, dan 8,6%
pada tahun 1995. Sedangkan Indonesia mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi
yang jauh lebih kecil dari Vietnam maupun Thailand.
Pertumbuhan Ekonomi
Prestasi olah raga Vietnam tidak jauh berbeda dengan prestasinya di bidang
ekonomi. Negeri berpenduduk 81,2 juta ini juga terimbas dengan krisis
ekonomi yang melanda Asia Tenggara pada pertengahan 1997, merupakan salah
satu negara yang sudah mulai bangkit melalui tingkat pertumbuhan
ekonominya yang tinggi. Pada tahun 2002 lalu, Vietnam sudah mencapai
tingkat pertumbuhan ekonomi 7% pada PDB. Ini merupakan tingkat pertumbuhan
ekonomi tertinggi di negara-negara Asia pasca krisis.
Dengan pertumbuhan ini, maka Produk Domestik Bruto Vietnam tercatat
sebesar US$ 33,6 milliard atau meningkat sebesar US$ 1,3 milliard dari
tahun sebelumnya sebesar USS 32,3 milliard. Jika dibagi dengan jumlah
penduduk Vietnam yang sebesar 80 juta, maka akan menghasilkan pendapatan
per kapita sebesar US$ 420. Atau jika dirupiahkan dengan kurs Rp 8.500
per 1 US$, maka pendaptan per kepala masyarakat Vietnam mencapai Rp
3.570.000 per tahun.
Jumlah pendapatan per kapita ini tentu masih sangat jauh dari jumlah
pendapatan perkapita Indonesia yang saat ini mencapai US$ 830 atau setara
Rp 7.055.000 per tahun pada tahun 2002. Apalagi dibandingkan dengan
Thailand yang sebesar US$ 1.987 atau setara dengan Rp 16.889.500 per
kepala per tahun.
Akan tetapi, bilamana Vietnam dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi
yang konstan pada tataran 10% per tahun, maka pada tahun 2010 atau 2011,
akan dapat mencapai tingkat pendapatan per kapita yang sama dengan
pendapatan perkapita Indonesia pada saat ini, yakni US$ 800 pada 2010 dan
US$ 860 pada tahun 2011. sebagaimana diketahui, saat ini pendapatan per
kapita Indonesia sebesar US$ 830. Artinya, bila Vietnam di masa-masa
mendatang dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi 10% per tahun, maka
akan dapat melipatgandakan GDP-nya dan pendapatan per kapitanya dalam 7
atau 8 tahun mendatang.
Bila ini benar-benar terjadi, maka Vietnam akan menjadi negara paling
cepat di dunia dalam hal melipatganda-kan PDB-nya. Sebagaimana diketahui,
Indonesia baru dapat melipatgandakan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya dalam
kurun waktu 17 tahun, Jepang membutuhkan 33 tahun, Amerika Serikat
membutuhkan 47 tahun. Hingga saat ini, satu-satunya negara yang paling
cepat melipatgandakan PDB-nya adalah RRC yang hanya membutuhkan 10 tahun
saja.
Tetapi, upaya Vietnam untuk melipatgandakan PDB-nya dalam 7 atau 8 tahun,
bukanlah suatu yang sulit bila melihat kinerja pertumbuhan ekonomi mereka
sejak tahun 1993. Bahkan bukan tidak mungkin kalau hal itu bisa dicapai
dalam 5 tahun, bila dapat mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 12% seperti
yang telah pernah dicapai Cina sebelumnya. Jika ini juga terjadi, maka
Vietnam akan membayang-bayangi kemajuan Thailand, sekaligus meninggalkan
Indonesia jauh di belakang.
Perekonomian Indonesia
Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, bahkan
dengan negara yang paling maju sekalipun seperti Thailand, perekonomian
Vietnam sudah jauh lebih maju. Pada tahun 2002, pertumbuhan ekonomi
Thailand hanya dapat mencapai tingkat pertumbuhan sebesar 5% pada PDB, dan
pendapatan per kapita Indonesia US$ 830, sedangkan Thailand dan Malaysia,
masing-masing sudah mencapai US$ 1995 dan US$ 3400.
Seandainya, pada tahun 2010 Indonesia ingin mencapai tingkat pendapatan
per kapita seperti Thailand sebesar US$ 1995 pada tahun 2002, maka
Indonesia harus mampu meningkatkan GDPnya menjadi US$ 487,1 miliar atau
lebih dari 2,5 kali lipat dari yang ada sekarang. Artinya, Indonesia harus
mampu menciptakan tambahan US$ 307 miliar dalam 7 tahun mendatang.
Pertanyaannya sekarang, mungkinkah itu dapat dicapai? Tampaknya sangat
sulit.
Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 10% sekalipun Indonesia tetap tidak
akan mencapai GDP Thailand 2002. Berikut ini gambaran GDP Indonesia dalam
7 tahun ke depan dengan pertumbuhan ekonomi 10 % misalnya sejak tahun
2004, maka GDP Indonesia hanya US$ 386,1 miliar (2010). Bahkan dengan
pertumbuhan 12%, Indonesia tetap tidak akan mampu menambah US$ 201,6
miliar (2003), US$ 225,8 miliar (2004), US$ 252,9 miliar (2005), US$ 283,2
miliar (2006), US$ 317,2 miliar (2007), US$ 355,3 miliar (2008) US$397,9
miliar (2009) US$ 445,7 miliar (2010).
Gambaran ini sengaja dipaparkan sebagai refleksi yang memperlihatkan
betapa besarnya ketertinggalan Indonesia dibanding Thailand. Hal ini tentu
tidak terlepas dari strategi pembangunan ekonomi yang diaplikasikan
masing-masing negara. Thailand dan Vietnam mengembangkan strategi ekonomi
yang lebih baik dari Indonesia, hingga mendapatkan hasil yang juga lebih
baik. Pertanyaannya sekarang, bagaiman strategi ekonomi yang harus
dikembangkan Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya? Menurut hemat
kami, salah satunya dengan memprioritaskan pengembangan industri yang
berbasis sumber daya alam.
Pengedepanan industri berbasis sumber daya alam dalam hal ini, tentu
memiliki alasan ekonomi yang sangat rasional, baik dikarenakan
ketersediaan sumber daya yang memadai, maupun karena dapat menciptakan
nilai tambah yang sangat besar melalui pengembangan industri.
Industri Petrokimia
Salah satu pilar kekuatan perekonomian Indonesia adalah sumber daya alam
hasil tambang, khususnya minyak dan gas. Selama ini, pengelolaan minyak
dan gas bumi di Indonesia lebih difokuskan pada ekspor.
Alangkah ironisnya, bila sumber daya alam migas Indonesia yang sangat
besar tidak dikembangkan dalam satu industri yang terintegrasi dari hulu
hingga ke hilir.
Padahal sebagaimana diketahui, industri hulu migas (upstream industry)
justru tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan industri hilirnya.
Pengembangan industri hulu migas inilah yang menurut pandangan kami harus
dimanfaatkan sebagai salah satu strategi dalam mengejar ketertinggalan
Indonesia dengan negara-negara Asia Tenggara liannya, khususnya Thailand
dan Vietnam. Pengembangan industri ini, sangat dimungkinkan menciptakan
efek positif yang signifian dalam menambah PDB Indonesia di masa-masa
mendatang.
Pengalaman negara-negara lain juga sudah membuktikan betapa besarnya
daya sumbang industri petrokimia terhadap pertumbuhan ekonomi negara
yang bersangkutan. Sebagai contoh, Singapura yang tidak memiliki sumber
daya bahan baku migas, bahkan pasar dan lahan mereka juga tidak memadai,
tetapi berencana mengembangkan industri petrokimia dalam 10 tahun
(2000-2010) dengan investasi sebesar US$ 40 miliar.
Pengembangan industri petrokimia di Singapura, tentu akan jauh lebih mahal
dibandingkan dengan di Indonesia. Singapura tentu harus mengimpor hampir
seluruhnya, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga infrastukturnya.
Sementara pengembangnya di Indonesia menjadi lebih mudah dan lebih murah,
baik karena ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, bahkan pasarnya sangat
potensial. Akan tetapi, walaupun investasinya menjadi relatif mahal,
Singapura senantiasa bersikeras untuk mengembangkan industri tersebut.
Optimisme ini sudah barang tentu didasarkan pada perhitungan bisnis yang
sangat matang berupa keuntungan yang akan diperolehnya dari industri
tersebut dan didasarkan pada pertimbangan keberadaan industri petrokimia
yang semakin dibutuhkan, baik dewasa ini maupun di masa-masa yang akan
datang.
Mengapa industri petrokimia disebut menguntungkan? Sebab produksi industri
petrokimia seperti aromatic dan olefin sangat berperan dalam menunjang
industri tekstil, plastik, karpet, benang untuk ban mobil, pestisida, dan
obat-obatan.Secara garis besar, aromatic dan olefin berperan sangat
penting dalam menunjang industi makanan, sandang, papan, transportasi,
pertanian, dan sektor-sektor lainnya. Peranannya yang sangat strategis
inilah yang juga telah berperan membuat harga produk petrokimia berkisar
US$ 400 sampai di atas US$ 1200 per ton. Dari setiap tonnya, dapat
menghasilkan keuntungan antara US$ 80-US$ 200 dari setiap 1 ton.
Prospek keuntungan inilah yang juga mendorong negara-negara Timur Tengah
seperti Saudi Arabia, Iran, Qatar, dan Abu Dhabi membangun industri
petrokimia sampai tahun 2010 yang diperkirakan memproduksi olefin
(ethylene) sebesar 15 juta ton per tahun. Usaha patungan Saudi Arabia,
Exxon Mobil, Shell, BP, dan Phillip akan menginvestasikan senilai US$10-15
miliar. Arab Saudi sendiri melalui Sabic memperoleh laba senilai US$ 1
miliar lebih dengan revenue US$ 7,6 miliar.
Demikian juga dengan Eropa Timur, memprogramkan pembangunan industri
petrokimia hulu dan turunannya sebesar 5 juta ton per tahun. Cina juga
tidak mau ketinggalan dalam mengembangkan industri petrokimia hulu ini.
Sampai tahun 2006, mereka merencanakan membangun industri petrokimia hulu
berkapasitas 6,35 juta ton per tahun. Hal ini belum termasuk pembangunan
industri petrokimia hulu hasil kerjasama antara Fujian Petrochemical,
Exxon Mobil, dan Saudi Aramco berkapasitas 800.000 ton pertahun dengan
nilai investasi sebesar US$ 3 miliar.
Indonesia yang sudah tertinggal dari negara-negara lain dalam hal
pengembangan industri petrokimia hulu ini, sudah seharusnya mengejar
ketertinggalannya. Oleh karena itu, pemerintah sangat diharapkan agar
sesegera mungkin merealisasikan pembangunan industri petrokimia hulu ini
di Indonesia, baik dengan menanamkan modalnya sendiri maupun dengan
bekerjasama dengan pihak swasta asing.
Sebagai pembanding betapa pentingnya industri petrokimia untuk kepentingan
nasional bisa dilihat dari Tabel skala 20 negara/daerah peringkat
tertinggi industri petrokimia dunia. Amerika Serikat (terdiri dari
beberapa negara bagian) tampak lebih leading. Peringkat tertinggi per
daerah adalah Al Jubail (Arab Saudi) disusul Chiba (Jepang), Yeochon dan
Ulsan (Korea Selatan), serta Mai Liao (Taiwan). Selengkapnya lihat tabel.
Belajar dari pengalaman negara-negara lain, dimana setiap pembangun-an
industri petrokimia hulu, pemerintah masing-masing negara ternyata selalu
mengambil peran yang lebih besar, khususnya dalam permodalan. Dalam PCS
(Petrochemical of Singapore), pemerintah Singapura memiliki saham.
Demikian juga kepemilikan saham pemerintah Thailand dalam NPC (National
Petrochemical Corporation), saham pemerintah Taiwan dalam CPDC (Chinesse
Petrochemical Development Corporation), Saudi Arabia dalam SABIC (Saudi
Basic Industry Corporation), saham pemerintah Mesir pada ECHEM (Egypt
Petrochemical Holding Company).
Jika dibandingkan dengan kepemilikan industri pupuk, seperti 14 unit
industri pupuk urea yang dimiliki Indonesia saat ini, 8 unit di antaranya
untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 6 unit lainnya dikhususkan untuk
ekspor, maka keberadaan Industri petrokimia jelas memperlihatkan
keuntungan yang jauh lebih besar. Dari segi bisnis, membangun 6 unit
pabrik pupuk urea untuk ekspor berkapasitas 3,4 juta ton pertahun dengan
investasi sebesar US$ 2,1 miliar, hanya memperoleh revenue US$ 476 juta (harga
pupuk sebesar US$ 140/ton).
Sedangkan membangun industri petrokimia hulu dengan investasi yang sama,
dapat menghasilkan sekitar US$ 1,4 miliar. Keuntungan ini belum termasuk
peranan industri kimia hulu yang akan memperkuat struktur industri
Indonesia, khususnya industri-industri yang sangat tergantung dengan hasil
industri petrokimia. Di samping itu, revenue yang besar akan menyumbang
peningkatan penerimaan negara yang lebih besar, baik dalam bentuk pajak
penghasilan (PPh) ataupun pajak pertambahan nilai (PPn).
Dengan berbagai pertimbangan yang ada, sebagaimana yang telah diuraikan di
atas, maka menurut hemat kami, Indonesia harus segera membentuk Industri
Pertokimia Nasional atau National Petrochemical Industry (NPI) dengan
pemerintah sebagai salah satu pemegang sahamnya.
Ketertinggalan dalam membangun industri pertokimian ini akan berakibat
semakin buruk bagi perekonomian Indonesia, yakni semakin memperparah
tingkat ketergantungan industri nasional terhadap komponen impor,
sebagaimana yang menjadi momok yang menekan daya saing produksi industri
Indonesia dalam perdagangan global, khususnya industri-industri tekstil,
industri berbagai barang berbahan plastik, benang untuk industri ban mobil,
pestisida, dan industri bahan baku obat-obatan. ► Penulis penemu Pupuk
Ponska = Majalah Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) =
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
|
|