|
|
 |

Nama :
Ir. Rauf Purnama
Lahir :
Garut, 21 Maret 1943
Agama :
Islam
Jabatan :
Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer
Pendidikan Formal:
SR Garut, 1956
SMP Garut, 1959
SMA IPA, Garut 1962
Sarjana Teknik Kimia ITB – Bandung, 1972
Main Job:
= Membidani lahirnya pupuk majemuk phonska yang kini sebagai obat
mujarab untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras.
= Merancang dan memimpin pembangunan beberapa proyek strategis dalam
mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di tanah air. Seperti, proyek
Hidrogen Peroksida (H202), Asam Formiat (Formic Acid), Amonium Nitrat (bahan
peledak), proyek Katalis, Gasket, Amoniak dan Urea, Gypsum Plasterboard,
Proyek 2-Ethyl Hexanol (Octanol), dan pabrik peleburan tembaga di PT Pupuk
Kujang dan PT Petrokimia Gresik dengan total investasi kurang lebih 1,15
miliar dolar AS.
= Berhasil menyehatkan manajemen dan membesarkan Petrogres, sehingga
sejajar dengan industri pupuk dunia.
Jabatan Struktural:
Direktur Litbang PT. Petrokimia Gresik 1990-1995
Direktur Utama PT. Petrokimia Gresik 1995-2001
Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer 2001- Sekarang
Jabatan Non Struktural:
Direktur Litbang, dengan tugas Perencanaan Proyek 1990-1995:
Amoniak/Urea - Plaster Boar – Tembaga – Octanol - H2O2
Komisaris Utama PT. Petrokimia Gresik, 1990-1995
Ketua Yayasan Teknik Kimia ITB, 1999-2004
Ketua Umum Badan Kejuruan Kimia – Persatuan Insinyur Indonesia 2000-2003
Ketua Pengurus Daerah Persatuan Senam Indonesia Jatim 1998-2002
Wakil Ketua Umum PII
Jabatan Lain:
Asisten Luar Biasa ITB, 1967-1970
Kabag Perencanaan & Produksi PT. Adiguna Shipyard
Manajer Produksi PT. Adiguna Shpyard
Kabag Urea, Kabag Amoniak, Staf Litbang
Karo Pengembangan PT Pupuk Kujang dengan Penugasan Project Officer:
Hidrogen Peroksida, Asam Formiat, Katalis, Amonium Nitrat di PT. Pupuk
Kujang dan Usaha Patungan, 1982-1987
Kakomp Litbang PT. Pupuk Kujang, 1987-1990
Piagam Penghargaan:
Piagam Penghargaan Karyawan Sewindu PT Pupuk Kujang 1984 .
Pembina Pengembangan Olah Raga Nasional Menteri Pemuda Olah Raga R.I.1995
Penghargaan PATI Persatuan Ahli Teknik Indonesia (PATI)1996
Sempana Karya Nugraha dari Menaker versi SK Suara Menteri Tenaga Kerja
Indonesia 1998
Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan & Bakti Koperasi, PK&M. Menteri
Koperasi 1999
Kesetiaan kerja 10 tahun PT Petrokimia Gresik 2000
|
|
=
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
Ir Rauf Purnama (3)
Industri Kimia dan Nilai Tambah SDA
Sumber daya alam (SDA) Indonesia sangat kaya, baik dalam jumlah maupun
jenisnya. Namun pengelolaan dan pemanfaatannya belum optimal, karena masih
dijual dalam bentuk bahan mentah (raw material), yang nilai tambahnya
sangat rendah.
Rauf Purnama, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, yang kini
menjabat Presiden Direktur Asean Aceh Fertilizer dan sudah berhasil
membangun beberapa industri kimia di Indonesia, mengatakan dalam rangka
mengisi kemerdekaan yang diwujudkan antara lain dengan kemandirian,
istilah Bung Karno Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), sebaiknya
ditempuh dengan makin mengembangkan industri kimia. Sebab industri kimia
akan memberi nilai tambah pada sumber daya alam (SDA) Indonesia yang
sangat kaya. Namun pengelolaan dan pemanfaatannya belum optimal, karena
masih dijual dalam bentuk bahan mentah (raw material).
Rauf memberi contoh, sebagian besar produksi gas alam masih diekspor
sebagai LNG. Penggunaan gas alam sebagai bahan baku industri hanya sebesar
7,12%. Demikian pula dengan bahan mentah minyak kepala sawit CPO, masih
relatif kecil diproses lebih lanjut di dalam negeri dibandingkan dengan
Malaysia. Padahal dengan teknologi diversifikasi turunan sawit sangat
mudah diimplementasikan sebagai industri kimia sesuai dengan standar
industri berbasiskan iptek lokal saja.
Menurut tokoh yang telah merancang dan memimpin pembangunan beberapa
proyek strategis dalam mengukuhkan pondasi industri pupuk dan kimia di
tanah air ini, pertumbuhan industri kimia atau industri proses di
Indonesia masih relatif rendah. Sehingga pertumbuhan ini mutlak perlu
lebih ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang karena pasar sangat besar
dan dinamis. Apalagi sampai saat ini impor bahan kimia Indonesia masih
tinggi. Padahal potensi sumber daya alam negeri ini sangat melimpah.
“Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1997, semakin membuktikan
betapa kita harus memperkuat industri kimia hulu. Karena industri kimia
ini akan memberikan nilai tambah bagi sumber daya alam yang ada, baik
sumber daya pertanian dan kelautan maupun pertambangan,” kata mantan
Direktur Utama Petrokimia Gresik ini. Indonesia dengan sumber daya alam
yang kaya itu, terutama sumberdaya hasil tambang, sangat memiliki
kesempatan besar untuk menjadi produsen bahan kimia yang penting di dunia.
Karena itu, kata penerima penghargaan PATI (Persatuan Ahli Teknik
Indonesia) 1996 ini, diperlukan adanya kebi-jakan dan pengaturan indus-tri
petrokimia, agar semua usaha industri kimia bisa berjalan terpadu. Tidak
sen-diri-sendiri seperti sekarang. Pertamina jalan sendiri, industri kimia
lainnya jalan sendiri. Kebijakan dan peng-aturan ini perlu juga untuk
menstimulir investor masuk usaha pengolahan SDA yang melimpah di
Indonesia.
Perlu ditingkatkan upaya-upaya penguasaan teknologi, khususnya industri
kimia, baik oleh instansi pemerintah maupun perusahaan BUMN dan swasta.
Pemikir dan pelaku industri ini lebih jauh memaparkan peranan industri
kimia untuk meningkatkan nilai tambah SDA tersebut. Dijelaskan, in-dustri
kimia merupakan penerapan ilmu kimia dalam rangka pemberian nilai tambah
suatu zat atau bahan, sehingga bermanfaat buat kesejahteraan manusia dan
alam sekitarnya. Sedangkan ilmu kimia itu sendiri adalah ilmu yang
mempelajari sifat, komposisi dan struktur dari zat (unsur dan senyawa),
perubahan zat yang disertai pelepasan atau penyerapan energi dalam proses
itu.
Sementara, bidang-bidang yang termasuk dalam industri kimia antara lain
petrokimia, polimer, proses hasil pertanian termasuk pangan, produk
farmasi, pengolahan air dan atau limbah, proses bahan tambang, dan bahan
bagi industri kimia itu sendiri, seperti katalis, reaktor, unit
operations, teknik kontrol dan lain-lain.
Menurutnya, Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa tanah yang
subur dengan berbagai sumber daya alam yang melim-pah ruah, seperti minyak,
gas, batu bara, tembaga, nikel, emas dan lain-Iain.
Tapi saat ini, keluh sarjana teknik kimia alumni ITB yang telah membidani
lahir-nya pupuk majemuk phonska ini, hampir 90% dari sumber daya alam
dijual (ekspor) langsung dalam bentuk bahan mentah (raw material) atau
barang yang belum diolah. Padahal semua itu bisa ditingkatkan nilai
tambahnya.
Demi kemandirian, kita seharusnya tidak hanya bisa mengolah hasil alam dan
kemudian menjualnya.
Kendati untuk tahap awal pembangunan, mengelola hasil alam dan
kemudian langsung menjualnya, mesti dianggap sebagai bagian dari proses
pembelajaran bangsa yang baru merdeka. Tetapi, dalam konteks kemerdekaan
ke 58 tahun ini, kita sudah harus memikirkan bagaimana meningkatkan nilai
tambah sumber daya alam itu melalui pembangunan industri.
Bahkan menurut CEO yang berhasil menyehatkan manajemen dan membesarkan PT
Petrogres, sehingga sejajar dengan industri pupuk dunia itu, bukan hanya
sumber daya alam dari hasil tambang saja yang bisa ditingkatkan nilai
tambahnya tetapi dari udara pun bisa. Udara yang mengandung 79% Nitrogen
dan 21% Oksi-gen, selain berguna untuk kehidupan manusia, binatang dan
tumbuh-tumbuhan, juga akan mempunyai nilai tam-bah yang sangat tinggi
apa-bila diproses secara kimia. Sebagai contoh: pupuk yang kita kenal
seperti Urea dan ZA yang mengandung unsur Nitrogen masing-masing 46% dan
21% yang berguna untuk meningkatkan hasil pertanian diambil dari udara.
Nitrogen dari udara direaksikan dengan Hidrogen yang berasal dari gas alam
bisa menghasilkan Amoniak (NH3) yang selanjutnya diproses menjadi pupuk
Urea dan ZA. Selain untuk produksi pupuk, Amoniak bisa diproses untuk
mempro-duksi berbagai produk lain, seperti bahan peledak (Amonium Nitrat),
bahan baku obat (farmasi) seperti PNCB (Paranitrochlorobenzene ), serat
benang untuk industri tekstil seperti Kaprolaktam dan Hydrazine (N2H2)
untuk bahan bakar roket.
Dari udara, bukan hanya Nitrogen saja yang bisa dibuat macam-macam produk,
tapi juga dari unsur Oksigen (02) bisa dibuat bermacam-macam produk yang
mempunyai nilai tambah yang besar. Dengan mereaksikan berbagai senyawa
atau unsur lain dapat dihasilkan bermacam-macam produk. Sebagai contoh:
Asam Formiat (HCOOH) yang dipergunakan untuk industri karet, industri
teksil dan industri penyamakan kulit itu mengandung unsur Oksigen (udara)
sebesar 69%.
Contoh lain, oksigen bisa menghasilkan Hidrogen
Peroksida (H202) yang mengandung unsur Oksigen sebanyak 94%.
Hidrogen Peroksida banyak digunakan untuk industri tekstil, industri
kertas dan membasmi kuman-kuman/virus (desinfektan) seperti SAR. Semua
senyawa alkohol dan asam organik mengandung Oksigen, seperti metanol,
etanol, oktanol, asam asetat yang digunakan untuk berbagai keperluan,
seperti industri tekstil, industri plastik, bahan bakar kendaraan dan lain
sebagainya.
Sumber daya alam seperti gas alam dan minyak bumi sudah waktunya untuk
ditingkatkan nilai tambahnya. Dengan meningkatkan nilai tambah sumber daya
alam akan meningkatkan pendapatan negara dan juga bisa menghasilkan
tambahan devisa, serta menambah lapangan pekerjaan.
Produk turunan migas mempunyai nilai tambah yang tinggi, seperti dari LPG,
Kondensat dan Nafta. Sebagai contoh, dari Kondensat, LPG dan Nafta yang
harganya sekitar US$ 200/ton bisa ditingkatkan nilainya menjadi di atas
US$ 1500/ton apabila sudah menjadi serat/benang untuk industri tekstil
(polyester). Dari Nafta juga bisa menghasilkan benzena yang apabila
diproses lebih lanjut bisa menghasilkan benang nilon yang nilai jualnya
bisa mencapai US$ 1600 per ton, jauh lebih tinggi dari pada harga Nafta
yang harganya US$ 200/ton.
Hal tersebut hanya sebagian kecil contoh dari hasil tambang yang bisa
ditingkatkan nilai tambahnya. Masih banyak produk-produk yang mempunyai
nilai tambah tinggi untuk berbagai keperluan industri, seperti untuk
pangan, sandang, papan, transportasi, telekomunikasi, bahkan untuk
kepentingan militer. Secara singkat, dari bahan mentah (raw material) yang
berasal dari migas, jika diolah, bisa meningkatkan nilai tambah 2 sampai
10 kali lipat, atau mungkin bisa lebih dari itu.
Menurut CEO bertangan dingin ini, kemajuan suatu negara sangat dipengaruhi
kemajuan teknologi dan industri kimia yang dimilikinya? Krisis ekonomi
yang kita alami sejak 1997 telah memberi pelajaran berharga.
Ketergantungan produk dan bahan baku dari luar negeri telah menjadi salah
satu penyebab timbulnya kelemahan di sektor industri. Sementara kegiatan
industri yang mengandalkan resource base pada umumnya tetap menunjukkan
kinerja baik.
Apalagi bila industri berbasis bahan alam itu dikembangkan secara terpadu.
Maka, menurut Ketua Yayasan Teknik Kimia ITB (1999-2004) ini, kini saatnya
kita harus membangun industri kimia yang tangguh dan berdaya saing kuat
dan terpadu dengan sektor hulu dan hilir. “Saya yakin bahwa industri kimia
yang berbasis sumber daya alam akan bisa bersaing di pasar. Karena
Indonesia mempunyai keunggulan komperatif yaitu selain bahan baku sumber
daya alam, juga memiliki SDM dan pasar,” kata pemikir dan pelaku industri
ini.
Menurutnya, masa Indonesia yang mempunyai potensi sedemikian besar kalah
sama Singapura. Sebab Singapura sudah mempunyai rencana akan membangun
industri petrokimia sampai tahun 2010. Ia mengingatkan, kalau Indonesia
tidak meningkatkan pembangunan industri kimia dari sekarang, maka
Indonesia akan menjadi pasar yang empuk bagi Singapura. * m-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
=
1
2
3
4
5 6 7 8
9 10 =
|
|